
Cahaya matahari tampak terang menyinari bumi. Suara kicau burung terdengar indah bagai nyanyian, udara sejuk terasa segar di dada.
Sementara itu tampak sepasang muda mudi berjalan santai di tengah hutan. Keduanya adalah Anggala dan Wulan Ayu masih dalam perjalannan. Mereka tampak mesra jalan dengan berpegangan tangan.
"Kak, gimana kalau dinda tukar gelar dinda jadi Bidadari Biru?" tanya Wulan Ayu sambil memandangi wajah Pendekar Naga Sakti itu.
"Memangnya, kenapa.?" tanya balik, Pendekar Naga Sakti.
"Dinda, jadi ingat ucapan kepala penyamun yang menghadang kita waktu bersama Ayahanda," kata Wulan Ayu.
"Penyamun itu menyebut dinda Bidadari Biru, mungkin karena kelewat takut, sehingga dia salah bicara," mata Wulan Ayu lekat memandang wajah tampan di sampingnya itu.
"Boleh juga, Dinda.!" sahut Anggala. Mereka mulai terbiasa dengan panggilan dinda untuk Wulan Ayu semenjak dari istana Mandalika.
Mereka terus mengobrol bagai orang biasa, jalan kaki sejauh berkilo kilo meter, tanpa menggunakan ilmu lari cepat dan peringan tubuh.
Matahari telah mulai condong, tapi mereka belum menemukan tanda-tanda akan adanya perkampungan.
"Dinda! kita harus menggunakan ilmu lari cepat, matahari sudah mulai ke barat, belum ada juga tanda-tanda perkampungan," kata Anggala pada Wulan Ayu.
"Baiklah, tapi Kakak jangan terlalu cepat. Dinda nanti ke tinggalan!" sahut Wulan Ayu sambil tersenyum simpul.
"Dinda, duluan!" kata Anggala sambil balas tersenyum.
"Nggak mau.., dinda maunya barengan!" rengut manja Wulan Ayu pada sang kekasih.
"Ya, iya!" sahut Anggala sambil tertawa melihat tingkah manja sang Bidadari cantik yang suka berbaju biru itu.
Mereka pun berkelebat cepat ke arah depan mereka dengan jurus lari cepat, di tambah peringan tubuh mereka yang hampir mencapai tingkatan tertinggi.
Apalagi Anggala dengan bantuan ilmu 'Tapak Sakti'. tenaga dalamnya mencapai tingkat delapan puluh persen lebih, begitu pun dengan ilmu peringan tubuhnya.
Menjelang senja mereka sampai ke sebuah perkampungan. Mereka mencari warung untuk makan, karena siang ini mereka tidak makan. Mereka keasyikan bersenda gurau. Anggala dan wulan Ayu memasuki Desa yang mulai sepi karena malam sudah datang.
Mereka mendekati sebuah warung yang tampak sepi, namun pintunya masih terbuka, pertanda masih menerima tamu.
"Permisi, Aki, Nini.!" ucap Anggala sambil berdiri di depan pintu warung.
"Ya..! Masuk saja.!" terdengar sahutan dari belakang, tidak lama kemudian tampak seorang laki-laki berusia sekitar lima puluh tahunan datang menyongsong para tamunya.
"Silahkan masuk, Nak. Kami sudah hampir tutup tadi, karena biasanya malam-malam tidak ada orang yang ke warung," kata laki laki itu sambil nenutup pintu dari dalam
"Kenapa di tutup Ki, saya lihat kampung juga sudah sepi sekali, padahal hari masih senja?" tanya Anggala pada laki-laki itu.
"Semua orang ketakutan, Nak?" jawab si Aki.
" Ketakutan kenapa, Ki?" tanya Anggala makin penasaran.
"Para gadis kampung ini sudah banyak yang di culik Iblis Pemetik Bunga, Nak!" jawab si Aki, " O.. iya kalian butuh tempat menginap?" tambah si Aki lagi.
__ADS_1
" Nama Aki Ngabeh, orang-orang kampung manggil Aki Ngbeh!" si Aki memperkenalkan diri.
"Ya, Ki. Kalau ada, dua kamar," sahut Anggala.
"Saya Anggala, Ki, teman saya Wulan Ayu," jawab Anggala memperkenalkan diri. Wulan Ayu hanya menggangguk tanda ia membenarkan perkataan Anggala.
"Ki, siapa Iblis Pemetik Bunga itu?" Anggala kembali bertanya pada Aki Ngbeh.
"Iblis Pemetik Bunga itu penculik para gadis di kampung ini dan juga kampung sebelah, Nak," jawab Aki Ngbeh.
"Orang-orang kampung sudah pernah menyewa pendekar bayaran untuk menangkap Iblis Pemetik Bunga, tapi pendekar bayaran itu tewas di tangan Iblis Pemetik Bunga itu," tutur Aki Ngbeh menjelaskan.
Anggala mengangguk-anggukkan kepala mendengar cerita Ki Ngbeh.
"Kemana Iblis Mata Satu membawa gadis-gadis itu, Ki?" tanya Wulan Ayu, menyelingi cerita Ki Ngbeh.
"Kata orang-orang para gadis di bawa ke Bukit Seribu Bunga," jelas Ki Ngbeh lebih jauh.
"Apa dia datang tiap malam, Ki?" tanya Anggala lagi.
"Tidak, nak, kadang dua malam sekali kadang tiga malam sekali, sepertinya dia mengintai dulu, ilmunya sangat tinggi, Nak!" jawab aki Ngabeh, "Aki ke belakang dulu Nak, mau nyiapin makan dan kamar buat kalian!" tambah Ki Ngbeh sambil berjalan ke belakang. Anggala dan Wulan Ayu mengangguk dan duduk menunggu.
"Tampaknya kehidupan rakyat sedang di rundung masalah, Kak," ucap Wulan Ayu.
"Ya, Dinda, tampaknya kita harus ikut campur," jawab Anggala.
"Ini, Nak makanannya. Sesudah makan, kamar kalian sudah siap," kata Ki Ngbeh.
"Satu kamar atau dua kamar, Ki?" tanya Anggala.
"Satu, Nak. Kenapa?" Aki Ngbeh balik bertanya.
"Dua, Ki, kami belum menikah," jawab Anggala sambil tersenyum.
"Aki, kira kalian suami istri, Nak?" kata Ki Ngbeh, sambil tersenyum, "Kalian makan dulu, setelah itu bisa istirahat. Aki siapkan kamar satu lagi," tambahnya sambil berlalu.
"Ya, Ki, terima kasih," ucap Anggala. Anggala dan Wulan Ayu makan malam bersama. Setelah itu Anggala malah keluar rumah.
"Kemana, Nak, tidak istirahat?" tanya ki Ngbeh, melihat Anggala berjalan ke luar rumah.
"Saya akan melihat keadaan kampung, Ki!" jawab Anggala.
"Kak, ikut!" rungut Wulan Ayu sambil berjalan di belakang Anggala. Anggala mengangguk sambil tersenyum. Wulan Ayu tertawa kecil sambil memandang Anggala. Mereka berjalan menuju ujung kampung dengan diam-diam.
Begitu sampai di ujung kampung Anggala, melompat ke atas pohon, dan Wulan Ayu menyusul melompat ke atas pohon. Mereka bersembunyi di sana.
"Kak, malam mulai larut tapi belum ada tanda-tanda Iblis Pemetik Bunga?" bisik Wulan Ayu.
"Sabarlah dulu, kita tunggu sampai dekat pagi," jawab Anggala. Anggala pun juga berbisik agar tidak ada orang kampung mendengar omongan mereka berdua.
__ADS_1
Begitu tengah malam, sekelebat bayangan hitam bagai kelelawar malam menuju sebuah rumah yang paling bagus di kampung itu.
Tidak lama terdengar jeritan seorang wanita minta tolong dan suara gaduh dari dalam rumah itu.
Tampak bayangan hitam itu membawa sesosok tubuh di gendongannya.
Anggala dan Wulan Ayu berkelebat turun dan menghadang bayangan hitam itu.
"Berhenti kau! Iblis..!" bentak Wulan Ayu. Gadis cantik berpakaian serba biru itu lansung memberikan tendangan ke arah wajah lawan yang terhenti karena hadangan mereka.
"Hup!"
Tap!
Dess!
Tendangan Wulan Ayu di tangkis Iblis Pemetik Bunga dengan begitu sigapnya. Wulan Ayu cepat bersalto dua kali kebelakang.
"Heh!"
Wuss!
Wulan Ayu tidak memberikan waktu kepada Iblis Pemetik Bunga untuk mengambil nafas dan bersiap, ia kembali menyusulkan serangan selanjutnya.
"Hup!"
Iblis Pemetik Bunga terkejut karena serangan Wulan Ayu begitu cepat. Ia melompat mundur sejauh satu tombak ke belakang.
" Hiaaa..!"
Anggala menyusul serangan ke arah Iblis Pemetik Bunga dengan jurus 'Sembilan Matahari Cakar Elang'. tingkat lima
Crass!
Tangan Iblis Pemetik Bunga beradu dengan cakar Anggala, lagi-lagi Iblis Pemetik Bunga di buat terdesak, karena ia tidak siap bertarung.
Iblis Pemetik Bunga menghunus sebuah golok berukuran sedang di pinggangnya lalu menyabetkannya ke arah Anggala.
Trang....!
Golok di tangan Iblis Pemetik Bunga, beradu dengan kipas elang perak milik Wulan Ayu yang sigap menangkis golok yang di arahkan ke Anggala.
"Ha ha ha..!" tawa Iblis pemetik Bunga, membahana. Tiba tiba ia menghilang dari pandangan Anggala dan Wulan Ayu.
"Kalau kalian menginginkan gadis ini, ku tunggu kedatangan kalian di Bukit Seribu Bunga!" suara kiriman Iblis Pemetik Bunga membahana. Namun wujudnya telah lenyap dari tempat itu.
.
Bersambung......
__ADS_1