
Ka...Ka.... Kau... Siapa.. kau sebenarnya?!" tanya Sura Lintang dalam keterkejutannya.
"Aku Bidadari Pencabut Nyawa!" Wulan Ayu dingin.
"Bi...Bi... Bidadari... Pencabut... Nyawa....??!"
"Tidak mungkin?!" desis Sura Lintang terhenyak mundur dua langkah mendengar Wulan Ayu menyebutkan gelarnya.
"Jika kau Bidadari Pencabut Nyawa, tunjukan padaku kipas elang perak itu!" Sura Lintang berusaha menekan ketakutannya sendiri, namun ia masih berusaha berdiri walau lutut dan tubuhnya sudah mulai berkeringat.
Sret!
Wulan Ayu langsung mengeluarkan kipas elang perak dan membentangkan kipas itu di depan dada.
"Ampuni aku dan anak buahku, Bidadari Pencabut Nyawa. Kami hanya mencari makan," ucap Sura Lintang memelas langsung berlutut dengan jemari bersusun di depan wajah. Suara Sura Lintang terdengar bergetar, semua anak buah Sura Lintang tampak beringsut ke belakang pimpinan mereka dan ikut berlutut.
"Ampuni kami, Bidadari Pencabut Nyawa..!" ucap seluruh anggota Penyamun Harimau Hitam terdengar memelas.
"Baik... Baiklah..., kali ini aku akan memafkan kalian. Tapi ingat, jika suatu saat aku bertemu kalian atau mendengar Penyamun Harimau Hitam masih merampok dan memeras. Aku akan mencari kalian dan memotong tangan kalian semua!" kata Wulan Ayu, "Dunia ini luas, hutan ini banyak memiliki penghuni. Kalian bisa berkebun, berburu dan menjadi petani. Jadilah manusia yang baik, jangan menjadi duri untuk orang lain," nasehat Wulan Ayu lagi.
"Baik, Bidadari Pencabut Nyawa," jawab Sura Lintang sambil tetap berlutut dengan kedua tangan masih di depan wajah.
"Namaku, Wulan Ayu, ingat pesanku jangan ulangi lagi!" kata Wulan Ayu sebelum melompat ke atas kudanya.
"Kalau hamba boleh tau, Pendekar hendak kemana?" tanya Sura Lintang sambil berdiri.
"O. Iya, jika kalian ingin jadi orang baik, datanglah ke Perguruan Bangau Putih. Kami sedang menuju kesana," kata Wulan Ayu, "Heaa...! Heeaa...!" Wulan Ayu langsung mengebah kudanya meninggalkan tempat itu.
Setelah cukup jauh dari rombongan Penyamun Harimau Hitam, Wulan Ayu memelankan laju lari kudanya.
"Silahkan, Ki Sudrajat duluan. Saya tidak tau jalan ke arah Perguruan Bangau Putih," ucap Wulan Ayu sopan.
"Terima kasih, Aku baru melihat kemarahan seorang Bidadari Pencabut Nyawa yang begitu besar, namun di tempatkan pada tempat yang benar," ucap Ketua Perguruan Bangau Putih tersebut.
__ADS_1
"Wulan Ayu hanya tersenyum mendengar perkataan Sudrajat itu dan menjawab, "Terima kaaih, Ki,"
"Ayo! Heaaa.....! Heaaa......!"
Mereka pun melaju di tengah hutan dengan kuda yang berlari kencang menyusuri jalan setapak yang membelah di tengah rimbunnya hutan.
Hampir setengah hari mereka berkuda. Mereka memasuki sebuah perkampungan yang tampak lengang bak tidak berpenghuni, para penduduk tampak menutup pintu rumah mereka begitu mendengar derap langkah kaki kuda dari kejauhan.
"Apa yang terjadi dengan tempat ini, dua hari yang lalu aku lewat. Desa ini masih baik-baik saja, para penduduk di sini terkenal keramahannya. Tapi kenapa sekarang mereka seperti ketakutan?" Ki Sudrajat seakan bertanya pada dirinya sendiri.
"Tampaknya Desa ini dalam maslah, Ki," kata Anggala sambil mendatarkan kudanya di samping Ki Sudrajat.
"Kau benar, Anggala. Tampaknya ada masalah yang membuat orang-orang Desa ini ketakutan," timpal Ki Sudrajat lagi.
"Sebaiknya kita bertanya pada para penduduk, Ki," tambah Wulan Ayu sambil melompat dari punggung kudanya.
"Percuma bertanya pada mereka, rumah mereka saja pada di tutup. Di perempatan depan sana ada warung, kita bisa bertanya sekalian mengisi perut," kata Ki Sudrajat sambil menarik tali kekang kudanya secara pelan.
"Ayo, Dinda," ajak Anggala pada Wulan Ayu yang tampak memperhatikan keadaan sekitarnya.
"Ya, kita tanya di warung nanti, apa yang terjadi sebenarnya?" kata Anggala lagi.
Sebuah warung makan di perempatan di tengah Desa tampak begitu sepi, tidak ada seorang pun yang beristirahat di warung itu, padahal warung itu di tempat yang sangat strategis.
Ki Sudrajat, Anggala dan Wulan Ayu memasuki warung itu setelah mengikat kuda mereka pada tempat yang tersedia dan terdapat tumpukan rumput.
"Permisi Ki, kami mau pesan makanan," ucap Ki Sudrajat pada seorang laki-laki berusia sekitar enam puluh tahunan, rambutnya tampak telah memutih.
"Silahkan duduk, kisanak," jawab laki-laki tua itu, "Tunggu sebentar, kisanak," tambahnya sembari berjalan ke arah dapur.
Anggala dan Wulan Ayu tampak mengambil meja di sebuah sudut, sehingga mereka bisa melihat orang-orang yang berlalu lalang, walau saat ini keadaan sangat sepi sunyi.
"Ini kisanak pesanannya," kata laki-laki tua itu sambil meletakkan talam tempatnya membawa nasi dan lauk-pauk untuk tamu warungnya.
__ADS_1
"Terima kasih, Ki," ucap Wulan Ayu, "Maaf, Ki. Kalau boleh tau, apa yang terjadi di tempat ini. Kenapa Desa ini begitu sunyi, kami lihat penduduk begitu ketakutan mendengar suara langkah kuda?" tanya Wulan Ayu lagi.
"Desa ini baru di santroni orang-orang Perguruan Gagak Hitam dari bukit gagak, Nak," jawab pemilik warung itu.
"Terima kasih banyak, Ki. Perkenalkan saya Wulan Ayu, ini teman saya Anggala dan itu Ki Sudrajat Ketua Perguruan Bangau Putih," kata Wulan Ayu memperkenalkan diri dan kedua temannya.
"Saya, Ki Tolo, orang-orang mengenal saya Ki Tolo," jawabnya memperkenalkan diri, "Silahkan di santap dulu makanannya, jika kalian ingin tau. Saya akan menceritakan setelah kalian makan," tambah Ki Tolo sambil tersenyum.
"Iya, Ki, kami cukup lapar," jawab Wulan Ayu sambil mengambil piring dan menyendok nasi.
"Saya ke belakang dulu," kata Ki Tolo.
"Silahkan, Ki," jawab Ki Sudrajat sambil tersenyum. Tidak lama kemudian Ki Tolo kembali dengan sebuah kendi yang berisi air kopi hasil buatannya.
Belum selesai Angala, Wulan Ayu dan Ki Sudrajat makan, serombongan orang-orang berpakaian hitam dengan ikat kepala berwarna kuning tidak kurang dari tiga puluh orang singgah di warung itu.
"Wah, ada kuda-kuda bagus, jika di jual. Pasti mahal," kata salah seorang itu sambil tertawa di ikuti tawa teman-temannya.
"Ki.... Kami mau makan... Cepat siapkan!" bentak salah seorang dari rombongan itu yang bertubuh paling tegap. Di antara semua orang itu ia memiliki gelang berwarna hitam di tangan kanannya sebanyak empat buah.
Sedangkan yang lain hanya memakai gelang dua buah dan ada beberapa orang yang memakai gelang sebanyak tiga buah. Orang-orang itu tampak memiliki tubuh yang cukup tegas-tegap dan berotot, sebuah golok besar dengan ukiran kepala burung berwarna hitam.
Anggala hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah laku orang-orang itu yang tidak punya sopan santun.
.
.
.
Bersambung....
.
__ADS_1
.
Bersambung.......