
"Bangsat! Kau berani membokongku, anak muda!"
"Apa manusia seperti mu harus di tata kramai, manusia laknat!" jawab Anggala sengit.
"Bagaimana keadaan mu,?"
Aku tidak apa-apa, Kak Anggala. hanya luka luar," jawab Ambara Wati sambil memegangi bahunya yang mengucur darah.
"Mundurlah, biar aku yang menghadapi manusia laknat itu," ujar Pendekar Naga Sakti.
"Baik!"
Ambara Wati segera melompat menjauh, sementara Anggala melangkah ke depan Tirta Yasa.
"Huh, kau mau mengantarkan nyawamu, anak muda!" terdengar datar suara tirta Yasa, namun tatapan matanya bagai mata srigala siap menerkam mangsa.
Laki-laki berpakaian hitam itu tampak membuka kuda-kudanya, dan memainkan jurus-jurus silat melayu bersiap menyerang Pendekar Naga Sakti.
Anggala hanya tersenyum tipis mendengar ancaman Tirta Yasa itu.
"Heeaaah...!"
Bentakan Tirta Yasa mengawali tubuhnya melompat menerjang ke arah Anggala, Anggota Empat Iblis Sekawan itu menyerang dengan jurus harimau.
"Hiyaaa...!"
Anggala segera menapaki serangan cakar Tirta Yasa yang mengarah ke wajahnya dengan jurus yang hampir mirip, namun Pendekar Naga Sakti merapal jurus 'Sembilan Matahari Cakar Elang'.
Serangan cakar Tirta Yasa cukup cepat, namun Anggala dengan begitu tenang menghalau dengan jurus-jurus cakarnya.
"Nama besarmu, bukan isapan jempol, anak muda!" geram Tirta Yasa sambil meningkatkan serangannya.
"Heh... Kalau kau tahu, sebaiknya biarkan kami lewat, kisanak," sahut Anggala datar.
"Ha ha ha....! Kau boleh hebat anak muda, tapi kau sedang berhadapan dengan Empat Iblis Sekawan anak muda," balas Tirta Yasa.
"Baik, jangan salahkan aku, jika aku bertindak kasar,"
Terdengar dingin nada suara Pendekar Naga Sakti.
"Ha ha ha...! Rupanya kau bisa dingin juga, anak muda!"
"Hiyaaa...!"
Anggala menjawab ejekan Tirta Yasa itu dengan bentakan melenking, seketika itu tubuh pemuda berpakaian biru putih itu melesat cepat bagai kilat ke arah anggota Empat Iblis Sekawan itu.
"Hup!"
Tirta Yasa cepat menarik tubuhnya ke belakang menghindari kibasan telapak tangan Pendekar Naga Sakti yang membentuk cakar itu.
Bet!
"Heh!"
Tirta Yasa tersentak kaget sambil cepat berusaha menarik tubuhnya ke samping, laki-laki itu tidak menyangka jika Anggala bakal menyerang dengan dua tangan yang saling susul menyusul.
Pendekar Naga Sakti yang merapal jurus 'Sembilan Matahari Cakar Elang tingkat lima tidak tanggung-tanggung, hawa panas tenaga dalam dari telapak tangannya begitu terasa.
"Heeaaah...!"
__ADS_1
Tirta Yasa cepat meliukkan tubuhnya, namun sambaran jemari tangan Pendekar Naga Sakti sempat menyerempet bahu kanannya.
Sret!
"Agkh...!"
Lenguhan tertahan keluar dari mulut pongah Tirta Yasa, ia cepat melompat mundur sambil memegangi bahunya yang mengucur darah segar.
Sring!
Tirta Yasa langsung menghunus pedang yang tersimpan di pinggangnya, setelah itu tanpa mempedulikan luka di bahunya, ia melompat menyerang dengan jurus-jurus pedang yang cukup cepat.
"Hiyaaa...!"
Pada serangan pertama Tirta Yasa, Anggala melentingkan tubuhnya sambil bersalto di udara. Pendekar Naga Sakti menjejak tanah sekitar dua tombak di depan Tirta Yasa.
"Kau, harus membayar dengan nyawamu, anak muda! Hiyaaa...!"
Tirta Yasa merasa Pendekar Naga Sakti melompat menjauh karena merasa kewalahan karena serangannya. Namun pada dasarnya Anggala melompat menjauh karena mau merapal ilmu 'Baju Besi Emas'.nya.
"Set!
Wut! Wut!
Trang!
"Heh!"
Tirta Yasa seakan tidak percaya melihat pedangnya bagai mengenai sepotong besi, ketika mata pedangnya mengenai lengan kiri Anggala.
Belum hilang keterkejutan Tirta Yasa, sebuah serangan yang begitu cepat di arahkan Pendekar Naga Sakti ke arah perutnya.
Sret!
Jeritan menyayat hati terdengar melengkung dari mulut Tirta Yasa, tubuhnya terpental ke tanah dengan begitu cepat, Tirta Yasa beberapa saat menggeliat, Ia masih berusaha bangun tangan kirinya memegangi perutnya. Namun tidak lama kemudian Tirta Yasa kembali jatuh tertelungkup, tidak lama kemudian ia pun tewas dengan usus hancur terkena serangan jurus 'Sembilan Matahari Cakar Elang'. tingkat lima milik Anggala.
Tidak jauh dari tempat itu tampak Wulan Ayu telah terlibat pertarungan melawan Ronggo, jurus-jurus Ronggo cukup berbahaya, setiap sapuan tangannya yang mengandung tenaga dalam tinggi mencerca ke arah Bidadari Pencabut Nyawa.
"Hup!
Tapi!
Ketika mulai kesal dengan serangan Ronggo yang seakan tidak memberi kesempatan, Wulan Ayu menapaki serangan Ronggo yang mengarah ke dadanya.
"Heh!"
Ronggo terkesiap sejenak sebelum cepat-cepat menarik tubuhnya ke samping menghindari tendangan kaki kanan Bidadari Pencabut Nyawa.
Set! Set!
"Huh!"
Ronggo terpaksa melentingkan tubuhnya ke udara, jika tidak tendangan kaki Wulan Ayu tentu sudah mendarat di bagian perutnya.
"Gadis ini mempunyai serangan yang begitu ringkas dan cepat, siapa dia? Apakah dia yang di sebut Bidadari Pencabut Nyawa itu?" bisik Ronggo dalam hati sambil bersalto dua kali ke belakang.
Sret!
Ronggo segera menghunus pedang yang terselip di pinggangnya.
__ADS_1
"Sebaiknya kau hunus pedangmu, gadis cantik. Jika tidak ingin tubuh sintalmu itu rusak terkena pedangku ini," kata Ronggo sambil memamerkan jurus-jurus pedangnya.
Sret!
Wulan Ayu hanya tersenyum tipis sambil cepat mengeluarkan kipas elang perak dari balik bajunya, gambar elang perak terpampang jelas di daun kipas pusaka itu.
"Kipas elang perak? Kau Bidadari Pencabut Nyawa itu?" Ronggo tampak terkejut melihat kipas elang perak di tangan Wulan Ayu itu.
"Kau sedang berhadapan dengan Bidadari Pencabut Nyawa itu, kirana!" jawab Wulan Ayu sengit.
"Aku tidak bisa memakai jurus-jurus pedang tingkat bawah menghadapi gadis ini, namanya sudah cukup tenar di dunia persilatan, apalagi di daerah barat sana," gumam Ronggo dalam hati, ia segera meningkatkan tenaga dalam dan jurus-jurus pedangnya ke tingkat lebih tinggi.
Wulan Ayu melihat musuhnya meningkatkan tenaga dalam dengan ilmu 'Mata Bidadari'. Gadis cantik berbaju serba biru itu menyiapkan jurus Kipas Perak Menerpa Badai, jurus ini boleh di bilang belum pernah di pakainya, namun melihat jurus-jurus Ronggo, ia segera merapalnya.
"Heaaa...!
Set! Set!
Bet!
Trang!
Setelah berteriak nyaring, Ronggo melompat secepat kilat sambil mengayunkan pedangnya, sambaran ujung pedang Ronggo cepat di tangkis dengan daun kipas elang perak oleh Wulan Ayu.
"Sha!"
Set! Set! Set!
"Heh!"
Ronggo terkejut bukan main, ketika Wulan Ayu begitu cepat mengibaskan kipas elang perak ke arahnya. Belasan jarum berwarna perak melesat ke arah Ronggo, laki-laki itu cepat mengebutkan pedangnya untuk menangkis serangan senjata rahasia itu.
Trang! Trang!
Crab! Crab!
Crass!
"Agkh..!"
Ronggo melenguh tertahan sebelum tubuhnya terpental ke belakang sekitar empat tombak, darah segar menyembur dari mulut anggota Empat Iblis Sekawan itu, ia masih berusaha bangun, namun tidak lama kemudian terhuyung dan jatuh.
.
.
Bersambung....
Jangan lupa dukung novel ini ya teman-teman.
Rate
Hadiah
Like
Koment
Dan Votenya teman-teman.
__ADS_1
Terima kasih banyak.