Pendekar Naga Sakti

Pendekar Naga Sakti
Prahara Di Pulau Andalas. Bag, 4


__ADS_3

Heh! Kalian berdua, apa kalian yang barusan bicara? Hah!?" bentak si brewok sambil menepuk meja yang di tempati Anggala dan Wulan Ayu.


Plak!


"Heh.. Kisanak, kau tidak punya bukti. Jangan menuduh orang sembarangan," jawab Wulan Ayu sambil tersenyum tipis.


"Tapi tidak ada orang lain lagi di sini, selain kalian!" bentak si brewok lagi.


"Kalau memang iya, kau mau apa?" tantang Wulan Ayu dengan suara datar.


"Kau menantangku, gadis tengok!" hardik si brewok sambil menatap tajam ke arah Wulan Ayu.


"Terserah kisanak, apa kau mengatakan aku menantang atau tidak," jawab Wulan Ayu dengan senyum tipis menyungging. Sementara Anggala hanya tersenyum mendengar Wulan Ayu mengejek si brewok.


"Hah..!" bentak si brewok langsung mengepalkan tinju dan berniat memukul Wulan Ayu dari arah samping.


Tap!


"Jangan di sini kisanak. Ayo kita keluar!" kata Wulan Ayu setelah menangkap kepalan tangan kanan si brewok.


Setelah melepaskan kepalan tangan si brewok, Wulan Ayu langsung melompat keluar warung itu, dengan sekali lompat Bidadari Pencabut Nyawa sudah berada di luar warung itu.


"Heh..! Bangsat, keluar kau!" bentak Wulan Ayu nyaring.


"Kurang ajar!" geram si brewok langsung melompat menyusul, setelah menjejak kaki di jendela warung si brewok menjejak tanah di depan Wulan Ayu.


"Kau...! Heaaa....!" bentakan amarah si brewok langsung menyerang dengan kepalan tangannya yang mencerca ke arah wajah Wulan Ayu.


"Hup!" Wulan Ayu hanya tersenyum tipis melihat si brewok menyerangnya dengan emosi yang hampir tidak terkontrol.


Wulan Ayu dengan santai menghindari pukulan si brewok. Bidadari Pencabut Nyawa itu menarik tubuhnya ke samping begitu cepat sehingga serangan tinju si brewok hanya mengenai angin kosong.


"Heaaa...!" si brewok semakin geram sambil menerjang ke depan.


"Hup!"


Wulan Ayu melompat cepat dan bersalto di atas kepala si brewok. Begitu sampai di belakang laki-laki berwajah seram itu tangan kanan Wulan bergerak menampar.


Plak!


"Ahkh.!"


si brewok terkejut ketika Bidadari Bidadari Pencabut sudah ada di belakangnya, begitu ia hendak berbalik tamparan tangan Wulan Ayu mengenai punggungnya.


Si brewok terdorong ke depan beberapa langkah, hampir saja laki-laki dengan wajah penuh brewokan itu terjatuh. Namun ia cepat memperkuat kuda-kudanya.


Tangan kanan si brewok mengelus punggungnya yang terasa panas akibat di tampar Wulan Ayu.


"Sebaiknya kau cepat meninggalkan tempat ini. Kau bukan lawanku," kata Wulan Ayu memperingatkan.


"Banyak bacot kau!" jawab si brewok sambil menghunus golok dan memamerkan jurus-jurus miliknya dan berjalan memutar di depan Bidadari Pencabut Nyawa itu.

__ADS_1


"Kau memang tidak bisa di peringati, manusia bodoh!" geram Wulan Ayu sambil bersiap.


"Heaaa...!" bentakan melengking si brewok seraya melompat dengan tebasan golok yang cukup cepat.


Wulan Ayu hanya tersenyum menanti serangan golok si brewok itu.


Tap!


"Heh!" si brewok tersentak kaget ketiga dengan begitu gesit dan begitu cepat tangan kiri Bidadari Pencabut Nyawa menangkap pergelangan tangannya.


"Hup!" si brewok berusaha menarik tangannya yang di cekal Wulan Ayu, namun semakin kuat ia menarik, semakin kuat tangannya di cekal.


"Ahkh!" si brewok meringis kesakitan, wajahnya mulai memerah karena mengerahkan tenaga dalam.


"Sudah ku peringatkan kisanak, kau bukan lawanku!" kata Wulan Ayu sambil bergerak cepat menendang ke arah dada si brewok.


Buak!"


"Aakgh..!" lenguhan tertahan keluar dari mulut si brewok sebelum tubuhnya terpental ke belakang sekitar dua tombak.


Si brewok tampak berusaha bangkit berdiri dengan nafas tersengal, darah segar mengalir dari sela bibir bibirnya.


Delapan orang adik seperguruan si brewok langsung melompat mengepung Wulan Ayu sambil menghunus golok di pinggang mereka.


"Kalian bukan lawanku, sebaiknya cepat bawa teman kalian itu!" bentak Wulan Ayu, adik-adik seperguruan si brewok yang tadi memang tampak ragu-ragu langsung langsung memasukkan golok mereka ke sarung nya dan memapah si brewok yang terluka.


Tanpa banyak bicara mereka langsung melompat ke atas kuda mereka dan berniat meninggalkan tempat itu, tapi Wulan Ayu melompat bagai kilat ke depan kuda mereka.


Si brewok mengeluarkan sekantong uang dari balik bajunya dan memberikan pada Wulan Ayu, setelah itu laki-laki berperawakan hitam itu mengebah kudanya.


"Urusan kita belum selesai, nisanak. tunggulah pembalasanku!" teriak si brewok, setelah itu si brewok langsung mengebah kudanya meninggalkan tempat itu dengan cukup kencang.


"Ku tunggu semua itu, kisanak!" balas Wulan Ayu nyaring sambil tertawa.


"Ini, Ki. Bayaran mereka," ucap Wulan Ayu seraya memberikan sekantong uang yang di berikan si brewok itu pada Aki pemilik warung itu.


"Terima kasih banyak, Nak," ucap Aki pemilik warung itu, "Tapi orang-orang Perguruan Elang Hitam itu jelas kembali ke sini lagi untuk membalas dendam," tambahnya.


"Biarkan saja, Ki. Kami akan memberi pelajaran orang-orang tidak berotak itu," jawab Wulan Ayu m.


"Kalau boleh tau siapa gerangan, anak muda berdua ini?" tanya Aki pemilik warung itu.


"Saya Wulan Ayu Ki, ini kekasih saya Anggala," jawab Wulan Ayu memperkenalkan diri.


"Wulan Ayu, Anggala.... Aki pernah mendengar orang-orang dunia persilatan yang mampir makan di sini menyebut nama kalian. Kalau tidak salah, apa kalian yang bergelar Pendekar Naga Sakti dan Bidadari Pencabut Nyawa itu?" tanya Aki pemilik warung itu.


"Aku sudah tau gelar kami ya, begitulah orang-orang dunia persilatan memberi gelar kami, Ki," jawab Wulan Ayu sambil tersenyum.


"Perkenalkan nama Aki Syarip, istri aki bernama Saripah, Panggilan mak Ripah," kata Aki Syarip memperkenalkan diri.


"O iya Ki, apa Aki tau penginapan di Desa ini," tanya Anggala.

__ADS_1


"Eh, Di sini yang menyediakan penginapan ya saya, Den," jawab Aki Syarip, "Apa Aden berdua mau menginap?"


"Ya, Ki. Tapi dua kamar Ki,"


"Ada, Den,"


"Jangan Panggil aden, Ki. Panggil saja Anggala," ucap Pendekar Naga Sakti sambil tersenyum.


"Baik Den, eh Nak Anggala," jawab Aki Syarip tampak kikuk.


"Nyi, siapkan kamar untuk nak Anggala dan temanya, Nyi," pinta Aki Syarip pada sang istri.


"Baik, Ki," jawab mak Ripah seraya berjalan ke belakang.


"Ki, apa orang-orang Perguruan Elang Hitam itu memang suka membuat onar?" tanya Anggala.


"Iya, Ki. saya dengar mak Ripah agak ketakutan dengan mereka," tambah Wulan Ayu.


"Iya, anak berdua. Mereka memang begitu suka membuat onar dan mengganggu orang-orang kampung," jawab Aki Syarip, "Maklum orang-orang tokoh hitam memang begitu," tambahnya lagi.


"Apa perguruan mereka dekat dengan desa ini, Ki?" tanya Wulan Ayu.


"Cukup jauh juga Nak, jika berjalan. Namun jika naik kuda tidak seberapa jauh kok," jelas Aki Syarip.


"Terima kasih penjelasannya, Ki," ucap Anggala.


"Baik, Nak. Aki mau ke belakang dulu, mau bantu orang rumah beres-beres,"


"Iya Ki, silahkan," jawab Anggala. Aki Syarip pun beranjak ke belakang, Anggala dan Wulan Ayu masih duduk di meja yang tadi mereka tempati.


Baru saja Anggala hendak berjalan ke arah kamar yang di siapkan Aki Syarip dan istrinya, tiba-tiba di depan sudah ada beberapa penunggang kuda yang berhenti.


"Hei.... Orang-orang yang di dalam sana, cepat Keluar!"


.


.


Bersambung....


Jangan lupa dukung novel ini ya teman-teman.


Rate


Hadiah


Like


Koment


Dan Votenya teman-teman.

__ADS_1


Terima kasih banyak.


__ADS_2