Pendekar Naga Sakti

Pendekar Naga Sakti
Golok Rajawali Hitam


__ADS_3

Anggala dan Wulan Ayu cukup lama memperhatikan rumah besar itu dari atas pohon sambil menghitung berapa jumlah penjaga rumah besar itu.


"Kak Anggala, cukup banyak penjaga rumah itu." kata Wulan Ayu sambil berbisik, "Kalau dinda tidak salah hitung, yang terlihat mondar-mandir dari tadi di depan rumah ada sekitar delapan orang," tambah Wulan Ayu sambil berbisik pada Anggala yang ada di sampingnya.


"Ya, Dinda, kakak juga menghitung segitu," jawab Anggala, "Ayo kita sampiri mereka!" Anggala lalu berkelebat turun. tepat di depan rumah besar itu.


Wulan Ayu menyusul turun dan mendarat di samping Anggala, ia mengeluarkan kipas Elang Perak yang tersimpan di balik bajunya.


"Siapa kalian.?" bentak orang orang berbaju rompi hitam, yang merupakan pengawal rumah besar di bukit seribu bunga itu.


"Kami datang mencari Iblis Pemetik Bunga.!" jawab Anggala sengit sambil tertawa kecil ke arah orang-orang berompi hitam itu.


Sret.! Sret.! Sret..!


Mereka menghunus golok di pinggang. mereka lalu lansung menyerang Anggala dan Wulan Ayu.


"Hiyaat.....!"


"Hup...!"


"Heaaa...!" Anggala mengelak bacokan dan sebetan golok ke arah dadanya sambil menyorongkan tapak tangannya yang sudah terisi tenaga dalam tinggi.


Wut!


Desis!


"Aaakh.!" salah seorang penyerang itu terpental terkena telapak tangan Anggala, yang memakai jurus Tapak Naga dan bertenaga dalam tinggi itu.


"Hiyaaa...!" Wulan Ayu melompat ke udara menghindari tusukan dan sabetan golok yang mengarah ke tubuhnya, kaki kanannya menendang kepala musuhnya dan.


Duak...!


"Aaakh..!" orang berbaju rompi hitam yang menyerang Wulan Ayu terpental ke samping kiri dengan leher patah. Pengawal rumah besar itu jatuh dan tidak berkutik lagi.


Para pengawal itu berdatangan, mereka semakin banyak mengepung Anggala dan Wulan Ayu. Mereka nengepung dengan bergerak memutari Anggala dan Wulan Ayu.


"Serang.!" perintah salah seorang pengawal yang baru datang, ia berbaju hitam sama dengan yang lainnya, cuma bajunya mempunyai lengan.


"Heaaa.....!"


Trang...!

__ADS_1


Para pengawal berompi hitam itu menyerang berbarengan, namun serangan mereka di tangkis Wulan Ayu dengan kipas Elang Peraknya yang membentang lebar di atas kepalanya.


"Hup..!"


"Hiyaaa...!" jerit melengking teriakan Wulan Ayu, ia mendorong ke atas golok-golok penyerangnya dan ia mengibaskan kipas elang perak ke arah musuh-musuhnya itu.


Set! Set! Set!


Jarum-jarum kecil berterbangan dari ujung kipas itu dan mengenai tubuh orang-orang berbaju rompi hitam tanpa lengan tersebut.


"Aaaa.....!" empat orang yang terkena jarum dari kipas elang perak itu jatuh dan meregang nyawa.


Sementara Anggala juga di keroyok lima orang termasuk orang berbaju hitam memakai lengan tadi.


"Hup..! Hiyaaat..!" Anggala menghindari dan menangkis serangan musuhnya yang begitu gencar hendak mencincang tubuhnya. Tapi Anggala menghadpi serbuan itu dengan begitu sigap dan begitu gesitnya, dengan begitu mudah Anggala mengelak ke sana kemari menghindari sabetan dan tebasan golok para penyerangnya.


Tidak berselang lama jurus 'Tapak Naga Anggala berhasil menghajar musuh-musuhnya yang berbadan besar itu.


"Aaakh...!" dua orang musuh Anggala jatuh dengan darah menyembur dari bibir mereka. Mereka tidak mampu berdiri lagi karena serangan Anggala mengandung tenaga dalam tinggi, sehingga tubuh besar mereka tidak sanggup menahan efek pukulan itu.


"Heaaah...!" Anggala kembali menghajar salah satu musuhnya dengan tendangan kakinya yang begitu cepat, sehingga musuhnya terpental beberapa tombak dan tidak mampu bangun lagi.


"Bangsat! Mati Kau!" murka pengawal yang bajunya berlengan itu sambil menyerang Anggala dengan golok di tangannya, ia mengarahkan mata golok ke arah kepala Anggala, akan tetapi.


Trang...!


Tangan kanan Anggala bergerak secepat kilat ke depan ke arah dada musuhnya.


Buak!


"Aaakh...!" orang berbaju hitam berlengan itu terhuyung ke belakang dua tombak, darah mengalir di sela sela bibirnya. Laki-laki itu mengalami luka dalam yang cukup parah terkena pukulan Tapak Naga Anggala.


"Huakkk...!" orang berbaju hitam itu memuntahkan darah segar sambil jatuh berlutut, ia berusaha menahan keseimbangannya dengan menancapkan ujung goloknya ketanah.


Tiba tiba!


"Siapa yang berani berbuat onar di tempatku!" suara lantang terdengar, tidak lama kemudian sebuah bayangan hitam hadir di tempat itu.


"Siapa kalian berani membunuh anak buahku?" bentak orang itu. orang itu adalah Iblis Pemetik Bunga, tampak jelas wajah iblis pemetik bunga itu, ia cukup tampan untuk seorang laki-laki berumur empat puluh tahunan.


"Sebutkan nama kalian, agar bisa ku tulis di batu nisan kuburan kalian!" bentak Iblis Pemetik Bunga dengan suara menggelegar, ia membentak dengan memakai tenaga dalam cukup tinggi.

__ADS_1


"Namaku Anggala, aku berasal dari Lembah Naga,dan di sampingku ini Bidadari Pencabut Nyawa dari barat.!" jawab Anggala sengit.


"Ha ha ha...! Rupanya hari ini aku kedatangan pendekar terkenal di dunia persilatan, pantas anak buahku tak berkutik menghadapi kalian.!" tawa Iblis Pemetik Bunga memekakkan telinga.


Namun Anggala dan Wulan Ayu tampak biasa saja mendengar suara membahana itu. Pengawal berbaju rompi hitam, yang masih hidup menutup telinga sambil meringis kesakitan.


"Apa kalian ke sini untuk membebaskan gadis gadis itu?" tanya Iblis Pemetik Bunga dengan nada suara tinggi.


"Kami kesini untuk menghentikan sepak terjangmu yang durjana itu!" jawab Anggala sengit.


"Baiklah, siapa diantara kalian,yang mau bermain-main denganku lebih dulu!" ujar Iblis Pemetik Bunga.


"Kak Anggala, biar dinda menghadapinya dulu," ujar Wulan Ayu, usai berkata pada Anggala. Wulan Ayu maju lima langkah di depan, hingga ia berada tiga tombak di hadapan Iblis Pemetik Bunga.


Sret...!


"Hiyaat...!" jerit melengking Bidadari Pencabut Nyawa mengawali tubuhnya melompat sambil mengibaskan kipas Elang Perak yang terkembang ke arah Iblis Pemetik Bunga.


"Hup...!"


"Hiaa..!" Iblis Pemetik Bunga melompat ke udara menghindari sabetan kipas di tangan Wulan Ayu dan begitu cepat ia mengirimkan tendangan ke arah dada Wulan Ayu.


"Huh..!" Wulan mengeram marah melihat Iblis Pemetik Bunga mengincar perhiasannya.


"Hiaaa..!" Wulan Ayu menghindari tendangan kaki Iblis Pemetik Bunga sambil mengibaskan kipas elang perak ke arah lengan Iblis Pemetik Bunga.


Sret..!


"Aakh..!" Iblis Pemetik Bunga Buru-buru menarik tangannya yang terkena sabetan pisau di ujung kipas elang perak milik Wulan Ayu itu.


Iblis Pemetik Bunga melompat mundur satu tombak ke belakang.


"Kau hebat juga cantik, kau pasti panas jika di ranjang," gumam Iblis Pemetik Bunga seperti berbicara pada dirinya sendiri. Iblis Pemetik Bunga melangkah mundur beberapa langkah kebelakang.


Sring...!


Iblis Pemetik Bunga menghunus sebuah golok yang tersembunyi di balik jubahnya, tampak gagang golok itu berbentuk rajawali berwarna hitam.


"Golok Rajawali Hitam?" Wulan Ayu tersentak, mengenali golok bergagang kepala rajawali berwarna hitam di tangan Iblis Pemetik Bunga.


.

__ADS_1


.


Bersambung....


__ADS_2