Pendekar Naga Sakti

Pendekar Naga Sakti
Misteri Istana Kematian. Sarsih Di Culik


__ADS_3

Pendekar Naga Sakti cepat melompat ke depan dinding yang ia buat tadi. Namun tiba-tiba Anggala mengurungkan niatnya. Pendekar Naga Sakti merasakan hawa racun berasal dari ruangan di depannya.


"Ada apa?" tanya Sarsih.


Ruangan ini beracun," sahut Anggala.


"Oh....!" Sarsih tersentak, "Jadi...?!"


"Ya! Ruangan ini terhubung ke istana," jelas Anggala.


Belum lagi mereka sempat berpikir. Tiba-tiba terdengar suara berdesingan dari arah belakang mereka. Cepat Pendekar Naga Sakti mendorong Sarsih sambil berbalik badan. Sarsih terkejut hingga hilang keseimbangan sehingga ia terjajar ke arah dinding.


"Hap!" Pendekar Naga Sakti secepat kilat menangkap benda hitam berbentuk bagai ranting dengan ujung bergaris merah itu. Secepat kilat Anggala melemparkan kembali senjata rahasia yang ia tangkap ke arah benda itu datang. Benda itu melesat lebih cepat dari pada saat meluncur ke arah Anggala dan Sarsih.


"Aaaa....!!"


Ter dengar jeritan melengking dari arah benda itu datang. Tidak lama tampak dua orang berbaju hitam terjelungkal ke tanah dengan dada tertembus senjata rahasia mereka sendiri. Beberapa saat keduanya berkelonjotan, lalu diam tidak berkutik lagi.


Belum sempat bernapas lega, tiba-tiba dinding lorong batu itu terbuka, dari dalam pintu itu melompat puluhan orang berpakaian hitam dengan gambar teratai berwarna merah di bagian dada. Orang-orang berpakaian hitam itu langsung menyerang Pendekar Naga Sakti dan Sarsih. Terpaksa mereka memberikan perlawanan.


Anggala sempat berpikir menggunakan ilmu kesaktian, tapi di urungkan. Karena Anggala memikirkan Sarsih, jika ia menggunakan pukulan kesaktian Sarsih bisa terkena reruntuhan gua itu.


Kini Pendekar Naga Sakti harus menghadapi sekitar dua puluh orang anggota Partai Teratai Api itu. Terpaksa Anggala bertarung dengan tangan kosong.


Sambil melindungi Sarsih, Anggala bergerak bagai seorang penari mabuk, dengan lincahnya. Setiap tikaman orang-orang berpakaian hitam itu dapat di hindarinya, senjata orang-orang Partai Teratai Api itu tidak hanya kudok, tapi senjata berbentuk tongkat pendek sepanjang sehasta dengan ujung runcing di hiasi warna merah di bagian ujung.


"Heaaa.....!"

__ADS_1


Anggala berteriak nyaring sambil menghindari serangan orang-orang berpakaian hitam itu. Hampir tidak terlihat gerakan pendekar dari Lembah Naga itu. Ilmu 'Delapan Langkah Mata Angin'. Di padukan dengan ilmu 'Langkah Malaikat'. Pendekar Naga Sakti bisa menghadapi serangan musuh yang cukup banyak dan rata-rata mempunyai kepandaian cukup tinggi itu.


Sambil menghindar Pendekar Naga Sakti secepat kilat memberikan serangan balasan. Cakaran tangan Anggala itu, bergerak mencakar ke arah orang-orang berbaju hitam itu. Jeritan kesakitan setiap musuh yang terkena cakaran jurus ' Sembilan Matahari Cakar Elang'. itu. Begitu menyayat hati. Tidak butuh waktu lama lebih dari separuh orang-orang berpakaian hitam itu telah menggeliay di tanah, dengan luka bekas cakaran bagai tercakar hewan buas.


Sementara itu Sarsih tampak menganggur, karena orang-orang berpakaian hitam itu tidak ada yang mampu menembus pertahanan Pendekar Naga Sakti itu. Lantai lorong yang semula berwarna putih kehitaman, kini berubah menjadi merah darah. Bau amis darah kini membuat mual di seantero ruangan goa itu. Beberapa orang anggota Partai Teratai Api itu yang masih hidup tampak agak ragu-ragu menyerang. Karena dalam waktu singkat lebih dari separuh dari mereka telah menjadi mayat. Sedangkan kedua musuh mereka tidak tergores sedikit pun.


Pada saat itu di gorong-gorong atap goa yang terbuka, tiba-tiba melesat seseorang berpakaian jubah putih dan mendarat di belakang Sarsih. Begitu cepat orang berjubah putih itu langsung menotok urat kesadaran Sarsih di bagian belakang. Begitu gadis itu hendak terkulai orang berbaju jubah putih itu dengan cepat menyangga tubuh Sarsih. Orang berjubah putih itu langsung membopong tubuh Sarsih yang terkulai lemah, akibat totokan. Dengan begitu cepat pula orang berjubah itu kembali melayang ke arah atas goa yang terbuka.


"Sarsih...!" sentak Anggala terkejut.


Secepat Pendekar Naga Sakti meluncur, berusaha mengejar orang berjubah putih yang membawa Sarsih. Namun orang-orang Partai Teratai Api yang masih hidup langsung melompat menghalangi. Anggala cepat mengibaskan tangannya ke arah orang-orang berpakaian hitam itu sambil terus meluncur ke arah atas. Tepat ketika atap lorong itu menutup, Anggala telah melewatinya.


"Sarsih...!"


Anggala jadi celingukan, begitu menyadari ia telah berada di tengah hutan di samping istana kematian itu. Sedangkan orang berjubah putih yang membawa Sarsih entah kemana perginya. Selagi Pendekar Naga Sakti kebingungan, tiba-tiba matanya menangkap sebuah bayangan putih berkelebat di tengah hutan. Secepat kilat Anggala melesat mengejar.


"Setan..!" geram Anggala gusar bukan main.


Pendekar Naga Sakti kembali meluruk turun ke bawah. Namun begitu kakinya menjejak tanah, tiba-tiba saja dari dalam tanah bermunculan orang-orang berpakaian hitam yang di dadanya bergambar teratai berwarna merah. Mereka langsung melompat menyerang. Anggala tersentak kaget. Namun secepat kilat tubuhnya melenting ke udara, langsung melepaskan pukulan bertenaga dalam tinggi.


Begitu cepatnya gerakan Pendekar Naga Sakti. Sehingga pukulannya tidak terbendung lagi. Terdengar jeritan melengking tinggi saking susul. Kemudian tampak beberapa orang telah bergelimpangan di tanah dengan mulut mengalir darah segar. Anggala yang sedang marah, langsung melepaskannya pada orang-orang berpakaian hitam itu.


"Hiyaaa! Hup!"


Desss!


Bugkh!

__ADS_1


"Aaaa.....!"


Dengan menggunakan jurus 'Tapak Dewa'. pemberian kakek Sura Jaya, Pendekar Naga Sakti mengamuk bagai singa yang terlu-ka. Setiap gerakannya, dan pukulannya selalu meminta korban nyawa.


Sebentar saja sekitar dua puluh orang, anggota Partai Teratai Api itu telah bergelimpangan di tanah, mereka semua tewas tidak bernyawa lagi. Bau anyir menusuk hidung. Mata Pendekar Naga Sakti memandang ke arah Mereka yang tergeletak di tanah. Orang-orang berpakaian hitam itu semua memakai gelang berjumlah satu semua.


Sehingga jelas hanya memiliki kepandaian yang tidak terlalu tinggi. Tidak heran Anggala begitu mudah mengalahkan mereka semua.


Perlahan Anggala melangkahkan kaki meninggalkan tempat itu. Matanya menatap tajam ke sekeliling tempat yang di laluinya, tanah dan rumput tidak luput dari pandangannya. Namun sejauh ini tidak ada bekas orang berjalan kaki. Anggala mendengus kesal, sambil mengepalkan tinjunya kuat-kuat.


Pendekar Naga Sakti semakin kesal. Ternyata ia hanya berputar-putar di sekitar bangunan tua yang di sebut Istana Kematian itu. Anggala berdiri tegak menghadap ke arah samping istana yang tampak angker itu.


"Hiyaaa...!"


Tiba-tiba Anggala menghentakkan tangannya. Sambil berteriak keras. Kedua tangannya teracung ke depan, dua buah cahaya berwarna kuning kemerahan berbentuk kepala naga meluncur dari telapak tangannya. Cahaya membentuk kepala naga itu meluncur deras menghantam dinding samping istana kematian itu. Kemarahan Anggala di lampiaskan pada istana kematian itu.


"Ha ha ha...!"


Anggala menurunkan telapak tangannya, begitu mendengar suara tawa terbahak-bahak keras menggema. Pendekar Naga Sakti memutar tubuhnya, mencoba mencari asal suara itu. Tapi suara itu seperti berasal dari delapan penjuru mata angin. Anggala langsung bisa menebak kalau pemilik tawa itu memiliki tenaga dalam tinggi.


"Siapa Kau? Keluar..?" teriak Anggala keras.


"Ha ha ha...!"


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2