
"Hebat! Hebat...! Ilmu Kalian sungguh hebat Kisanak..!"
Ketiga gadis cantik itu menoleh ke arah asal suara yang menyapa mereka.
"Kau..! Gadis yang bersama pemuda tampan itu kan?"
"Ya, dia Kak Anggala, aku Wulan Ayu, ilmu elang yang kalian miliki memiliki kesamaan dengan ilmu yang aku muliki," Kata Wulan Ayu sambil tersenyum.
"Aku Dewi Arau dan ini kedua adikku Dewi Pingai dan Dewi Aurora!"
"Tiga Elang!"
Ya.. Seperti itulah guru kami memberi gelar jajatan pada kami muridnya," Dewi Arau sambil tertawa, "Kalau boleh tau kami sedang berhadapan dengan pendekar apa?"
"Saya tidak punya gelar Arau," Jawab Wulan Ayu merendah, ia tidak ingin gelarnya di ketahui tiga gadis cantik yang bergelar Tiga Elang itu, "boleh saya panggil Arau?"
"Yah.. Terserah Wulan saja," Jawab Dewi Arau sambil tersenyum simpul, "Sebaiknya kita kembali ke penginapan, karna hari sudah cukup larut, dan sepertinya mau turun hujan,"
Pakaian mereka berayunan terkena tiupan angin yang mulai kencang.
"Sepertinya mau turun hujan deras, anginnya cukup kencang," Ucap Wulan Ayu sambil memeluk lengannya sendiri.
"Kalau boleh tau Kalian dari daerah mana,?" Tanya Dewi Arau sambil berjalan di samping Wulan Ayu.
"Kami dari barat," Jawab Wulan Ayu singkat dengan sebuah senyum ramah.
"Apa tujuan Kalian sampai ke daerah ini, Wulan?"
"Tujuan kami mencari keberadaan Pendekar Naga hitam dan Pendekar Naga Terbang, kedua pendekar itu adalah paman gurunya kak Anggala," Wulan Ayu menjelaskan
"Kalau Pendekar Naga Hitam, saya pernah mendengarnya Wulan, tapi kalau Pendekar Naga Terbang, saya belum pernah dengar!" Ucap Dewi Aurora lagi.
"Apa yang Arau ketahui tentang Pendekar Naga hitam?"
"Secara langsung saya tidak mengetahuinya, namun guru saya si Elang Hitam Datuk Balung, pernah bercerita, kami harus hati-hati dengan pendekar yang bernama Fhatik, kata guru kami dia bergelar Pendekar Naga Hitam, saya dengar dia adalah pendekar golongan putih yang berubah aliran, terakhir guru kami bilang Pendekar Naga Hitam bergabung dengan komplotan Setan Merah Pencabut Nyawa!"
"Ya, yang kami dengar pun begitu, paman guru Lesmana Pendekar Naga Sakti guru Kak Anggala pernah di kalahkan dua dedengkot tokoh silat golongan hitam itu, mereka mengeroyok paman Lesmana!" Cerita Wulan Ayu.
"Jadi Kalian murid tokoh silat yang terkenal itu?"
"Yang murid Pendekar Naga Sakti terdahulu itu Kak Anggala, Kalau saya murid Dua Pendekar Pemarah dari Bukit Bambu," Jawab Wulan Ayu lagi.
"Pendekar dari Bukit Bambu, Bidadari Pencabut Nyawa? Apa kami berhadapan dengan Bidadari Pencabut Nyawa dari barat itu?"
__ADS_1
"Kalian pernah mendengar tentang bidadari Pencabut Nyawa?" Tanya Wulan Ayu sambil memasuki pintu warung ki Suro itu, Pintu itu telah selesai di perbaiki Anggala dan ki Suro.
"Banyak pendekar yang membicarakan tentang bidadari Pencabut Nyawa," Jawab Dewi Arau lagi, "Wulan belum menjawab pertanyaan saya tadi, Wulan Ayu adalah Bidadari Pencabut Nyawa itu, iya kan?"
"He he he...! Begitulah para pendekar golongan hitam dan golongan putih memberi gelar pada saya. Sebuah gelar yang menakutkan!" Jawab Wulan Ayu sambil tersenyum.
"Bidadari! Cantik, hebat!" yang di katakan orang-orang itu tampak nya tidak salah," Ucap Dewi Arau sambil tersenyum.
"Kalian belum melihat sendiri, gimana mau bilang hebat, kalau kecantikan, saya rasa kecantikan Kalian juga tidak kalah," Jawab Bidadari Pencabut Nyawa merendah.
"Seorang golongan putih murid dari dua orang pendekar yang terkenal, tentu tidak sombong! Kecantikan kami belum apa-apanya di banding kecantikan Wulan," Puji Dewi Arau sambil tersenyum, mereka duduk di sebuah meja yang ada pelitanya, ki Suro mengantarkan sekendi air teh hangat dan sepiring ubi rebus ke hadapan mereka.
"Dewi Arau bisa saja!"
Tawa mereka berempat terdengar pecah, karna Wulan Ayu sempat sempatnya membubuhi percakapan mereka dengan selorohan yang membuat mereka tertawa.
Mereka tampak asyik berbagi cerita dan pengalaman hingga malam mendekati pagi, hampir subuh ke empat gadis cantik itu baru memasuki kamar, untuk istirahat tidur.
.
.
Singkat cerita keakraban, tampak telah terjadi pagi itu ke empat gadis cantik itu mandi pun bersama-sama. Sementara itu Anggala hanya tersenyum melihat keakraban sang kekasih, dengan tiga gadis yang baru di kenalnya.
Cahaya marahari yang mulai terik tampak hampir naik ke atas kepala, para penduduk yang beraktivitas tampak lalu lalang di jalanan kampung. Banyak para pedagang yang beristirahat makan dan sekedar istirahat minum, keluar masuk menjadi tamu ki Suro itu.
"Ha... Kak Anggala melamun ya?"
Tiba-tiba Wulan Ayu telah berada di belakang Anggala. Pendekar Naga Sakti hanya tersenyum melihat Wulan Ayu tampak segar baru selesai mandi padahal hari sudah cukup siang.
"Kenapa, marah ya sama dinda?"
"Tidak.. Kakak tidak marah? Kakak hanya terkejut melihat Dinda kesiangan,"
"Iya... Tadi malam dinda kelamaan ngobrol dengan Dewi Arau dan kedua adiknya," Jawab Wulan Ayu sambil duduk di samping Anggala.
"Apa kami boleh gabung?"
Tampak Dewi Arau dan kedua adiknya, berdiri fi samping meja yang di tempati Anggala dan Wulan Ayu itu.
"Silahkan... Tidak apa-apa kan Kak?"
"Silahkan!" Jawab Anggala hanya tersenyum.
__ADS_1
"Wah.. Wulan Ayu beruntung ya punya kekasih setampan Kak Anggala!" Cerocos Dewi Aurora sambil memeluk kakaknya dari samping.
"Terima kasih...!" Jawab Wulan Ayu tersenyum bangga.
"Wajarlah Kak Anggala tampan, Wulan Ayu kan cantik!" Tambah Dewi Pingai sambil tersenyum. Anggala hanya tersenyum di goda ketiga gadis cantik itu, terdengar tawa mereka meramaikan warung ki Suro itu.
Ketenangan mereka tampak terganggu dengan kedatangan puluhan orang-orang berbaju hitam yang tampak membuat keributan dengan para tamu di depan warung ki Suro itu.
"Ha ha ha...! Cepat menyingkir, kami sudah lapar, jika Kalian masih ingin hidup!" Bentak seorang laki-laki yang memiliki tubuh besar dengan wajah penuh brewokan, rambut panjang dengan ikat kepala berwarna merah kehitaman.
Para tamu warung yang kebanyakan orang-orang kampung tampak berlarian keluar warung karna takut di aniaya orang-orang berbaju hitam itu.
Hanya lima orang yang masih duduk di dalam warung itu. Yaitu Anggala, Wulan Ayu bersama Tiga Elang.
"Ha ha ha...! Tampaknya ada gadis cantik di dalam sini," Ujar si Brewok pada temannya, Kemboja dan kedua temanya yang membantu pekerjaan di warung itu, tampak ketakutan.
"Aki.! Cepat siapkan makanan untuk kami. Kami sudah lapar!" Bentak si brewok pada Ki Suro.
"Sebentar tuan!" Jawab Ki Suro tampak agak tenang, laki-laki tua itu tampak sudah agak biasa dengan perlakuan para tamunya seperti itu.
"Cepat Ki! Kami sudah lapar!" Bentak si brewok lagi.
"Bagaimana kalau kita bantu Ki Suro?" Wulan Ayu mengajak ketiga gadis cantik temannya itu.
"Baik! Ayo pingai, Aurora," Jawab Dewi Arau sambil bangkit, dan mengajak kedua adiknya.
"Siapa mereka Ki?" Tanya Wulan Ayu sambil mengambil tampah yang di jadikan tempat membawa makanan ke meja para tamu warung.
"Mereka itu Perampok Walet Hitam dari gunung punggur, mereka juga di bawah kekuasan Tiga Warok Singa Merah Nak," Jawab Ki Suro sambil menyiapkan makanan.
"Tapi tampaknya mereka tidak mengetahui kejadian tadi malam Ki?"
"Entah lah Nak, hati-hatilah, biasa nya pimpinan mereka itu suka meremehkan para gadis,"
"Berarti mereka minta hajar Bidadari Pencabut Nyawa Ki!" Kata Dewi Arau menyela percakapan Wulan Ayu dengan Ki Suro.
"Bidadari Pencabut Nyawa?"
.
.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa like Koment Vote dan favorit nya ya. Terima kasih banyak.