Pendekar Naga Sakti

Pendekar Naga Sakti
Dendam Tiga Elang Part 14


__ADS_3

Cahaya merah membentuk api menyelubungi pedang besar di tangan Si Mata Satu itu. Wajah Seram Si Mata Satu tampak memerah karna hawa panas yang keluar dari cahaya merah di pedangnya itu.


"Jurus Pedang Iblis Api! Hati-hati Kak Anggala! Jurus pedang itu cukup berbahaya!" Seru Dewi Arau tampak mengenal jurus pedang yang di gunakan oleh Si Mata Satu itu.


"Heaaa.....!"


Jerit melengking keluar dari mulut Si Mata Satu. Seketika cahaya merah yang menyelubungi pedang besarnya menderu deras, melesat ke arah Pendekar Naga Sakti.


Wuss....!


Booomm....!


Blaaar....!


Pendekar Naga Sakti menghindari dampak ledakan pukulan Si Mata Satu itu dengan 'Ilmu Langkah Malaikat'.nya. Dengan sekali lompatan Pendekar Naga Sakti telah berada cukup jauh dari ledakan itu.


Begitu debu dan tanah yang berhamburan ke udara itu jatuh ke bumi dan debu sirna di sapu angin. Si Mata Satu sudah tidak ada lagi di tempat itu termasuk beberapa orang anak buahnya yang masih hidup.


"Pendekar Muda, siapa pun adanya Kau! Ku tunggu kedatanganmu satu purnama dari sekarang di puncak gunung pungur!"


Suara Si Mata Satu menggema di tempat itu. Namun wajah orangnya sudah tidak ada di tampak di sana. Si Mata Satu mengirimkan suara dengan ilmu pengirim suara jarak jauh.


"Dasar Pengecut Kau Si Mata Satu, tunggu kedatanganku!" Jawab Pendekar Naga Sakti dengan suara menggema. Pengiriman suara yang memakai tenaga dalam tinggi itu membuat orang-orang yang ada di sekitar tempat itu menutup telinga.


Hanya Tiga Elang dan Bidadari Pencabut Nyawa ysng tampak biasa saja mendengar suara Pendekar Naga Sakti itu. Keempat gadis cantik itu mempunyai tenaga dalam tinggi. Sehingga mereka mampu meredam kekuatan suara kiriman Pendekar Naga Sakti itu.


"Ha ha ha...! Pendekar Naga Sakti kecolongan, musuhnya kabur..!" Ledek Wulan Ayu berdiri di samping Anggala sambil tertawa.


"Meledek ya! Awass...!"


"Aww...!" Wulan Ayu terpekik ketika Anggala dengan gemasnya berusaha mencubit lengannya. Wulan Ayu malah lari sambil tertawa.


Dewi Arau hanya tersenyum melihat Anggala dan Wulan Ayu saling menggoda, dan saling bercanda.

__ADS_1


Tampak di halaman warung itu tidak kurang dari dua puluh orang anggota Perampok Singa Merah yang tewas bergelimpangan.


"Waduh, ada pekerjaan baru lagi nih," Kata Ki Suro melihat mayat yang bergelimpangan itu.


"Serahkan pada kami Ki. Kami akan menguburkan mayat para perampok itu," Ujar Kepala kampung dan beberapa orang penduduk yang tampak telah menyiapkan cangkul dan sekop.


"Terima kasih Aki-aki, setelah itu Kalian datanglah ke sini, untuk makan, saya yang akan membayar semuanya," Ucap Pendekar Naga Sakti pada para penduduk.


"Tidak usah terlalu sungkan nak pendekar, jika tidak ada Kalian para pendekar. Para perampok itu selalu berbuat sekehendak hati mereka di desa kami ini," Jawab kepala kampung itu.


"Kalau begitu ucapan Aki, baiklah, namun anggaplah sebagai penghilang lelah, Ki Suro akan menyiapkan semuanya," Ucap Anggala lagi sambil tersenyum.


Anggala bersama Ki Suro, dan para penduduk kampung Jati Arum pergi ke pemakaman kampung dan menyiapkan beberapa buah kuburan , untuk mayat para perampok itu.


Setelah selesai menguburkan semua mayat para Perampok Singa Merah itu di makamkan mereka kembali ke kampung Jati Arum. Kemboja dan semua orang yang ada di warung telah menyiapkan makanan dan minuman untuk para lelaki kampung yang ikut membantu pemakaman itu.


.


.


Gerbang pagar rumah besar itu di hiasi ukiran berbentuk singa berwarna merah. Rumah dan wilayah rumah besar itu adalah daerah kekuasaan Perampok Singa Merah. Rumah besar itu adalah tempat tinggal Tiga Warok Singa Merah.


Gerbang rumah besar itu di jaga oleh orang-orang berbaju merah dan bertubuh tegap. Sebuah golok besar tersalip di pinggang orang-orang itu.


Ke empat perampok yang lagi bertugas sebagai penjaga gerbang itu tampak asyik mengobrol dan saling bercanda. Obrolan mereka terhenti ketika sebuah bayangan datang di depan mereka dengan tiba-tiba.


"Ketua Lima! Apa yang terjadi?" Tanya salah seorang penjaga gerbang itu, "Mana anak buahmu yang lain?" Tambah penjaga gerbang itu lagi.


"Mati!" Bentak Orang yang di panggil ketua lima itu. Orang itu adalah Si Mata Satu. Memang benar anak buahnya yang berjumlah tiga puluh orang, kini hanya kembali sekitar sepuluh orang itu pun dalam keadaan babak belur.


"Mati?" Penjaga itu tampak terkejut mendengar jawaban Si Mata Satu itu. Dua orang penjaga gerbang itu langsung membuka gerbang pagar rumah yang sekalian markas besar Perampok Singa Merah itu.


Si Mata Satu tanpa banyak bicara langsung masuk ke dalam gerbang itu, di ikuti oleh anak buahnya.

__ADS_1


Melihat Si Mata Satu masuk dengan anak buahnya yang babak belur. Tiga Warok Singa Merah dan beberapa orang bawahannya tampak terkejut.


"Apa yang terjadi Bagas Pala?" Tanya salah seorang Warok Singa Merah.


"Maafkan aku Ketua, kami di kalahkan oleh seorang pendekar muda dan beberapa pendekar wanita muda di desa Jati Arum," Jawab Bagas Pala sambil menunduk lesu.


"Siapa pendekar-pendekar itu Bagas Pala?" Tanya Warok Singa Merah yang bernama asli Jagat Pati.


"Tiga orang pendekar wanita itu mengaku sebagai murid Elang Hitam. Pendekar wanita yang satunya bergelar Bidadari Pencabut Nyawa. Sedangkan pendekar yang laki-laki itu mempunyai kesaktian mirip Lesmana Pendekar Naga Sakti, salah satu jurusnya aku kenal yaitu 'Jurus Sembilan Matahari Cakar Elang'." Jawab Si Mata Satu sambil tetap menunduk dan berlutut di depan keTiga Warok Singa Merah itu.


"Bidadari Pencabut Nyawa, murid Bidadari Galak dan Malaikat Pemarah yang sempat menggegerkan dunia persilatan pulau andalas bagian barat itu?" Ujar Warok Singa Merah tertua yang bernama asli Jagat Satra itu.


"Kalau itu Aku juga tidak begitu tau ketua, namun kipas yang di pakainya bergambar seekor elang," Jawab Si Mata Satu lagi.


"Ada urusan apa pendekar dari barat itu sampai ke daerah selatan ini?" Guman Jagat Satra seperti berbicara pada dirinya sendiri, "Murid Elang Hitam? Setauku Elang Hitam adalah seorang pendekar yang menyukai kebebasan. Sejak kapan dia mempunyai murid? Namun aku memang sudah lama tidak bertemu tokoh silat sakti yang tidak jelas golongannya itu," Tambah Jagat Satra lagi.


Si Mata Satu hanya menunduk sambil tetap berlutut. Begitu pun anak buah Si Mata Satu tidak ada yang berani mengeluarkan suara.


"Bagas Pala! Bawa anak buahmu ke ruang pengobatan. Obati mereka!" Perintah Jagat Satra. Kepala Perampok Singa Merah itu tampak agak bisa mengerti kalau anak buahnya di kalahkan orang yang berilmu tinggi.


"Kakak, apa yang harus kita lakukan? Pertemuan para pendekar golongan hitam semakin dekat. Apa semua ini tidak menjadi masalah di kemudian hari?" Tanya Jagat Pati pada sang kakak.


"Kita tunggu sampai pertemuan para pendekar itu. Kalau perlu kita undang mereka ke pertemuan para pendekar, dan kita bisa menghabisi mereka di depan para pendekar yang lain," Jawab Jagat Satra.


"Ketua Izinkan hamba yang membalas dendam Si Mata Satu, pada para pendekar itu," Pinta salah seorang anak buah Warok Singa merah yang bergelar Perampok Maut. Perampok maut menjabat sebagai Ketua tiga di perserikatan Perampok Singa Merah itu.


"Silahkan! Alangkarta, bawa orang-orang yang berkepandaian tinggi!" Jawab Jagat Satra sambil mengangguk. Alangkarta pun bangkit dan memberi hormat pada Tiga Warok Singa Merah, dan segera meninggalkan ruangan pertemuan para Perammpok Singa Merah itu.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa like Koment dan favorit nya ya teman-teman. Terima kasih banyak.


__ADS_2