
"Anak-anak bantu Bora dan Anwa! Habisi gadis itu!" Perintah Si Mata Satu sambil menyantap makanannya.
"Baik Ketua!" Jawab anak buah si Mata Satu, tanpa menunggu perintah kedua mereka langsung melompat keluar dan mengelingi Bidadari Pencabut Nyawa.
"Kenapa Mata Satu tidak di ajak sekalian kesini? Ha ha ha... Dasar perampok pengecut beraninya hanya main keroyok!" Ejek Bidadari Pencabut Nyawa dengan tawa sinisnya.
"Bangsat! Banyak bacot Kau! Heaaa...!"
Bora yang panas mendengar ejekan Wulan Ayu itu langsung melompat menyerang.
Tap!
Bidadari Pencabut Nyawa dengan sigapnya menyambut serangan anak buah Perampok Singa Merah itu. Hempasan tenaga dalam Bidadari Pencabut Nyawa itu membuat Bora terjajar kebelakang bebarapa tombak.
Sret!
Bora menghunus golok yang ada di pinggangnya. Bora segera memainkan jurus-jurus goloknya dan bersiap untuk menyerang kembali.
"Kenapa Kalian tidak ikut mengeroyok, apa Kalian masih punya malu mengeroyok seorang gadis!" Bentak Dewi Arau tiba tiba telah berdiri di samping Wulan Ayu.
"Ini pedangmu Sobat!" Kata Dewi Arau sambil menyodorkan pedang elang perak yang terbalut kain putih itu pada Wulan Ayu.
"Terima kasih banyak, Arau! Hati-hatilah mereka rata-rata mempunyai tenaga dalam di atas tingkat empat puluh," Ucap Wulan Ayu sambil mengikat tali pedang di samping pinggang kirinya.
"Ya, aku juga tidak ingin terluka di sini, lagian guruku akan marah bila menghadapi cecunguk ini, aku terluka," Jawab Dewi Arau dengan senyum tipis, matanya menatap tajam ke arah anak buah perampok mata satu itu.
"Hmm... Tampaknya murid Elang Hitam mempunyai kepercayaan diri yang cukup tinggi," Ucap Wulan Ayu sambil tersenyum.
Sret!
Wulan Ayu mengeluarkan kipas elang perak dari balik bajunya, dan lansung membentang kipas elang perak itu di depan dadanya.
"Rupanya kipas pusaka itu mempunyai keindahan dan kesaktian yang menakjubkan!" Puji Dewi Arau memuji keindahan kipas elang perak di tangan Bidadari Pencabut Nyawa itu.
"Terima kasih, kipas ini adalah senjata andalan guruku Bidadari Galak," Jawab Wulan Ayu.
"Gurunya Bidadari Galak, muridnya Bidadari Pencabut Nyawa, sebuah gelar yang membuat orang gentar!" Kata Dewi Arau sambil mempersiapkan kuda-kudanya.
"Bidadari Pencabut Nyawa?" Bora tampak terkejut setengah mati hingga ia tersurut satu langkah ke belakang.
"Ha ha... Tampaknya Perampok Singa Merah pernah mendengar nama besarmu Wulan, lihat Bora sampai sebegitu kagetnya," Kata Dewi Arau dengan nada sinis mengejek para perampok di depan mereka itu.
"Huh..! Siapa pun Kalian? Kalian akan mati hari ini! Seraaang....!! Heaaa....!
Wajah Bora memerah menahan amarah mendengar ejekan Dewi Arau itu. Dengan teriakan melengking Bora memberi perintah dan melompat menyerang ke arah Wulan Ayu dan Dewi Arau itu.
"Heaaa....!"
Mendengar perintah Bora itu semua anggota Perampok Singa Merah itu melompat ke arah Dewi Arau dan Wulan Ayu.
"Hup...!"
__ADS_1
Wulan Ayu dan Dewi Arau melentingkan tubuh mereka ke udara sehingga tubuh kedua gadis itu melayang di udara. Serangan para perampok itu hanya mengenai udara kosong.
"Hiyaaa...!"
Wulan Ayu dan Dewi Arau meluncur cepat ke arah para perampok itu, mereka seperti melakukan kolaborasi berdua. Kedua pendekar wanita itu sama-sama melepaskan tendangan ke arah para perampok itu.
Buk..! Duk...!
"Aaakh...!"
Sekitar empat orang anak buah si Mata Satu terpental ke tanah, dan mengalami luka dalam yang cukup parah. Sehingga mereka tidak sanggup untuk bertarung lagi.
Sring!
Para perampok itu tanpa basa basi lagi langsung menghunus golok yang tersampir di pinggang mereka. Para perampok itu langsung bergerak mengelilingi Wulan Ayu dan Dewi Arau.
"Heaa...!"
Bora melompat cepat ke arah Bidadari Pencabut Nyawa dengan melakukan serangan yang cukup cepat dan bertubi-tubi.
Trang! Trang!
Setiap sabetan dan tikaman golok Bora itu di tangkis Wulan Ayu dengan daun kipas elang perak di tangannya.
Sret!
Pisau kecil di ujung kipas elang perak menyembul keluar, kibasan cepat Wulan Ayu ke arah dada Bora membuat perampok itu terpaksa menarik tubuh nya ke belakang sekitar dua langkah.
Wut..! Wut..!
Bidadari Pencabut Nyawa tidak memberi kesempatan pada Bora. Serangan jurus kipas Elang Menyambar Mangsanya terus memburu ke arah Bora. Serangan Bidadari Pencabut Nyawa yang cepat dan beraturan itu membuat Bora harus kalang kabut memapakinya.
"Heaa...!
Dua orang teman Bora langsung melompat ke arah Bidadari Pencabut Nyawa dengan serangan golok mereka.
Trang! Trang!
Kedua golok dua orang penyerang itu hanya menghantam daun kipas elang perak di tangan Bidadari Pencabut Nyawa itu.
"Hiyaaa...!"
Buk!
Buk!
"Aakhh...!"
Kedua orang teman Bora itu hanya melenguh kesakitan, karna tendangan kaki Bidadari Pencabut Nyawa yang begitu cepat tidak dspat mereka hindari. Serangan Bidadari Pencabut Nyawa itu tepat mengenai perut keduanya secara susul-menyusul. Kedua perampok itu harus terpental dengan darah menyembur dari mulut mereka.
"Set! Set!
__ADS_1
"Hup!"
Dewi Arau melompat dan bersalto dua kali di udara menghindari dua golok perampok yang mencerca ke arah tubuhnya.
Wut! Wut..!
"Heh!"
Dewi Arau terpaksa menundukkan kepalanya, jika tidak kepalanya akan mengelinding ke tanah, terkena sabetan golok perampok yang mencoba membokongnya dari samping kanan.
"Bansat! Kecepatan serangan mereka tidak boleh di anggap enteng!" Guman Dewi Arau dalam hati. Elang Merah itu melompat ke belakang sekitar dua tombak.
Sring!
"Ayo! Jika Kalian memang berniat mengadu nyawa! aku layani!" Ujar Elang Merah tatapannya begitu tajam. Dewi Arau langsung bersiap dengan 'Jurus Pedang Elang Penembus Awan'. salah satu jurus pedang andalannya.
"Hati-hati! itu jurus pedang elang penembus awan, milik Elang Hitam, rupanya gadis ini murid Elang Hitam," Ujar salah seorang perampok itu yang tampak mengenali jurus yang di pakai oleh Elang Merah.
Para perampok itu tampak mengatur formasi penyerangan, mereka bersiap dengan membuat dua barisan, satu barisan berisi tiga orang, dan posisi mereka pun tampak saling menyilang.
Dewi Pingai dan Dewi Aurora mau bergerak membantu, namun Dewi Arau memberi kode agar kedua adiknya tidak ikut campur pertarungan itu.
Elang Kuning dan Elang Hijau hanya menarik napas panjang melihat ke arah pertarungan di depan mereka.
Sedangkan Anggala dan Ki Suro duduk di sebuah meja tidak jauh dari tempat si Mata Satu duduk, kedua orang itu asyik memperhatikan pertarungan di depan warung itu. Sedangkan para penduduk hanya melihat dari kejauhan.
"Hiyaaa...!"
Jerit melengking keluar dari mulut Elang Merah, maka seketika tubuhnya melesat cepat ke arah para perampok itu. Kecepatan gerakan Elang Merah itu hampir tidak dapat di lihat oleh mata orang biasa. Sehingga para perampok itu tidak sempat menghindar serangan pedang Elang Merah itu.
Sret..! Crass...!
Srass...! Creb!
"Aaaa...!" "Aaaa....!"
Jertan para perampok yang tersambar serangan pedang Elang Merah itu terdengar menyayat hati. Gerakan Elang Merah itu berhenti di orang ke enam, dengan pedangnya tertancap di dada dan di perut dua orang perampok terakhir di barisan itu.
"Bangsat...!"
Si Mata Satu mengembor marah melihat enam anak buahnya tewas dalam satu serangan oleh Elang Merah. Dalam sekali lompatan Si Mata Satu telah keluar dari warung Ki Suro itu. Si Mata Satu langsung memberikan sebuah serangan dadakan ke arah Elang Merah.
"Heaaa....!
Wuk..!
"Heh...!"
Bersambung....
Jangan lupa like Koment Vote dan favorit nya ya teman teman. Terima kasih banyak.
__ADS_1