Pendekar Naga Sakti

Pendekar Naga Sakti
Kelompok Iblis Perak. Tewasnya Kelabang Ungu dan Kelabang Merah


__ADS_3

Kita lihat apa yang terjadi ditengah hutan yang cukup jauh dari Desa Mekar Ramai. Suasana hening tampak menyelimuti sebuah lokasi yang sudah porak poranda. Pepohonan entah berapa banyak yang tumbang, tidak sedikit pula yang patah dan daunnya rontok. Tanah tampak berlubang menyerupai kawah tak berair.


Tidak jauh dari kawah tanah kering itu, berdiri seorang gadis cantik berbaju serba biru. Gadis cantik berbaju biru itu adalah tidak lain Wulan Ayu yang dikenal dunia persilatan dengan gelar Bidadari Pencabut Nyawa.


Di seberang sana berdiri seorang gadis cantik berbaju ungu. Wajah cantiknya tampak agak memucat, ada noda darah di sudut bibirnya. Ia adalah putri Reksa Gana yang bernama Mekar Suri.


"Bagaimana Kelabang Ungu? Aku masih mau memberimu kesempatan untuk bertobat, karna usiamu masih sangat muda. Jalan yang akan Kau tempuh masih cukup panjang. Jadi bertobatlah kembali kejalan yang benar!" nasehat Wulan Ayu dari kejauhan dengan nada suara yang cukup keras.


"Huh..! Bidadari Pencabut Nyawa! Mulutmu cukup sesumbar berani menasehatiku, Apa Kau takut kehilangan nyawamu, atau Kau takut kehilangan kekasih tampanmu yang bergelar Pendekar Naga Sakti itu. Hah!" jawab Mekar Suri dengan suara lantang dan bernada tantangan.


"Baiklah... Aku tidak akan menahan diri lagi Mekar Suri. Jangan salahkan aku jika arwahmu penasaran!" geram Wulan Ayu. Gadis cantik murid dua Pendekar Pemarah itu langsung meningkatkan tenaga dalamnya ke tingkat yang cukup tinggi.


Bidadari Pencabut Nyawa segera merapal 'Ajian Malaikat Putih Dari Kayangan'.


tingkat Sepuluh, Ajian ini adalah andalan Malaikat Pemarah, sang guru Bidadari Pencabut Nyawa.


Kedua tangan Wulan Ayu merentang di depan dadannya. Cahaya putih terang menyelimuti kedua tangan Bidadari Pencabut Nyawa itu.


Wulan Ayu mengerahkan tujuh puluh lima persen tenaga dalamnya. Cahaya putih itu menyelimuti kedua tangan sang Bidadari Pencabut Nyawa dan perlahan menyelimuti seluruh tubuhnya. Sehingga tubuh Wulan Ayu jadi bersinar putih terang. Tubuh Bidadari Pencabut Nyawa itu perlahan mengambang ke udara, sehingga tingginya mecapai tiga tombak ke atas.


"Kau akan menyesal meremehkan Kelabang Ungu, Bidadari Pencabut Nyawa!" teriak Mekar Suri sambil menyilangkan kedua tangannya didepan dada. Cahaya merah kehitaman mulai menyelubungi kedua tangannya sampai kesiku.


Kelabang Ungu mengerahkan hampir seluruh tenaga dalam yang ia miliki. Sinar merah kehitaman yang menyelimuti kedua tangannya mulai membesar.


"Ajian Kelabang Neraka Mengumbar Nyawa! Hiyaaa....!!!" jeritanmelengking keluar dari mulut Mekar Suri. Kedua tangannya direntangkan keatas kepala. Cahaya merah kehitaman itu tampak bagai api menyala.


Perlahan Mekar Suri merapatkan telapak tangannya. Dua cahaya itu menyatu. Kelabang Ungu berteriak nyaring," Haaaaa.....!!" cahaya merah kehitaman itu membentuk separuh tubuh kelabang.


"Haaaa....!!" bentakan Mekar Suri itu mengawali gerakan tangannya menyentak kedepan kearah atas tempat Wulan Ayu mengambang di udara.


Wulan Ayu merapatkan tangan di depan dada, cahaya putih bagaikan api bersinar menyatu di kedua tangannya. Bidadari Pencabut Nyawa itu menunggu serangan musuh, dengan telapak tangan menyatu, dan.

__ADS_1


Swosss...!


Swosss!


Blaaaaammm....!!


Ledakan besar mengguncang tempat itu. Aura panas menebar bagai angin yang membentuk bulatan. Api ledakan membakar beberapa batang pohon dan dedaunan, asap hitam dan debu mengepul menutupi pemandangan ditempat itu.


"Aaaaa...!!" jeritan kesakitan terdengar dari mulut Mekar Suri sambil tubuhnya mencelat, terpental jauh kebelakang. Tubuh Kelabang Ungu itu bagai tertiup angin topan terpental cukup jauh hingga menabrak sebatang pohon.


Brakk!


Tubuh Mekar Suri jatuh bergulingan. Wajah cantiknya tidak terlihat lagi, yang terlihat hanya wajah dan tubuhnya yang berwarna kehitaman bagai sudah terpanggang api. Kelabang Ungu tewas sebelum menyentuh tanah dengan tubuh terbakar.


Sedangkan Wulan Ayu tampak masih mengambang di udara. Bidadari Pencabut Nyawa itu hanya terdorong sekitar dua tombak akibat aura ledakan pukulannya dan pukulan Mekar Suri tadi. Wulan Ayu yang mengantisipasi kemungkinan luka dalam dengan ilmu 'Baju Besi tingkat dua belas. Tampaknya cukup berhasil. Perlahan Wulan Ayu meluncur turun ketanah.


"Uhuakh..!" Wulan Ayu terbatuk seraya berlutut ditanah. Darah segar tampak mengalir dari sudut bibirnya. Bidadari Pencabut Nyawa cepat duduk bersemedi untuk memulihkan luka dalam yang ia derita.


.


.


Sementara itu di tengah hutan dibelakang Desa Mekar Ramai. Pendekar Naga Sakti yang sedang berhadapan dengan Kelabang Merah. Tampak saling berhadapan dengan jarak sekitar lima tombak. Roksa Geni tampak telah selesai bersemedi mengobati luka dalamnya.


"Kau memang hebat Pendekar Naga Sakti. Tapi aku belum kalah, hanya satu yang akan keluar dari sini hidup-hidup. Kau atau aku!" berang Kelabang Merah dengan tatapan tajam.


"Itu terserah padamu Kelabang Merah, jangan salahkan aku jika sepak terjangmu berakhir hari ini!" balas Pendekar Naga Sakti sengit. Tatapannya tajam setajam mata elang memperhatikan mangsa.


"Heaaa...!!" Roksa Geni menyilangkan kedua tangannya didepan dada. Cahaya merah kehitaman menyelubungi kedua tangan Roksa Geni itu. Roksa Geni mengerahkan hampir seluruh tenaga dalamnya. Ajian 'Kelabang Neraka Mengumbar Nyawa. Ditingkat yang lebih tinggi dirapalnya. Kelabang Merah merapal ajian 'Kelabang Neraka tingkat tujuh'.


"Hup!" Anggala pun segera meningkatkan tenaga dalamnya ke tingkat yang lebih tinggi. Pendekar Naga Sakti mengerahkan sekitar enam puluh persen dari tenaga dalam yang ia miliki. Anggala segera merapal jurus 'Tapak Naga'. tingkat enam Amarah Pasukan Naga'. Pendekar Naga Sakti merapatkan kedua telapak tangannya didepan dada. Cahaya kuning keemasan mulai menyelimuti kedua telapak tangan Anggala.

__ADS_1


Perlahan Pendekar Naga Sakti menarik telapak tangannya dari depan dadanya kearah dua sisi dadanya, dan sejajar di samping dada membentuk cakar.


"Heaaa....!" bentakan Anggala menggelegar. Cahaya kuning yang menyelubungi kedua telapak tangannya mulai membesar dan membentuk tiga kepala naga yang cukup besar, sehingga tubuh Pendekar Naga Sakti diselubungi cahaya kuning keemasan itu separuh ke atas.


Cahaya merah yang menyelubungi kedua telapak tangan Roksa Geni itu mulai membesar ketika ia merentangkan tangannya kesamping. Perlahan Kelabang Merah menggerakkan kedua tangannya yang membentuk cakar kearah depan dada. Cahaya merah itu membentuk setengah tubuh kelabang. Namun jauh lebih besar dibanding yang dibuat oleh Kelabang Ungu saat berhadapan dengan Bidadari Pencabut Nyawa tadi.


"Heaaa...!" bentakan Roksa Geni itu mengawali gerakan tubuh nya, melesat begitu cepat kearah Pendekar Naga Sakti. Cahaya merah bentuk setengah tubuh kelabang itu meluncur lebih dulu di depan dada Kelabang Merah itu.


"Hiyaaa...!" Pendekar Naga Sakti pun tidak tinggal diam. Ia pun melesat kedepan menyongsong Kelabang Merah dengan dua telapak tangan di depan dada.


Wuss!


Wuss.!


Blaaaaammm...!!"


Rrrrrrrrrrr......!


Tempat itu bagai terguncang oleh gempa yang begitu dahsyat. Tanah bergetar debu dan tanah berhamburan. Api besar meledak bagai ledakan sebuah bom berkekuatan tinggi. Aura panas menebar bagai angin badai.


"Aaaa... .....!!!" jeritan kesakitan terdengar meraung dari mulut Roksa Geni diiringi tubuhnya terpental belasan tombak. Tubuh Kelabang Merah meluncur deras ke belakang tampa berhenti. Beberapa batang pohon sebesar pohon kelapa sehingga patah dan hancur terhantam tubuh Roksa Geni itu. Sampai akhirnya ia berhenti di sebatang pohon yang cukup besar.


Bruakk!


Roksa Geni tampak mengeliat sebentar dan perlahan berusaha bangun. Namun ia jatuh lagi dengan darah menyembur dari mulutnya. Wajah dan tubuh Kelabang Merah tampak berubah hitam bagai sebuah arang. Di bagian dadanya tampak kulitnya mengelupas dan mengeluarkan asap tipis.


"Aaakhh...!!" Roksa Geni akhirnya jatuh tersungkur telapak tangan kanannya tampak mengenggam tanah. Matanya melotot menatap kedepan. Kelabang Merah seakan tidak percaya ilmu andalannya dikalahkan.



.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2