
Wulan Ayu bercerita panjang lebar dengan Nyi Lastri, Bidadari Biru alias Wulan Ayu sangat terkejut, Nyi Lastri bercerita ada anggota Partai Lembah Kematian yang mengaku Bergelar Bidadari Pencabut Nyawa dari barat.
"Sudah berapa purnama ia berkeliaran dengan gelar Bidadari Pencabut Nyawa itu Nyi..??" tanya Wulan Ayu, tampak Wajah gusar Bidadari cantik itu.
"Sudah hampir sepuluh purnama ini, nak Wulan..!" jawab Nyi Lastri.
"Ini tidak bisa di biarkan Nyi..!" kata Wulan Ayu lagi.
Boleh kah..? Kami menginap di sini sampai mereka datang Nyi..?" tanya Wulan Ayu.
"Rumah ini, rumah orang dari Galuh Permata nak, jadi tinggallah semaumu, anggaplah rumah sendiri..!" jawab Nyi Lastri, sambil tersenyum pada Wulan Ayu.
"Terimakasih banyak Nyi, kami berencana menunggu Orang orang Partai Lembah Kematian di sini..!" ucap Wulan Ayu sambil tersenyum manis pada Nyi Lastri.
"Ya sudah den Ayu istirahat, Nyi mau masak yang enak untuk kita makan malam ini..!" kata Nyi Lastri sambil berjalan ke dapur.
"Tampaknya Bidadari Pencabut Nyawa, ada dua nih, jadi bingung, yang mana kekasihku...!" canda Anggala sambil tertawa kecil ke arah Bidadari Pencabut Nyawa, alias Wulan Ayu.
"Kakak...!" rengut manja sang Bidadari cantik, sambil tersenyum pada Anggala.
Malam itu mereka makan bersama, dengan ki Kusnadi dan nyi Lastri.
Dua hari telah berlalu belum juga ada tanda tanda Orang orang Partai Lembah Kematian, datang ke desa Lingkar Sari.
Wulan Ayu dan Anggala berjalan menyusuri Desa, sambil menyapa penduduk yang mereka temui.
Begitu sampai ke ujung Desa terdengar suara derap langkah kaki kuda, menuju ke arah desa.
Anggala dan Wulan Ayu melompat ke atas pohon, untuk melihat siapa Orang orang yang berkuda itu.
tampak di kejauhan, serombongan orang orang berbaju hitam, dengan di pimpin seorang wanita cantik, berbaju merah muda, dengan sebilah pedang di punggungnya, gagang pedangnya berbentuk elang.
"Kak, sepertinya itu wanita yang mengaku sebagai Bidadari Pencabut Nyawa itu..!" bisik Wulan Ayu sambil memperhatikan Orang orang yang berkuda memasuki desa.
"Ya, Dinda Kakak juga melihatnya, kita tunggu, apa benar wanita itu yang mengaku sebagai Bidadari Pencabut Nyawa, atau bukan..?" jawab Anggala.
Ia tetap memperhatikan Orang orang yang berkuda itu.
Rombongan itu memasuki desa, dan singgah di warung di ujung Desa, mereka tampak memasuki warung itu, dengan gelak tawa, mereka mengusir penduduk yang lagi minum dan makan di sana.
"Ha ha ha... ! Ayo cepat tinggalkan tempat ini, atau kalian ingin di bantai Bidadari Pencabut Nyawa, hah....!" bentak laki laki botak brewok di belakang wanita itu.
"Huh..!" tidak salah lagi Kak, wanita ****** itu yang mengaku sebagai Bidadari Pencabut Nyawa..!" balas Wulan Ayu, sambil berkelebat turun dari pohon.
Anggala yang hendak mencegah Wulan Ayu, tapi diurungkannya, karna Wulan Ayu telah mendarat dengan ringannya di tanah.
Anggala pun menyusul, berkelebat bagai kilat ke samping Wulan Ayu, mereka berdua berpura pura menuju warung makan itu.
__ADS_1
Begitu Anggala dan Wulan Ayu memasuki warung, mereka di cegah oleh Orang orang yang mengawal, wanita cantik berbaju merah muda itu.
"Kalian mau kemana kisanak, kalian tidak lihat warung ini lagi di pakai Bidadari Pencabut Nyawa..!" ujar salah seorang pengawal yang bertubuh besar, dan berwajah seram.
"Hahaha..!" Maaf kisanak, saya mengenal siapa Bidadari Pencabut Nyawa, yang asli, bukan gadungan itu...!" kata Wulan Ayu sambil tertawa.
"Bangsat kau tidak mengenal kehebatan Bidadari Pencabut Nyawa..!" gertak pengawal itu.
"Minggirlah kalau kau ingin hidup lebih lama..!" dengus Wulan Ayu sambil berjalan memasuki warung.
"Heaaa...!"
Pengawal itu lansung menerjang kearah Wulan Ayu, namun tendangan pengawal itu di tahan dengan telapak tangan kiri Wulan Ayu.
"Hih....!" Wulan Ayu mengibaskan tangan kirinya, dengan tenaga dalam tinggi, pengawal itu terpental ke sebuah meja.
"Aakh....!"
Brak...!"
Tubuh besar pengawal itu menghancurkan meja, yang di timpanya, ia berusaha bangun dengan sempoyongan.
Melihat temannya di lemparkan dengan begitu mudah, yang lain lansung menghunus golok di pinggang mereka.
Srek....!
Srek...!
"Heaaa...!"
Trang....!
"Hah....!"
Orang orang berbaju hitam, itu terkejut bukan kepalang, melihat golok mereka seperti mengenai besi, belum hilang keterkejutan mereka, kaki kanan Wulan Ayu, bagai kilat menghajar tubuh tubuh mengeroyoknya.
"Hiaaa....!"
Duk...! Duk.....! Duk...!
"Aaa.....!" Para pengawal wanita berbaju merah muda itu, terpental berserakan, jatuh ke dalam warung dan mengenal meja, sehingga meja meja itu hancur.
" Hih...!" Wanita berbaju merah muda itu, melemparkan piring dari tanah, yang ada di depannya, ke arah Bidadari Biru.
"Hup....!"
Tap...! Tap...!"
__ADS_1
Wulan Ayu menangkap piring piring itu, dengan santai, dan meletakkannya di atas meja, yang ada di sampingnya.
"Bangsat...! Siapa Kau....! Hah... Berani cari masalah dengan Bidadari Pencabut Nyawa..!" bentak wanita berbaju merah muda itu.
"Bidadari Pencabut Nyawa palsu..!Beraninya kau menjual namaku..!" geram Wulan Ayu sambil membuka topi capingnya.
Wanita berbaju merah muda itu, melompat ke arah Wulan Ayu, dengan sebuah pukulan tàngan kosong, bertenaga dalam tinggi.
Dik...!
Wulan Ayu menahan pukulan wanita cantik berbaju merah muda itu, dengan tangannya, wanita itu terjajar ke belakang, ia bersiap dengan kuda kudanya, bersiap untuk melanjutkan pertarungan.
"Hup....!" Wulan melesat ke depan warung, ia menunggu wanita cantik, yang mengaku sebagai Bidadari Pencabut Nyawa itu, di sana.
"Hei.. Bidadari Pencabut Nyawa Palsu, kesini kau..!"
teriak Wulan Ayu dengan lantang, bernada tantangan.
"Heaaa...!" Wanita berbaju merah muda itu, melesat keluar warung, mendatangi Wulan Ayu.
Sret....!
Wulan Ayu mengeluarkan Kipas Elang Perak dari balik bajunya, ia lansung membuka kipas itu, terlihat lukisan Elang Perak di daun kipas itu.
Wanita berbaju merah muda itu, terkejut melihat kipas Elang Perak di tangan Wulan Ayu.
"Jadi kau, Bidadari Pencabut Nyawa yang asli, kau akan mati hari ini...! Heaaa...!"
Wanita berbaju merah muda itu, lansung menyerang Wulan Ayu dengan sebuah tendangan berantai, Wulan Ayu yang tampak marah, lansung menggunakan 'Jurus Kipas Elang Perak Menangkap Mangsa'.
"Heaaa...!"
Jerit melengking Wulan Ayu, sambil mengibaskan Kipas Elang Perak, ke arah wanita itu, angin kencang menderu ke arah Wanita itu.
"Hup...!" Wanita itu melompat menjauh menghindari serangan Wulan Ayu itu.
"Hiaa...!"
Sebuah pukulan jarak jauh di lancarkannya, ke arah Wulan Ayu, Wulan Ayu berjumpalitan menghindari serangan pukulan jarak jauh yang di lancarkan ke arahnya.
Sring...!
Merasa musuhnya lebih unggul Wanita itu, menghunus pedang, yang ada di balik punggungnya.
Wulan Ayu, yang baru menginjakkan kaki di tanah, lansung menyimpan Kipas Elang Perak ke balik bajunya, dan menghunus pedang Elang Perak di balik punggungnya.
Sring..!"
__ADS_1
Mata Pedang Elang Perak berkilauan terkena sinar matahari, Wulan Ayu bersiap dengan 'Jurus Pedang Kayangan'. pedang Elang Perak bagai bayangan mengelilingi tubuhnya.
Bersambung....!