
Tiga hari sudah perjalanan para prajurit menuju perbatasan, kini mereka hampir sampai di perbatasan.
Hari hampir senja, pasukan Galuh Permata baru mencapai perbatasan, mereka mendirikan kemah di dekat sungai, tidak jauh dari padang rumput yang cukup luas, mereka berniat menunggu pasukan pemberontak di daerah itu.
Senopati Arya Geni memerintahkan pasukan khusus untuk berjaga-jaga di atas pepohonan. Setelah mendapat perintah dari Senopatinya para prajurit khusus itu langsung pergi kearah pepohonan.
Pasukan khusus kerajaan tampak berkelelebat melompat ke atas pepohonan yang cukup tinggi, mereka mengawasi keadaan sekeliling dari atas pepohonan itu.
.
******
Sementara itu di markas para pemberontak di sebuah bukit di dekat perbatasan, tampak di dalam sebuah bangunan.
Tampak seorang bangsawan berbaju hijau bagai seorang Raja, umurnya sekitar empat puluh tujuh tahunan, dan di sana tampak duduk di kursi pembesar sekelompok orang orang berbaju hitam.
Mereka adalah Orang orang dari Lembah tengkorak, dan di sana juga duduk Iblis Hitam, salah seorqnh sesepuh dedengkot Lembah Tengkorak, tampak juga dua orang warok bersaudara, Warok Nusa Wungu Satu, dan Warok Si Golok Setan.
Dan beberapa orang yang memakai baju merah dengan lengan baju panjang, mereka adalah senopati senopati Prajurit Pangeran Roksa Galuh.
__ADS_1
Sedangkan di halaman bangunan itu hilir mudik prajurit penjaga, di bagian belakang bangunan besar itu tampak ribuan prajurit yang lagi berlatih, ada yang berbaju hitam, berbaju kuning dan berbaju merah.
Tampak sekelebat bayangan hitam berkelebat cukup cepat memasuki kawasan bangunan, bayangan hitam itu berhenti di halaman bangunan besar itu, dan berjalan memasuki bangunan itu.
Begitu sampai ke depan Pangeran Roksa orang berbaju hitam itu lansung berlutut memberi hormat.
"Maafkan hamba Tuanku, hamba datang memberi laporan..!" ucao orang berbaju hitam sambil menyusun kedua tangannya di depan wajahnya.
"Apa yang kau mau laporkan Gagak hitam?" ujar Pangeran Roksa tanpa beranjak dari tempat duduknya.
"Hamba melihat pasukan Kerajaan di dekat padang rumput di dekat perbatasan, mereka banyak sekali Tuanku..!" jelas Gagak Hitam tanpa menurunkan kedua tangannya dari depan wajahnya.
"Apa? Berani sekali Galuh Permani mengirim pasukan ke perbatasan..!" geram Pangeran Roksa Galuh lansung berdiri dari tempat duduknya.
" Baik pangeran...!" jawab Warok Nusa Wungu Satu, sambil menunduk menghadap Pangeran Roksa Galuh, dan segera beranjak ke pintu bangunan besar, yang mereka jadikan sebagai markas pasukan itu.
"Iblis hitam, bawa semua orang Lembah Tengkorak ke perbatasan kita bantai prajurit Galuh permata itu..!" perintah Pangeran Roksa Galuh pada Iblis hitam.
"Baik Pangeran!" jawab Iblis Hitam, Orang orang dari Lembah Tengkorak lalu membubarkan diri, mereka bersiap untuk berangkat ke perbatasn.
__ADS_1
Pagi pagi sekali tampak pasukan Pangeran Roksa Galuh telah meninggalkan bangunan besar itu, tampak ribuan pasukannya, berbaris meninggalkan tempat itu.
Pangeran Roksa Galuh paling depan menaiki kuda hitam, di belakangnya tampak rombongan orang-orang dari Lembah Tengkorak, di samping Pangeran Roksa Galuh ada Iblis Hitam dan Ada Warok Nusa Wungu bersaudara, Salah seorang dari mereka yang bergelar si Golok Setan.
*******
Sementara itu di perkemahan Pasukan Kerajaan Galuh Permata tampak para prajurit yang bersiaga, mereka mengatur barisan, mereka berjaga jaga kalau pasukan musuh datang menyerang.
Tampak di Kemah yang paling besar, Anggala dan para pembesar Kerajaan Galuh sedang mengadakan pertemuan, mereka menyusun rencana untuk menghadapi pasukan pemberontak.
Pertemuan itu di pimpin oleh Patih Jagat Geni dan Panglima Kerajaan, ki Guntur setra.
Tiba tiba salah seorang pasukan khusus memasuki kemah besar itu.
"Lapor tuanku patih, kami melihat ada ribuan pasukan pemberontak menuju kesini...!" lapor prajurit itu.
"Baiklah prajurit kembalilah ke tempatmu, kota akan bersiap menunggu kedatangan mereka..!" perintah Patih Jagat Geni.
"Arya Geni, siapkan pasukan kita..!" perintah Patih Jagat Geni, pada Senopati Arya geni.
__ADS_1
"Baik..! Ayahanda Patih...!" jawab Senopati Arya Geni, sambil meninggalkan Kemah besar tempat pertemuan itu.
Bersambung...