
Tiga Macan?!"
Ki Gading Mageli tampak mengerenyitkan keningnya. Ayah Aruni itu tampak kurang tau tentang yang sedang terjadi di dunia persilatan saat ini.
"Aku tidak pernah punya masalah atau urusan dengan Tiga Macan, selama ini aku juga tidak pernah mengurusi perangai mereka. Walau perilaku ketiga orang itu tidak jelas dimana mereka berdiri," kata Ki Gading Mageli sambil mengelus jenggotnya yang sudah memutih.
"Mereka sekarang bergabung dengan Partai Teratai Hitam yang di pimpin oleh Setan Merah Pencabut Nyawa, Sahabat," yang menjawab Ki Jaga Kelana.
"Partai Teratai Hitam? Bukankah Partai Teratai Hitam sudah menghilang, apalagi setelah kekalahan mereka dalam peperangan yang terjadi di Kerajaan Galuh Permata," kata Ki Gading Mageli lagi.
"Ya, saya dengar Pendekar Naga Hitam, paman gurunya kak Anggala juga bergabung dan menjadi pembesar Partai Teratai Hitam, yang lebih parahnya lagi sangat banyak tokoh silat golongan hitam yang bergabung. Di tambah lagi mereka merekrut para penyamun dan para perampok, mereka juga mengundang tokoh-tokoh silat golongan putih dari berbagai perguruan secara paksa agar datang di pertemuan di puncak Gunung Kerinci empat purnama mendatang," jelas Aruni.
"Jadi, mereka berniat menguasai dunia persilatan Pulau Andalas ini?" Ki Gading Mageli memandangi putri si mata wayangnya tersebut.
"Saya dengar begitulah rencana mereka, Ayah. Apalagi Fhatik telah bergabung di dalam Partai itu," tambah Aruni lagi.
"Kalian tidak apa-apa,'kan?"
"Hanya kak Aruma yang sempat terluka oleh Macan Kuning," jawab Aruni.
"Saya sudah mendingan, Ayah, hanya luka dalam," jawab Aruma Sakta.
"Ya, sudah, ayo Sahabatku kita ke dalam, sebentar lagi senja," ajak Ki Gading Mageli pada Ki Jaga Kelana, Guru Jaka Kelana itu hanya mengangguk sambil tersenyum. Mereka pun memasuki pendopo Perguruan Bambu Kuning.
Sementara di ufuk barat matahari mulai bersembunyi di balik awan, yang tinggal hanya sapak merah tanda waktu magrib telah tiba.
.
.
Sementara itu Anggala dan Wulan Ayu yang telah mendengar semua cerita dan masalah yang di hadapi Perguruan Bangau Putih, kini keduanya sudah meninggalkan Perguruan Ki Sudrajat itu dan berniat kembali ke Desa Gragan.
__ADS_1
Suara ringkikan kuda yang berlari kencang di tengah jalan menembus hutan terdengar saling bersahutan. Kuda yang di tunggangi Anggala dan Wulan Ayu mulai mengurangi lari mereka karena keadaan mulai gelap di sekelilingnya.
"Kak...! Sebaiknya kita cari tempat istirahat, keadaan mulai gelap!" seru Wulan Ayu.
"Hutan ini agak sepi, dan tidak ada tempat terang, seingat kakak tidak jauh dari sini ada Desa, Dinda!" sahut Anggala seraya menarik pelana kudanya agar lari kuda agak melambat.
"Baiklah," kata Wulan Ayu lagi.
Sring!
Wulan Ayu menghunus pedang elang perak dari warangkanya, cahaya putih keperakan langsung semburat keluar dari mata pedang itu. Jalanan yang tadi gelap, kini tampak terang bagai mendapat sinar.
Sring!
Anggala pun menghunus pedang naga sakti dan membuat sekeliling mereka menjadi terang, karena dua cahaya pedang itu bagai dua pelita yang menerangi di tengah kegelapan malam itu.
Kedua pendekar muda itu mulai mengebah kuda mereka menyusuri jalanan di tengah hutan menggunakan cahaya pedang mereka sebagai penerang.
Tidak lama kemudian mereka sudah mencapai ujung hutan, sebuah Desa yang cukup sepi. Hanya ada cahaya lentera di beberapa rumah, Anggala dan Wulan Ayu memutuskan mencari warung yang masih buka.
Anggala dan Wulan Ayu memasuki halaman warung itu dengan perlahan. Mereka mengikatkan kuda pada sebuah kayu yang tampaknya sudah di siapkan.
"Permisi, Ki. Kami mau pesan makanan, apa masih ada?" ucap Anggala pada seorang laki-laki setengah baya yang sedang sibuk membuat minuman.
"Ada, Anak Muda, silahkan duduk dulu. Nanti Aki antar makanannya," jawab pemilik warung itu ramah.
"Terima kasih, Ki," ucap Anggala sembari berjalan ke sebuah meja yang sudah di tempati oleh Wulan Ayu.
"Kalian darimana, dan hendak kemana malam-malam begini, Anak Muda?" tanya salah seorang tamu warung yang lagi duduk bersama tiga orang lainnya.
"Kami dari Perguruan Bangau Putih, Ki, dan mau menuju Desa Gragan," jawab Anggala.
__ADS_1
"Kalian cukup berani, Anak Muda, akhir-akhir ini daerah ini sedang di teror mahkluk jadi-jadian," ujar laki-laki itu.
"Mau gimana lagi, Ki, kami kemalaman di jalan. Oh iya perkenalkan saya Anggala dan ini kekasih saya Wulan Ayu," kata Anggala memperkenalkan diri.
"Saya, Aki Tarjo, Kepala Kampung ini, kami sedang meronda," jelas Ki Tarjo.
"Maaf, Ki, apa nama kampung ini?" tanya Anggala sopan.
"Desa ini bernama Desa Batu Ampar, Nak," jawab Ki Tarjo.
"Kalau boleh tau, mahkluk jadi-jadian jenis apa yang meneror Desa ini Ki?" tanya Wulan Ayu menyela pembicaraan Anggala dan Ki Tarjo.
"Sejenis makhluk srigala, Nak," jawab Ki Tarjo.
"Apa sudah ada korban, Ki," tanya Anggala.
"Sudah, Nak, beberapa orang kampung yang di culik, dan beberapa hari kemudian di temukan tewas memggenaskan, termasuk empat orang yang meronda,"
"Apa mahkluk itu memakan anggota tubuh korbannya, Ki?" sela Wulan Ayu lagi.
"Yang anehnya, Nak. Para korban itu di ambil jantung dan hatinya, saya curiga ini ada hubungannya dengan perilaku dukun hitam,"
"Dukun hitam, Ki?"
"Ya, di daerah kami ini ada seseorang yang mempunyai ilmu pengobatan memakai ilmu hitam, namun sudah tiga tahun ini dia menghilang. Setelah dia kalah dengan seorang ulama dari Kerajaan Samudra Pasai," jawab Ki Tarjo.
Cerita dan pembicaraan Anggala dan Ki Tarjo terhenti, ketika terdengar teriakan minta tolong dari tengah-tengah Desa.
"Sebaiknya kita lihat, Ki," kata Anggala sambil bangkit dari duduknya.
"Ya, kau benar, Anak Muda," sahut Ki Tarjo seraya bangkit dari duduknya. Anggala dan Wulan Ayu tanpa basa-basi langsung melesat ke arah asal suara yang minta tolong tersebut.
__ADS_1
.
Bersambung....