
"Racun Cakar Harimau hitam, sungguh pukulan yang menakutkan," gumam Nini Sumirah seakan berbicara pada dirinya sendiri.
"Hari ini kau harus mati, Sumirah....!!" ujar Datuk Wangsala sambil meningkatkan tenaga dalamnya, kedua tangan sang Datuk berubah menjadi merah kehitaman.
"Cobalah dulu, Wangsala..!" tantang Nini Sumirah sengit tanpa bergeming menatap tajam ke arah Datuk Wangsala.
"Banyak bacot kau, Sumirah... Heaaah....!!" bentakan nyaring Datuk Wangsala terdengar lantang di iringi tubuhnya melesat cepat dengan kedua tangan teracung ke depan membentuk cakar di selubungi cahaya merah kehitaman menyala.
"Hiyaaat....!!" Nini Sumirah pun tidak tinggal diam, wanita tua itu tampak merangsek ke depan dengan telapak tangan di selubungi cahaya putih bersinar. Nini Sumirah merapal sebuah ilmu andalanya yaitu jurus 'Tapak Bidadari Putih Menyibak Awan'.
Desss!!!
"Heehhh.....!!" Datuk Wangsala tersentak begitu menyadari Nini Sumirah merapal ilmu andalanya.
"Bangsat.... Bangkai tua ini merapal ilmu Tapak Bidadari'." desis Datuk Wangsala seraya melompat kebelakang setelah kedua cakarnya beradu dengan telapak tangan Nini Sumirah.
"Aku tidak akan di pecundangi wanita bangka ini hari ini....!!" geram Datuk Wangsala seraya kembali melesat dengan begitu cepat dengan telapak tangan mengayun ke arah bahu kanan Nini Sumirah.
Sret!
"Akgh....!!" Nini Sumirah mengeluh tertahan begitu serangan Datuk Wangsala mengenai bahunya.
"Huakh....!!" Nini Sumirah langsung memuntahkan darah kehitaman setelah berhasil menjejak tanah sekitar dua tombak dari Datuk Wangsala.
"He he....! Mati kau, Sumirah....!!" Datuk Wangsala tampak berniat menghabisi Nini Sumirah. Datuk Wangsala langsung melesat kembali melesat dengan kedua tangan membentuk cakar.
"Mati aku....," keluh Nini Sumirah setengah bergumam, wanita tua itu berusaha bersiap menghadapi kemungkinan. Namun pandangannya mulai berkunang-kunang.
Dik!
"Heh....!!" Datuk Wangsala tersentak begitu ia hampir mengenai sasarannya sebuah bayangan tiba-tiba melesat menghalangi.
"Sungguh pengecut kau, Datuk. Kau menyerang seorang yang sudah terluka!" terdengar sinis suara Anggala setelah menapaki serangan Datuk Wangsala itu.
__ADS_1
"Kau sudah bosan hidup, Anak Muda!" bentak Datuk Wangsala merasa geram karena serangannya di tapaki Anggala.
Sementara itu Jaka Kelana yang berhadapan dengan Datuk Wangsaka yang menggunakan keris Selaksa Merah tampak saling mengukur kekuatan lawan. Jaka Kelana yang telah menghunus pedang Srigala Putih tampak tenang menghadapi tatapan sang Datuk yang tampak penuh dengan kemarahan.
"Kau akan menyesal bertemu denganku hari ini, Anak Muda!" terdengar datar, namun terdengar nada kekejian dan kekejaman dari nada suara Datuk Wangsaka tersebut.
"Aku tidak pernah menyesal bertemu dengan siapapun, Datuk. Termasuk bajingan dedengkot dunia persilatan seperti kau...!" sahut Jaka Kelana datar namun sengit.
"Heaaah....! Mati kau....!!!" bentak Datuk Wangsaka menggeram seraya melompat menusukkan keris Selaksa Merah yang bersinar bagai api. Namun Jaka Kelana langsung bergerak menyongsong ke arah sang Datuk dengan pedang Srigala Putihnya.
Trang! Trang!
Berkali-kali terdengar suara dentingan kedua senjata pusaka itu beradu di udara, kedua pendekar tampak berkelebat bagai dua bayangan yang saling beradu.
Sementara Wulan Ayu yang berada di depan goa bersama putri Nini Sumirah, Cindai Mata bersama beberapa orang anggota Penyamun Bukit Kayangan.
"Rupanya ada juga mereka yang lolos, Kak Wulan," kata Cindai Mata sambil menatap tajam ke arah sekitar lima belas orang anak buah Datuk Wangsala dan Datuk Wangsaka itu.
"Kita tidak boleh mengampuni mereka, Mata. Jangan sampai mereka memasuki goa, jika mereka sampai masuk. Berarti kita kalah," sahut Wulan Ayu.
"Bisa saja kau, Cindai...!" sahut Wulan Ayu sambil tersenyum, "Ayo...,!" Wulan Ayu menepuk pelan bahu kiri Cindai Mata sebelum melesat ke arah anak buah tuan tanah Surya Karta tersebut.
"Baik, Siapa takut!" sahut Cindai Mata sebelum melesat menyongsong. Orang-orang bertopeng yang menjadi anggota Penyamun Bukit Kayangan pun langsung ikut menyusul, dalam waktu singkat pertarungan pun tidak terelakkan lagi.
"Hiyaaa....!!" bentakan melengking terdengar nyaring keluar dari mulut Wulan Ayu, gadis cantik berpakaian serba biru itu melesat dengan jurus 'Bidadari Kayangan'.nya.
"Aaaa....!!" sekitar tiga orang anak buah Datuk Wangsala tampak harus terhempas ke tanah dengan mulut menyembur darah segar, mereka memang tidak tewas. Namun orang-orang itu harus mengalami luka dalam yang begitu parah.
"Heaaah....!!" dua orang anak buah sang Datuk kembar tampak melompat cepat seraya mengayunkan golok mereka ke arah Cindai Mata, namun dengan begitu gesit gadis itu menghindari dan memberikan serangan balasan.
Buak! Buak!
"Aaagkh....!!" kedua anak buah sang Datuk kembar hanya bisa menjerit kesakitan ketika telapak tangan Cindai Mata yang mirip paruh itu menghantam tubuh mereka.
__ADS_1
Kedua laki-laki itu tampak mencium tanah dengan dada mengucur darah segar.
Kedua orang itu langsung tewas setelah beberapa saat menggeliat kesakitan di tanah. Melihat teman-teman mereka dalam waktu singkat ada tewas dan terluka dalam cukup parah, Beberapa orang lainnya tampak ragu hendak menyerang.
"Ayo, ada lagi yang ingin seperti mereka!" tantang Wulan Ayu sengit. Cindai Mata tampak tersenyum tipis sambil berdiri di samping Wulan Ayu.
Anak buah Datuk Wangsala dan Datuk Wangsaka tampak saling pandang dalam keadaan ragu-ragu.
"Jika kalian ingin hidup. Kalian punya dua pilihan, menyerah atau tinggalkan tempat ini. Tapi jika kami melihat kalian masih menjadi anak buah tuan tanah, aku tidak akan mengampuni nyawa kalian lagi!" kata Wulan Ayu datar namun mencerminkan ancaman yang begitu menakutkan.
Trak!
Tidak kurang dari sepuluh orang anak buah tuan tanah yang lagi bersama kadua Datuk Kembar dari Gunung Kerinci itu langsung menjatuhkan golok mereka dan langsung bersimpuh berlutut di tanah.
"Ampuni nyawa kami, Pendekar. Kami menyerah," ucap salah seorang anak buah sang Datuk.
Sementara itu Nini Sumirah tampak berlutut sambil memegangi dada wajah wanita tua itu tampak berubah pucat dan mulai membiru.
"Anggala, Nini Sumirah terkena racun," seru Singo Abang sambil berusaha mengalirkan hawa murni ketubuh wanita tua di depannya.
"Hup!" Anggala sempat menoleh ke arah Singo Abang yang lagi berusaha menolong Nini Sumirah yang keracunan cakar Harimau Hitam milik Datuk Wangsala.
"Hmm...! Aku harus cepat menolong Nini Sumirah, jangan sempat racun itu masuk ke jantungnya," gumam Anggala dalam hati. Pendekar Naga Sakti langsung mengerahkan jurus 'Tapak Naga'. tingkat empatnya dan menyatukan ilmu 'Baju Besi Emas'. tingkat delapan belas.
"Heeeaaa....! Giliranmu, Anak Muda!" bentak Datuk Wangsala sambil melesat dengan kedua telapak tangan teracung ke depan.
Trang!
"Heh...!" Datuk Wangsala terkejut bukan kepalang begitu kedua telapak tangannya yang membentuk cakar mengenai bahu kanan Anggala. Belum sempat Datuk Wangsala mengontrol keterkejutannya telapak tangan kanan Anggala telak menghantam dada kirinya.
Desss!!
"Akgh....!!" Datuk Wangsala mengeluh tertahan sebelum tubuhnya terpental sekitar empat tombak ke belakang.
__ADS_1
.
Bersambung.....