
"Apa yang terjadi Kak, orang sehebat Kala Abang begitu mudah di kalahkan?" Tanya Wulan Ayu tampak agak heran dengan kekakalahan Kala Abang yang begitu cepat.
.
"Tampaknya Kala Abang tidak serasi dengan senjata Trisula yang ia pakai, sehingga tenaga dalamny tersedot oleh senjata itu!" Jawab Pendekar Naga Sakti.
"Dari mana Kakak tau? Kalau Kala Abang tidak serasi dengan senjata Trisulanya?" Tanya Wulan Ayu lagi.
"Kakak melihat dengan "Jurus Mata Malaikat'. Dinda, tampak sewaktu bertarung tadi, kalau aliran tenaga dalam di tubuh Kala Abang tidak stabil, malah cenderung melemah, itulah sebabnya ia tidak lama bertahan, walau pun dia bisa menang menggunakan Trisula Penggetar Bumi itu, nyawanya pun tidak akan selamat!" Jawab Pendekar Naga Sakti memberi penjelasan yang cukup panjang lebar.
"Jadi 'Jurus Mata Malaikat'. berada di atas tingkatan 'Jurus Mata Bidadari'. ya Kak?"
"Entah lah, Kakak tidak pernah membandingkan ilmu kedikjayaan orang lain, Kakek guru dan Paman guru tidak pernah mengajarkan itu, mereka hanya mengajarkan bagaimana menghadapi musuh, dan sebagai pendekar golongan putih, kita tidak boleh curang, atau membokong musuh, apalagi menyerang musuh yang sudah tidak berdaya,"
"Menyerang musuh yang sudah kalah, sipat yang sangat pengecut, itu yang di ajarkan kefua guru dinda, Kak!" Ujar Wulan Ayu sambil memandang tubuh Kala Abang yang sudah terbujur kaku.
"Sungguh ironis kehidupan seorang tokoh Hitam yang yang sudah melanglang buana di dunia persilatan selama bertahun-tahun, kini harus mati dengan ambisi yang begitu besar dan menakutkan bagi orang lain.!" Tambah Wulan Ayu lagi.
.
"Sepandai-pandainya tupai melompat suatu saat akan jatuh juga, berapa hebatnya kita, tetap akan kalah juga, diatas langit masih ada langit, namun pergunakan lah kepandaian yang kita miliki untuk membantu orang lain sebisa kita," Tambah Pendekar Naga Sakti lagi.
"Yah... Kita sendiri esok entah gimana?" Ucap Si Bidadari Pencabut Nyawa, "Kita kembali ke warung Ki Sarta Kak," Ajaknya, Anggala hanya mengangguk, mereka pun meninggalkan tempat itu. Tempat itu tampak telah porak-poranda akibat pertarungan Anggala dengan Kala Abang tadi.
__ADS_1
"Kok jadi kaku, yang mati tokoh hitam, kita yang jadi sedih..!" Cerocos Wulan Ayu sambil merangkul lengan kiri Anggala, bibir si cantik itu tersenyum manis.
"Siapa juga yang kaku duluan tadi, hayoo...!" Jawab Pendekar Naga Sakti sambil mencubit lembut pipi Bidadari cantik murid dua Pendekar Pemarah itu.
"Hi hi.. Iya ya, yang duluan sok gundah tadi dinda ya!" Kata Wulan Ayu sambil tertawa. Di peluknya erat lengan kiri Anggala itu.
"Bisa ya? Bidadari Pencabut Nyawa, manja?"
"Terserah, Bidadari Pencabut Nyawa kan juga punya perasaan!"
"Perasaan apa?"
"Perasaan sama Pendekar jelek dari Lembah Naga!"
"Iya, jelek sekali! Saking jeleknya, banyak gadis yang suka tuh...!"
"Mana? Nggak ada, cuma Bidadari jelek, yang suka ngamuk! He he...!"
"Emang nggak boleh ngamuk sama penjahat?"
Boleh! Boleh banget, kan Kakak cuma bilang suka ngamuk, nggak ngelarang ngamuk?!!"
"Kakak...!"
__ADS_1
Kedua Pendekar muda itu tampak bercengkrama mesra, sambil berjalan kembali ke desa Talang kuda, tidak mereka sadari kalau mereka di perhatikan oleh orang-orang kampung yang lagi duduk di dalam warung Ki Sarta itu.
"Kak, lihat, orang-orang pada memperhatikan kita!" Ucap Wulan Ayu sambil tersenyum.
"Eh...Iya ya.." Anggala, sambil celingukan, Ki Sarta hanya tertawa melihat Pendekar Naga Sakti yang tidak enak hati sendiri.
Wulan Ayu cepat cepat berjalan masuk ke dalam warung Ki Sarta itu, ia lansung masuk ke dalam rumah Ki Sarta itu.
"Hi hi.. Ada yang malu nih," Seloroh Embun melihat wajah Wulan Ayu memerah karna menahan malu.
"Hus.. Jangan di candain terus mbun, lihat wajah Wulan sudah memerah tu.." Ujar Istri Ki Sarta sambil tersenyum.
"Godain Kak Wulan ah...!" Ujar Embun sambil tertawa, ia pun menyusul Wulan Ayu masuk ke dalam rumahnya.
"Kak Wulan...!" Panggil Embun melihat Wulan Ayu tidak ada di kamarnya. "Kemana Kak Wulan ya, perasaan tadi Kak Wulan masuk kamar?" Embun agak bingung.
"Haa....!"
"Aauuu.....!"
Tiba-tiba Wulan Ayu sudah ada di belakang embun dan mengejutkannya, sehingga gadis itu terjerit kaget.
"Ha ha ha... Hayo siapa yang kena jebakan!"
__ADS_1