Pendekar Naga Sakti

Pendekar Naga Sakti
Prahara Di Pulau Andalas. Bag, 14


__ADS_3

Buak!


"Agkh..!" si Pedang Kilat mengeluh tertahan sebelum tubuhnya terpental sekitar tiga tombak ke belakang. Tubuh laki-laki berpakaian merah itu tampak jatuh berlutut.


"Kakak...!" teriak tiga orang adik seperguruan Rasolika, ketiga orang itu langsung melompat ke depan Kakak seperguruan mereka.


Ketiga laki-laki muda itu tampak berniat menghalangi gerak Wulan Ayu yang hendak bergerak ke arah Rasolika.


"Kak Pedang Kilat, bagaimana keadaan Kakak?" tanya salah seorang adik seperguruan Rasolika itu.


"Uhuakh... tidak ku sangka gadis itu mempunyai kepandaian yang begitu tinggi, wajar jika si Pedang Darah memilih mundur berhadapan dengannya," kata Rasolika seakan berkata pada dirinya sendiri.


"Kakak, istirahat dulu. Biar kami bertiga yang menghadapi gadis itu. Kakak obati luka dalam kakak?" ujar laki-laki yang berbicara tadi.


"Hmm...! Sebaiknya kalian mundur. Dia bukan lawan kalian. Kalian hanya akan mengantar nyawa menghadapinya," cegah si Pedang Kilat.


"Tapi, Kakak sedang terluka," tolak laki-laki itu.


"Mundurlah, Liwa. Dia bukan lawan kalian!" perintah Rasolika tegas.


"Baik, Kak, ayo teman-teman," Liwa mengajak kedua saudara seperguruannya untuk mundur walau berat hati.


Sring!


Rasolika langsung menghunus pedang yang dari tadi masih berada di Balik punggungnya di dalam warangka.


Set! Set!


Si Pedang Kilat langsung memainkan jurus-jurus pedang yang begitu cepat, suara pedang itu berdesingan memecah udara di sekitarnya.


"Kau akan tau tajamnya pedangku ini, Gadis Tengik!" geram Rasolika sambil bergerak ke arah kanan Wulan Ayu.


Sret!


Wulan Ayu pun menarik kipas elang perak dari balik baju biru kesayangannya. Kipas elang perak lengsung di bentangkan di depan dadanya. Gambar elang perak tampak jelas di daun kipas yang berhiaskan pemandangan gunung dan hutan itu.

__ADS_1


"Kipas elang perak! Jadi dia memang Bidadari Pencabut Nyawa dari barat itu?" desis Rasolika dalam hati. Air muka laki-laki berpakaian merah itu tampak berubah.


"Kenapa wajahmu berubah kisanak. Kau baru sadar jika aku tidak membual!" kata Wulan Ayu sembari tersenyum tipis menyungging.


"Rupanya kau memang Bidadari Pencabut Nyawa dari barat itu. Tapi kau salah langkah hari ini gadis tengik. Kau berhadapan dengan si Pedang Kilat dari Perguruan Elang Merah. Sebaiknya kau serahkan kipas dan pedang di balik punggungmu itu dan segera tinggalkan tempat ini!" ketus Rasolika.


"Jika ancaman seperti itu bisa membuatku takut. Maka gelarku bukan Bidadari Pencabut Nyawa, kisanak!" dengus Wulan Ayu datar.


"Jangan salahkan aku jika hari ini kau tinggal nama, gadis bodoh!" geram Rasolika sambil menatap tajam ke arah Wulan Ayu.


"Siapa yang bodoh, kita tentukan sekarang, kisanak!" tantang Wulan Ayu sengit.


Srek!


Pisau kecil runcing tampak menyembul dari ujung daun kipas elang perak di tangan Wulan Ayu itu. Bidadari Pencabut Nyawa mempersiapkan diri dengan jurus 'Elang Perak Menyambar Mangsa'.


"Hiyaaa....!" bentakan si Pedang Kilat terdengar cukup nyaring sembari melompat cepat ke arah Bidadari Pencabut Nyawa. Ayunan pedang di tangan Rasolika itu cukup cepat hingga yang terlihat hanya bayangan pedang yang berkelebat cepat.


Trang!


Bet!


"Hih.!" Si Pedang Kilat cepat menarik tubuhnya ke samping menghindari sambaran ujung kipas elang perak yang mengincar bahunya.


Set!


Trang!


Rasolika cepat memutar pedangnya ke arah tangan Wulan Ayu, namun gadis itu cepat menyabetkan kipas elang perak ke arah pedang.


"Hup!" Gerakan Wulan Ayu yang tidak di sangka oleh Rasolika begitu cepat, sambaran ujung kipas elang perak berhasil menyerempet bahu tokoh hitam berpakaian merah itu.


"Akgh.!" si Pedang Kilat terdengar mengeluh tertahan. si Pedang Kilat melompat menjauh sembari menekan luka di bahu kirinya.


"Kurang ajar! gerakan gadis ini begitu sulit untuk di baca," desis Rasolika dalam hati mengumpat, ia cepat mengalirkan hawa murni ke arah luka di bahu kirinya.

__ADS_1


"Aku harus merapal jurus 'Pedang Kilat Penebas Gunung'. jika tidak aku akan di buat malu di depan mereka," gumam Rasolika seakan berbicara dengan dirinya sendiri.


Rasolika menegakkan pedangnya di depan dada, perlahan Rasolika mengusap mata pedangnya dengan telapak tangan kirinya.


Begitu tangan Rasolika sampai ke ujung pedang, cahaya putih keperakan menyelubungi pedangnya.


"Kau akan ku hancurkan kali ini gadis tengik," dengus si Pedang Kilat sambil menggenggam gagang pedang dengan kedua tangannya.


"Hmm.... ilmu pedang yang cukup tinggi. Akan ku hadapi dengan jurus 'Pedang Kayangan'. gumam Wulan Ayu dalam hati.


Murid Sepasang Pendekar Pemarah itu segera melipat dan menyimpan kipas elang perak ke balik bajunya.


Sring!


Bidadari Pencabut Nyawa segera menghunus pedang elang perak dari dalam warangkanya. Cahaya putih keperakan tampak semburat menyilaukan mata begitu mata pedang pusaka itu terkena sinar matahari.


Wulan Ayu juga tidak ingin di kalahkan oleh jurus pedang si Pedang Kilat. Wulan Ayu segera merapal jurus 'Pedang Kayangan'. tingkat lima.


Perlahan sang Bidadari Pencabut Nyawa melintangkan pedangnya di depan dada, dan mengibaskan pedang itu secara menyilang. Kemudian Wulan Ayu menarik tangan kanannya yang menggenggam gagang pedang ke arah samping kanan.


Cahaya putih keperakan mulai menyelimuti seluruh batang pedang elang perak itu, perlahan tubuh Bidadari Pencabut Nyawa melayang ke udara dan mengambang sekitar dua tombak di atas tanah.


"Aku harus mengerahkan hampir seluruh kekuatan tenaga dalamku, jurus pedang gadis itu begitu tinggi. Apakah itu jurus 'Pedang Kayangan'.?" desis Rasolika dalam hati.


Rasolika semakin meningkatkan tenaga dalamnya ke arah pedang di kedua tangannya.


"Haaa.....!!" bentakan si Pedang Kilat sembari menarik pedangnya sejajar di atas kepala. Kemudian si Pedang Kilat melesat cepat ke arah Bidadari Pencabut Nyawa yang masih mengambang di udara.


.


.


Bersambung.....


Kalau sudi tinggalkan jejak ya...

__ADS_1


Terima kasih banyak..


__ADS_2