Pendekar Naga Sakti

Pendekar Naga Sakti
Misteri Istana Kematian. Putri Nilam Sari


__ADS_3

Raden Sembung Merah terjajar dan hampir jatuh. Kakek Deja Wantara maju dan menahan gerakan tubuh Sembung Merah, hingga Sembung Merah tidak jadi terjatuh.


"Tuan muda tidak apa-apa?"


"Aku tidak apa-apa!" dengus Raden Sembung Merah dengan wajah memerah.


Sret!


Raden Sembung Merah tiba-tiba menarik golok yang ada di pinggang seorang prajurit yang berdiri tidak jauh dari mereka. Melihat Raden Sembung Merah tampak emosi, Anggala hanya tersenyum tipis. Melihat dari gerakan dan gelagatnya, Raden Sembung Merah hanyalah seorang anak manja yang mempunyai keromantisan lebih. Sehingga pemuda itu bisa menarik hati putri Nilam Sari.


"Heaa...!"


Raden Sembung Merah melompat kearah Anggala dengan menyabetkan golok secepat yang ia bisa. Namun serangan Sembung Merah itu hanyalah sebuah serangan seorang prajurit yang kehilangan kontrol amarahnya.


"Hup!"


Pendekar Naga Sakti dengan begitu tenang menarik lehernya kebelakang dengan menekuk lututnya mengadakan gerakan kayang. Sehingga sabetan golok Raden Sembung Merah lewat di atasnya. Begitu cepat Pendekar Naga Sakti kembali berdiri tegak sambil menepuk bahu kanan Sembung Merah.


Plak!


"Aakh...!" Raden Sembung Merah meringis kesakitan sambil tubuhnya terhuyung jatuh terduduk di lantai. Anggala maju dan mengulurkan tangan kanannya.


"Tuan muda, tidak apa-apa? Maaf atas kelancangan hamba," ucap Pendekar Naga Sakti itu. Raden Sembung Merah memberikan tangan pada Anggala. Ia bergerak mundur dan berniat kembali memasang kuda-kudanya.


"Cukup!" cegah Baginda Raja Kalingga Jaya Karta, "Cukup Ananda, Ananda sudah di kalahkan, kalau Pendekar Naga Sakti memakai tenaga dalam tinggi, Ananda sudah pasti tewas," tambah Baginda Raja Kalingga Jaya Karta lagi.


"Baik Ayahanda," jawab Sembung Merah sambil melepaskan golok di tangannya. Tanpa basa-basi Sembung Merah langsung meninggalkan ruangan itu. Nilam Sari terkejut melihat suaminya tiba-tiba pergi tanpa permisi.


"Kanda... Tunggu..," seru putri Nilam Sari sambil menyusul Sembung Merah.


"Maafkan hamba Baginda," ucap Anggala menjura hormat.

__ADS_1


"Ha ha ha...! Tidak apa Pendekar Naga Sakti, maklum anak bangsawan. Dia terlalu manja," jawab Baginda Raja Kalingga Jaya seperti membaca pikiran Anggala.


.


Sembung Merah duduk bersandar di bawah sebatang pohon di pinggir kolam besar di belakang istana. Wajah pemuda itu tampak masih memerah menahan amarahnya.


"Huh... Ayahanda prabu terlalu menyanjung Pendekar Naga Sakti itu, biarlah... toh dia akan jadi tumbal istana kematian juga," guman Raden Sembung Merah dalam hati, jemari tangannya tergenggam, amarahnya berangsur turun mengingat istana kematian belum ada yang mampu menaklukkannya.


"Kanda... Kenapa tiba-tiba keluar tanpa memberi tahu dinda?" tiba-tiba Nilam Sari telah berada di samping suaminya tersebut.


"Eh.. Dinda, maaf sayang, Ayahanda terlalu cepat menyuruh Kanda menyudahi pertarungan dengan Pendekar Naga Sakti," rungut Raden Sembung Merah.


"Sudahlah Kanda, ilmu Pendekar Naga Sakti itu jauh diatas ilmu silat yang Kanda miliki, Ayahanda tidak ingin menantu satu-satunya terluka," ucap Nilam Sari berusaha menghibur Sembung Merah.


Sembung Merah menarik nafas panjang dan perlahan melepaskannya, "Orang tua itu harus mati dengan berakhirnya masa kekuasaannya nanti," guman Sembung Merah dalam hati.


"Kanda kenapa melamun?" tanya Nilam Sari sambil tersenyum manja.


Tiba-tiba terdengar suara orang orang bernyanyi dan bersair, kadang berhenti dan kembali bernyanyi lagi. Raden Sembung Merah dan putri Nilam Sari saling melepaskan pelukan. Mereka sama sama menolehkan pandangan ke arah datangnya suara itu.


Tampak kakek Deja Wantara sedang berjalan gontai dengan santainya, orang tua itu tampak bernyanyi riang. Terkadang tertawa sendiri, kemudian bernyanyi lagi. Tangan kanannya seperti orang menari sedangkan tangan kirinya memegang sebuah guci arak. Raden Sembung Merah bangkit dari duduknya, lalu tegak berkacak pinggang dan memasang wajah angker.


"Hei...!" bentak Raden Sembung Merah dengan suara yang begitu keras. Kakek Deja Wantara lansung berhenti tertawa dan bernyanyi, ia langsung membungkukkan badan melihat Raden Sembung Merah dan putri Nilam Sari ada di belakang istana. Raden Sembung Merah dan putri Nilam Sari menghampiri kakek Deja Wantara. Raden Sembung Merah menatap dengan mata melotot memandang mantan patih itu yang dalam keadaan mabuk kebanyakan minum arak.


"He he he...,Raden. Maaf, hamba tidak tau kalau Tuan muda dengan putri lagi berada di taman belakang istana," ucap si Pendekar Gila seraya tertawa terkekeh, sambil matanya melirik ke arah putri Nilam Sari yang berdiri di samping Raden Sembung Merah.


"Mau apa kau kesini? Memata-mataiku ya?! bentak Raden Sembung Merah keras.


"Ah, tidak....! Tidak. Maaf kalau Raden dan Putri merasa terganggu, hamba tidak tau kalau Raden dan Putri ada di sini," ucap kakek Deja Wantara sambil tertawa terkekeh.


Pendekar Gila meneguk arak dari guci di tangan kirinya, kemudian menyeka tetesan arak di bibirnya dengan punggung tangan kanannya. Tetesan arak membasahi baju putih kakek Deja yang sudah tampak lusuh dan kotor, penuh debu dan tanah. Raden Sembung Merah mendengus melihat kearah kakek Deja Wantara, yang tidak sedikit pun menghormatinya bahkan tidak menyeganinya. Bahkan tidak memandang sebelah mata pun padanya. Tapi begitu hormat pada putri Nilam Sari.

__ADS_1


"Pergi sana!" bentak Raden Sembung Merah mengusir Pendekar Gila, ia merasa muak melihat sikap kakek Deja Wantara tersebut.


"He he he...! Maaf, Raden. Aku sedang mencari udara segar, di dalam terlalu gerah," jawab Pendekar Gila seenaknya.


"Heh..! Apa kau bilang..?!" Raden Sembung Merah langsung merasa geram mendengar kakek Deja Wantara hanya menyebut aku saja, bukan hamba seperti yang biasa orang lain ucapkan.


"He he he...!" Pendekar Gila malah tertawa terkekeh.


Tanpa mempedulikan Raden Sembung Merah yang sedang marah besar padanya, kakek Deja Wantara malah duduk di bawah sebatang pohon bunga kemboja yang sedang berbunga. Raden Sembung Merah semakin gusar melihat tingkah kakek Deja Wantara itu. Raden Sembung Merah lalu menghampiri kakek Deja Wantara dan langsung memberikan sebuah tendangan keras ke arah wajah Pendekar Gila itu.


Tanpa di duga kakek Deja Wantara malah menjatuhkan diri, sehingga tendangan Raden Sembung Merah tidak mengenai sasaran. Melihat orang tua itu mengelak dengan enteng, tentu saja Raden Sembung Merah semakin geram.


"Kanda, sudah...!" cegah putri Nilam Sari begitu suaminya berniat menendang kembali Pendekar Gila lagi.


"Dia sudah berlalu kurang ajar padaku, Dinda!" dengus Raden Sembung Merah.


"Sudahlah, jangan dilayani lagi," bujuk putri Nilam Sari begitu lembut.


Raden Sembung Merah menatap bola mata di wajah cantik di depannya itu, kemudian memandang kearah kakek Deja Wantara yang duduk santai di bawah pohon bunga cempaka, sambil menikmati araknnya. Bahkan kini ia kembali bernyanyi dan bersyair lagu kidung yang tak jelas arti dan kata-katanya.


"Ki! Kau bisa meninggalkan tempat ini, bukan? Cobalah mencari tempat yang lebih indah dan lebih nyaman selain tempat ini," kata putri Nilam Sari membujuk kakek Deja Wantara lembut.


"Hamba, Tuan Putri...," sahut Pendekar Gila sambil merapatkan tangannya di depan hidung. Dengan begitu hormat dan sopan orang tua itu bangkit dan berjalan meninggalkan tempat itu. Melihat sikap kakek Deja Wantara yang begitu sopan dan hormat pada putri Nilam Sari, Raden Sembung Merah semakin muak saja.


"Huh!"


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2