Pendekar Naga Sakti

Pendekar Naga Sakti
Prahara Di Pulau Andalas. Tujuh Pedang Pembunuh.


__ADS_3

Tetes-tetes hujan yang mulai berhenti membasahi bumi. Angin semilir bertiup membuat tubuh cukup terasa dingin. Burung-burung yang tadi bersembunyi berteduh di bawah dedaunan kini mulai berani berterbangan dan hendak kembali ke sarangnya.


Karena matahari telah hampir terbenam di ufuk barat, cahaya merah mulai menghiasi langit di ufuk barat.


Jaka Kelana dan tiga harimau dari Bukit Tambun Tulang tampak masih asik berbagi cerita, Jaka Kelana dan Singo Abang yang tadi sempat basah, kini telah tampak kering. Dengan kesaktian dan kedigdayaan kedua pendekar itu mengeringkan pakaian dan tubuh mereka bukanlah hal yang sulit bagi pendekar-pendekar muda dari daerah Bukit Sanggoi Inai itu.


"Sahabat bertiga, apa sebaiknya kita bermalam dulu di tempat ini. Kita jika lanjutkan perjalanan hari ini, kebetulan malam pun sudah dekat bisa-bisa kita bermalam di tengah hutan.


Karena dari Desa ini untuk mencapai Desa berikutnya cukup jauh," kata Jaka Kelana


"Sahabat kami tidak begitu mengetahui wilayah ini, namun dengan adanya engkau berarti kami mempunyai penunjuk jalan dan kami bisa mengetahui siapa gerangan Pendekar Naga Sakti yang kami cari.


Melihat cuaca saat ini, saran sahabat itu memang tidak salah. Bagaimana adik-adikku, apakah kita bermalam dulu di tempat ini?" tanya Singo Abang pada kedua adiknya.


"Ya, kami juga melihat hari telah sore, malam pun akan segera datang. Jika di tempat ini ada penginapan mungkin lebih baik kita menginap di tempat ini, Abang," jawab Singo Jayo, "Bukankah begitu, Adik Sarai?" lanjutnya lagi.


"Aku setuju saja, Kakak. Tapi alangkah baiknya kita tanyakan dulu kepada aki pemilik warung. Apakah warung ini menyediakan penginapan apa tidak?" jawab Singo Sarai.


"Ya, yang di katakan oleh Adik Singo Sarai benar, sebaiknya kita tanyakan kepada aki pemilik warung lebih dulu, Abang," timpal Singo Jayo.


"Ki.... Aki...., aki bisa ke sini sebentar!" panggil Singo Abang pada si pemilik warung itu, mendengar ia di panggil pemilik warung itu cepat-cepat menemui Singo Abang dan Jaka Kelana.


"Ya, anak muda ada yang bisa aku bantu?" sahut aki pemilik warung itu.


"Kebetulan hari sudah hampir malam, kami ingin bermalam di sini. Apakah warung aki menyediakan penginapan?" tanya Singo Abang.


"Ya, warung aki menyediakan penginapan, Anak Muda. Jika kalian ingin menginap aki akan menyiapkan kamar untuk kalian," jawab aki pemilik warung.


"Baiklah, Ki. Kami butuh kamar setidaknya dua kamar satu kamar agak kecil untuk adik perempuan saya, dan satu kamar besar untuk kami bertiga," jawab kata Singo Abang.


"Kalau kamar besar aki tidak punya, Anak Muda. Tapi jika kamar agak kecil-kecil di belakang ada kalian bisa istirahat di kamar itu kamar itu hanya muatan untuk dua orang saja jadi jika kalian mau menginap di sini, aki bisa menyiapkan empat kamar atau tiga kamar?" kata aki pemilik warung itu.


"Baiklah, kami butuh empat kamar saja, jika itu ada?"


"Baik, Anak Muda. Aki akan mempersiapkan empat kamar untuk kalian dan juga makan malam untuk kalian. Kalian tentu butuh makan malam," tambah aki pemilik warung itu lagi.


"Ya, tentu saja Ki. Mumpung kami masih berada di warung dan ada makanan tentu kami butuh makanan timpal," Jaka Kelana sambil tersenyum.


"Baik, Anak Muda. Aki dan istri aki akan mempersiapkan semua yang kalian butuhkan."

__ADS_1


"Terima kasih, Ki," ucap Jaka Kelana," Ini untuk biaya makan kami tadi," tambahmya lagi.


"Sahabat. Kenapa kau juga membayar makanan kami? Kami juga membawa bekal," kata Singo Abang merasa tidak enak melihat Jaka Kelana membayar makanan yang mereka pesan tadi.


"Tidak apa-apa, Sahabat. Anggap saja ini sebagai hadiah pertemuan dan persahabatan kita," jawab Jaka Kelana sambil tersenyum.


"Terima kasih, Sahabat. Hati sahabat sungguh baik," ucap Singo Abang.


"Saya tidak sebaik yang sahabat katakan," jawab Jaka Kelana sambil tertawa.


Mereka pun akhirnya beristirahat di warung itu untuk malam ini. Malam mulai datang bintang-bintang tampak menghiasi langit yang sudah bersih dari awan yang hitam yang mengucurkan Air hujan membasahi bumi tadi siang.


######************************######


Nun jauh dari tempat itu Anggala dan Wulan Ayu masih berada di Desa Gragan, walau orang-orang dari perguruan Gagak Hitam sudah tidak ada yang datang. Namun untuk meninggalkan Desa ini, mereka masih ragu kedua pendekar muda dari barat itu takut jika para pendekar golongan hitam datang ke tempat itu akan menyakiti penduduk yang tidak berdaya akibat perlawanan mereka selama ini.


Selama itu pula aki Syarip dan mak Ripah sangat senang dengan adanya Anggala dan Wulan Ayu di warung mereka. Anggala dan Wulan Ayu yang merupakan pasangan muda-mudi yang sangat ringan tangan walau mereka sebenarnya adalah tamu di penginapan Aki syarip, namun Anggala dan Wulan Ayu tidak enggan membantu pekerjaan aki Syarip dan mak Ripah dalam melayani pengunjung warung, jika warung sedang ramai di datangi orang-orang untuk makan dan sekedar minum teh dan minum kopi.


Tidak terasa hampir satu minggu sudah Anggala dan Wulan Ayu berada di rumah dan warung Aki syarip ini, namun selama satu minggu ini tidak ada lagi para pendekar golongan hitam yang datang mencari mereka sejak kekalahan orang-orang dari Perguruan Gagak Hitam.


########*******************#######




Khemkhaeng: ( Pria yang kuat dan kuat) pimpinan Tujuh Pedang Pembunuh.




Kittibun: ( Kekayaan terkenal) Wakil ketua yang merupakan orang yang menjadi pemegang hasil upahan dan penasehat di dalam anggota Tujuh Pedang Pembunuh.




Kamon: (Berarti dari hati) [Anggota]

__ADS_1




Kasem: (Perasaan kebahagiaan murni) [Anggota]




Kla: (Seorang pria yang dipenuhi keberanian dan kejujuran)




Klaew Kla: (Soerang pria yang gagah dan berani).




Klahan: (Seorang pria yang gagah berani).




Setelah mendengar penjelasan dan mengetahui ciri-ciri Pendekar Naga Sakti yang menjadi incaran mereka, ketujuh anggota Tujuh Pedang Pembunuh kini bergerak mulai mencari keberadaan Pendekar Naga Sakti dengan di antar oleh salah seorang anggota Perguruan Gagak Hitam.


Khemkhaeng dan ke-tujuh anak buahnya kini melakukan perjalanan menuju Desa Gragan yang menurut informasi dari murid Perguruan Gagak Hitam, Pendekar Naga Sakti saat ini berada di Desa Gragan dengan mengendarai tujuh kuda hitam kesayangan mereka.


Mereka mulai berangkat meninggalkan markas besar Partai Teratai Hitam keberangkatan mereka dilepas langsung oleh Saga Lintar, Fhatik dan gurunya Iblis Kelelawar.


.


.


Bersambung........

__ADS_1


__ADS_2