Pendekar Naga Sakti

Pendekar Naga Sakti
Kelompok Iblis Perak


__ADS_3

Matahari begitu indah di upuk timur, udara cerah menghiasi langit. Hampir sebulan sudah semenjak Pendekar Naga Sakti dan Bidadari Pencabut Nyawa terlibat pertarungan dipuncak gunung pungur dengan para Warok Singa Merah.


Setelah kembali dari gunung pungur sehari setelah pertarungan itu. Pendekar Naga Sakti dan Bidadari Pencabut Nyawa bersama Tiga Elang kembali ke kampung Jati Arum. Mereka masih tinggal disana hampir sepuluh hari kedepannya.


Nun Jauh berkilo-kilo meter dari kampung Jati Arum. Sebuah perkampungan yang cukup ramai dihuni para penduduk. Tempat itu mempunyai lahan pertanian yang subur.


Sebuah sungai kecil mengalir ditepi kampung itu yang begitu jernih, dan memiliki ikan yang begitu banyak ikan. Semua itu bagai surga bagi penduduk tempat tersebut.


Beberapa bulan akhir-akhir ini, kedamaian dan ketentraman para penduduk Kampung itu mulai terusik. Sejak kedatangan orang-orang yang berpakaian merah dan memiliki tubuh berwarna perak. Para penduduk kampung itu menyebut mereka dengan Iblis Perak.


Kelompok Iblis Perak ini datang merebut dan mengganggu kedamaian hidup penduduk Kampung itu. Beberapa orang yang merupakan bekas pendekar yang tinggal dikampung tersebut berusaha mengadakan perlawanan.


Namun dengan mudah dikalahkan Kelompok Iblis Perak, karena anggota Iblis Perak kebal terhadap senjata tajam.


Harta dan makanan yang disimpan para penduduk diambil paksa oleh Kelompok Iblis Perak.


Tentu saja para penduduk tidak terima diberlakukan seperti ini. Kehidupan mereka selama ini begitu aman dan damai kini terusik. Para penduduk kampung tersebut mengirim seorang sesepuh kampung mereka untuk mencari bantuan.


Di sebuah padang rumput yang tidak begitu luas. Terdapat sebuah danau yang begitu indah dan sejuk. Di sekeliling danau itu ditumbuhi banyak pohon yang begitu rindang. Tempat itu begitu nyaman untuk tempat beristirahat bahi para pelancong dan para pedagang.


Cuaca siang itu cukup panas. Tampak sepasang pendekar muda sedang beristirahat dibawah sebuah pohon yang cukup rindang dipinggir danau itu. Kedua pendekar itu tampak asyik bersenda gurau. Kuda-kuda tunggangan mereka tampak merumput di tengah padang rumput yang hijau dipinggir danau tersebut.


Kedua pendekar muda itu adalah Pendekar Naga Sakti dan Bidadari Pencabut Nyawa. Setelah menikmati makan siang yang mereka bawa tafi mereka memutuskan untuk menikmati sejuknya air danau. Anggala dan Wulan Ayu setelah selesai mencuci tangan bergiliran mandi. Anggala mandi lebih dulu, selesai bertukar pakaian Anggala berniat kembali ketempat mereka makan tadi.


Alangkah terkejutnya Pendekar Naga Sakti begitu sampai dibawah pohon tempat mereka makan tadi. Tampak seorang kakek tua duduk dengan santainya dibawah pohon itu. Kakek itu seakan-akan tidak melihat kedatangan Pendekar Naga Sakti atau dia memang sengaja.

__ADS_1


Pendekar Naga Sakti mendekati kakek tua itu dan bertanya, "Siapa kakek? Sejak kapan Kakek berada disana? Padahal tempat ini belum lama kami tinggal," tanya Pendekar Naga Sakti berusaha bernada sopan.


"He he he..! Pendekar Naga Sakti. Dunia ini milik tuhan, jadi aku bisa duduk di manapun aku mau," jawab kakek tua berbaju putih itu. Sebatang tongkat kayu di ujungnya agak besar terletak disamping kakek tua itu.


"Ya, saya tau dunia ini milik tuhan, tapi tempat kakek duduk itu adalah tempat yang kami tempati. Barang-barang kami pun masih ada disana," dengus Pendekar Naga Sakti kesal dengan jawaban kakek tua itu, "Darimana Kakek tau kalau saya Pendekar Naga Sakti?" tanyanya.


"He he he... Pendekar Naga Sakti, dari pakaian yang kau pakai dan siapa kekasihmu itu aku juga tau, kalian berdua adalah tokoh silat petualang dari barat," jawab kakek tua itu.


"Hmm..! Sepertinya kakek sudah memata-matai kami. Siapa Kakek yang sebenarnya?" tanya Pendekar Naga Sakti penasaran.


"Hehehe..! Jujur ku sudah beberapa hari mengikuti kalian," jawab kakek tua itu singkat.


"Apa maksud kakek mengikuti kami?"


"He he he..! Rupanya Bidadari Pencabut Nyawa pun telah selesai mandi, ya?" ujar kakek tua itu tanpa menjawab pertanyaan Anggala tadi.


"Kakak juga tidak tahu Dinda, kakek ini di tanya lain, jawabannya lain," jawab Anggala tampak gusar, sedangkan kakek tua itu cuek-cuek saja.


"Ya, sudahlah Kak. Mungkin kakek ini bukan orang waras, wajar saja dia menjawab pertanyaan kakak tidak sesuai dengan pertanyaan," kata Wulan Ayu sambil memberesi barang tempat makanan yang mereka bawa.


"Ayo, Kak. Kita pergi dari sini. Kita bisa gila berurusan dengan orang seperti dia," ucap Wulan Ayu sambil tersenyum dan berjalan menuju kudanya yang sudah duduk di atas rumput hijau. Anggala pun akhirnya pergi menyusul Wulan Ayu dari belakang.


"Anak muda, tunggu!" seru sang kakek tua itu sambil berdiri, "Maaf kalau kakek tidak serius menjawab pertanyaan anak muda," tambahnya lagi sambil berjalan disamping Anggala.


"Kakek berkata kalau sudah mengikuti kami beberapa hari ini dan kakek tidak menjawab kenapa kakek mengikuti kami?"

__ADS_1


"Sebenarnya kakek dari sebuah kampung yang di tinggali banyak sekali penduduk, tempatnya cukup jauh dari sini, jika berkuda kita butuh waktu seharian dari tempat ini," tutur kakek itu. Namun ia belum juga menceritakan maksudnya mengikuti Pendekar Naga Sakti dan Bidadari Pencabut Nyawa.


"Terus, apa hubungannya dengan kami?" tanya Anggala berjalan menuju kudanya sambil menoleh.


"Sebenarnya kakek butuh bantuan kalian berdua," jawab kakek tua tersebut.


"Kan kakek bisa berterus terang dari tadi, dan mengatakan siapa kakek sebenarnya," gerutu Pendekar Naga Sakti sambil memasang pelana kudanya, "kenapa kakek malah mengganggu kami," tambah Anggala lagi.


"Sekali lagi maaf, sudah mengganggu kalian dengan keusilan kakek. Tapi semua itu kakek lakukan untuk membuang stres, setelah berhari-hari berjalan sendirian. Kakek sengaja menggangu kalian berdua. Kakek mencari kalian karena tempat tinggal kakek sedang diganggu ketenangannya oleh orang-orang yang kami gelari Iblis Perak, sudah banyak pendekar yang kakek temui. Namun semuanya dapat di kalahkan oleh Kelompok Iblis Perak itu, saat kakek di kampung Jati Arum. Kakek mendengar orang-orang membicarakan kalian. Setelah itulah kakek berusaha mencari kalian berdua dan mengikuti kalian," jelas kakek tua tersebut. Anggala dan Wulan Ayu tampak terdiam mendengar penjelasan kakek tua itu.


"Tapi Kakek belum menceritakan siapa nama kakek?" tanya Wulan Ayu tampak simpati mendengar penjelasan kakek tua itu barusan.


"He he he..! Iya, ya... Nama Kakek Wiratama, orang-orang memanggil kakek Sesepuh Pikun," jawab kakek Wiratama lagi.


"Haduh...! Pantasan!" ucap Bidadari Pencabut Nyawa sambil menepuk pelan keningnya sendiri. Anggala hanya mengerenyitkan keningnya sendiri melihat sikap Wulan Ayu itu.


"Ada apa, Dinda?"


"Habislah kita Kak, kita berurusan dengan kakek pikun," jawab Bidadari Pencabut Nyawa sambil tertawa. Ia menarik tali kudanya dan berjalan perlahan kedekat kakek Wiratama yang tampak cengegesan di berlakukan Wulan Ayu dengan candaan.


.


.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2