Pendekar Naga Sakti

Pendekar Naga Sakti
Prahara Di Pulau Andalas. Dendam Lama


__ADS_3

Matahari perlahan menampakkan wajahnya di ufuk timur. Orang-orang yang tadi terlelap di sekeling api unggu yang mereka buat sebagai penghangat dan penerangan di malam hari tadi tampak mulai menggeliat bangun dari tidurnya.


Saga Lintar dan Fhatik terlihat di depan rombongan orang-orang Partai Teratai Hitam yang berjumlah lebih dari lima ratus orang. Memang Anggota Partai Teratai Hitam yang hadir di tempat itu adalah orang-orang yang mempunyai ilmu Kanuragan tinggi.


Beberapa orang pendekar golongan hitam yang telah menyatakan diri bergabung dengan Partai Teratai Hitam juga berada di sana.


Beberapa orang ketua perguruan golongan hitam juga berada di sana, Sebut saja Perguruan Macan Hitam dari Utara. Perguruan Macan Kumbang dari selatan dan Perguruan Elang Hitam, banyak lagi ketua perguruan golongan hitam yang hadir di puncak Gunung Kerinci itu.


Ketua Perguruan Gagak Hitam yang sangat menyimpan dendam dengan Pendekar Naga Sakti dan Bidadari Pencabut Nyawa tampak berdiri di samping Saga Lintar dan Fhatik.


Dia adalah seorang kakek berumur sekitar enam puluh lima tahunan dengan pakaian serba merah hati, dengan jubah berwarna putih abu. Di dada kanannya terdapat gambar elang berwarna hitam.


Di pundak laki-laki tua itu tersampir sebuah pedang besar dengan kepala gagang berukiran kepala gagak berwarna keemasan.


Orang tua itu adalah Wajangkara yang di kenal dengan Elang Hitam.


"Ketua biarkan aku berurusan dengan Pendekar Naga Sakti itu. Aku ingin membalas kematian para muridku!" kata Datuk Wajangkara terdengar dingin penuh dendam.


"Pendekar Naga Sakti itu adalah bagian kami, Paman. Banyak pendekar yang lain yang bisa jadi lawanmu," sanggah Fhatik.


"Ya, Paman. Dendam para muridmu itu biarlah kami yang akan membalaskanya," timpal Saga Lintar.


"Hmm.... Baiklah kalau begitu," sahut Datuk Wajangkara.


Saga Lintar maju ke depan di sebuah tanah yang cukup lapang telah terdapat sebuah panggung yang telah di buat oleh anggota Partai Teratai Hitam beberapa hari yang lalu.


"Terima kasih para semua pendekar yang telah sudi datang ke pertemuan di puncak Gunung Kerinci ini. Pertemuan ini sekaligus adalah hari peresmian Patai Teratai Hitam yang telah aku dirikan setahun yang lalu.


Jika ada para pendekar atau perguruan yang tidak setuju dengan peresmian Partai Teratai Hitam ini, silahkan berkumpul di sebelah kananku!" kata Saga Lintar lantang.


"Kami disini tidak menghadiri peresmian Partai iblis mu itu Setan Merah. Kami di sini untuk menghancurkan partai sesatmu itu!" sahut Ki Sudrajat lantang.


"Ya, kami tidak setuju dengan Partai Teratai Hitam mu itu Saga Lintar. Kami di sini untuk menghentikan niat kotormu itu!" timpal Aruma Sakta lantang.

__ADS_1


Para pendekar golongan putih tampak berdiri di sebelah kanan Saga Lintar bersama beberapa orang pendekar dari berbagai perguruan golongan putih lainnya.


"Ketua, izinkan aku memotong lidah orang yang lancang menentang Partai Teratai Hitam itu!" kata Datuk Wangsaka yang dari tadi berdiri di belakang Fhatik.


"Silahkan, Paman," sahut Saga Lintar.


Mendengar jawaban Saga Lintar tersebut Datuk Wangsaka langsung melompat ke tengah gelanggang dan meyerukan tantangan pada Ki Sudrajat.


"Kau ketua Perguruan Bangau Putih. Aku menantang mulut besarmu itu!" seru Datuk Wangsaka lantang dengan begitu keras dengan pengerahan tenaga dalam tinggi.


"Hup!" Ki Sudrajat segera melompat cepat dengan bersalto dua kali di udara ia segera mendarat dengan ringan di depan Datuk Wangsaka.


"Aku menantang siapa pun yang menantang Partai Teratai Hitam!" seru Datuk Wajangkara lantang.


"He he he.... Anggala kita bertemu lagi, biarkan yang tua ini mengurus sesama orang tua...!" terdengar suara terkekeh. Begitu suara tawa itu lenyap di tengah gelanggang telah berdiri seorang tokoh sakti dunia persilatan yang masih melanglang buana, ia adalah pendekar yang di kenal dengan gelar Pengemis Gila.


"Kurang ajar kau, Pengemis Gila. Petualangan mu akan berakhir di puncak Gunung Kerinci ini!" kata Datuk Wajangkara alias Elang Hitam.


"He he he...! Wajangkara, tidak cukupkah kau merusak para pemuda dan mengajari mereka sesat. Sekarang kau malah menjadi antek Partai setan murid Kelelawar Iblis itu, heh!" hardik Pengemis Gila sambil tertawa terkekeh.


"Paman, Fhatik. Aku berada di sini untukmu," kata Anggala lantang sambil berjalan ke depan rombongan itu.


"Hup!" sekali lompat saja Fhatik telah berada di depan Anggala sekitar tiga tombak.


"Aku disini ponakan, Sebaiknya kau serahkan pedang Naga Sakti itu dan bergabung bersama Partai Teratai Hitam!" kata Fhatik.


"Huh...! Sudah cukup kesesatanmu itu, Paman. Sebaiknya paman ikut aku kembali ke Lembah Naga," sahut Anggala tenang.


"Maaf, Ketua. Aku mempunyai dendam lama dengan gadis bergelar Bidadari Pencabut Nyawa itu. Izinkan aku menghadapinya," pinta Merak Sati sambil menjura memberi hormat pada Saga Lintar.


"Silahkan!" sahut Saga Lintar sambil menganggu pertanda ia setuju.


"Bidadari Pencabut Nyawa! Kau harus menyerahkan nyawamu di sini!" seru Merak Sati lantang setelah menjejak kaki tidak jauh dari rombongan para pendekar golongan putih.

__ADS_1


"Wulan, Biarkan Aku yang akan mengurus gadis sombong itu!" kata Dewi Arau. Gadis yang di kenal dengan gelar Elang Merah itu hendak maju, namun Wulan Ayu mencegahnya.


"Tidak, Arau. Dia mempunyai dendam lama padaku. Lagian aku juga punya urusan dengan orang yang pernah menjual namaku," tolak Wulan Ayu sambil tersenyum.


"Baiklah jika begitu," kata Dewi Arau sembari menghentikan langkahnya.


"Aku disini Bidadari Pencabut Nyawa gadungan!" sahut Wulan Ayu lantang, setelah itu gadis cantik itu melompat dengan begitu ringan dan menapak tanah di depan Merak Sati sekitar sepuluh langkah.


"Kau akan membayar semua yang kau perbuat pada keluargaku, gadis j4lang...!" hardik Merak Sati sambil membuka kuda-kudanya.


"Cobalah jika kau mampu!" sahut Wulan Ayu sengit.


"Heaaah...!"


Merak Sati merangsek dengan suara nyaring, kedua tanganya membentuk cakar. Merak Sati langsung merapal jurus 'Tengkorak Kematian'. Cakar Tulang Peremuk Tubuh.


"Hup! Hiyaaa....!" Wulan Ayu pun langsung merangsek ke depan dengan jurus 'Tapak Dewa'. pemberian Pendekar Tapak Dewa.


"Sha...,!" Merak Sati mengembor marah ketika Wulan Ayu dengan gesit menghindari serangan cakar jemarinya.


"Hih... Hawa tangan Merak Sati terasa panas dan membuat kulitku gatal. Aku harus merapal ilmu 'Baju Besi' tingkat dua belas.


Wulan Ayu segera merapal ilmu 'Baju Besi'. tingkat dua belas, setelah ia melompat ke arah belakang.


"Jangan lari kau gadis tengil...!" bentak Merak Sati sembari melompat menyerang kembali dengan begitu cepat.


Sebelumnya Wulan Ayu lebih banyak menghindar karena merasakan panas dari hawa panas dari serangan Merak Sati.


"Kurang ajar, tadi ia terlihat banyak menghindar. Tapi kenapa sekarang ia seperti tidak merasakan hawa racun pukulanku," gerutu Merak Sati dalam hati.


.


.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2