
Tiba-tiba sebuah bayangan putih menapaki serangan Kerta Mura yang berniat mengalahkan Cakradana dalam satu serangan pertama.
"Ha ha ha....! Menyakiti orang-orang Perguruan Bambu Kuning berarti membuat masalah dengan Pendekar Bukit Kancah..! Ha ha ha....!!!"
Sebuah bayangan melesat keudara setelah menapaki serangan berbahaya milik Kerta Mura yang berniat mengalahkan Cakradana dalam serangan pertamanya.
Bayangan itu tampak mengambang di udara, tubuhnya tampak begitu ringan bak sebuah kapas. Tampak sudah wajah seorang tua yang memakai pakaian serba biru dengan rambut dan jenggot sudah memutih menutupi kepalanya.
Laki-laki tua itu tidak lain adalah guru Jaka Kelana dari Bukit Kancah yang dulunya bergelar Satria Srigala Putih, dia adalah Jaga Kelana.
"Ki Jaga Kelana, ini bukan urusanmu. Sebaiknya kau jangan ikut campur!" kata Kerta Mura setelah berhasil menjejak kaki dan memperkuat kembali kuda-kudanya setelah terjajar mundur akibat adu tenaga dengan Ki Jaga Kelana tadi.
"He he he....,! Kau tau, Pendekar Kelelawar Putih itu adalah calon cucu mantuku, kau berniat membuat onar di perguruannya. Kau memintaku tidak ikut campur, kau yang bodoh atau aku yang tolol. Hah!" jawab Ki Jaga Kelana sambil tertawa terkekeh.
"Seorang pendekar yang sudah mengundurkan diri dari dunia persilatan sudah tidak boleh lagi ikut campur urusan orang-orang dunia persilatan!" kata Kerta Mura lantang.
"He he he....! Aku tidak berniat ikut campur urusan dunia persilatan, tapi kalian harus angkat kaki dari tempat ini!" balas Ki Jaga Kelana sengit.
"Kalau kami tidak mau, kau mau apa, hah?!" bentak Kerta Mura lagi.
"Kerta Mura, aku sudah tau siapa kalian. Kalian bertiga memang tidak seutuhnya golongan hitam, namun kalian juga bukan golongan putih. Tapi hari ini kalian datang ke Perguruan Bambu Kuning ini dan membuat onar, berarti kalian sudah seutuhnya menjadi golongan hitam. Aku tidak habis pikir, di masa tua kalian malah semakin tersesat saja!" kata Ki Jaga Kelana terdengar datar dengan begitu tenang.
"Jangan banyak bacot, Jaga Kekana. Aku menantangmu!" bentak Macan Jenggi mulai murka mendengar Ki Jaga Kelana seakan menasehatinya.
"Kau memang harus di beri pelajaran, Kerta Gura!" jawab Ki Jaga Kelana sambil bergerak turun dengan perlahan.
"Heaaah....!" dengan membentak Macan Jenggi melesat bagai kilat ke arah Ki Jaga Kelana dengan kedua tangan membentuk cakar. Kerta Gura langsung merapal jurus 'Cakar Macan Api'.
Tap! Tap!
__ADS_1
Ki Jaga Kelana begitu tenang menepis belakang tangan Kerta Gura yang mengincar ke arah dadanya. Malah dengan begitu cepat telapak tangan pertapa dari Bukit Kancah itu bergerak tepat menampar wajah Kerta Gura.
Plak! Plak!
Kerta Gura tampak terpental lintang pukang hingga jatuh bergulingan di tanah.
"Hmm....! Kau bukan lawanku, Macan Jenggi. Belajarlah empat puluh tahun lagi, baru kau bisa menandingiku..!" kata Ki Jaga Kelana dengan begitu tenang.
"Bangsat! Heaaah......!" melihat Kerta Gura di pecundangi, Kerta Mura mengembor marah dan langsung melesat ke arah Ki Jaga Kelana sembari menyarangkan dua pukulan jarak jauh.
Dess! Dess!
Ki Jaga Kelana tampak tersenyum tipis memandangi dua larik sinar merah dari telapak tangan Kerta Mura yang meluncur ke arahnya. Orang tua berpakaian serba biru itu hanya mengibaskan telapak tangan ke deoan, dua larik sinar putih tampak menyongsong sinar merah itu.
Swoss! Swoss!
Dua larik sinar merah itu bagai hilang lenyap di telan dua larik sinar putih yang keluar dari telapak tangan Ki Jaga Kelana.
"Apa, Pukulan Sinar Malaikat Putih!?" Kerta Mura tampak tersentak, namun belum ia menyadari dua larik sinar putih itu telah telak menghantam dadanya.
Dess! Dess!
"Agkh..!" hanya keluhan yang terdengar keluar dari mulut Macan Hitam sebelum tubuhnya melesat hingga menabrak pagar pembatas Perguruan Bambu Kuning itu.
"Uhuakh...!" Kerta Mura tampak memuntahkan darah segar kebitaman yang begitu kental dari mulutnya pertanda luka dalam yang ia derita begitu parah.
"Kanda....!" seru Kerta Mura sembari melompat dan membantu Kerta Mura berdiri.
"Sebaiknya kalian cepat pergi dari sini, sebelum kesabaranku habis!" ancam Ki Jaga Kelana menatap tajam ke arah Kerta Mura dan Kerta Gura.
__ADS_1
"Urusan kita belum selesai Jaga Kelana!" teriak Kerta Sura sambil memerintahkan kawananya mundur, sekali lompatan saja orang-orang itu sudah berada di luar pagar Perguruan Bambu Kuning dan segera melesat pergi.
"Kakek Guru....!" seru Aruni langsung menemui Ki Jaga Kelana.
"Kau tidak apa-apa, Cucuku?" tanya Ki Jaga Kelana menelisik.
"Saya tidak apa-apa, Kakek Guru," jawab Aruni, "Terima kasih, Kakek datang tepat waktu," ucap Aruni lagi.
Sebuah bayangan berwarna sabu datang dan langsung menjejak kaki di depan Ki Jaga Kelana.
"Ha ha ha....! Rupanya tamu dari Bukit Kancah sudah datang, maafkan aku agak telat sahabat," ucap Ki Gading Mageli sembari memeluk Ki Jaga Kelana.
"He he he....! Kau sengaja telat atau memang terlambat Ki Gading? He he he...!" tawa Ki Jaga Kelana terkekeh sambil membalas pelukan Ki Gading Mageli.
"Sebenarnya ada aku memang sengaja agak sore baru pulang, aku kira Ki Kelana datang agak malam, he he he...!" jawab Ki Gading Mageli tertawa terkekeh. Bertemu dengan sesama pendekar golongan putih, memang suatu yang menggembirakan. Apalagi mereka adalah sahabat lama.
"Kalian bagaimana?" tanya Ki Gading Mageli pada Cakradana yang baru menyalaminya.
"Kami hampir di kalahkan oleh Tiga Macan itu, Guru," jawab Cakradana.
"Tiga Macan?"
.
.
Bersambung.....
.
__ADS_1