
Langit biru begitu terang, awan berarak tampak indah menghiasi langit. Matahari tampak mulai turun di ufuk barat, beberapa kuda tampak menyusuri jalan di tengah hutan. Suara ringkikan kuda memecah kesunyian.
Tiga orang tampak memacu kuda mereka cukup cepat, bayangan pepohonan tampak sudah menutupi jalan. Tiga orang yang berkuda itu tidak lain adalah Ki Sudrajat, Anggala dan Wulan Ayu.
"Anggala, sebaiknya kita percepat lari kuda. Sebentar lagi malam, kita harus sampai ke Perguruan Bangau Putih sebelum malam!" seru Ki Sudrajat tanpa memperlambat laju kudanya.
"Ya, sebentar lagi senja!" sahut Pendekar Naga Sakti dari belakang, "Ayo! Dinda!" kata Anggala sambil menoleh ke arah Wulan Ayu.
Sang Bidadari Pencabut Nyawa hanya mengangguk menjawab ajakan Pendekar Naga Sakti tersebut, mereka pun menarik kencang tali pelana kuda, sehingga kuda mereka meringkik dan mulai berlari dengan kencangnya.
Hampir saja matahari terbenam di ufuk barat, mereka bertiga sudah memasuki sebuah lokasi perguruan yang tidak lain adalah Perguruan Bangau Putih.
"Guru, Kembali...!" seru dua orang murid Perguruan Bangau Putih yang berjaga-jaga di atas pohon di luar gerbang. Mendengar seruan temannya, beberapa orang yang bertugas menjaga gerbang langsung membuka pintu gerbang besar di depan Perguruan Bangau Putih itu.
Setelah mendekat ke arah gerbang barulah Ki Sudrajat memperlambat lari kudanya, begitu melihat pintu gerbang sudah di buka Ki Sudrajat langsung memacu kudanya secara perlahan memasuki gerbang diikuti Anggala dan Wulan Ayu.
"Selamat datang, Pendekar, di gubuk kami ini," ucap Pendekar Bangau Putih menyambut kedatangan Anggala dan Wulan Ayu.
"Terima kasih, Kek," ucap Anggala sambil menyalami Pendekar Bangau Putih.
"Ayo, masuk," ajak Ki Sudrajat sambil berjalan ke arah sebuah rumah besar di samping pendopo Perguruan Bangau Putih.
Pendekar Bangau Putih dan Ki Sudrajat mengajak Anggala dan Wulan menginap di Perguruan Bangau Putih. Pendekar Bangau Putih pun menceritakan pertemuannya dengan seorang tokoh silat golongan putih yang bergelar Peramal Sinting tiga bulan yang lalu.
"Kenapa Peramal Sinting meramalkan pendekar dari lembah naga akan jatuh, Kek?" tanya Anggala tampak agak bingung, "Saya belum pernah bertemu Peramal Sinting, kenapa beliau tau tentang saya?" Anggala tambah bingung.
"Entahlah, Anak Muda, Peramal Sinting tidak menjelaskan secara rinci. Namun beliau berpesan agar aku menemukanmu dan menyampaikan pesan beliau, hanya itu saja.
Namun perkataannya yang pertama tampaknya sudah menjadi kenyataan, bahwa akan ada partai golongan hitam yang akan menyebabkan huru-hara di dunia persilatan tanah Andalas ini. Yaitu Partai Teratai Hitam yang di pimpin oleh Setan Merah Pencabut Nyawa," jawab Pendekar Bangau Putih.
__ADS_1
"Bukankah banyak tokoh-tokoh dunia persilatan yang menentang mereka, Ke?"
"Ya, terlebih lagi tokoh dunia persilatan golongan putih. Tapi kekuatan para pendekar yang mendukung Partai Teratai Hitam semakin kuat, apalagi aku mendengar kabar bahwa pedang jagat pun telah berhasil di rebut dari Lembah Jagat," tutur Pendekar Bangau Putih.
"Kalau itu memang benar, Kek, saya telah di undang ke Lembah Jagat oleh Datuk Rambut Putih dan Datuk Rambut Merah. Mereka berdua meminta saya menghancurkan pedang langit dan pedang bumi," kata Anggala lagi.
Anggala dan Pendekar Bangau Putih bersama dengan Wulan Ayu dan Ki Sudrajat bercerita panjang lebar hingga larut malam di kediaman Pendekar Bangau Putih.
.
********
Sementara itu di Perguruan Tiga Harimau Datuk Paberang dan Gdeh Pemurko akhirnya melarikan diri setelah berhasil di kalahkan oleh tiga orang murid tertua Datuk Panglima Hijau, yaitu Singo Abang, Singo Jayo dan Singo Sarai.
Sedangkan Datuk Hitam harus tewas setelah adu kesaktian dengan Datuk Panglima Hijau, kedua temannya yang tidak mampu menaklukkan kedua murid sang Datuk pun akhirnya melarikan diri.
"Urusan kita belum selesai Datuk Panglima Hijau..... Lain hari kita lanjutkan lagi....!"
"Kalian tidak apa-apa?" tanya Singo Abang pada kedua adiknya, Singo Jayo dan Singo Sarai.
"Kami tidak apa-apa, Bang," jawab Singo Sarai sambil tersenyum di ikuti anggukan Singo Jayo.
"Syukurlah, kalian tidak terluka," ucap Singo Abang merasa lega melihat kedua adiknya baik-baik saja.
"Abang, Jayo, Sarai. Puyang ingin kalian turun gunung dan mencari keberadaan Pendekar Naga Sakti dari Lembah Naga. Aku mendapat pirasat buruk tentang masalah Partai Teratai Hitam ini," kata Datuk Panglima Hijau.
"Kemana kami harus mencari Pendekar Naga Sakti, Puyang?" tanya Singo Abang, "Sedangkan kami tidak pernah bertemu, namanya pun kami tidak tahu, Puyang," tambahnya lagi.
"Namanya, Anggala. Ku dengar dia selalu bersama seorang gadis cantik yang bergelar Bidadari Pencabut Nyawa, murid Sepasang Pendekar Pemarah," jawab Datuk Panglima Hijau.
__ADS_1
"Dari mana Puyang tahu, sedangkan puyang tidak pernah meninggalkan Bukit Tambun Tulang ini," sela Singo Jayo.
"He he he....! Aku menghubungi Pertapa Naga melalui telepati tadi malam, dia yang bercerita tentang cucu muridnya itu padaku," jelas Datuk Panglima Hijau sambil tersenyum. Singo Abang dan kedua adiknya hanya menganggukkan kepala mendengar penuturan Datuk Panglima Hijau tersebut.
"Puyang memang hebat. Puyang bisa menghubungi teman lama hanya menggunakan kekuatan telepati," puji Singo Sarai.
"Nama besar Puyang Panglima Hijau sebagai seorang hulubalang sampai ke negeri Pagarutung, Dinda. Sebagai tokoh besar golongan putih kesaktian Puyang hampir setara dengan Pertapa Naga," celetuk Singo Jayo sambil tertawa.
"Darimana kau tau hal itu, Jayo?" Datuk Panglima Hijau hanya tersenyum mendengar celotehan para murid kesayangannya itu.
"Di kaki bukit sanggar puyuh, aku sempat bertemu beberapa pendekar. Mereka berniat mencegatku saat itu, tapi begitu mendengar aku murid Puyang Panglima Hijau, mereka langsung mundur," tambah Singo Jayo.
"Ya, aku pun saat berada di daerah gunung Medan, sempat bertemu seorang pendekar dari tanah Minang. Dia memuji kehebatan dan sepak terjang Puyang saat masih muda dulu," tambah Singo Abang.
"He he he....! Kalian sedang merayu puyang, atau bagaimana?" tanya Datuk Panglima Hijau sambil tertawa kecil.
"Tidak, Puyang, kami tidak sedang merayu. Kami hanya agak bingung kemana harus mencari Pendekar Naga Sakti itu?" jawab Singo Abang.
"Terakhir kali ku dengar, dia sedang berada di daerah selatan pulau Andalas ini, carilah dia. Dengan bekerja sama dengannya mungkin kita bisa mencegah korban akibat Partai Teratai Hitam itu," kata Datuk Panglima Hijau.
"Kami akan pergi Puyang, tapi kapan kami harus berangkat?" tanya Singo Abang lagi.
"Sebaiknya lebih cepat lebih baik, jika kalian tidak keberatan sebaiknya kalian berangkat esok pagi," kata Datuk Panglima Hijau.
"Baik, Puyang," jawab Singo Abang di ikuti kedua adiknya.
.
.
__ADS_1
Bersambung....