Pendekar Naga Sakti

Pendekar Naga Sakti
Dendam Tiga Elang. Kalajengking Merah


__ADS_3

Suasana pagi yang begitu sejuk dan segar. Cahaya mentari menyinari dari upuk timur. Semilir angin pagi membuat embun yang masih melekat di dedaunan jatuh ke bumi. Suara kicau burung terdengar sebagai sambutan untuk pagi yang indah itu.


Namun suasana segar dan nyaman itu berbeda di markas besar Perampok Singa Merah. Tiga Warok Singa Merah sangat terkejut mendengar tentang kematian Alangkarta dan anak buahnya.


"Bangsat!!"


Brak!


Meja yang ada di depan Jagat Satra hancur berkeping-keping di hantam tangan kakak tertua Tiga Warok Singa Merah itu. Mata dan wajah laki-laki yang sudah berambut putih itu tampak memerah menahan kemarahan.


Semua orang yang ada di dalam ruangan itu tampak diam. Tidak ada yang berani berbicara. Kesedihan dan kemarahan para perampok Singa Merah itu bercampur aduk.


Alangkarta yang selama ini hampir tidak pernah gagal dalam menjalankan tugas kini tinggal nama. Belum lagi lima puluh orang anggota mereka yang ikut bersama Alangkarta tidak satu orang pun yang kembali dalam keadaan hidup.


"Kakak, apa harus aku yang turun tangan, menangani masalah ini?" Tanya Jagat Alam. Jagat Alam adalah adik yang paling muda di antara Tiga Warok Singa Merah. Jagat Satra adalah kakak tertua di bawahnya Jagat Pati. Jagat Alam adalah adik bungsu mereka. Umur Jagat Pati baru sekitar lima puluh tahunan.


"Tunggu Alam, Pertemuan dengan para pendekar yang kita undang semakin dekat. Bukankah Mata Satu juga telah mengundang mereka ke puncak gunung pungur purnama tiga belas bulan ini, sebaiknya kita tunggu saja saat pertemuan itu. Kita habisi para pendekar golongan putih itu di sana nanti," Cegah Jagat Satra yang tampak mulai bisa mengendalikan amarahnya.


"Kalau Ketua mengizinkan biar hamba yang memberi para pendekar itu pelajaran!" Ucap salah seorang anak buah mereka yang duduk di samping kanan Jagat Alam. Yang berbicara itu adalah Si Kalajengking Merah yang bernama asli Garang Amara. Garang Amara adalah ketua kelompok Penyamun Kalajengking Merah yang sangat terkenal kekejaman dan kesadisannya dalam merampok.


Jagat Satra tampak berpikir sejenak sebelum memberikan keputusan dan jawaban.


"Garang, aku tidak memerintahkanmu untuk membalaskan kematian Alangkarta. Sebenarnya kita tinggal menunggu hari jelang pertemuan di puncak gunung pungur, purtama tiga belas, bulan ini," Jawab Jagat Satra tampak agak berat melepas Garang Amara.


"Saya akan pergi sendiri kesana Ketua. Jika saya terdesak. Saya bisa bebas untuk mundur," Jawab Garang Amara sambil menunduk dan kedua tangannya di depan wajah.


"Baiklah Garang, aku mengizinkanmu, namun ingat, jika terdesak! Kau harus mundur dulu!" Ujar Jagat Satra lagi.


"Baik! Ketua, saya akan mengikuti perintah Ketua," Ucap Garang Amara. Setelah berucap Garang Amara langsung melesat dengan begitu cepat. Dalam waktu sekejap mata pimpinan Perampok Kalajengking Merah itu sudah menghilang dari tempat itu.


.


.

__ADS_1


Sementara itu Anggala dan Wulan Ayu tampak lagi berjalan menyusuri jalan Kampung Jati Arum sambil sesekali menyapa penduduk yang mereka temui.


"Kak para penduduk di sini kalau tidak di gangguin para perampok hidupnya enak ya, udara di sini sejuk tanaman mereka subur-subur," Kata Wulan Ayu sambil menoleh ke arah Anggala.


"Ya, tapi para perampok di sini walau mereka sadis dan kejam, mereka tidak langsung merampok para penduduk, paling ya makan di warung yang keseringan tidak bayar," Jawab Anggala.


Baru saja Anggala dan Wulan Ayu mendekati warung Ki Suro. Sebuah bayangan merah tiba-tiba menghadang sepasang pendekar muda itu.


Wuss..!


Jlep!


Bayangan merah itu mendarat ringan di depan Pendekar Naga Sakti dan Bidadari Pencabut Nyawa dengan begitu ringan, hanya suara sendalnya mengenai tanah yang terdengar.


"Heh! Siapa Kau! Tiba-tiba saja menghadang perjalanan kami!" Bentak Bidadari Pencabut Nyawa. Sedangkan Pendekar Naga Sakti tampak hanya diam dan tenang.


"Apa Kalian Pendekar Naga Sakti dan Bidadari Pencabut Nyawa, Hah?!" Jawab Kalajengking Merah dengan suara menggema, rupanya yang menghadang mereka berdua adalah si Kalajengking Merah Garang Amara.


"Apa urusanmu nanya-nanya siapa kami? Datang bagai Setan saja!" Bentak Bidadari Pencabut Nyawa tambah gusar.


"Kalajengking Merah! Ha ha ha..! Pantasan wajahmu seram seperti kalajengking!" Kata Bidadari Pencabut Nyawa dengan nada mengejek.


"Bangsat! Kau berani menghinaku gadis cantik! Apa Kau sudah bosan hidup! Hah..!" Bentak Garang Amara dengan penuh kemarahan.


"Ha ha ha...! Kalajengking Merah! Masalah hidup dan mati itu bukan di tanganmu, itu urusan tuhan!" Jawab Bidadari Pencabut Nyawa dengan begitu tenang.


"Rupanya Kalian memang ingin batu nisan Kalian tanpa nama rupanya! Katakan apa benar Kalian Pendekar Naga Sakti dan Bidadari Pencabut Nyawa hah!" Tanya Kalajengking Merah hampir tidak bisa menahan kemarahannya lagi.


"Kalau ia kami Pendekar Naga Sakti dan Bidadari Pencabut Nyawa! Kau mau apa Kisanak?" Jawab Wulan Ayu sambil tersenyum tipis menyungging.


"Mau mengambil nyawa Kalian! Heaaa...!" Bentakan dari Garang Amara itu mengawali gerakan tubuh besarnya bergerak. Tangan Kanan Garang Amara itu membentuk seperti sengat kalajengking. Garang Amara menyerang dengan 'Jurus Kalajengking Menghancurkan Batu'.


"Hup!"

__ADS_1


Pendekar Naga Sakti dan Bidadari Pencabut Nyawa sama melentingkan tubuh mereka ke udara menghindari serangan Garang Amara yang cukup cepat dan berbahaya itu.


"Dinda! Biar kakak yang mengurus Kalajengking Merah ini," Kata Pendekar Naga Sakti sambil melayang di udara ke arah Garang Amara. Pendekar Naga Sakti menyongsong dengan 'Jurus Rajawali Putih Menyambar Mangsa'. Sebuah jurus yang di latih oleh rajawali raksasa peliharaan Pertapa Naga dan gurunya Lesmana.


Memang sejauh ini Anggala memang lebih suka memakai jurus-jurus Tapak Naga baik tingkat dasar maupun tingkat Ajian.


"Jurus rajawali? Selama ini Kak Anggala tidak pernah menggunakannya?" Guman Wulan Ayu setengah berbisik seperti berbicara pada dirinya sendiri.


Pendekar Naga Sakti melayang di udara dengan tangan membentang bagai sayap. Kedua kepalan tangannya membentuk seperti paruh rajawali.


"Hiaaa...!"


Dik! Dik!


Set!


"Heh!"


Serangan Garang Amara yang cukup berbahaya itu di sambut dengan Jurus rajawali Pendekar Naga Sakti sehingga mereka terlihat saling menyerang dan menangkis serangan musuh. Namun kecepatan gerakan Anggala rupanya cukup jauh di atas Garang Amara sehingga sebuah serangan tangan Anggala yang membentuk paruh rajawali itu hampir mengenainya.


Garang Amara terpaksa menarik tubuhnya ke belakang dan segera menyusulkan sebuah pukulan balasan.


Pendekar Naga Sakti bergerak begitu cepat dengan perpaduan jurus rajawali dan 'Jurus Langkah Malaikat sehingga serangan Garang Amara itu hanya mengenai angin kosong.


"Bangsat! Heaaa...!"


Garang Amara mengembor marah karna seranganya begitu mudah di hindari Pendekar Naga Sakti.


"Ajian Siluman Kalajengking! Heaaa...!"


.


.

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa like Koment dan favorit nya ya teman-teman. Terima kasih banyak.


__ADS_2