Pendekar Naga Sakti

Pendekar Naga Sakti
Istana Kematian, Misteri Terungkap


__ADS_3

Suasana sepi dan hening ketika Raden Sembung Merah dan eyang Wira Cendana telah meninggalkan tempat itu. Anggala melompat turun berniat mengikuti kemana arah orang-orang tadi.


Baru saja Anggala menjejak kaki di tanah, seseorang tiba-tiba muncul dari balik semak-semak. Dia adalah Sarsih putri kakek Deja Wantara.


"Sarsih... Kenapa kau kembali ke sini?" sentak Anggala dalam keterkejutannya.


"Aku diminta oleh Wulan Ayu menyusul kesini. Sementara Wulan Ayu sendiri pergi ke istana menyelidiki," jawab Sarsih.


"Kau sendiri. Bagaimana kau akan membantuku," tanya Anggala lagi.


"Aku memang tidak bisa bertarung, tapi aku bisa membantumu menghancurkan orang-orang jahat itu," jawab Sarsih begitu tenang, dalam kebingungannnya, gadis ini tidak lebih jauh dari ayahnya, sangat pintar berteka-teki. Anggala menatap gadis yang ada di depannya itu. Dari jawaban yang diberikan Sarsih begitu tenang menggambarkan bahwa Sarsih mengetahui banyak tentang yang terjadi di sekitar itu.


"Apa yang kau ketahui tentang semua ini?" tanya Anggala.


"Tentang Partai Teratai Api itu," jawab Sarsih.


"Jadi kau mengetahui tentang orang-orang Partai Teratai Api itu?"Anggala agak terkejut ketika Sarsih menyebut tentang orang-orang Partai Teratai Api itu. Kakek Deja Wantara pun menyebut tentang orang-orang Partai Teratai Api itu. Sarsih hanya mengangguk mengiyakan pertanyaan Pendekar Naga Sakti. Sedangkan Anggala begitu ingin tau tentang Partai Teratai Api itu. Karena ia yakin Partai Teratai Api itu erat kaitannya dengan semua kejadian ini.


Hanya saja Anggala belum tau siapa dan dimana Partai Teratai Api itu bersembunyi. Mereka selalu muncul tiba-tiba, tidak di ketahui pasti. Bahkan perginya juga tiba-tiba seperti hantu.


"Apa saja yang kau ketahui tentang Partai Teratai Api itu," tanya Anggala lebih lanjut.


"Mereka adalah musuh besar ayah. Padahal ayah tidak pernah menganggap mereka musuh," tutur Sarsih menjelaskan.


"Kenapa mereka memusuhi ayahmu?" tanya Anggala lagi.


"Kekuasaan," sahut Sarsih.

__ADS_1


"Maksudmu?" Anggala tidak mengerti.


"Dulu ayahku seorang patih kesayangan Baginda Raja Kalingga Jaya Karta, ayah sudah banyak menjalankan tugas dari Baginda, tugas itu selalu berhasil dengan gemilang, baik di dalam kerajaan mau pun di luar kerajaan. Tapi setelah putri menikah dengan Raden Sembung Merah. Ayah jadi tersingkir dari jabatannya. Bahkan beberapa kali menjadi percobaan pembunuhan, tapi selalu gagal. Tapi ayah tidak ingin memperpanjang urusan, ayah tetap diam dan berpura-pura gila. Memang ayah tersingkir selamanya dari istana. Tapi tersingkirnya ayah membuat bencana besar bagi istana dan kerajaan," tutur Sarsih mengisahkan perjalanan hidup ayahnya.


Sementara Anggala mendengarkan dengan penuh seksama dan penuh perhatian. Memang perebutan kekuasaan bukan hal yang aneh bagi Pendekar Naga Sakti, seperti yang terjadi pada Kerajaan Galuh Kencana tempo hari.


"Orang-orang Partai Teratai Api itu menginginkan ayah tersingkir untuk selamanya. Sekarang mereka menguasai seluruh Kerajaan Pasemah Agung ini," sambung Sarsih lagi.


Anggala hanya manggut-manggut mendengar penuturan Sarsih tersebut.


"Ada apa?" tanya Sarsih.


"Tidak, tidak ada apa-apa, teruskan saja," sahut Anggala.


"Mereka sekarang bahkan menjadikan Baginda Raja Kalingga Jaya Karta sebagai raja boneka yang bisa di kendalikan. Baginda Raja memang tidak mungkin di gulingkan, itu semua akan membuat rakyat marah. Maka di buat suatu malapetaka bagi seluruh rakyat dengan menjadikan istana ini menjadi istana kematian yang selaku merenggut nyawa siapa saja yang memasukinya, termasuk kakak saya yang dulu sempat jadi senopati di Kerajaan Pasemah Agung ini. Bahkan di sebarkan berita bohong bahwa di dalam istana ini ada mahluk yang tidak bisa mati dan selalu makan daging manusia, Baginda Raja Kalingga Jaya Karta dan seluruh rakyat memang bisa di kelabui, tapi tidak bisa mengelabui ayah. Itulah sebabnya mereka selalu mencari perkara secara halus, agar tidak terlihat jelas di mata Baginda Raja Kalingga Jaya Karta,"


"Huhhh....!!" Anggala menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Pendekar Naga Sakti berusaha menghilangkan pikiran buruk yang ada di pikirannya.


"Apa ayah ada di dalam sana Kak Anggala," tanya Sarsih begitu Anggala berada di depannya.


"Tidak,"


"Tidak," Sarsih seakan tidak percaya.


"Tadi pagi aku mencoba masuk. Tapi.... Istana Kematian memang begitu menakutkan, tidak heran ayahmu tidak berani memasukinya," jelas Anggala.


"Jika tidak ada disana, lalu dimana ayah sekarang?" Sarsih seperti bertanya pada dirinya sendiri.

__ADS_1


"Entahlah, aku pun tidak tau dimana ayahmu sekarang," sahut Anggala.


"Kasihan ayah," keluh Sarsih lirih. Gadis itu memandang Pendekar Naga Sakti seakan berharap. Anggala hanya bisa menarik napas panjang tanpa bisa berbuat apa-apa. Ia sendiri tidak tau dimana kakek Deja Wantara berada.


Tidak ada yang bisa ia lakukan lagi. Anggala sudah mencari keseliling istana kematian, tidak menemukan apa-apa. Tiba-tiba Anggala tersentak. Pendekar Naga Sakti baru ingat kalau menantu Baginda Raja Kalingga Jaya Karta, Raden Sembung Merah datang ke istana kematian bersama patih kerajaan yang bernama Wira Cendana. Kedua orang itu tetap segar bugar keluar masuk ke istana kematian. Sementara lantai dan ruangan istana itu di penuhi racun mematikan. Keadaan ini membuat Anggala jadi bertanya-tanya.


"Ayo, Sarsih..," ajak Anggala.


"He...! Mau kemana?" sentak Sarsih. Gadis itu berlari mengikuti Pendekar Naga Sakti. Mereka berjalan cepat setengah berlari ke arah mana Raden Sembung Merah dan patih Wira Cendana pergi. Mereka terus berjalan sampai bertemu sebuah sungai. Sarsih menghentikan langkahnya. Anggala juga terpaksa menghentikan langkahnya. Di tatapnya dalam-dalam gadis di sebelahnya yang seakan enggan menyeberangi sungai di depan mereka.


"Ada apa, Sarsih?" tanya Anggala.


"Aku tidak mau ke seberang sana," sahut Sarsih.


"Kenapa?" tanya Anggala tidak mengerti, kenapa Sarsih tampak enggan menyeberangi sungai itu.


"Kau tidak mau ke seberang sana, pasti ada alasannya," desak Anggala berusaha lembut.


"Apa kau ingin aku mati di sana...?" sentak Sarsih. Ketus sekali nada suaranya. Anggala mengerenyitkan keningnya mendengar jawaban Sarsih yang begitu ketus itu.


"Aku menunngu saja di sini, kau lebih bebas di sana, daripada aku," ujar Sarsih, kembali lembut suaranya. Anggala hanya mengangkat bahunya, meskipun gadis itu tidak bersedia menjelaskannya. Anggala tidak ingin mendesak Sarsih lagi. Sudah di tebak ketakutan Sarsih di sebabkan ceritanya sendiri. Mengingat cerita Sarsih orang-orang yang ada di seberang sungai sana sangat haus akan kekuasan, serta n4fsu duniawi.


"Baiklah. Kau tunggu di sini," kata Anggala.


Sarsih hanya mengangguk. Untuk beberapa saat Pendekar Naga Sakti memandang ke arah Sarsih, lalu membalikkan badannya. Belum lagi Anggala melangkah pergi, mendadak dari seberang sungai bermunculan orang-orang berbaju hitam dan di dadanya ada gambar bunga teratai berwarna merah. Setiap orang itu memakai gelang yang tidak sama jumlahnya.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2