
Melihat musuhnya berhasil melarikan diri Wulan Ayu sangat kesal, ia melepaskan pukulan 'Elang Perak Menangkap Mangsa'. ke arah sebatang pohon, sehingga pohon itu tumbang ke tanah.
Bruuumm....!
"Dasar pengecut kau Iblis Pemetik Bunga.!" pekik Wulan Ayu dengan penuh kemarahan suaranya membahana pertanda ia memakai tenaga dalam tingkat tinggi. Anggala tampak terdiam memperhatikan Wulan Ayu yang di kenal dengan gelar Bidadari Pencabut Nyawa melepaskan kekesalannya.
Tidak lama barulah Anggala menghampiri sang kekasih dalam kegelapan malam
orang-orang kampung beramai-ramai menuju rumah yang tadi di santroni Iblis Pemetik Bunga. Tampak juga di sana Ki Ngbeh, ikut keluar mendengar teriakan minta tolong tadi.
"Dinda, sudahlah. Iblis Pemetik Bunga itu sudah tidak ada di sini," kata Anggala pada sang kekasih.
"Dinda, kesal Kak, ternyata Iblis Pemetik Bunga itu pengecut," geram Wulan Ayu.
"Ayo, kita hampiri orang-orang kampung.!" ajak Anggala pada Wulan aAyu.
"Hmm.. Baiklah Kak, ayo," Wulan Ayu yang mulai agak reda emosinya.
"Ada yang emosi nih..!" ledek Anggala sambil tertawa di samping Bidadari Pencabut Nyawa.
"Kakak...," Wulan ayu malah merengut manja sambil memeluk tangan kiri Anggala, tanpa mempedulikan orang-orng kampung melihat ke arah mereka berdua.
"Sudah berapa orang gadis yang di culik dari desa ini, Ki.?" tanya Anggala pada Ki Ngbeh yang berada di dalam rombongan orang orang kampung.
"Tujuh orang sudah, Nak. Termasuk anak kepala kampung malam ini," jawab Ki Ngbeh. Orang-orang kampung mengharapkan Anggala dan Wulan Ayu, mau membantu merebut kembali para gadis Desa yang di culik Iblis Pemetik Bunga itu.
"Kami akan berusaha menolong, dan merebut kembali anak-anak gadis kalian," ucap Anggala.
"Tapi bersabarlah, karena kami tidak mengetahui di mana bukit seribu bunga yang di katakan Iblis itu," lanjut Anggala.
"Nak, kalau kalian berdua mampu menyelamatkan putri-putri kami. Kami akan membayar kalian seberapa yang kalian minta," kata laki-laki itu, ia adalah kepala kampung itu.
"Jangan pikirkan bayaran, Ki. Kami hanya berusaha menolong sebisa kami," sahut Anggala.
" Iya Ki, menolong orang orang yang kesusahan adalah kewajiban kami," tambah Wulan Ayu pula.
"Bukit Seribu Bunga jauh dari sini, Ki?" tanya Anggala.
"Cukup jauh, Nak," jawab seorang laki setengah baya yang anaknya juga di culik Iblis Pemetik Bunga.
__ADS_1
"Nama Aki Karta, panggil saja Ki Karta," ucap Ki Karta memperkenalkan diri.
"Aki tau di mana Bukit Seribu Bunga?" tanya Anggala lagi.
"Tau Nak, aki dulu pernah berburu burung berkutut sampai ke sana," jawab Ki Karta.
"Kalian pulanglah, hari sudah larut.!" pinta Ki Karta pada rakyat desanya.
"Biarkan masalah ini akan saya rundingkan dengan pendekar berdua ini," imbuh Ki Karta lagi.
"Baik, Ki!" jawab orang-orang kampung serentak dan mereka pun meninggalkan halaman rumah Ki Karta.
Istri ki Karta masih menangis di dalam rumah, ada istri ki Ngbeh bersamanya dan berusaha menenangkannya.
"Bagaimana saya bisa tenang, Nyi..! Putri kami satu-satunya,..! kini di culik iblis itu..!" jawab istri ki Karta sambil menangis.
Wulan Ayu tanpa di minta masuk ke dalam rumah dan juga ikut berusaha menenangkan istri ki Karta.
"Tenanglah, Nyi esok pagi kami akan pergi ke bukit seribu bunga dengan Ki Karta, untuk menyelamatkan putrimu," ucap Wulan Ayu sambil mengelus punggung wanita yang berumur sekitar empat puluh tujuh tahunan itu.
"Terima kasih Nak, atas kebaikan kalian yang ingin membantu kami.!" ucap istri Ki Karta yang mulai agak tenang mendengar ucapan Wulan Ayu.
"Saya Wulan Ayu Nyi, siapa nama putri Nyi itu?" Wulan Ayu memperkenalkan diri dan lansung bertanya.
"Yang bersama dengan Ki Karta itu teman saya namanya Anggala, Pendekar Naga Sakti," Wulan Ayu memperkenalkan sang kekasih pada istri Ki Karta.
Mereka berbincang-bincang, setelah mata mereka terasa mengantuk barulah Anggala permisi kembali ke warung Ki Ngbeh untuk istirahat, hari pun sudah menjelang subuh.
Matahari pagi sudah naik sekitar tiga tombak di upuk timur, Anggala baru terjaga dari tidurnya begitu ia bangun si cantik Wulan ayu sudah duduk di sampingnya.
"Bangun Kak, sudah siang," kata Wulan Ayu.
"Lihat matahari sudah tinggi.!" tambahnya lagi. Wulan Ayu sambil menunjuk keluar jendela rumah Ki Ngbeh.
"Sudah siang rupanya, kenapa Dinda tidak membangunkan kakak dari tadi?" tanya Anggala sambil duduk dari tempat tidurnya.
"Mana Ki karta.! Apa dia sudah menungggu kita?" tanya Anggala pada Wulan Ayu.
" Ki Karta menunggu di rumahnya," jawab Wulan Ayu sambil tersenyum manis ke arah Anggala.
__ADS_1
"Ya, sudah. Kakak mandi dulu ya," kata Anggala sambil berjalan menuju dapur rumah Ki Ngbeh.
Setelah mandi dan sarapan pagi Anggala menuju rumah Ki Karta dengan di antar ki Ngbeh, Anggala sudah mau membayar biaya makan dan menginap di warung Ki Ngbeh, tapi ki Ngbeh menolak.
"Kalian adalah tamu desa ini bukan tamu warung saya," tolak Ki Ngbeh dengan halus sambil berjalan.
"Kalau kalian berhasil,menyelamatkan para gadis itu, itulah bayaran kalian menginap di warung saya," ujar ki Ngbeh sambil tertawa.
Ki Karta sudah menyiapkan tiga ekor kuda, untuk mereka berangkat ke bukit seribu bunga.
"Pakai kuda ya, Ki?" tanya Anggala.
"Iya, Nak Pendekar, penduduk memberikan kuda-kuda ini untuk perjalanan kita, Bukit Seribu Bunga cukup jauh dari sini," jelas Ki Karta.
"Baiklah, Ki," jawab Anggala kalem.
Mereka permisi pada Ki Ngbeh dan lansung pergi meninggalkan tempat itu.
Mereka memacu kuda cukup kencang, Ki Karta di depan sebagai penunjuk jalan.
Hampir setengah hari mereka berkuda barulah mereka mencapai daerah Bukit Seribu Bunga.
"Ki, sebaiknya Aki tunggu disini, biar kami yang pergi ke bukit itu," ucap Anggala.
"Ya, Ki, kita belum tau apa yang menunggu kita di sana," tambah Wulan Ayu.
"Baiklah, Nak pendekar. Saya akan menunggu di sini," jawab Ki Karta sambil turun dari kudanya.
"Kami berangkat, Ki, heaa..!" kata Anggala sambil mengebah kudanya dan di ikuti Wulan Ayu.
"Kak Anggala, sebaiknya kita jalan kaki saja," saran Wulan ayu, sambil menghentikan lari kudanya.
"Baiklah, kalau itu maunya, Dinda," jawab Anggala yang juga menghentikan lari kudanya. Mereka mengikatkan kuda kuda itu pada sebatang pohon kecil di dekat rumput hijau agar kuda-kuda itu bisa makan.
Anggala dan Wulan Ayu berkelebat ke atas Bukit Seribu Bunga, sesampainya di sana terlihat sebuah rumah besar di kelilingi bermacam-macam bunga.
"Pantas bukit ini di namai Bukit Seribu Bunga, banyak sekali bunganya, Kak" ucap Wulan Ayu sambil berbisik. Anggala hanya mengangguk, lalu ia melompat ke atas sebatang pohon yang paling tinggi di tempat itu.
Tampak di bawah sana,beberapa orang penjaga rumah, sedang berkeliling, wajah mereka seram dan tubuh mereka kekar-kekar, mereka memakai rompi hitam dengan golok besar di pinggang.
__ADS_1
.
Bersambung...