
Suara burung berkicau menghiasi pagi yang cerah, masyarakat desa Talang kuda tampak memulai aktivitas mereka. Anggadan Wulan Ayu masih berada di rumah Ki Sarta.
Seminggu sudah mereka berada di sana, setelah penyerbuan orang-orang Perguruan Belati Terbang itu. Wulan Ayu sudah mengajak Anggala meneruskan perjalanan mereka, tapi Anggala belum mau karna orang-orang Perguruan Belati Terbang itu akan datang ke Desa Talang kuda ini. Jika mereka tidak ada maka para penduduk lah yang akan terlebih dulu menjadi sasaran kemarahan dan balas dendam Kala Abang dan Keluarganya.
"Jadi apa yang harus kita perbuat sekarang Kak, Dinda mulai bosan, ingin meneruskan perjalanan!" Ujar si Bidadari Pencabut Nyawa itu, sambil duduk di meja yang di tenmpati Pendekar Naga Sakti itu.
"Dinda mau, orang-orang kampung ini jadi sasaran orang-orang Perguruan Belati Terbang itu? Mereka jelas mencari kita ke sini, ingat kedatangan mereka terakhir mereka berniat membakar rumah penduduk! Jadi kita harus tetap di sini, seperti desa sebelumnya!" Jawab Manggala sambil tersenyum.
.
"Tidak, Kak! Dinda tidak ingin semua itu terjadi, cuma Dinda merasa bosan saja, sudah seminggu kita cuma makan tidur," Ujar Wulan Ayu sambil tertawa kecil. Di minumnya teh hangat buatan KI Sarta itu.
"Nah supaya Kak Wulan tidak bosan! Embun bikini makanan kecil," Embun meletakkan sepiring ubi yang di hancurkan dan di tambah garam dengan kelapa parut.
"Kak Wulan bosan ya? Karna Embun sibuk terus!" Tambah Embun lagi.
"Tidak Mbun, Kakak tidak bosan sama orang-orang di sini, cuma bosan dengan situasinya, nanti kita sudah merasa tenang dan damai. Eh orang-orang jahat itu malah datang!" Jawab Wulan Ayu sambil tersenyum, "Enak, masakan Embun memang enak,"
.
"Makaaih Kak, Kak Anggala kok diam?" Ucap Embun sambil bertanya pada si Pendekar Naga Sakti itu.
"Nggak kok Mbun, Kalian kan masih ngobrol, jadi Saya jadi pendengar yang baik saja lah," Jawab Pendekar Naga Sakti sambil tertawa kecil.
Mereka tampak saling bercanda, mengisi waktu luang mereka. Para tamu warung tampak hilir mudik, keluar masuk memesan makanan dan minuman yang mereka inginkan.
Tidak terasa hari pun telah sore, Anggala, Wulan Ayu dan Embun yang dari tadi duduk, kini pergi mandi ke sungai. Malampun kini mulai menyelimuti Desa Talang kuda itu.
Anggala dan Ki Sarta pergi ke pos ronda, mereka di sana sampai lewat tengah malam, karna Ki Sarta mengalami kurang enak badan Anggala mengantarnya pulang ke rumah. Anggala yang juga merasa mengantuk akhirnya juga ikut tertidur setelah sampai di rumah Ki Sarta.
Semburat cahaya merah mulai tampak di sebelah timur pertanda hari sebentar lagi akan pagi. Tiba tiba pintu rumah Ki Sarta di gedor oleh seseorang yang minta pertolongan.
Dak..! Dak.! Dak..!
"Ki Sarta! Tolong...!
Ki Sarta terkejut dan lansung bangun, seluruh orang yang ada di rumah itu juga ikut terbangun. Mereka lansung menuju pintu depan, untuk menemui orang yang minta tolong itu.
__ADS_1
Begitu Ki Sarta membuka pintu tampak salah seorang penduduk terluka dengan sebuah belati tertancap di pungung nya.
"Ada apa Ki, apa yang terjadi?" Tanya Ki Sarta sambil memegang temannya itu.
"Tolong Ki, nak Pendekar, kita di serang, semua orang di pos ronda di bantai oleh orang-orang Perguruan Belati Terbang itu, tampaknya mereka datang untuk balas dendam," Terdengar terputus-putus suara orang itu karna darah mengalir dari mulutnya.
"Aki tenang dulu, saya akan mencabut pisau belati ini, dan mengobati luka Aki," Ucap Anggala, ia pun mengalirkan tenaga dalamnya untuk menghentikan pendarahan dari luka orang itu. Setelah berhasil mencabut pisau itu, barulah Anggala mengobati lukanya. Tidak butuh waktu lama Anggala berhasil mengobati luka penduduk itu.
"Aki, bawa dia ke dalam, biar saya fan Wulan Ayu yang akan ke sana!" Kata Anggala pada Ki Sarta, ia pun segera bangkit, "Ayo Dinda!"
"Baik Kak!"
Kedua Pendekar muda itu lansung melesat bagai kilat, sekejap mata mereka telah hilang dari pandangan. Ki Sarta mengajak temannya itu masuk ke dalam rumah untuk istirahat, walau lukanya telah sembuh.
Begitu Pendekar Naga Sakti dan Bidadari Pencabut Nyawa sampai di pos ronda itu, semua orang yang ada di sana sudah tergeletak di tanah. Api besar telah melahap pos ronda itu, beberapa buah rumah penduduk juga sudah di bakar. Para penghuni rumah itu lari menyelamatkan diri. Para penduduk yang lain tidak berani melawan orang-orangPerguruan Belati Terbang itu.
Orang-orang Perguruan Belati Terbang itu tampak memasang wajah bengis mereka tidak ada yang tertawa, mereka benar-benar melampiaskan dendam mereka. Tampak di sana dua Kakak beradik si Pedang Maut dan Si Pedang Terbang.
Pendekar Naga Sakti dan Bidadari Pencabut Nyawa tidak berbasa basi lagi, amarah mereka memuncak melihat kelakuan orang-orangPerguruan Belati Terbang itu. Mereka lansung memberikan serangan pertama.
"Hiaaa....!"
Buak..!
"Aaakhh...!"
Dua orang Anggota Perguruan Belati Terbang itu terpental ke tanah terkena tendangan bertenaga dalam tinggi. Mereka lansung jatuh dan meregang nyawa. Sekitar lima belas orang yang memakai golok besar lansung merangsek ke arah Pendekar Naga Sakti dan Bidadari Pencabut Nyawa itu.
Wut..! Wut!
"Hiaaa...!"
Dengan gesitnya Pendekar Naga Sakti melentingkan tubuhnya ke udara menghindar serangan golok orang-orang Perguruan Belati Terbang itu, dengan secepat kilat ia pun melesat memberikan serangan balasan, Dua tendangan cepat Pendekar Naga Sakti berhasil mengenai dua orang Perguruan Belati Terbang itu. Keduanya pun harus meregang nyawa dengan tulang dada patah dan hancur.
Sret.!
Wut..! Wus...!
__ADS_1
Si Bidadari Pencabut Nyawa lansung menggunakan Kipas Elang Perak, kipas itu menderu mrncerca ke arah musuh musuhnya. Serangannya begitu cepat sehingga salah seorang anggota Perguruan Belati Terbang itu, harus jatuh dengan memegangi dada yang luka terkena sambaran kipas elang perak di tangan Bidadari Pencabut Nyawa itu.
"Aaa..!"
Orang itu lansung terhuyung ke tanah, lalu jatuh dengan darah mengalir deras dari lukanya. Ia pun tewas seketika, setelah tubuhnya berkelonjotan beberapa saat.
Set..!
Set...!
Lebih dari sepuluh buah pisau belati terbang melesat ke arah Pendekar Naga Sakti, namun dengan begitu sigapnya seluruh pisau itu di tangkapnya. Secepat kilat dan berkecepatan di atas sebelumnya, Pendekar Naga Sakti melemparkan kembali pisau belati yang ia tangkap itu.
Anggota Perguruan Belati Terbang itu tidak menyangka kalau Pendekar Naga Sakti akan melemparkan kembali pisau belati yang ia tangkap itu. Jadi mereka tidak sempat menghindar lagi, apalagi kecepatan luncuran pisau belati terbang itu jauh lebih cepat dari sebelumnya.
Crass..!
Crass..!
"Aaaa....!
Sekitar lima orang anggota Perguruan Belati Terbang itu lansung terpental ke tanah terkena pisau belati terbang mereka sendiri yang berbalik arah itu. Begitu tubuh mereka menyentuh tanah, nyawa mereka pun melayang.
"Bangsat! Heaaa...!
Damar Suta berteriak marah melihat murid-murid Perguruan ayahnya itu tidak berdaya menghadapi serangan Pendekar Naga Sakti dan Bidadari Pencabut Nyawa itu, padahal ia sudah membawa murid-murid yang punya kemampuan cukup tinggi.
.
.
Bersambung...
Jangan lupa like
Koment
Vote
__ADS_1
Dan Favorit nya ya.
Terima kasih banyak.