Pendekar Naga Sakti

Pendekar Naga Sakti
Prahara Di Pulau Andalas. Penyamun Kala Hitam bag, 2


__ADS_3

Matahari tampak mulai bergerak turun di ufuk barat. Awan yang semulanya mengumpal putih di bawah langit kini mulai berubah hitam, cahaya matahari yang tadi bersinar terang kini berubah mendung.


Angin mulai bertiup sepoi-sepoi menandakan bahwa sebentar lagi hujan akan turun membasahi bumi. Tiga orang anggota Penyamun Kala Hitam termasuk Nuran tampak masih berbaring di tanah sambil berusaha bergarak menjauh dari tengah medan pertarungan.


Kala Sumba tampak menatap tajam ke arah pemuda yang berpakaian putih-putih yang berdiri sekitar sepuluh langkah di depannya.


Pemuda itu adalah Pendekar Srigala Putih yang bernama asli Jaka Kelana. Pemuda itu tampak begitu tenang rambutnya yang hampir sebahu tampak berkibar oleh angin yang mulai bertiup kencang.


Enam orang anak buah Kala Sumba yang tadi duduk di dalam warung juga sudah keluar dan berdiri di belakang pimpinan mereka.


"Ketua, biarkan kami yang akan mencincang pemuda itu," kata salah seorang anggota Penyamun Kala Hitam yang berdiri di belakang.


"Baik, tapi kalian harus memperhitungkan. Pemuda itu mempunyai kepandaian yang cukup tinggi," jawab Kala Sumba.


"Kami tau, Ketua!" jawab mereka serentak. Seorang anggota Penyamun Kala Hitam yang tadi bersama Nuran tampak juga ikut kebarisan teman-temannya yang tampak maju dan mengepung Pendekar Srigala Putih.


"Bagus. Dengan begitu aku bisa memberi kalian pelajaran sekaligus, agar kalian sadar bahwa kalian bukan tandingan Pendekar Naga Sakti!" terdengar datar suara Jaka Kelana namun matanya menatap tajam ke arah musuh yang berada di depannya.


"Mulut sombongmu itu akan ku robek dengan golokku ini, Anak Muda!" geram laki-laki yang bertubuh paling besar dan tinggi, kulitnya tampak hitam karena terbakar panasnya sinar matahari.


"Cobalah, buktikan perkataan kalian itu!" tantang Jaka Kelana sambil menyungging senyum tipis. Melihat senyuman Jaka Kelana yang seakan merendahkan mereka, semua anggota Penyamun Kala Hitam itu langsung menghunus golok dari balik pinggang kiri mereka.


Tiga orang yang bertubuh besar itu tampak memakai senjata kudok dengan gagang berukir japit kala berwarna hitam.


Tes! Tes! Tes!


Tik! Tik! Tik!


Tetesan air hujan mulai turun terdengar jelas mengenai genteng dan rumbai atap rumah para penduduk, tanah yang tadi kering kini tampak mulai basah dengan bertambahnya intensitas hujan yang mengguyur tempat itu.


Singo Abang yang dari tadi jadi penonton, merasa tidak enak hati. Pemuda itu bangkit berdiri dari tempat duduknya.

__ADS_1


"Abang, mau kemana?" mau membantu Jaka?" tanya Singo Sarai menyadari tindakan kakak tertuanya itu.


"Ya, tidak enak rasanya hanya jadi penonton. Kalian berdua tetaplah disini, diluar hujan biar aku yang akan membantu Jaka Kelana," jawab Singo Abang.


"Tapi, Abang. Kami juga ingin membantu, Jaka Kelana dikeroyok tujuh orang. Itu pertarungan yang tidak adil sama sekali," sela Singo Jayo.


"Ilmu kedukjayaan mereka masih jauh di bawah kepandaian Jaka Kelana, cuma aku merasa tidak enak saja. Apalagi dia bertarung di dalam gegapnya hujan," kata Singo Abang sebelum melesat keluar.


"Tapi, aku melihat pimpinan Penyamun Kala Hitam itu mempunyai tenaga dalam yang cukup tinggi, Abang Jayo?" kata Singo Sarai.


"Ya, walau aku tidak dapat melihat seberapa tingginya ilmu tenaga dalam Jaka Kelana, tapi dengan ketenangan pemuda itu, aku yakin dia mempunyai kesaktian yang tinggi.


Apalagi dia memiliki pedang srigala putih itu," jawab Singo Jayo. Singo Sarai hanya mengangguk mendengar penjelasan sang kakak.


"Apa perlu bantuan, Sahabat?" ujar Singo Abang sambil menjejak tanah di samping Jaka Kelana.


Jleb!


"Singo Abang? Kenapa keluar, Sahabat?" tanya Jaka Kelana tampak agak terkejut melihat Singo Abang datang membantu.


"Hujan, Sahabat. Tidak enak rasanya duduk diam sedangkan sahabat bertarung dalam hujan," jawab Singo Abang sambil tersenyum.


"Terima kasih banyak, Sahabat," ucap Jaka Kelana sambil tersenyum menoleh kearah Singo Abang. Sedangkan tujuh orang anggota Penyamun Kala Hitam mulai bergerak mengepung mereka.


"Ayo, kalian tunggu apalagi!" tantang Singo Abang sambil bergerak membelakangi Jaka Kelana dan menghadapi tiga orang anggota Penyamun Kala Hitam yang mengepung dari arah belakang Jaka Kelana.


"Sahabat, lawan yang di depan. Saya akan hadapi yang ada di belakang," kata Singo Abang memegang bahu Jaka Kelana.


"Ya, saya setuju, Sahabat," jawab Jaka Kelana sambil tersenyum.


"Serang...!" perintah salah seorang kawanan Penyamun Kala Hitam. Tanpa pikir panjang lagi ketujuh orang itu langsung melompat menyerang sambil mengayunkan golok mereka ke arah Jaka Kelana dan Singo Abang.

__ADS_1


Derasnya tetesan air hujan bagai tidak berasa bagi orang-orang yang lagi bertarung di depan sana, sedangkan yang ada di dalam warung dan di rumah penduduk yang tidak jauh dari tempat itu menatap tak berkedip melihat ke tengah gelanggang.


"Hup!" Singo Abang cepat bergerak menarik tubuhnya ke arah samping hingga cercaan golok tiga orang anggota Penyamun Kala Hitam yang mengincar lehernya hanya mengenai angin kosong, dengan begitu cepat telapak tangan Singo Abang menepis salah satu golok yang menebas ke arah perutnya.


Clang!


Tepisan pendekar yang menguasai jurus silat harimau tampak begitu lembut, namun mengandung tenaga dalam yang begitu tinggi. Sehingga golok anggota Penyamun Kala Hitam itu langsung terpental lepas dari pegangannya.


Begitu cepat hampir tidak terlihat, Singo Abang bergerak memberikan serangan balik kepada ketiga musuhnya. Telapak tangan murid Datuk Panglima Hijau itu bergerak lemah lunglai, namun menimbulkan dampak yang begitu dahsyat.


Ketiga orang anggota Penyamun Kala Hitam itu langsung terpental ke tanah sekitar lima sampai tujuh langkah dengan mulut menyemburkan darah segar.


"Aargh......!!" ketiga anggota Penyamun Kala Hitam itu tampak menggeliat di tanah, darah tampak mengalir dari sela bibir mereka. Air hujan membuat darah di bibir mereka lebih cepat hilang dan jatuh ke tanah.


Begitu pun dengan Jaka Kelana, pemuda itu dengan sigap dan gesit menghindari setiap sabetan dan tebasan golok dan Kudok keempat musuhnya. Bahkan dengan sangat cepat Jaka Kelana langsung memberikan serangan balasan pada ke empat musuhnya.


"Aaaa.....!" satu persatu anggota Penyamun Kala Hitam bermentalan ke tanah sambil mengerang kesakitan setelah menerima pukulan dan cakaran Pendekar Srigala Putih.


"Bangsat! Heaaah.....!!" Kala Sumba melesat sambil memberikan sebuah tendangan terbang bertenaga dalam tinggi ke arah Jaka Kelana.


Dik!


Pendekar Srigala Putih cepat menangkis serangan pimpinan Penyamun Kala Hitam itu, dengan menyilangkan tangannya di depan dada. Kala Sumba terpaksa melentingkan tubuhnya ke arah belakang setelah Jaka Kelana berhasil mendorong dengan kekuatan tenaga dalamnya.


Jleb!


Kala Sumba cepat menggeser kuda-kudanya dan bersiap dengan jurus-jurus andalannya.


.


.

__ADS_1


Bersambung.......


__ADS_2