
Cahaya merah kehitaman itu makin membesar, sehingga melebihi besar buah kelapa. Cahaya merah itu perlahan disorongkan kedepan dadanya dengan perlahan.
Sementara pengemis gila merapatkan telapak tangannya disamping pinggang kanannya. Cahaya putih bersinar menyelubungi tangan pendekar tua itu. Cahaya itu menyelubungi kedua telapak tangannya sampai kepangkal siku.
"Mati Kau Pengemis Gila! Heaaa...!"
Bentakan Barong Hitam terdengar parau, ia menghentakkan telapak tangannya kedepan. Cahaya merah itu meluncur cepat bagaikan kilat kearah Pengemis Gila. Pengemis Gila pun tidak tinggal diam.
"Heaaa...!"
Cahaya putih yang menyelubungi kedua telapak tangan Pengemis Gila tersebut meluncur cepat menghadang cahaya merah kehitaman dari tangan Barong Hitam jelmaan Datuk Prabang Kara.
Desss....!! Desss....!
Duaaaaarrrr.......!!"
Ledakan besar mengguncang tempat tempat itu. Debu dan tanah berhamburan ke udara, Kayu pagar rumah besar markas Perampok Singa Merah itu ikut tercabut dari tanah. Kayu pagar itu berterbangan bagai daun.
Datuk Prabang Kara yang dalam wujud Barong Hitam itu terlempar sekitar lima tombak ke belakang dan jatuh bergulingan. Baju Merah berlengan hitam milik Datuk Prabang Kara kini berubah menjadi hitam semua. Asap tipis berwarna putih tampak keluar dari tubuh sang datuk.
Sedangkan Pengemis Gila hanya terseret kebelakang sekitar dua tombak. Pengemis Gila hanya sampai jatuh berlutut sambil memegangi dadanya, yang terasa sesak karena jalan darah dan pernapasannya kacau. Pengemis Gila cepat duduk bersemedi untuk mengatur jalan darah dan pernapasannya. Tidak butuh waktu lama Pengemis Gila telah bangkit berdiri.
Kamandaka bersama dua adik seperguruannya Raka Adiwangsa dan Aryaguna segera melesat menemui Pengemis Gila.
__ADS_1
"Kakek tidak apa-apa?" tanya Kamandaka sambil menatap kearah Pengemis Gila.
"Hehehe..! Seperti yang Kau lihat anak muda, aku baik-baik saja, hehehe..!" jawab Pengemis Gila sambil berjalan kedekat tongkat rotan semabunya yang tadi ia tancapkan ditanah.
"Wah... Kakek Pengemis memang hebat! Kesaktian Kakek setingkat dengan guru kami, Pendekar Tongkat Naga Emas," puji Kamandaka.
"Hehehe...! Ilmuku belum ada apa-apanya, di banding Suranata guru kalian itu, hehehe...!" tawa Pengemis Gila sambil terkekeh. Pengemis Gila memang tidak pernah menyombongkan ilmu kesaktiannya. Karena ia tau diatas langit masih ada langit.
"Kakek memang rendah hati," ucap Kamandaka cengegesan seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Pendekar Naga Sakti dan Bidadari Pencabut Nyawa berjalan mendekati Pengemis Gila yang mengambil tempat duduk didepan rumah besar markas Perampok Singa Merah itu.
"Terima kasih Kek, sudah membantu kami. Jika Kakek tidak datang kami belum tentu mampu mengalahkan Tiga Warok Singa Merah itu," ucap Pendekar Naga Sakti sambil memberi hormat pada sesepuh golongan putih itu, " Kakek memang sangat hebat!" tambah Pendekar Naga Sakti lagi.
"Hehehe...! Pendekar Naga Sakti. Kau jangan membuatku tertawa, Kau hanya masih kurang pengalaman. Kesaktianmu malah jauh diatasku," sanggah Pengemis Gila merendah, "Gurumu Lesmana dan Pertapa Naga adalah tokoh nomor satu dunia persilatan tanah andalas ini, aku belum ada apa-apanya di banding Satria Naga," tambah Pengemis Gila menyebut gelar masa muda kakek guru Pendekar Naga Sakti.
"Terserah Kakeklah, yang penting saya telah mengucapkan terima kasih atas bantuan Kakek hari ini," gerutu Pendekar Naga Sakti sambil tertawa dan mengambil tempat duduk tidak jauh dari Pengemis Gila.
"Terima kasih banyak Kek, nasehat Kakek akan Wulan ingat, dan akan Wulan jadikan pelajaran," ucap Wulan Ayu sambil tersenyum.
"Tugas kalian adalah mengubur seluruh mayat yang ada ditempat ini, aku masih punya urusan, kalian Tiga Elang. Aku tidak menyangka kalau Elang Hitam telah mengambil murid, selama ini Elang Hitam terkenal sebagai golongan tengah, dia tidak suka mencampuri urusan dunia persilatan. Dia hanya berjalan di jalannya sendiri, jika kalian bertemu beliau sampaikan dalamku," kata Pengemis Gila, setelah berkata ia tiba-tiba melompat keudara dan melesat meninggalkan tempat itu sambil tertawa terkekeh ciri khasnya.
"Seorang tokoh tua yang masih melanglang buana didunia persilatan ini, kata guruku, pengemis gila sudah jarang ikut campur urusan dunia persilatan, kecuali urusan menyangkut banyak orang," tutur Kamandaka sambil menuang air putih dari kendi yang ada di depannya, kedalam cangkir keramik.
"Ilmu kesaktiannya sungguh luar biasa, dia bisa saja mengalahkan datuk Prabang Kara dengan cepat, tapi dia masih ingin bermain-main," ungkap Kamandaka lagi.
__ADS_1
Cahaya matahari tampak menerangi puncak gunung pungur dari sebelah barat. Cahaya itu seakan enggan menyinari puncak gunung yang bermandikan darah itu. Baju anyir darah mulai menusuk hidung.
Para pendekar muda yang ada disana hanya saling pandang sesaat, setelah itu mereka sibuk mengubur mayat puluhan anggota Perampok Singa Merah yang tewas. Termasuk mayat Tiga Warok Singa Merah itu.
Matahari hampir tenggelam diupuk barat. Para pendekar muda itu tampak baru menyelesaikan tugas mereka, memakamkan puluhan bahkan ratusan anggota perampok Warok Singa Merah yang tewas mempertahankan kesombongan mereka.
Malam mulai merayap, dari dalam bangunan besar ditengah puncak gunung pungur itu, keluar sekitar tiga puluh orang wanita yang dijadikan pelayan ditempat itu. Mereka menyalakan lampu obor sebagai penerangan. Pendekar Naga Sakti dan Bidadari Pencabut Nyawa mendekati mereka ditengah senja yang mulai menyelimuti.
"Kenapa kalian tidak meninggalkan tempat ini? Bukankah kalian punya kesempatan dari tadi malam?" tanya Bidadari Pencabut Nyawa pada rombongan pelayan tersebut.
"Kami hanya pelayan biasa pendekar, kami mungkin ada yang terpaksa melayani hasrat bejat para Warok Singa Merah itu. Namun kami diperlakukan cukup baik disini, jika kami melarikan diri dari tadi malam, dan kalian kalah, nyawa kami tentu jadi taruhan, sampai semuanya jelas, kami terpaksa bertahan," jawab salah seorang pelayan tersebut. Pelayan itu sepertinya adalah yang jadi kepala para pelayan dimarkas besar Warok Singa Merah ini.
"Kalian bisa menginap disini dulu malam ini, kami punya banyak makanan. Esok pagi kita bisa meninggalkan tempat ini," tambah pelayan itu.
"Sebaiknya kita ikuti saran nisanak ini, malam mulai gelap, siapapun mulai dingin, sebaiknya kita bermalam disini," saran Pendekar Naga Sakti.
"Ya, tidak ada salahnya, kita menikmati tempat mewah Tiga Warok Singa Merah ini satu malam ini," Sahut Kamandaka, kedua adik seperguruannya hanya ikut mengangguk pertanda mereka menyetujui keinginan Kamandaka dan Anggala tersebut.
"Baiklah! itu lebih baik, badanku pun mulai terasa lelah dan letih, mungkin selain menumpang istirahat, kita juga bisa minta makanan," sambung sang Bidadari Pencabut Nyawa sambil tertawa kecil.
"Tentu saja bisa pendekar, didalam banyak makanan," jawab pelayan itu sambil tersenyum dan segera memasuki pintu rumah besar itu diikuti kawan-kawannya.
__ADS_1
.
Bersambung...