Pendekar Naga Sakti

Pendekar Naga Sakti
Prahara Di Pulau Andalas. Klaew Kla Vs Jaka Kelana


__ADS_3

Kamon dengan cepat mengerahkan


ilmu kesaktian menyembuhkan tubuhnya, ia cepat mengerahkan hawa murni ke arah kedua matanya, sehingga dalam waktu yang tidak begitu lama Kamon kembali berhasil melihat ke arah singo Abang dengan jelas.


"Ku akui kau memang cukup hebat, Kisanak. Kau mampu mengobati dampak ilmu 'Tatapan Malaikat kematian'.ku," kata Singo Abang Dengan begitu tenang.


"Kau akan mati hari ini," geram Kamon sambil mengacungkan pedangnya ke arah Singo Abang, setelah itu laki berperawakan tinggi hitam itu langsung melompat seraya menyabetkan kedua pedang panjangnya secara bersilang.


Trang!


Singo Abang menyambut sabetan pedang Kamon dengan keris di tangannya, dengan begitu lincah dan tenang murid Datuk Panglima Hijau itu melayani anggota Tujuh Pedang Pembunuh tersebut.


Keris panjang dua jengkal nya tampak melintang sedikit miring di depan dada dengan jurus silat harimau yang sudah di tingkat tinggi Singo Abang bersiap menghadapi serangan dari anggota Tujuh Pedang Pembunuh tersebut.


Klahan sendiri tampak sedang menatap tajam ke Singo Jayo, namun adik Singo Abang itu tampak begitu tenang menghadapi tatapan Klahan itu.


Singo Jayo yang sudah melihat sang kakak menggunakan ilmu 'Tatapan Malaikat Kematian'. yang berhasil diobati oleh Kamon dalam waktu yang cukup singkat.


Singo Jayo tidak ingin membuang-buang tenaga dalam secara percuma, Singo Jayo segera mengerahkan jurus 'Keris Bayangan Kayangan'. dan salah satu ilmu yang berhasil dipelajarinya dari kitab tujuh tarian Kayangan.


Singo Jayo memadukan dengan jurus 'Delapan Langkah Mengitari Cahaya Mentari'. sebuah ilmu yang ia pelajari dari kitab pemberian Sang Guru.


Di banding kedua saudaranya Singo Jayo memang boleh dibilang kutu buku, Singo Jayo sangat senang membaca kitab walaupun itu bukanlah kitab ilmu beladiri dan ilmu olah kanuragan.

__ADS_1


Klaew Kla tampak berhadapan dengan Jaka Kelana dua pedang panjangnya yang mirip samurai dari negeri Sakura Itu tampak menyilang di depan dada.


Klaew Kla tampak berjalan sedikit memutari Jaka Kelana. Jaka Kelana hanya tersenyum simpul ia memandang ke arah sekeliling ia merasa daerah itu cukup sempit untuk adu kesaktian.


"Kisanak, tempat ini cukup sempit untuk kita adu kesaktian aku takut rumah dan warung penduduk akan hancur oleh ilmu kesaktian kita. Jika kau memang berniat untuk menghabisi ku maka Ikuti aku ke tengah hutan!" tantang Jaka Kelana.


Setelah itu pendekar dari bukit Kanca itu melompat ke arah dalam hutan dalam satu kali lompatan saja sudah berada sangat jauh di tepi hutan


Klaew Kla juga tidak ingin merasa dipecundangi ia dengan begitu cepat melesat menyusul Jaka Kelana ke dalam hutan.


"Hup!" Jaka Kelana menjejak kaki begitu ringan di tanah dan menghadap ke arah datangnya Klaew Kla. Tidak lama kemudian anak buah Khemkhaeng itu juga telah sampai menyusul Jaka Kelana di tengah hutan dan sebuah tempat yang cukup lapang dan dikelilingi oleh banyak pepohonan besar.


"Disini kita bisa bebas, Kisanak. Tanpa harus menghawatirkan orang lain," kata Jaka Kelana begitu tenang.


"Buktikan dulu, Kisanak. Entah siapa yang akan berkubur disini!" jawab Pendekar Srigala Putih dengan sengit namun dengan suara datar dan begitu tenang. Begitulah seorang pendekar harus selalu tenang walau musuh yang dihadapinya adalah seorang lawan yang tangguh.


"Heaaah....!" Klaew Kla melesat seraya menyabet dan menebaskan pedangnya dengan begitu cepat ke arah Jaka Kelana, namun pendekar dari Bukit Kancah itu dengan begitu tenang dan sangat gesit menangkis dengan pedang di tangan kanannya.


Trang! Trang!


Gemercik benga api membuyar dari setiap gesekan senjata di tangan kedua pendekar itu. Suara dentingan pedang yang saling beradu terdengar sangat cepat bagai sebuah alunan musik gamelan yang bertalu-talu.


Kecepatan gerakan mereka pun sudah hampir tidak terlihat oleh mata telanjang orang biasa, kedua orang itu kini bergerak bagai bayangan yang saling beradu di tengah dan berusaha saling mendesak satu sama lainnya.

__ADS_1


"Jurus pedang orang ini tampak kacau, namun mata dan pola serangannya sangat cepat," gumam Jaka Kelana dalam hati.


"Heaaah.....!" Klaew Kla dengan cukup cepat kembali melompat ke arah Jaka Kelana dan menyerang dengan kedua pedangnya secara bergantian. Klaew Kla tampaknya berniat mendesak Jaka Kelana dan berniat membuatnya kewalahan.


"Hmm....Tampaknya dia berniat membuatku kehabisan nafas," Jaka Kelana membatin. Tiba-tiba Jaka Kelana bergerak bagai kilat sambil menyelingkan sebuah tendangan ke arah pinggang Klaew Kla.


"Heh!" Klaew Kla cukup tersentak kaget ketika tendangan Jaka Kelana hampir mengenai pinggangnya. Klaew Kla cepat menarik diri dan melompat mundur ke belakang.


"Kurang ajar, serangannya hampir mengenai ku," umpat Klaew Kla dalam hati. Jaka Kelana hanya tersenyum melihat musuhnya mengumpat dalam hati.


"Bagaimana, Kisana?" ujar Jaka Kelana tersenyum menang.


"Kampret!" gerutu Klaew Kla merasa di ejek oleh perkataan Jaka Kelana barusan.


"Jurus Pedang Kematian'. Pedang Neraka Membakar Awan!" bentak Klaew Kla sambil menyilangkan pedangnya di depan dada dan dengan begitu cepat laki-laki itu memutar kedua pedangnya bagai baling-baling yang mengeluarkan suara mengaung menyakiti telinga.


"Hmm...! Akan ku coba dengan jurus 'Pedang Srigala Kayangan!" gumam Jaka Kelana sambil melintangkan pedangnya di depan dan pemuda itu memamerkan kepiawaiannya memainkan pedang.


Setelah berhenti sebuah cahaya merah tampak mulai menyelubungi pedang srigala putih di tangan Jaka Kelana itu. Cahaya itu menutupi seluruh batang pedang hingga ke ujungnya.


.


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2