
Hai... Readers... Jangan lupa tinggalkan
jejak ya... Terima kasih...
Semilir angin membuat dedaunan beterbangan, Susana tampak mencekam di tengah panas matahari yang tampak bersinar terang. Puluhan orang-orang Perguruan Gagak Hitam tampak mengepung Pendekar Naga Sakti dan Bidadari Pencabut Nyawa dari segala arah.
Sementara Ki Sudrajat masih duduk di meja yang tadi ia tempati bersama Anggala dan Wulan Ayu. Ki Sudrajat tampak duduk tenang menikmati kopi yang di berikan Ki Tolo tadi.
Beberapa orang adik seperguruan Jatandra tampak mendekati meja Ki Sudrajat, namun Ketua Perguruan Bangau Putih tersebut tetap tenang duduk di kursinya.
"Heh... Ki, teman-teman mu bertarung di depan. Apa kau tidak ikut, hah?" bentak laki-laki yang memakai gelang berjumlah dua buah.
"Jadi, kalian juga ingin bertarung?" Ki Sudrajat balik bertanya.
"Heh... Orang tua gila, di tanya malah balik nanya!" hardik yang lain.
"Apa kau yakin teman-temanmu itu mampu mengalahkan Pendekar Naga Sakti dan Bidadari Pencabut Nyawa itu," jawab Ki Sudrajat begitu tenang.
"Pendekar Naga Sakti?!" anggota Perguruan Gagak Hitam tersebut tampak cukup terkejut mendengar gelar yang di sebut oleh Ki Sudrajat itu.
"Ya, pendekar yang ada di luar itu adalah Pendekar Naga Sakti dan Bidadari Pencabut Nyawa," jawab Ki Sudrajat dengan tenang dan penuh wibawa.
"Kau tidak usah menggertak kami kisanak, kami memang mendengar tentang sepak terjang Pendekar Naga Sakti dan Bidadari Pencabut Nyawa dari barat itu. Tapi kami tidak takut dengan mereka," kata salah seorang yang berdiri tidak jauh dari meja tempat Ki Sudrajat duduk itu.
"Jadi, kalian berniat menantangku?" tanya Ki Sudrajat sambil berdiri dari duduknya.
"Ya, kau bersama dua pendekar tengik itu. Jadi kau juga lawan kami!" bentak orang yang memakai gelang berjumlah satu buah itu.
"Baiklah, jika kalian ingin bertarung. Mari kita keluar!" tantang Ketua Perguruan Bangau Putih tersebut, setelah berucap sekali lompat saja Ki Sudrajat sudah berada di luar warung Ki Tolo itu.
"Hup!" kesal melihat Ki Sudrajat melompat dengan begitu ringan, empat orang itu akhirnya melompat ke luar dan mengepung Ki Sudrajat.
Sementara orang-orang yang mengepung Anggala dan Wulan Ayu tampak sudah mengambil ancang-ancang menyerang kedua pendekar muda itu.
__ADS_1
"Kenapa kalian ragu, ayo!" tantang Wulan Ayu sambil tersenyum tipis.
"Bangsat, kalian tidak sabar mau mati ya?!" hardik Rongga merasa di remehkan. Rongga langsung merangsek maju dengan serangan tangan kosong.
"Hup!" Wulan Ayu dengan begitu cepat dan sigap menyambut serangan Rongga yang mengarah ke wajahnya, begitu cepat Wulan Ayu bergerak sehingga serangan Rongga luput dari sasarannya.
"Heaaah....!" Samat dan Ludra langsung merangsek ke arah Anggala, kedua orang yang memiliki gelang tiga buah itu menyerang Anggala dari dua arah. Samat menyarang dengan pukulan tangan kosong yang cukup bertenaga.
Sedangkan Samat menyarang dari arah bawah dengan tendangan bersilang mengincar kaki Pendekar Naga Sakti itu.
Namun Anggala bukanlah pendekar kemarin sore, dengan begitu tangkas dan gesit Anggala menghindari tendangan Samat dan menapaki pukulan tinju Ludra yang mengincar wajahnya.
"Eit... Nggak kena...!" ledek Anggala membuat Ludra semakin naik pitam, Samat kembali menyerang dengan tendangan bertenaga dalam tinggi.
Anggala hanya tertawa sambil berkelit ke arah samping dengan begitu cepat. Sipat usil Pendekar Naga Sakti itu membuat Wulan Ayu hanya tersenyum melihat tingkah Anggala yang bertarung seperti main-main.
"Kurang ajar!" gerutu Jatandra melihat Anggala yang tampak mempermainkan adik-adik seperguruannya.
Jatandra tampak mengenggam kepalan tinjunya, laki-laki itu tampak geram melihat tingkah Pendekar Naga Sakti tersebut.
Kltuk!
"Ah..!" murid Perguruan Gagak Hitam terhuyung sambil memegangi telinganya yang terasa panas akibat sentilan Anggala tadi.
"Pendekar Naga Sakti tampaknya mempermainkan mereka, dasar murid Pertapa Naga. Bisa-bisanya ia bermain menghadapi puluhan pengeroyok!" gumam Ki Sudrajat dalam hati melihat tingkah nakal Anggala.
"Ayo, Kak. Jangan bermain terus, hajar mereka!" seru Wulan Ayu sambil menapaki tendangan berantai Rongga yang cukup cepat ke arahnya.
"He he....! Dinda.. Kakak hanya ikuti permainan dinda...He he...!" tawa Anggala terkekeh menyahuti seruan Wulan Ayu tersebut.
"Dasar!" gerutu Wulan Ayu sambil menegoskan tubuhnya menghindari sabetan dua orang yang memakai gelang berjumlah satu buah, dengan cepat Wulan Ayu menghadiahi dua bogem mentah ke arah wajah dua orang penyerangnya itu.
Buak! Buak!
__ADS_1
"Akgh..!" dua orang murid Perguruan Gagak Hitam yang memakai gelang berjumlah dua buah itu langsung nyungsep ke tanah terkena pukulan Wulan Ayu yang cukup keras. Darah segar tampak mengalir dari mulut keduanya sambil memegangi mulutnya.
Kedua orang itu tampak menampung darah dari mulutnya sendiri, di dalam telapak tangan kiri mereka tampak ada gigi yang rontok.
"Hi hi...! Rontok ya kang? Lain kali kepala kalian yang ku bikin lepas!" tawa Wulan Ayu sambil menyambut tendangan Rongga yang cukup keras ke arah perutnya.
Tap!
Wulan Ayu tampak mulai usil setelah menangkap pergelangan kaki Rongga Wulan Ayu melompat mundur sekitar dua langkah.
"Aaa...!" Rongga terjerit merasakan nyeri di pangkal pahanya akibat di tarik paksa Wulan Ayu. Melihat kakak seperguruannya di kerjai oleh Wulan Ayu tiga orang murid Perguruan Gagak Hitam itu melompat menyerang, mereka berniat membantu kakak seperguruan mereka itu.
Set! Set!
Wulan Ayu cepat menyentak kaki Rongga yang di genggamnya sebagai tameng. Perlakuan Wulan Ayu itu membuat tiga orang bergelang satu itu terpaksa menarik kembali serangannya. Namun salah seorang cepat menikamkan goloknya ke arah Wulan Ayu dari samping.
Cress!
"Aaaa.....!" lolongan kesakitan terdengar lantang keluar dari mulut Rongga, bagaimana tidak betis laki-laki bergelang tiga itu kini tertembus golok adik seperguruannya sendiri.
"Akgkh...!" Rongga tampak meringis kesakitan sambil memegangi pergelangan betisnya yang tertembus golok itu, darah tampak mengalir membasahi kaki laki-laki berwajah sedang itu.
"Kak Rongga, maafkan aku Kak. Aku sungguh tidak sengaja," ucap murid yang bergelang satu itu. Rongga tidak menjawab, ia cepat menotok jalan darah di kakinya untuk menghentikan pendarahan.
"Ku bunuh kau, Bagor....!" geram Rongga tampak terduduk masih meringis memegangi kakinya. Wulan Ayu tampak tertawa memandang ke arah Rongga dengan tersenyum mengejek.
"Maaf... Maafkan... Aku... K... Kak Rongga...!" ucap Bagor terdengar bergetar ketakutan. Melihat adik-adik seperguruannya jadi mainan dua orang pendekar muda yang tadi mereka anggap remeh, Wajah Jatandra tampak memerah menahan malu dan amarah.
"Bangsat! Heaaa....!" Jatandra melompat ke arah Wulan Ayu sambil melancarkan sebuah pukulan jarak jauh bertenaga dalam tinggi, dua larik sinar putih melesat dari telapak tangan laki-laki bergelang empat itu.
.
.
__ADS_1
Bersambung.....