Pendekar Naga Sakti

Pendekar Naga Sakti
Kelompok Iblis Perak. Pertukaran bag, 2


__ADS_3

Sementara itu di Desa Mekar Ramai, tampak para pendekar telah berkumpul. Mereka mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan yang diluar rencana.


"Apa Kelabang Hijau tidak menyayangimu Mekar, sehingga dia tidak mempedulikan nyawamu," kata Melati sambil duduk berjongkok di depan Mekar Suri. Mekar Suri hanya diam seribu bahasa mendengar perkataan Melati tersebut.


"Kau benar Melati, Tampaknya akan ada yang akan mati tanpa dipedulikan ayahnya sendiri," yang menjawab adalah Bidadari Pencabut Nyawa sambil tersenyum tipis membuat Mekar Suri menunduk. Menantang para pendekar itu bertarung hanya akan membuat nyawanya tidak berharga. Sekarang yang ia harapkan adalah pertukaran yang direncanakan Pendekar Tapak Dewa dengan ayahnya.


Wuss..!


Crab!


Sebuah daun lontar melesat dan menancap di pohon kelapa di atas Mekar Suri terikat itu.


"Lepaskan putriku, atau semua bocah itu akan jadi makanan harimau!" begitulah ancaman Kelabang Ungu yang tertulis di daun lontar itu.


"Hei! Pengirim pesan keluarlah.. Kami tidak akan menyakitimu sampai semua kesepakatan ini selesai, percuma Kau bersembunyi aku melihat dimana Kau bersembunyi!" teriak Pendekar Naga Sakti. Tidak lama kemudian seorang Iblis Perak melesat turun dari sebatang pohon yang cukup rindang.


"Katakan pada ketuamu Kelabang Hijau, Aku tidak segan-segan mengirim mayat putrinya dalam keadaan terpanggang bila ada rambut bocah-bocah itu yang putus!" geram Pendekar Naga Sakti dengan lantang.


"Baik Pendekar, pesanmu akan aku sampaikan," jawab Iblis Perak tersebut. Tanpa banyak bicara lagi Iblis Perak itu langsung melesat meninggalkan tempat itu.


****


Matahari telah kembali turun di upuk barat. Bayangan kepala telah melewati tegaknya tubuh. Menandakan siang mulai menuju sore. Suasana sunyi tampak mencekam didalam Desa Mekar Ramai ini. Para pendekar itu tampak diam menunggu keputusan Kelabang Hijau.


Mekar Suri tampak lemas tertunduk di bawah pohon kelapa itu. Beberapa pendekar wanita duduk tidak jauh darinya. Wulan Ayu tampak berbicara dengan Tiga Pendekar Kembar.


Sandara muncul dari dalam rumah kakeknya membawa makanan, berupa ubi rebus. Sandara menuju tempak Pendekar Naga Sakti yang tampak diam, sambil duduk di teras rumah kakek Wiratama itu.


"Paman! Ini ada ubi rebus untuk kalian semua, nini Tantri yang memasaknya, sebaiknya paman makan," ucap bocah kecil itu sambil meletakkan sepiring ubi rebus di samping Anggala.

__ADS_1


"Terima kasih Sandara," ucap Pendekar Naga Sakti sambil tersenyum. Setelah meletakkan ubi diatas sebuah meja kayu Sandara kembali ke dekat Pendekar Naga Sakti.


"Paman... Apa teman-temanku akan kembali dengan selamat?" tanya bocah itu polos.


"Mudah-mudahan orang-orang jahat itu masih bisa kita ajak berunding Sandara," jawab Pendekar Naga Sakti sambil tersenyum.


"Jika mereka tidak mengembalikan teman-temanku? Apa kita harus membunuh bibi berbaju ungu itu?" tanya Sandara lagi sambil menunjuk ke arah Mekar Suri yang tampak terikat tidak berdaya di pohon kelapa.


"Menurut Sandara bagaimana? Apa kita harus membunuhnya," Anggala balik bertanya sambil memeluk bahu bocah kecil itu.


"Sebenarnya Dara tidak tega membunuh wanita secantik dia, tapi jika ayahnya membunuh teman-temanku, Aku yang akan membakarnya hidup-hidup!" geram Sandara. Bocah sekecil itu pun geram dengan perbuatan Kelompok Iblis Perak. Anggala hanya tersenyum mendengar celoteh Sandara, sambil tersenyum ia mengambil ubi rebus yang dibawa Sandara tadi dan memakannya.


Sejak pagi hanya ubi itu yang baru mengisi perut mereka. Para pendekar itu sampai lupa mengisi perut mereka.


Jelang Sore terdengar suara derap kaki kuda menuju Desa Mekar Ramai. Berselang beberapa lama kemudian tampak Kelabang Hijau berkuda paling depan dan Kelabang Merah di belakangnya. Sebuah kereta kuda tampak di kawal oleh Iblis Perak dengan sebuah kerangkeng besi yang berisi anak-anak kecil di belakangnya.


"Cepat lepaskan putriku Pendekar Naga Sakti, Aku akan melepaskan bocah-bocah ini!" teriak Reksa Gana, Setelah berada sekitar sepuluh tombak dari rumah kakek Wiratama tersebut.


"Cepat lepaskan bocah-bocah itu!" perintah Kelabang Hijau pada anak buahnya. Tanpa banyak tanya lagi para Iblis Perak itu langsung membuka pintu kerangkeng besi dan melepaskan anak-anak kecil tersebut.


"Ayah... Ibu....!" terdengar pekikan kesenangan para anak-anak itu. Tanpa mempedulikan kelompok Iblis Perak, anak-anak itu berlarian menuju orang tua mereka yang telah menunggu didepan rumah kakek Wiratama.


"Cepat kalian bawa anak-anak bersembunyi, tempat ini akan jadi arena pertarungan!" perintah Pendekar Tapak Dewa, tanpa banyak tanya para penduduk langsung berlarian membawa anak-anak mereka masuk kerumah kakek Wiratama itu.


"Lepaskan dia," pinta Bidadari Pencabut Nyawa pada Melati, Melati pun melepaskan ikatan Mekar Suri pada pohon kelapa itu.


"Ayah.....!" Mekar Suri pun berlari kearah Kelabang Hijau. Kelabang Hijau yang dari tadi turun dari kuda langsung memeluk sang putri.


"Suiiiittt.....!" tiba-tiba Reksa Gana bersuit panjang, tidak lama kemudian ratusan orang anak buahnya melesat dari dalam hutan dan berbaris di belakangnya.

__ADS_1


"Kalian harus membayar, perbuatan kalian pada putriku," geram Kelabang Hijau.


"Hehehe... Kelabang Hijau, rupanya Kau mau mengantarkan nyawa anak buahmu kesini, hah..! Hehehe...!" tawa Pendekar Tapak Dewa terkekeh, sekali gerakan pendekar tua itu telah berada sekitar tiga tombak di depan Kelabang Hijau. Begitupun dengan Pendekar Naga Sakti dengan sekali lesatan ia juga telah berdiri di samping Ki Sura Jaya itu.


"Mekar.. Kau kembalilah kerumah, biar ayah menghabisi mereka dulu," pinta Kelabang Hijau pada Mekar Suri.


"Tapi Ayah?" Mekar Suri tampak keberatan.


"Pergilah... tubuhmu masih lemah, jika ayah tidak kembali, balaskan dendam ayah!" kata Kelabang Hijau lagi. Mekar Suri hanya mengangguk pelan dan segera melompat keatas kuda ayahnya dan mengebah kuda itu kearah yang berlawanan.


"Kau harus membayar perbuatanmu! Pendekar Naga Sakti!" murka Kelabang Hijau menatap tajam kearah Pendekar Naga Sakti.


"Hehehe... Reksa... Apa Kau tidak akan menyesal membawa semua anak buahmu kesini?" ujar Pendekar Tapak Dewa penuh kebencian.


"HABISI MEREKA....!" teriak Kelabang Hijau dengan suara menggema.


"Heaaah....!" para anggota Iblis Perak itu langsung melesat kearah para pendekar yang tampak berbaris di depan rumah kakek Wiratama.


"Melati, hadapi mereka dulu, aku akan mengejar Kelabang Hijau itu," ucap Bidadari Pencabut Nyawa, dengan sekali lompatan ia sudah hilang ditengah pepohonan hutan.


"Pendekar Naga Sakti, Kelabang Hijau itu bagianku. Kau selesaikan urusanmu dengan Kelabang Merah itu," kata Pendekar Tapak Dewa. Setelah berkata ki Sura Jaya melesat menghadang Reksa Gana.


"Aku lawanmu Kelabang Hijau!" bentak Pendekar Tapak Dewa sambil menjejak kaki sekitar dua tombak didepan Kelabang Hijau.


Pendekar Naga Sakti pun melesat menghadang Kelabang Merah yang tampak mau menyerang kakek Wiratama.


"Aku lawanmu Kelabang Merah, urusan kita belum selesai!" tantang Pendekar Naga Sakti.


.

__ADS_1


.


Bersambung....


__ADS_2