
Jeritan menyayat hati dari tiga orang yang tersambar pedang elang perak di tangan Bidadari Pencabut Nyawa. Ketiga orang itu langsung terlempar ke tanah dengan luka mengucur darah.
"Wangsa, bagaimana lukamu?" mulut Lumbang Geni tampak meringis sambil memegangi bahunya yang mengucur darah segar, sedang golok di tangannya tampak tinggal separuh.
"Tangan kiri ku, pu.., putus..," jawab Wangsa telapak tangannya memegangi lengan kirinya yang terbabat putus.
"Sasana, Sasena. Bagaimana dengan kalian?" tanya Prasaja pada dua temannya. Sasana dan Sasena yang merupakan dua orang kakak beradik tampak tidak mengalami luka, namun golok di tangan mereka tinggal separuhnya saja.
Sret!
"Aku sudah memperingatkan kalian, tapi kalian tidak tahu diri. Sekarang mau lanjut lagi?!" kata Wulan Ayu sambil menyarungkan pedang elang perak ke dalam warangka yang ada di balik punggungnya.
Sementara itu Anggala yang berhadapan dengan Sora Gambang tampak telah saling berhadapan, Sora Gambang tampak melintangkan pedang hitamnya di atas lengan kananya.
Wut! Wut!
Set! Set!
Gagak Setan Merah langsung merapal jurus 'Pedang Gagak Pembelah Langit'. tingkat pertama, pedang iblis memecah awan.
Anggala langsung menggunakan ilmu 'Delapan Langkah Malaikat'. dan merapal ilmu 'Baju Besi Emas'. tingkat delapan belas untuk menghadapi serangan Sora Gambang itu.
"Kau harus membayar nyawa kedua adikku, Bajingan! Heeaaahh...!!" Sora Gambang melesat cepat sambil mengibaskan pedang hitam kemerahan di tangannya. Angin kencang di iringi cahaya merah membentuk mata pedang melesat ke arah Pendekar Naga Sakti.
Wuss! Swoss!
"Hup!" Pendekar Naga Sakti cepat melentingkan tubuhnya ke udara ketika cahaya merah itu sempat hampir menyerempetnya. etelah berputar dan bersalto cepat di udara Anggala menjejak tanah sekitar lima tombak di depan Sora Gambang.
"Jurus pedang, dan pedang itu cukup berbahaya. Jurus pedangnya hampir mengenai dan menembus perisai ilmu 'Baju Besi Emas'ku," gumam Anggala seakan berbicara pada dirinya sendiri.
"Kau akan mati di ujung pedang gagak merahku hari ini, Anak Muda!" bentak Gagak Setan Merah sambil menudingkan pedangnya ke arah Pendekar Naga Sakti.
__ADS_1
["Kak Anggala, dinda lihat ilmu pedang Gagak Setan Merah itu hampir menembus ilmu 'Baju Besi Emas'. Kakak. Sebaiknya kakak gunakan pedang naga sakti,"] saran Wulan Ayu melalui telepati.
[Hmm..! Mata Dinda tajam juga," ] jawab Anggala dalam telepati, bibir pendekar tampan itu tersenyum dengan sudut matanya memandang sebentar ke arah Wulan Ayu.
Sring!
"Sepertinya aku harus menghancurkan pedang gagak merah itu, jika dibiarkan pedang itu akan memakan korban para pendekar yang lain," desis Anggala dalam hati.
"Pedang naga sakti? Jadi anak muda ini memang Pendekar Naga Sakti, seperti yang dikatakan oleh adik-adik seperguruanku sebelumnya," bisik Sora Gambang dalam hati.
Pendekar Naga Sakti segera mempersiapkan jurus 'Pedang Sembilan Naga'. tingkat ketiga Pedang Naga memecah Awan.
Sedangkan Sora Gambang mempersiapkan jurus 'Pedang Gagak Pembelah Langit'. dengan pedang gagak merahnya. Kedua pendekar itu tampak bersiap dengan kekuatan masing-masing.
Gagak Setan Merah yang tampak begitu menyimpan kemarahan dan dendam karena kematian dua orang adik seperguruannya, mengerahkan lebih dari enam puluh persen tenaga dalam yang ia miliki.
Kali ini Sora Gambang tidak tanggung-tanggung, ia langsung merapal jurus 'Pedang Gagak Pembelah Langit'. tingkat lima, pedang iblis penghancur gunung dengan pengerahan tenaga dalam hampir seluruh tenaga dalamnya.
"Heaaah.....!" Sora Gambang melesat bagai kilat sambil mengayunkan pedangnya yang di selubungi cahaya merah membentuk pedang raksasa.
"Hup! Hiyaaa....!" Anggala pun tidak tinggal diam, ia melesat bagai kilat menyongsong Sora Gambang.
Trang!
Blaaarr.....!!
Dua tenaga pukulan saling bertemu, ledakan menggelegar. Gelombang api menekan ke segala arah, debu dan tanah bersemburan. Beberapa orang tampak terhuyung hampir jatuh, adik-adik seperguruan Sora Gambang terhuyung sampai jatuh. Apalagi mereka yang sudah terluka terkena sambaran pedang Bidadari Pencabut Nyawa tadi.
Hanya Wulan Ayu yang tampak berdiri tegak, gadis cantik berpakaian serba biru itu hanya memperkuat kuda-kudanya menahan getaran di tanah.
Pendekar Naga Sakti tampak terdorong ke arah belakang sambil menjejak kaki di tanah, pedang naga sakti tampak tersilang di depan dadanya. Pendekar Naga Sakti memang sempat terdorong, namun murid Pertapa Naga dan Pendekar Naga Sakti, Lesmana itu tidak mengalami luka dalam sedikit pun.
__ADS_1
Sora Gambang yang tampak terpental hingga lebih dari lima belas tombak dan jatuh bergulingan. Sora Gambang tampak sampai menabrak sebatang pohon yang besarnya sebesar batang pohon kelapa.
Gagak Setan Merah itu memang tidak tewas, namun ia mengalami luka dalam yang cukup parah. Wajah Gagak Setan Merah tampak berubah pucat dengan mulut mengalir darah kehitaman, yang membuatnya sangat terpukul adalah saat ia melihat pedang gagak merah andalannya kini tinggal setengah, sisanya entah kemana.
Pedang gagak merah di tangan Gagak Setan Merah hancur saat beradu dengan pedang naga sakti di tangan Pendekar Naga Sakti tadi. Kemarahan tampak terpancar di wajah Sora Gambang, namun dengan luka dalamnya yang begitu dalam dan pedang andalannya hancur membuat ia memilih untuk bersemedi setelah menancapkan pedang gagak merah yang tinggal setengah di tanah.
Sementara itu Wulan Ayu yang masih berdiri di depan ketujuh adik seperguruan Sora Gambang hanya diam memperhatikan gerak gerik ketujuh orang musuhnya itu.
"Hmm..., kalian masih mau lanjut? Pedangku sudah ku simpan. Tidak adil aku melawan kalian yang tidak bersenjata," ujar Wulan Ayu sambil tersenyum tipis menyungging.
"Sombong! Ayo teman-teman. Kita balas kekalahan dan kematian saudara-saudara kita!" dengus Prasaja sambil melemparkan sisa goloknya yang tinggal setengah ke tanah.
"Wangsa, kau mundurlah. Hentikan pendarahan di tanganmu dulu," ujar Lumbang Geni setelah menotok jalan darah di bahu kirinya untuk menghentikan pendarahan.
Wangsa hanya mengangguk perlahan sebelum melangkah mundur menjauh, kini enam orang murid Perguruan Gagak Hitam itu tampak mulai bersiap dengan jurus tangan kosong dan berkeliling mengelilingi Wulan Ayu.
"Heaaah....!" Prasaja melompat cepat ke arah Wulan Ayu dengan pukulan tangan kosong yang mengandung tenaga dalam cukup tinggi. Begitu pun dengan beberapa orang lainnya juga ikut merangsek maju menyerang.
Tap! Tap!
"Hmm...! Tenaga dalam mereka cukup tinggi, main keroyok lagi. Jika aku lengah, cukup berbahaya!" desis Wulan Ayu dalam hati sambil menapaki pukulan Prasaja dan dua temannya.
"Hup!" Wulan Ayu tidak ingin di kalahkan enam orang pengeroyoknya, dengan begitu cepat ia berputar dan membalas serangan musuh-musuhnya itu.
Buak! Buak! Duak!
.
.
Bersambung.......
__ADS_1