
Pasukan Pangeran Roksa Galuh merasa di atas angin, dengan kedatangan bantuan dari Partai Teratai Hitam, rombongan Partai Teratai hitam berjumlah lebih dari seribu orang itu, mereka Rata rata berwajah sangar, dan bertubuh gempal, kebanyakan mereka adalah bekas perampok, dan para penyamun.
Pangeran Roksa Galuh melaksanakan rapat malam itu, mereka merencanakan taktik perang esok hari.
Mereka pernah mencoba taktik perang tanding, tampaknya malah membuat mereka kehilangan para pendekar andalan mereka.
kali ini entah apa yang mereka rencanakan, bersama Orang orang dari Partai Teratai Hitam, mereka rapat sampai jauh larut malam.
Pasukan Teratai Hitam di jamu malam itu, mereka makan minum semewah mewahnya, pasukan Pangeran Roksa menyiapkan makanan enak untuk para tamu mereka, minuman tuak buatan seorang pembuat tuak, yang sengaja mereka datangkan ke kemah mereka, gelak tawa Orang orang dari Partai Teratai Hitam, menyemangati Pasukan pemberontak itu.
*****************
Sementara itu di perkemahan prajurit Galuh permata, kemenangan dua hari ini, tampaknya membuat pasukan Galuh terlena, malam berangsur pagi, tampak yang berjaga di luar kemah, asyik mengobrol, mereka berbincang tentang pertarugan para pendekar tadi siang.
Anggala dan para pendekar tertidur lelap, setelah pertarungan yang cukup menguras tenaga itu, tampak di dalam kemah besar yang masih terjaga Pertapa Naga, Patih Jagat Geni dan Lesmana, sementara itu Senopati Arya Geni mengobrol dengan Senopati Dansa seorang bawahannya.
********************
Menjelang pagi, sekitar dua jam menjelang matahari terbit, pasukan Pangeran Roksa Galuh mulai bergerak, Orang orang Partai Teratai Hitam berada di barisan terdepan, mereka mempersiapkan diri di belakang kemah, sehingga para prajurit khusus Galuh Permata tak menyadari, kalau musuh telah bersiap menyerang.
Beberapa orang dari Partai Teratai Hitam, yang berilmu tinggi berkekebat di kegelapan malam, mereka berangkat duluan, sebagai umpan, untuk membuat prajurit Galuh Permata sibuk.
Salah seorang prajurit khusus Galuh Permata melihat bayangan hitam berkelebat menuju arah Perkemahan mereka.
"Hei.... aku melihat ada pergerakan menuju ke arah perkemahan..!" ujar parajurit itu pada salah seorang temannya.
"Bangunkan yang lain...!" kata prajurit yang lain, selesai berbicara ia melompat ke arah pohon yang lain untuk membangunkan temannya yang tertidur di dahan pohon itu.
"Cepat kau beri tau Senopati Agung..!" Kami akan menghadang penyusup itu...!" ucap salah seorang prajurit, selesai berkata para prajurit khusus itu lansung melompat ke bawah pohon di ikuti para prajurit khusus yang lain.
__ADS_1
Prajurit yang di tinggal temannya itu, lansung berkelebat cukup cepat ke arah kemah besar tempat para Punggawa Kerajaàn Galuh beristirahat.
Sementara itu, prajurit khusus yang menghadang Orang orang Partai Teratai Hitam telah terlibat pertempuran kecil di dalam kegelapan malam.
Prajurit yang bertugas memberi tau para punggawa lansung berlari ke arah kemah besar, ia lansung memberi tau prajurit penjaga di depan kemah besar.
Prajurit khusus itu lansung memasuki kemah besar itu.
Sonopati Arya Geni...!" panggil Prajurit itu.
"Ada apa..? Prajurit..!" jawab Arya Geni yang lansung terbangun karna panggilan prajurit tersebut, para pendekar yang ada di dalam kemah besar pun ikut terbangun.
"Maafkan hamba Senopati Agung...!" ucap prajurit khusus itu sambil menunduk hormat di depan Senopati Agung Arya Geni.
"Kita di serang... tuanku... teman-teman saya yang lain, sedang berusaha menghalangi para penyerbu itu...!" ucapnya tampak ketakutan.
"Baiklah prajurit cepat bangunkan yang lain!" perintah Senopati Agung Arya Geni, sambil mengikat tali pedangnya di dadanya, setelah itu Senopati Arya Geni lansung berkelebat bagai kilat ke arah padang rumput.
Begitu Anggala dan Pertapa Naga sampai ke padang rumput, ribuan prajurit pemberontak telah menyerbu, tampak para prajurit khusus sedang bertarung dengan Orang orang Partai Teratai Hitam.
Wulan Ayu dan Aruni bersama Sri kemuning dan Bidadari Galak, Luh mentari tanpa banyak bicara lansung menyusul yang lain ke medan perang.
Tampak para prajurit yang baru terbangun, kalang kabut mempersiapkan diri, sedangkan para penyerbu telah sampai ke ujung padang rumput, sehingga sangat dekat dengan perkemahan prajurit Galuh permata.
Anggala dan Arya Geni bagai singa terbangun dari tidurnya, mereka berkelebat menghajar para prajurit dan orang orang Partai Teratai Hitam, Namun para penyerbu yang datang lebih dulu, adalah Orang orang yang berilmu cukup tinggi, membuat Anggala dan Arya Geni agak kewalahan, apalagi saat ini mereka masih kalah jumlah.
Pertapa Naga dan Lesmana bersama Malaikat pemarah merangsek ke arah kanan pasukan musuh, di susul Bidadari Galak, mereka mengamuk menghajar setiap Orang orang Partai Teratai Hitam dan para prajurit pemberontak.
Begitu pun dengan Jaka kelana dan Patih Jagat Geni beserta Panglima Kerajaan ki Guntur setra, Mereka berperang menghadang pasukan musuh yang memasuki daerah kemah Galuh Permata, Jaka Kelana berkelebat dengan pedang Srigala Putihnya membantai setiap musuh yang coba mendekat.
__ADS_1
Pertempuran yang tak seimbang berlansung hingga matahari terbit di upuk timur, para prajurit Galuh permata yang di serang secara mendadak kalang kabut, hingga banyak para prajurit Galuh yang terluka dan tak sedikit pula yang tewas.
Para pendekar dari Lembah Tengkorak dan Orang orang Partai Teratai Hitam yang berilmu tinggi, mengeroyok para tokoh silat golongan putih.
Wulan Ayu dan kedua temannya bertempur tak jauh dari kemah mereka, walau mereka berhasil menghalau musuh yang mau menyerbu kemah mereka tapi korban di pihak Galuh sudah cukup banyak.
Wulan Ayu menghunus Pedang Elang Perak yang terselip di punggungnya, ia membantai setiap musuh yang mencoba menyerangnya dengan 'Jurus Bidadari kayangan'. ia mengamuk menghabisi prajurit musuh yang menghadangnya.
Wulan Ayu berkelebat secepat kilat ke dekat Patih Jagat Geni, yang sedang bertempur, ia membantu Patih Kerajaan Galuh Kencana itu menghadapi musuh yang ada di dekat sang Patih.
"Paman Patih... sebaiknya tarik mundur pasukan kita, pasukan kita sudah banyak yang gugur...!" ucap Wulan Ayu sambil mengayunkan pedang ke arah prajurit pemberontak yang hendak menyerangnya dengan tombak.
"Baik.. Tuan Putri...!" jawab Patih Jagat Geni, sambil mengayunkan pedang nya, menangkis tombak prajurit musuh, yang menyerangnya.
"Kak Senopati Arya... tarik mundur dulu pasukan kita...!" ucap Anggala, sambil menerjang musuh yang hendak menyerang Arya Geni.
"Prajurit kita tidak siap dengan serangan ini Kak senopati, kalau tidak pasukan kita akan habis, sudah cukup banyak prajurit kita yang tewas...!" tambah Anggala lagi sambil menjejakkan kaki di samping Arya Geni yang lagi bertempur itu.
Pedang terbangnya berkelebat ke arah musuh yang bagai air mengalir datang ke arah mereka, di tambah musuh yang berilmu tinggi membuat mereka mau tidak mau keteteran juga.
Arya Geni dan Patih Jagat Geni beserta Panglima Perang ki Guntur Setra, terpaksa menarik mundur pasukan mereka dari medan perang, karna melihat sudah begitu banyak korban di pihak mereka.
"Mundur..! Mundur...!"
.
.
Bersambung...
__ADS_1
buat pembaca novel PNS jangan lupa baca novel baru Author Sunder abhineta ya...