
Hup!"
Salah pimpinan Perampok yang ada di sana melompat ke tengah-tengah tempat itu. Gerakannya cukup ringan menjejak kaki di tanah.
"Pendekar Yang ada di sana. Aku Si Bagas Mata. Pimpinan Penyamun Bagian timur gunung pungur ini menantangmu bertarung satu lawan satu!" seru Bagas Mata dengan lantang telunjuk kirinya menunjuk ke arah Pendekar Naga Sakti.
"Hup!"
Tanpa basa basi Pendekar Naga Sakti melompat ke arah gelanggang itu dengan bersalto dua kali di udara dan menjejak kaki di tanah dengan begitu ringan.
"Hehehe...! Rupanya Kau punya nyali gajah anak muda. Kau berani datang kesarang Perampok Singa Merah ini," ejek Bagas Mata dengan tawa terkekeh.
"Kami datang atas undangan teman-teman mu Bagas Mata," jawab Pendekar Naga Sakti dengan sebuah senyum menyungging membalas ejekan Bagas Mata itu.
"Kau mengantarkan nyawamu anak muda. Heaaah....!!"
Sebuah tendangan bertenaga dalam tinggi di arahkan Bagas Mata dengan begitu cepat ke arah Pendekar Naga Sakti. Dengan begitu sigap Pendekar Naga Sakti menyambut tendangan Bagas Mata itu.
Tap!
Heaaah....!!
Bagas Mata terpaksa berjumpalitan kebelakang beberapa langkah. Bagas Mata cukup terkejut melihat serangannya begitu mudah di tangkis Pendekar Naga Sakti, padahal ia sudah mengeluarkan tenaga dalam tinggi dalam serangannya itu.
"Rupanya Kau cukup tangguh anak muda," bentak Bagas Mata dengan begitu dingin. Selesai berkata Pimpinan Perampok itu langsung menghunus sebuah senjata seperti rantai, di ujung nya terdapat sebuah trisula bermata tiga berwarna hitam pekat, pertanda senjata itu mengandung racun mematikan.
Hawa panas dan menimbulkan gatal di kulit menyebar di daerah itu. Jagat Satra memerintahkan beberapa orang pelayannya yang cantik-cantik masuk ke dalam bangunan, para pelayan itu langsung masuk ke dalam markas besar Perampok Singa Merah itu.
"Hahaha...! Ki Jagat, anak buahmu boleh juga, tapi aku melihat anak buahmu masih kalah pamor dengan pemuda itu," ucap Pendekar Naga Hitam sambil tersenyum sinis.
"Apa Sobat membela Pendekar Naga Sakti itu?" tanya Jagat Satra sambil menoleh ke arah Pendekar Naga Hitam.
"Hahaha...! Ki Jagat Satra. Kau jangan membuatku tertawa. Kau sendiri tau kalau aku telah berlawanan dengan Kakak seperguruanku Lesmana. Mana mungkin aku membela muridnya!" jawab Pendekar Naga Hitam sambil tertawa.
"Jadi dia Pendekar Naga Hitam yang bernama Fhatik itu," guman Wulan Ayu dalam hati. Wulan Ayu meningkatkan pendengarannya dengan meningkatkan tenaga dalamnya ke arah telinga.
"Aku berharap Kau tidak menghalangi kami menghabisi Pendekar Naga Sakti itu di sini Sobat!" Jagat Satra tanpa mengalihkan perhatian nya.
"Hahaha...! Ki Jagat Satra! Kau tidak usah cemas, jika anak muda itu membuat masalah di sini. Aku yang akan menghadapinya," jawab Pendekar Naga Hitam sambil menuangkan secangkir arak yang ada di depannya.
"Mati Kau! Heaaah....!"
Jerit melengking keluar dari mulut Bagas Mata. Maka seketika itu pula ia meluncurkan senjata Trisula bergantinya ke arah Pendekar Naga Sakti.
__ADS_1
"Hup! Hiyaa....!"
Pendekar Naga Sakti menegoskan tubuhnya ke udara. Senjata trisula Bagas Mata itu hanya mengenai angin sekitar setengah tombak di Bawah Pendekar Naga Sakti itu.
Wung! Wung!
Suara senjata Trisula berantai di tangan Bagas Mata itu mengaung memecah udara. Putaran senjata itu begitu cepat bagaikan kilat menyambar. Hawa racun mematikan yang menyebar dari trisula di ujung rantai itu membuat beberapa orang anggota kelompok Perampok Singa Merah itu terpaksa mengerahkan tenaga dalam.
Tiga Warok Singa Merah tampak tenang-tenang saja. Para perampok yang berilmu tinggi tampak belum mengalami masalah akibat racun yang menyebar dari trisula di ujung rantai itu.
Serangan Bagas Mata yang begitu gencar dan berurutan di layani Pendekar Naga Sakti dengan gesitnya. Setiap cercaan senjata Trisula berantai itu selalu mengenai angin kosong.
Pendekar Naga Sakti pun akhirnya mulai bosan mengikuti permainan Bagas Mata itu. Sebuah tendangan bertenaga dalam tinggi tepat menghantam dada Bagas Mata.
Buak!
"Aaakh....!"
Lenguhan tertahan keluar dari mulut Bagas Mata sebelum tubuhnya terpental deras ke arah meja yang di tempati Pendekar Naga Hitam.
Brak!
"Bangsat!"
Kalajengking Merah mengembor marah melihat Bagas Mata terpental dalam dua puluh jurus pertama. Tanpa mempedulikan Tiga Warok Singa Merah itu, Kalajengking Merah langsung melesat menyerang ke arah Pendekar Naga Sakti.
Si Mata Satu pun melompat dari tempat duduknya langsung memberikan sebuah pukulan jarak jauh ke arah Pendekar Naga Sakti.
Wuss...!!
Cahaya merah sebesar tongkat bambu melesat cepat ke arah Pendekar Naga Sakti. Sedangkan Kalajengking Merah menyerang dengan pukulan tangan kosong yang mengandung tenaga dalam tinggi.
Dik!
Pendekar Naga Sakti dengan sigap menyorongkan siku kanannya ke arah tinju Kalajengking Merah. Kalajengking Merah terjajar mundur sambil memegangi kepalan tinjunya yang terasa kesemutan. Tangan Kalajengking Merah sebelah kanan tampak bergetar dan bibirnya tampak meringis menahan nyeri di kepalan tangan kanannya.
"Hup!"
Pendekar Naga Sakti melentingkan tubuhnya ke udara menghindari dua cahaya merah pukulan Si Mata Satu itu.
Blaaar...!!
Ledakan kecil menyebabkan tanah dan debu berhamburan ke udara. Entah bagaimana terjadinya?
__ADS_1
Tiba-tiba Kalajengking Merah terpental keluar dari debu-debu yang menutupi tempat itu. Tampak Kalajengking Merah memegangi dadanya. Darah segar kehitaman tampak mengalir di sudut bibirnya.
Pendekar Naga Sakti tampak berdiri tegar begitu debu dan tanah yang berhamburan kembali jatuh ke bumi. Tampak Pendekar Naga Sakti hanya menutupi hidungnya dengan telapak tangan kirinya.
"Bangsat!"
Walet Hitam dan Perampok Sadis mengembor marah melihat dua temannya keteteran menghadapi Pendekar Naga Sakti. Tanpa menunggu perintah lagi dua pimpinan rampok itu langsung melompat dan menyerang ke arah Pendekar Naga Sakti.
Sut..!
"Heaaa....!!"
Wut!
Dua tendangan bertenaga dalam tinggi langsung mengarah ke dada Pendekar Naga Sakti. Pendekar Naga Sakti pun tidak tinggal diam dengan cepat ia menahan serangan dua pimpinan rampok itu dengan kepalan tangannya.
Dik!! Dik!!
Di sertai pengerahan tenaga dalam yang cukup tinggi Pendekar Naga Sakti berhasil menghempaskan dua pimpinan Perampok itu.
"Heh..! Heh...!
Sapta Mara dan Walet Hitam terpaksa berjumpalitan ke belakang jika tidak ingin terlempar.
Tap! Tap!
Dua pimpinan Perampok itu berhasil menjejak tanah walau agak terhuyung. Melihat dapat bantuan dua orang petinggi perampok lainnya langsung mengambil ancang-ancang mengepung Pendekar Naga Sakti.
"Hup!
Wulan Ayu melihat kekasihnya di kepung empat petinggi perampok Singa Merah itu langsung melompat ke tengah arena pertarungan itu.
"Rupanya Perampok Singa Merah adalah komplotan para pengecut! Beraninya main keroyokan!" ujar Bidadari Pencabut Nyawa dengan sebuah senyuman menyungging sinis.
"Bangsat! Kau gadis j4lang! Lancang sekali mulutmu berani sesumbar di sini, hah.!" geram Perampok Sadis mengembor marah mendengar perkataan Bidadari Pencabut Nyawa tersebut.
"Hahaha...! Perampok Sadis! Rupanya Kau mengundang kami hanya untuk mengeroyok kami di depan Tiga Warok Singa Merah. Apa Kau tidak malu terhadap para tamu hah?" balas Wulan Ayu sambil tertawa mengejek.
"Berani Sekali Kau menghina kami di markas kami. Aku pastikan Kau tidak akan keluar hidup-hidup dari puncak gunung pungur ini," bentak Walet Hitam, "Suiiiiitt......!!" tiba-tiba Walet Hitam bersuit panjang.
Entah dari mana datangnya, sekitar lima puluh orang berpakaian ala ninja berlompatan dari balik bangunan itu. Orang-orang bertopeng itu langsung mengepung ke arah Pendekar Naga Sakti dan Bidadari Pencabut Nyawa.
.
__ADS_1
.
Bersambung...