
Suasana siang jelang sore itu terasa cukup panas, sehingga kakek Deja Wantara seakan enggan melangkahkan kakinya. Laki-laki tua itu berjalan pelan di depan Pendekar Naga Sakti. Anggala hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat sikap Pendekar Gila itu.
Tidak terasa mereka tiba di depan bangunan tua yang begitu megah yang sudah tampak tidak terurus dan terbengkalai itu.
"Kek, kau malah mengajak saya kesini?" tanya Anggala agak keheranan.
"Inilah neraka yang ku katakan itu, Anggala," jawab kakek Deja Wantara ketus.
"Maksud Kakek?"
"Inilah istana kematian itu, Anggala," jelas kakek Deja Wantara seraya menarik napas dalam-dalam kemudian melepaskannya perlahan.
"Istana ini memang terlihat sangat angker, tapi di sini tidak ada siapa pun. Bagaimana istana ini jadi istana kematian, Kek?" tanya Anggala sambil memperhatikan seluruh bangunan tua yang begitu megah namun terbengkalai itu.
"Entahlah, Anggala. Yang jelas setiap orang yang memasuki istana ini tidak pernah keluar lagi, termasuk putra sulungku..," desah kakek Deja Wantara tampak sedih.
"Saya turut berduka cita, Kek. Atas yang terjadi pada putra sulung kakek," ucap Anggala sambil memegang bahu kakek Deja Wantara, "Kenapa putra sulung kakek masuk ke dalam istana ini," tambah Pendekar Naga Sakti penuh selidik.
"Kakek tidak tau, yang kakek tau dia kesini bersama beberapa orang prajurit bawahannya uang setia padanya," tutur kakek Deja Wantara, "Saat itu dia masih bertugas sebagai senopati di Kerajaan Pasemah Agung ini, mungkin dia penasaran kenapa para pendekar yang masuk tidak pernah kembali lagi," tambahnya lagi.
"Apa para pendekar itu semua kakek yang mencarinya?" tanya Anggala.
Kakek Deja Wantara tidak menjawab, ia hanya menunduk seraya mengangguk.
"Sudah berapa orang pendekar yang hilang di dalam istana ini, Kek?"
"Entahlah Anggala, sudah begitu banyak aku tidak ingat lagi," sahut kakek Deja Wantara pelan.
"Semua pendekar itu kakek yang membawanya kesini?" tanya Anggala lagi.
Kakek Deja Wantara kembali tidak menjawab, orang tua berbaju putih kumal itu hanya menunduk.
"Apa yang kakek pikirkan, apa semua itu adalah perintah Baginda Raja Kalingga Jaya Karta?"
"Ya, semua itu kakek lakukan atas perintah Baginda Raja Kalingga Jaya Karta," jawab kakek Deja Wantara begitu lemah.
"Kenapa kakek tidak menentang perintah Baginda Raja?"
__ADS_1
"Aku tidak bisa menentang perintah Baginda Raja Kalingga Jaya Karta, Anggala. Dia sendiri seperti tertekan dengan keadaan ini. Namun entah kenapa dia tidak mengambil tindakan, apa karena Kerajaan ini terlalu lemah, atau dia memikirkan rakyatnya, aku juga tidak tau. Baginda Raja Kalingga Jaya Karta tidak pernah mengatakan apa-apa, selain memerintahkan mencari para pendekar, padaku," tutur kakek Deja Wantara.
"Saya akan masuk ke dalam, Kek," kata Anggala.
"Jangan Anggala, aku tidak ingin kau jadi korban selanjutnya," cegah kakek Deja Wantara.
"Apa Kakek tidak pernah masuk ke dalam sana?"
"Aku belum siap mati, Anggala," jawab Pendekar Gila sambil menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya kuat-kuat.
"Kakek belum tau apa yang ada di dalam sana, bagaimana Kakek tau akan mati?" tanya Anggala agak gusar.
"Semua orang yang masuk ke dalam sana, tidak pernah kembali, aku menunggu di sini sampai berhari-hari. Yang terdengar hanya jerit kesakitan menyayat hati dari dalam sana," tutur kakek Deja Wantara terlihat menerawang jauh.
"Sampai berapa hari kakek menunggu di sini?"
"Pernah sampai lima hari, makan pun Sarsih yang mengantar. Aku berharap pendekar yang masuk ke dalam akan kembali keluar lagi, namun semua itu nihil," jawab orang tua itu.
"Lalu...??"
"Orang utusan Baginda Raja Kalingga Jaya datang lagi menyampaikan pesan, untuk mencari Pendekar yang baru, begitulah seterusnya sampai kakek bertemu dengan kalian berdua," tutur kakek Deja Wantara lagi.
"Jangan Anggala, jika kau tetap ingin masuk. Kakek akan ikut denganmu," tegas kakek Deja Wantara sambil menatap ke arah Pendekar Naga Sakti itu.
"Kenapa kakek tidak mengizinkan saya masuk kedalam sana?"
"Kan sudah kakek katakan tadi, Anggala. Kakek tidak ingin kau mati sia-sia. Apa yang harus kakek katakan pada Wulan Ayu?" jawab kakek Deja Wantara tetap dengan pendiriannya. Anggala hanya terdiam mendengar jawaban Pendekar Gila tersebut. Pikirannya menerawang apa yang sebenarnya menunngu di dalam sana jika ia memasuki istana kematian itu.
Kedua pendekar itu tampak larut dalam pikiran masing-masing, tanpa mempedulikan keadaan di sekitar mereka. Entah berapa pasang mata sedang memperhatikan mereka berdua dari balik semak rerimbunan hutan yang begitu lebat.
Set! Set!
Tiba-tiba dari balik semak-semak itu meluncur benda hitam yang berukuran panjang sejengkalan orang dewasa. Benda itu meluncur begitu cepat bagaikan kilat menyambar. Anggala samar mendengar suara berdesingan. Pendekar Naga Sakti cepat menoleh kearah suara itu.
"Kek, awaaas....!" ujar Anggala memperingatkan seraya menegoskan tubuhnya ke udara. Kakek Deja Wantara tampak terkejut dengan cepat orang tua itu meliukan tubuhnya menghindari sambaran benda-benda yang meluncur deras ke arahnya.
Crak! Crak! Crak!
__ADS_1
Benda-benda bagaikan sebuah ranting itu menancap di dinding beton istana di depan Anggala dan kakek Deja Wantara.
"Heh...! Kurang ajar, siapa yang berani berbuat curang. Cepat kekuar...!!" teriak Pendekar Gila, sedangkan Pendekar Naga Sakti hanya diam menatap ke arah semak-semak yang mulai di liputi gelapnya senja yang mulai menjelang.
Set! Set! Set!
Sing! Sing! Sing!
Kali ini tidak hanya benda hitam berujung merah berukuran jempol orang dewasa yang berseliuran di udara. Tapi puluhan belati kecil selebar dua jari dan sepanjang sejengkal meluncur deras ke arah Anggala dan kakek Deja Wantara.
"Huh..!"
Anggala langsung melompat sambil tangan kanannya menangkap salah satu benda yang meluncur deras ke arah kepalanya. Kakek Deja Wantara pun beberapa kali berjumpalitan di udara menghindari serbuan senjata rahasia yang begitu banyak itu.
"Hup!"
Pendekar Naga Sakti dengan begitu cepat mengibaskan telapak tangannya yang berisi beberapa buah senjata rahasia berwarna hitam bergaris merah di ujungnya itu, yang berhasil ia tangkap ke arah semak-semak.
"Aakh...!"
"Aakh...!"
Terdengar jeritan kesakitan dari balik semak-semak itu, tidak lama kemudian sebanyak empat orang keluar dengan tubuh tertembus senjata rahasia mereka sendiri. Orang-orang itu langsung jatuh ke tanah dengan tubuh berwarna biru, dan darah berwarna hitam bercampur buih hijau keluar dari mulut mereka. Beberapa saat mereka tampak menggelepar kesakitan lalu diam tidak berkutik lagi.
Orang-orang itu tewas seketika. Pendekar Naga Sakti melesat ke dekat orang-orang itu. Namun empat orang itu telah tewas terkena senjata mereka yang mengandung racun mematikan.
"Aakh..!"
Terdengar suara kesakitan dari arah belakang Pendekar Naga Sakti. Pemuda tampak itu segera menolehkan pandangannya, tampak kakek Deja Wantara meringis kesakitan sambil memegangi kakinya.
"Kek!" seru Anggala seraya melompat kembali ke dekat orang tua berbaju putih kumal itu. Betapa terkejutnya Pendekar Naga Sakti melihat di kaki orang tua itu telah tertancap sebuah senjata rahasia, yang panjangnya sekitar sejengkal orang dewasa berwarna hitam dengan ujung bergaris merah.
"Kakiku, Anggala. Sakit sekali," keluh kakek Deja Wantara bergetar, tampak tubuhnya mulai membiru.
.
.
__ADS_1
Bersambung...