Pendekar Naga Sakti

Pendekar Naga Sakti
Prahara Di Pulau Andalas. Tuan Tanah Desa Bukit Kayangan


__ADS_3

Sementara itu Jaka Kelana dan Singo Abang bersama kedua adiknya mengadakan penyelidikan ke Desa Bukit Kayangan. Suasana desa pagi itu tampak begitu ramai, sebuah warung kecil di ujung desa sedang ramai oleh pengunjung. Namun para pengunjung itu tampaknya berpakaian seperti prajurit kerajaan.


Jaka Kelana bersama Singo Abang dan kedua adiknya menambatkan kuda mereka di sebuah kayu yang tampaknya sudah di persiapkan pemilik warung.


Orang-orang berpakaian prajurit itu banyak yang memperhatikan para anak muda yang memasuki warung itu. Namun Jaka Kelana dengan tenang menghampiri kasir warung itu yang di tunggui oleh seorang wanita separuh baya.


"Apa kau mau pesan makanan, Anak Muda?" tanya wanita itu seakan sudah mengetahui maksud Jaka Kelana mendatanginya.


"Ya, Nini. Saya dan teman-teman butuh makanan," sahut Jaka Kelana sopan.


"Baiklah, silakan tunggu di meja, Kisanak," kata wanita setengah baya itu sambil menyodorkan seguci arak kearah Jaka Kelana. Jaka Kelana hendak menolak namun wanita tua itu memberi kode seakan memaksa.


"Terima saja, Anak Muda. Ini demi keamanan mu, mereka tidak akan mengganggumu jika kau minum arak. Lagian Ini arak tulen," kata wanita setengah baya itu cepat.


"Terima kasih, Nini," ucap Jaka Kelana sembari menerima seguci arak itu dan segera kembali kemeja yang sudah di tempati Singo Abang dan kedua adiknya.


Singo Abang seakan mengerti keadaan yang terjadi di warung itu, mereka langsung meminum arak yang di bawa oleh Jaka Kelana. Namun Singo Abang cukup terkejut rupanya arak yang di berikan pemilik warung itu adalah air aren yang masih alami.


"Jaka, sepertinya Nini pemilik warung itu menyadari kedatangan kita," bisik Singo Abang membatin dan mengirimkan telepati pada Jaka Kelana.


"Ya, mungkin dia adalah seorang pendekar, gelagatnya begitu tenang," sahut Jaka Kelana sambil meneguk secangkir arak yang masih asli itu.


Tidak lama kemudian seorang gadis muda berpakaian ringkas mengantarkan setalam makanan untuk Jaka Kelana dan Singo Abang.


"Silahkan, Tuan," ucap gadis itu ramah dan melempar senyum manis. Gadis itu bertubuh langsing dan memiliki kulit putih mulus, namun tampak orang-orang berpakaian ala prajurit itu enggan menggoda gadis itu secara langsung, entah apa penyebabnya.


Jaka Kelana dan Singo Abang tanpa banyak bicara langsung menyantap makanan yang telah di sediakan pemilik warung itu. Gadis itu juga menambahkan dua guci lagi air aren yang di masukkan ke dalam guci arak.

__ADS_1


Setelah orang-orang berpakaian ala prajurit itu meninggalkan tempat itu, barulah nini pemilik warung itu bersama gadis berpakaian ringkas itu mendekati meja yang di tempati oleh Jaka Kelana dan kawan-kawannya.


"Permisi, Anak Muda. Apa Nini mengganggu?" sapa wanita setengah baya itu sambil tersenyum.


"Tentu saja tidak, Nini," sahut Jaka Kelana ramah.


"Boleh nini duduk?"


"Silakan, Nini," Jaka Kelana ramah.


"Nini lihat kalian bukan dari daerah ini, apa kalian pendekar yang menuju gunung kerinci?"


"Ya, kami memang pendekar yang menuju gunung kerinci, tapi kami kesini karena ada satu hal yang membuat kami harus menyelidiki sebuah urusan di desa ini, Nini," kata Jaka Kelana.


"Apa kalian bertemu Penyamun Bukit Kayangan?"


"Melihat dari pakaian dan gelagat kalian. Kalian bukanlah orang-orang golongan hitam, makanya aku memberikan air aren bukan arak pada kalian tadi," sahut wanita setengah baya itu kalem.


"Penyamun Bukit Kayangan adalah para pendekar dari perguruan silat yang ada di desa ini. Mereka mengadakan perlawanan pada tuan tanah yang sangat tamak dan mengambil alih semua tanah rakyat yang ada di Desa Bukit Kayangan ini," jelas wanita setengah baya itu seakan menerawang, wajahnya yang tadi mengulas senyum kini terlihat sendu.


"Jika saya boleh bertanya siapa gerangan nama, Nini?"


"Ya, ya... Maaf, Anak Muda. Aku berbicara tanpa memperkenalkan diri, namaku Sumirah orang-orang dunia persilatan mengenalku dengan gelar Dewi Bukit Kayangan, namun itu belasan tahun yang lalu. Semua itu tinggal kenangan," tutur Nini Sumirah.


"Saya Jaka Kelana dan ini teman-teman saya Singo Abang, Singo Jayo dan Singo Sarai. Mereka berdua murid Datuk Panglima Hijau dari Bukit Tambun Tulang," Jaka Kelana memperkenalkan diri memperkenalkan teman-temannya.


"Datuk Panglima Hijau, apa kabarnya sekarang?" Nini Sumirah menoleh kearah Singo Sarai.

__ADS_1


"Kakek Guru saat kami berangkat, beliau baik-baik saja, Nini," sahut Singo Sarai sopan dan begitu ramah.


"Rupanya tokoh silat satu itu sudah punya murid," kata Nini Sumirah lagi.


"Beliau tidak hanya mempunyai murid Nini, tapi beliau juga sudah punya perguruan silat," kata Singo Sarai lagi memberi tahu.


"Aku cukup senang mendengarnya, aku dengar Pendekar Naga Sakti Lesmana juga sudah mempunyai murid?"


"Ya, namanya Anggala. Dia juga sedang menuju gunung kerinci," sahut Jaka Kelana.


"Berarti saat ini banyak pendekar-pendekar yang sudah tidak aku kenal," kata Nini Sumirah.


"Ya, begitulah, Nini."


"Tapi kenapa Nini tidak melawan orang-orang yang menindas para penduduk desa ini, Nini?" tanya Jaka Kelana.


"Mereka tahu kelemahanku, Anak Muda. Mereka menyandera anak-anak kecil, jika aku mengadakan perlawanan maka orang yang tidak bersalah menjadi korban. Lagian saat ini kekuatan mereka sudah hampir bagai sebuah kadipaten, tuan tanah Sutan Bhatoe mempunyai tidak kurang dari lima ratus orang pengawal.


Di tambah dua orang dedngkot dunia persilatan golongan hitam," tutur Nini Sumirah.


"Berarti kita harus menghubungi Anggala, Sahabat Singo," kata Jaka Kelana menoleh ke arah Singo Abang.


"Aku setuju denganmu, Sahabat Jaka," sahut Singo Abang.


.


.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2