
Seminggu sudah Anggala dan Wulan Ayu tinggal di rumah Ki Sarwala, kini saatnya mereka berpamitan untuk meneruskan perjalanan dan petualangan yang mereka jalani.
Pagi sekali Anggala dan Wulan Ayu sudah mandi ke sungai, mereka bersiap untuk perjalanan mereka. Mak Tarsih dan Lastri pun sudah menyiapkan makanan untuk di bawa oleh kedua pendekar muda itu sebagai bekal.
Setelah sarapan pagi bersama sama. Anggala dan Wulan Ayu pun segera berpamitan, mereka di antar oleh orang-orang Desa Talang kuda, Ki Sarwala dan Mak Tarsih tampak agak murung melepas kepergian Anggala dan Wulan Ayu.
Sedangkan Lastri menangis memeluk Wulan Ayu, ia menggantung lansung bekal makanan untuk di perjalanan kedua pendekar muda itu.
Lastri memeluk erat tubuh Wulan Ayu sambil menangis, ia sudah merasa dekat dengan Bidadari Pencabut Nyawa itu selama seminggu ini.
"Wulan Ayu, hati-hati ya, jangan lupa makan bila waktu makan, dan jangan lupa jika Wulan Ayu lewat di desa ini mampir kesini lagi, Lastri pasti akan merindukan Wulan," Lastri tampak sesegukan, air matanya bercucuran deras membasahi pipinya.
"Ya, Wulan akan hati-hati, Wulan juga akan makan bila sudah waktunya, pasti, jika kami lewat di sini lagi, kami akan mampir, siapkan saja masakan yang enak-enak," kata Wulan Ayu sambil mengusap rambut gadis cantik Putri Ki Sarwala itu.
"Lastri jangan sedih lagi, kan sudah ada Sarja dan Sota, yang akan menjaga Lastri," bujuk Wulan Ayu sambil melepaskan pelukan Lastri dengan perlahan.
Mereka bersalaman dengan orang-orang kampung. Setelah berpamitan mereka berdua pun berangkat dengan mengebah kudanya secara pelan. Dari kejauhan Lastri masih melambaikan tangan pada Wulan Ayu. Wulan Ayu pun membalas lambaian tangan Lastri itu.
Perlahan mereka telah meninggalkan Desa Talang kuda itu. Kini mereka memasuki hutan rimbun di ujung Desa. Setelah keluar dari desa Talang kuda itu barulah mereka memacu kuda mereka dengan kencang.
Tidak terasa perjalanan Anggala dan Wulan Ayu telah setengah hari, mereka belum menemui sebuah desa pun, dalam perjalanan itu.
"Kak, kita istirahat dulu yuk, itu ada sungai, kita bisa mencuci tangan di sana," ajak Wulan Ayu sambil memperlambat lari kudanya.
Anggala pun memperlambat lari kudanya, "Baik, kita istirahat di sini Dinda," jawab Anggala sambil memberhentikan kudanya.
Anggala dan Wulan Ayu mencuci tangan di air sungai itu, setelah mencuci tangan dan mencuci muka, mereka pun menyantap bekal yang di siapkan mak Tarsih dan Lastri tadi.
"Kak, jujur saja Dinda agak berat berpisah dengan Lastri, selama seminggu ini kami sangat akrab, dia memperlakukan dinda bagai saudaranya," tutur Wulan Ayu sambil menghabiskan sisa makanannya.
"Kakak sampai di cuekin," rutuk Anggala sambil tertawa kecil, ia pun telah menghabiskan bekal makanannya.
"Masakan mak Tarsih enak ya Kak?"
"Hmm...! Ya, sangat enak, jika mak Tarsih dan Lastri buka warung pasti laris,"
"Yang Kakak katakan benar sekali, entah kapan lagi kita bisa merasakan kelezatan masakan mak Tarsih lagi,"
Setelah selesai mencuci tangan di sungai, Wulan Ayu membuat api unggun kecil, sebagai teman mereka di tengah hutan yang sepi itu.
Wulan Ayu bersandar di bahu Anggala, sambil memejamkan matanya. Angin yang berhembus sepoi-sepoi itu membuat mata agak mengantuk.
"Kak, Dinda ngantuk," kata Wulan Ayu, terdengar manja suara Wulan Ayu itu.
__ADS_1
"Kalau Dinda mengantuk ya tidur!" Jawab Anggala sambil tersenyum pada sang kekasih.
"Dinda tidur ya?" Wulan Ayu merebahkan kepalanya di paha Anggala, yang duduk bersandar di sebatang pohon yang cukup rindang.
"Tidurlah, Kakak juga agak mengantuk," Jawab Anggala sambil mencubit lembut pipi Bidadari cantik itu.
"Udah, Ah...! Dinda mau tidur," kata Wulan Ayu, sambil menggenggam tangan Anggala. Anggala hanya tersenyum melihat sikap manja Wulan Ayu itu.
Karna lelah, dan cuacanya mendukung mereka tampak tertidur di dalam hutan itu, kuda-kuda mereka tampak asyik memakan rumput yang menghijau di tempat itu.
.
Entah berapa lama sepasang pendekar muda itu tertidur, mereka di kejutkan oleh suara pertarungan yang tidak jauh dari tempat itu.
"Kak, dinda dengar ada suara pertarungan yang tidak jauh dari sini," kata Wulan Ayu sambil bangkit duduk.
.
"Ya, Kakak juga mendengarnya Dinda," Jawab Anggala.
"Kita lihat Kak?"
Baiklah! Ayo..!"
.
Tampak di bawah sana seorang Pendekar berbaju biru dengan gabungan warna kuning sedang di keroyok lima orang yang berpakaian hitam, tampak Pendekar yang berbaju hijau dan kuning itu telah terluka, sebuah pisau belati tertancap di dadanya, namun ia masih sanggup bertarung.
.
Melihat pemandangan yang merusak mata dan hati itu, Anggala sebagai Pendekar Naga Sakti tentu tidak tinggal diam, ia lansung melesat ke tengah pertarungan itu, di halaunya orang-orang berbaju hitam itu, karna di serang secara mendadak kelima orang berbaju hitam itu pun melompat mundur.
.
"Hei! Siapa Kau? Berani mencampuri urusan kami!" bentak salah seorang dari Lima orang berpakaian hitam itu, Anggala dapat melihat seberapa tinggi tingkatan tenaga dalam musuh musuhnya itu, dengan 'Ilmu Mata Malaikatnya.
.
Wulan Ayu pun ikut turun dari pohon itu, ia lansung membantu Pendekar yang terluka itu. di bawnya pendekar itu kebawah sebatang pohon tidak jauh dari tempat itu, ia pun mengalirkan hawa murni ke tubuh Pendekar itu.
.
Sedangkan Pendekar Naga Sakti, kini berhadapan dengan lima orang berbaju hitam yang mengeroyok Pendekar berbaju hijau kuning itu.
__ADS_1
"Aku bukan siapa-siapa! Aku hanya kebetulan lewat, dan melihat sikap kepengecutan Kalian!" Jawab Pendekar Naga Sakti sengit.
"Rupanya ada yang mau cari mati! Bunuh dia!!"
Habis berteriak itu, mereka lansung menyerang Pendekar Naga Sakti itu dengan serentak. Pukulan tangan kosong dan tendangan serentak mencerca Pendekar Naga Sakti itu.
Pendekar Naga Sakti yang sudah geram melihat perbuatan curang kelima orang itu, lansung menggunakan 'Jurus Baju Besi Emas'. tingkat delapanBelas.
Semua serangan kelima orang itu tidak ada yang di hindari Pendekar Naga Sakti itu, ia menanti serangan itu dengan sebuah senyuman.
Buk...!
Duk...!
Kelima orang berbaju hitam itu terkejut bukan main, melihat pukulan dan tendangan mereka tidak berakibat apa pun pada Pendekar Naga Sakti itu.
"Serangan anak kecil lebih hebat dari ini Kisanak!"
Setelah berkata Pendekar Naga Sakti bergerak begitu cepat bagaikan kilat, sekejap mata kelima orang itu telah terpental ke tanah. mereka terkejut dan hampir tidak percaya kalau mereka semudah itu di dipecundangi.
Mereka segera bangkit walau dalam keadaan mengalami luka dalam, tiba tiba mereka melepaskan senjata rahasia berbentuk pisau belati terbang berjumlah sekitar dua puluh mata pisau.
Set..! Set.....!
Pendekar Naga Sakti melihat itu hanya tersenyum, dengan 'Jurus Mata Malaikatnya ia bisa melihat jelas pisau belati yang meluncur cukup cepat ke arahnya.
"Hiaaa...!"
Pendekar Naga Sakti mengangkat tangan kanannya sebatas dada, begitu pisau belati itu hampir menyentuh tubuhnya, pisau itu berhenti di udara. Begitu Pendekar Naga Sakti menurunkan tangan nya. Pisau-pisau itu berguguran ke tanah.
Melihat senjata rahasia mereka di gagalkan dengan satu tangan, nyali mereka berubah ciut, tanpa banyak bicara lagi mereka lansung melesat melarikan diri dari tempat itu.
Setelah melihat musuhnya kabur tunggang langgang, Pendekar Naga Sakti atau Anggala menemui Wulan Ayu si Bidadari Pencabut Nyawa yang lagi menolong pendekar berbaju hijau kuning itu.
.
.
Bersambung....
Jangan lupa like,Koment dan favorit ya kalau bisa vote nya.. untuk mendukung novel ini,
Terima kasih...
__ADS_1