
Gadis cantik bergelar Bidadari Pencabut Nyawa itu tampak begitu tenang menghadapi kepungan musuhnya itu, dengan Jurus Mata Bidadari, ia bisa mengukur sebatas mana kekuatan para pengepungnya.
Senyum tipis menyungging di bibirnya, tangannya masih memegang tampah bambu tempat piring makanan.
"Serang....!!!"
"Hup..!"
Wulan Ayu melentingkan tubuhnya keudara menghindari hujaman mata golok yang mengincar ke arah tubuhnya.
Trang!
Golok para Perampok Walet Hitam itu saling beradu, di tempat Wulan Ayu berdiri tadi.
"Ha ha ha..! Kalian menikam apa hah!" Ujar Bidadari Pencabut Nyawa sambil berkipas tampah bambu tidak jauh dari rombongan Perampok Walet Hitam itu.
"Heh! Gadis cantik, kali ini Kau memang berhasil menghindar, Kau belum tau siapa pimpinan Kami!" Bentak salah seorang anggota Perampok Walet Hitam sambil mengembor marah, Perampok Walet Hitam memang cukup terkenal di daerah selatan ini, khususnya di daerah gunung pungur ini.
Ketua mereka Walet Hitam termasuk tokoh hitam yang di segani di golongannya. Walet Hitam masih mempunyai hubungan dengan Warok Singa Merah. Kedua kelompok perampok itu mempunyai wilayah masing-masing. Perampok Singa Merah menguasai sebelah barat gunung pungur. Sedangkan Perampok Walet Hitam menguasai wilayah sebelah timur gunung pungur.
Desa yang di tempati Ki Suro ini berada di sebelah barat gunung pungur, masuk ke dalam wilayah kekuasaan Perampok Singa Merah, Perampok Walet Hitam hanya datang ke warung Ki Suro untuk makan, mereka memang sering mengganggu Kemboja dan teman-temannya. Namun kali ini mereka tampsk lebih kurang ajar, dan bertindak tidak senonoh.
"Sebaiknya, suruh ketuamu itu yang menghadapiku Kisanak," Jawab Bidadari Pencabut Nyawa cuek, "Aku tidak ingin mengotori tanganku dengan menyentuh Kalian,"
"Bangsat! Kau rupanya memang cari mati, ayo teman-teman, kita habisi dia!"
Mendengar perkataan Murta itu, anggota Perampok Walet Hitam yang lain tanpa di perintah langsung keluar dari warung dan bergerak mengelilingi Wulan Ayu.
"Ha ha ha...! Tidak ku sangka, Perampok Walet Hitam yang terkenal itu adalah kelompok orang -orang pengecut yang beraninya main keroyokan!" Tampak Elang Merah telah berdiri di depan warung Ki Suro, kedua adiknya berdiri di belakang, tampak pimpinan Perampok Walet Hitam tidak mempedulikan perbuatan anak buahnya, si brewok sibuk menikmati makanannya.
"Heh! Siapa Kalian, berani ikut campur! Apa Kalian mau cari mati hah!" Bentak Wira, sambil memandang ke arah Dewi Arau.
"Tidak usah ikut campur Arau, biar saya yang memberi cevunguk ini pelajaran!" Seru Wulan Ayu.
"Baik! Kami jadi penonton dulu ya!" Sahut Dewi Arau sambil tertawa, di sambut senyuman kedua adiknya, Dewi Pingai dan Dewi Aurora.
"Sombong sekali Kau! Ayo teman-teman! Habisi dia..! Heaaah...!" Setelah berucap Murta langsung melompat ke arah Bidadari Pencabut Nyawa dengan sabetan goloknya.
Wut!
Dengan enteng dan sebuah senyuman tipisnya, Bidadari Pencabut Nyawa menggeser sedikit tubuhnya ke samping, sehingga sabetan golok Murta hanya lewat sekitar sekilan dari bahunya. Murta mengembor marah, cepat-cepat ia mengubah arah goloknya.
Kali ini Murta lansung menyabetkan goloknya ke samping. Wulan Ayu dengan gesitnya menapaki lengan Murta dengan tangan kanannya. Kaki Wulan Ayu bergerak cepat, sebuah tendangan tepat menggantam perut Murta.
Buak!
"Aaakh...!"
__ADS_1
Lenguhan beserta semburan darah keluar dari mulut Murta, seketika itu pula tubuhnya meluncur cepat terpental ke tanah.
Bruk!
"Huaks..!"
Murta memuntahkan darah segar kehitaman.
Murta berusaha bangun namun ia kembali jatuh berlutut, darah masih mengalir dari sudut bibirnya, dua orang temannya langsung membantu Murta berdiri.
"Ayo kita serang dia secara serentak," Ajak Wira pada teman-temannya, tampak banyak bicara sekitar sepuluh orang anggota Perampok Walet Hitam langsung melompat secara serentak ke arah Bidadari Pencabut Nyawa.
Trang!
"Hah..!!"
Wira dan teman-temannya terkejut setengah mati, mereka sampai tersurut mundur satu langkah kebelakang, sambil memandangi mata golok mereka. Semua golok di tangan mereka tidak ada satupun yang mampu melukai tubuh Bidadari Pencabut Nyawa.
Jangankan melukai, bajunya saja tidak tergores. Wulan Ayu yang menggunakan 'Ilmu Baju Besi tingkat sepuluhnya, sehingga tubuhnya kebal bagai besi.
Belum hilang keterkejutan Wira dan teman-temannya. Wulan Ayu telah bergerak secepat kilat ke arah mereka.
Buak! Buak!
Buak! Buak!
Wira dan teman-temannya hanya bisa menjerit kesakitan, ketika tubuh mereka bermentalan ke tanah terkena tendangan kaki Bidadari Pencabut Nyawa itu.
Sekitar lima belas orang anak buah Walet hitam tampak tersurut mundur, melihat teman-temannya bergelimpangan di tanah, dan mengalami luka dalam.
"Wah, rupanya Wulan Ayu memang tidak perlu bantuan kita Kak," Kata Dewi Pingai sambil memperhatikan anggota Perampok Walet Hitam yang berserakan di tanah.
"Jelaslah, gelar Bidadari Pencabut Nyawa itu bukan isapan jempol belaka, jika dia tidak hebat, namanya tidak akan tenar sampai ke selatan Pulau Andalas ini," Jawab Dewi Arau.
"Bangsat!"
Si brewok pimpinan Perampok Walet Hitam langsung melesat ke luar warung Ki Suro itu. Si Walet Hitam lansung menjejak kaki di depan Wulan Ayu.
"Rupanya ada yang mau pamer di depanku," Ujar si brewok pimpinan Perampok Walet Hitam yang di kenal dengan si Walet Hitam.
"Siapa yang mau pamer duluan Ki?" Jawab Bidadari Pencabut Nyawa dengan tersenyum tipis.
Sret!
Bidadari Pencabut Nyawa mengeluarkan kipas elang perak dari balik bajunya, kipas itu langsung di kembangkan di depan dada.
"Kipas Elang Perak! O... Jadi Kau Bidadari Pencabut Nyawa dari barat itu? Kau salah memasuki wilayah ini gadis cantik!" Ujar Walet Hitam melihat kipas elang perak di tangan Wulan Ayu itu.
__ADS_1
"Matamu rupanya cukup tajam Kisanak!" Jawab Bidadari Pencabut Nyawa sengit.
"Kau boleh bergelar Bidadari Pencabut Nyawa, namun Kau belum tau siapa Walet Hitam!"
"Aku tidak peduli siapa Kau! Kejahatan harus di lawan, walau nyawa jadi taruhannya!" Jawab Bidadari Pencabut Nyawa dengan lantang.
"Bersiaplah gadis cantik! Heaah...!"
Setelah berucap setengah berteriak, Walet Hitam lansung melompat ke arah Bidadari Pencabut Nyawa dengan jurus Walet mengejar belalang. Jari tangan si brewok membentuk seperti paruh burung.
Jurus-jurus walet andalan si brewok di iringi tenaga dalam tinggi, sehingga suara gerakan tangannya menderu memecah udara di sekitarnya.
Trang!
Ujung jari Walet Hitam membentur daun kipas elang perak di tangan Bidadari Pencabut Nyawa itu, suara berdentang seperti dua besi yang beradu.
"Huh..! Rupanya daun kipas itu bukan daun kipas biasa, sehingga tidak koyak terkena Jurus Paruh Waletku," Guman Walet Hitam dalam hati. Walet Hitam terpaksa melompat mundur sekitar dua tombak ke belakang, karna ujung jemarinya terasa sakit beradu dengan daun kipas yang terbuat dari perak di tangan Bidadari Pencabut Nyawa itu.
Sret!
Walet Hitam menghunus sebuah senjata yang mempunyai gagang agak panjang. Senjata itu bernama payan.
Payan berbentuk semacam tombak dengan gagang yang cukup panjang, yaitu sekitar seratus lima puluh– seratus delspan puluh centi meter, Mata tombaknya terbuat dari besi dengan ujung yang melancip.
Senjata ini, menjadi salah satu senjata khas daerah lampung.
Melihat musuhnya mengeluarkan senjata andalannya. Bidadari Pencabut Nyawa segera melipat kipas elang perak dan menyimpannya di balik bajunya.
Sring!
Bidadari Pencabut Nyawa menghunus senjata andalannya, yaitu pedang elang perak. Begitu senjata itu keluar dari sarungnya, cahaya putih keperakan, yang menyilaukan mata keluar dari batang pedang pusaka itu. Di tambah dengan cahaya matahari yang mengenai mata pedang itu.
"Pedang itu akan jadi milikku hari ini gadis cantik! Heaaa....!!"
Jerit melengking keluar dari mulut Walet Hitam, maka seketika itu pula tubuhnya melesat cepat ke arah Bidadari Pencabut Nyawa. Tangan kanan Walet Hitam yang menggenggam payan itu teracung ke depan.
Trang!
.
.
Bersambung..
Jangan lupa tinggalkan jejak ya teman-teman.
Terima kasih banyak.
__ADS_1