
Geti tampak terlempar ke belakang setelah Wulan Ayu melepaskan cekalan tangannya. Melihat tiga anak buahnya di pecundangi dalam waktu singkat, si plontos mengembor marah.
"Bangsat! Kansa, Mora...!" kali ini si plontos berteriak nyaring, dua anak buahnya tampak melompat maju. Tanpa pikir panjang lagi dua anggota Penyamun Harimau Hitam itu langsung menghunus golok mereka.
Dua orang itu tampak memamerkan kepiawaian mereka memainkan golok di depan Wulan Ayu.
"Bangsat! Golok kalian mengandung racun!" bentak Wulan Ayu sambil mundur tiga langkah. Bidadari Pencabut Nyawa mengerahkan tenaga dalamnya untuk menekan hawa racun yang menyebar dari dua golok Kansa dan Mora.
"Kau harus membayar dengan nyawamu!" dengus Kansa tetap memutar goloknya dengan cepat dan semakin cepat.
Wulan Ayu yang telah menggunakan ilmu tenaga dalam untuk menghalau racun yang menyebar ke arahnya tampak mulai tenang.
"Siapa gadis ini sebenarnya, dia mampu menahan racun pelemah syaraf yang keluar dari golok kami," desis Kansa dalam hati.
"Ayo, kerahkan semua kekuatan kalian, kisanak!" tantang Wulan Ayu dengan begitu tenang.
"Bangsat!" Kansa yang dari tadi menyadari kalau racun yang mereka sebarkan tidak berpengaruh sama sekali pada Bidadari Pencabut Nyawa. Kansa segera merangsek maju menyerang dengan goloknya.
"Hiyaaat!" Kansa membentak sambil melompat ke udara dan menyerang Wulan Ayu dari arah atas, goloknya menyabet cepat ke arah kepala Wulan Ayu.
"Eit... Tidak kena..," ledek Wulan Ayu sambil menggeser posisi tubuhnya ke samping dengan begitu cepat, sehingga golok Kansa lewat di samping tubuh Bidadari Pencabut Nyawa itu.
Kansa hendak mengubah arah serangannya, ketika ia menarik cepat goloknya. Bidadari Pencabut Nyawa begitu cepat bergerak ke arah belakang Kansa.
Buak!
"Akgh..!" Kansa terkejut dan hanya mampu mengeluh sebelum tubuhnya terdorong keras ke depan dan jatuh tertelungkup.
"Hiyaaa....!" Mora yang dari tadi diam langsung melompat cepat sembari menebaskan goloknya ke arah leher Wulan Ayu dari belakang. Wulan Ayu cepat menunduk menghindar.
"Hiyaaat...!" Wulan Ayu bergerak cepat, sebuah tendangan berputar mendarat telak di punggung Mora. Laki-laki bertampang seram itu harus rela menerima tanpa sempat menghindar.
__ADS_1
Bruk!
"Akgh..!" Mora pun jatuh di samping Kansa yang baru berusaha bangun dari jatuhnya.
"Siapa kalian sebenarnya, kalian bukan juragan kaya?" bentak si plontos pimpinan Penyamun Harimau Hitam.
"Bukankah temanku sudah mengatakan dari tadi kisanak, tapi kau yang tidak punya telinga!" jawab Wulan Ayu sinis.
"Siapa pun kalian. Kalian harus menyerahkan harta kalian jika melewati daerah kekuasaan Penyamun Harimau Hitam!" bentak si plontos dengan garang tanpa mempedulikan keadaan lima anak buahnya yang sudah di kalahkan.
"Rupanya kau adalah manusia yang keras kepala, kisanak!" dengus Wulan Ayu, dengan ilmu 'Mata Bidadari'. Wulan Ayu sudah bisa melihat seberapa tinggi kepandaian para penyamun yang menghadang mereka.
Memang si plontos itu yang mempunyai kepandaian paling tinggi di banding anak buahnya.
"Sebaiknya kalian biarkan kami lewat, kami tidak ingin berurusan dengan penyamun seperti kalian!" ujar Wulan Ayu memperingatkan dengan nada datar tanpa amarah.
"Huh! Kau kira kau sudah menang, nisanak!" geram si plontos, "Aku Sura Lintang, pimpinan Penyamun Harimau Hitam belum kalah!"
Kansa dan Mora tampak beringsut mundur ketika Wulan Ayu mendekat.
"Sombong! Anak-anak.... Habisi....!!" bentak Sura Lintang menggema memberi perintah pada seluruh anak buahnya. Sekitar tujuh orang anggota Penyamun Harimau Hitam langsung melompat mengepung Wulan Ayu.
"Bagus, jadi kalian bisa istirahat bersama setelah pertarungan ini!" ujar Wulan Ayu dengan nada suara datar, pandangannya begitu tajam bak mata elang memperhatikan mangsa.
"Bunuh....!" perintah Sura Lintang dengan suara bergetar menahan amarah, terdengar nada kekejaman dan kekejian pimpinan Penyamun Harimau Hitam itu.
Sret!
Ke tujuh orang anggota Penyamun Harimau Hitam itu langsung menghunus golok dengan gagang bergambar kepala harimau berwarna hitam itu.
Mereka tampak garang mencerminkan kemarahan yang begitu besar, apalagi melihat ke lima temannya sudah di jatuhkan oleh Wulan Ayu.
__ADS_1
"Heaaah....!!"
Secara serentak mereka bertujuh melompat menyerang, namun Bidadari Pencabut Nyawa hanya tersenyum menanggapi keroyokan para penyamun itu.
"Hup!" secepat kilat Wulan Ayu melompat menghindar, gerakan gadis itu hampir tidak mampu di lihat oleh ke tujuh orang penyamun itu.
Trang!
"Heh!" para penyamun itu terperanjat ketika golok mereka saling beradu di tengah arena tanpa menyentuh lawan.
"Kemana dia?!!"
"Aku di sini, kisanak!" kata Wulan Ayu yang sudah menjejak kaki dengan begitu ringan. Begitu mereka hendak berbalik Wulan Ayu sudah melesat terlebih dulu.
"Hiyaaa....!" jerit melengking tinggi keluar dari mulut Wulan Ayu sambil tangan dan kakinya bergerak begitu cepat menendang dan memukul sambil melesat ke depan.
"Aaaa.....!" satu-persatu anggota Penyamun Harimau Hitam jatuh ke tanah dalam keadaan terluka dalam, tidak ada satupun lagi dari mereka yang mampu bangun setelah terkena pukulan Wulan Ayu itu.
"Heh!" Sura Lintang tampak terkejut melihat tidak ada satupun lagi anak buahnya yang berdiri, yang lebih mengejutkannya, Wulan Ayu sudah berdiri tidak jauh dari hadapannya.
"Ka... Kau... Siapa kau sebenarnya?!" tanya Sura Lintang dalam keterkejutannya.
"Aku Bidadari Pencabut Nyawa!" jawab Wulan Ayu dingin.
"Bi...Bi... Bidadari... Pencabut... Nyawa....??!"
.
.
Bersambung.......
__ADS_1