
"Hmm... Mau tidak mau aku harus merapal jurus-jurus harimau tingkat atas, jika tidak ingin di pecundangi di kandang mereka," gumam Brata Sona seakan berbicara pada dirinya sendiri.
Brata Sona segera merubah kuda-kudanya, ia langsung bersiap dengan jurus 'Harimau Neraka Menerkam Mangsa'.
.
*********
Sementara itu Anggala dan Wulan Ayu memilih berbagi tugas. Anggala pergi ke Perguruan Alam Jagat bersama dengan kedua murid Datuk Rambut Putih dan Datuk Rambut Merah.
"Dinda yakin tinggal di sini?" tanya Anggala meyakinkan Wulan Ayu. Gadis itu hanya mengangguk mengiyakan sebelum menjawab pertanyaan Anggala tersebut.
"Dinda yakin, Kak. Kita tidak bisa meninggalkan Aki Syarip dengan Mak Ripah sendiri. Dinda yakin orang-orang jahat itu akan kembali, jika tidak ada kita tentu mereka akan berbuat sesuka hati mereka lagi," jawab Wulan Ayu.
"Baiklah, Dinda harus bisa menjaga diri. Orang-orang Perguruan Elang Hitam itu tentu akan kembali dengan orang yang memiliki ilmu kepandaian yang lebih tinggi dari sebelumnya," kata Pendekar Naga Sakti.
'Kakak tidak usah mencemaskan dinda. Sekarang pergilah dan kembali lebih cepat, tidak enak Kakak tidak ada," jawab Wulan Ayu sambil tersenyum.
"Ya, sudah. Kakak berangkat ya?" ucap Pendekar Naga Sakti sembari melompat ke atas kudanya. Singa Rudra dan Blabang Geni sudah dari tadi berada di atas kuda menunggu Anggala berpamitan dengan Wulan Ayu.
Gadis cantik berbaju biru itu tampak memandangi kepergian seorang pemuda yang selama ini membuat ia lupa akan kerasnya hidup sebagai pendekar di dunia persilatan.
Apalagi semenjak turun gunung Wulan Ayu boleh di bilang belum pernah berpisah lama dari Anggala, mereka selalu bersama walau menghadapi lawan yang tangguh sekalipun.
"Nak Wulan tampaknya berat berpisah dengan nak Anggala, belum pernah berpisah ya, nak Wulan?" tanya Mak Ripah dari belakang, wanita tua hampir berumur enam puluh tahunan itu sudah berdiri di belakang Wulan Ayu dari tadi.
"Eh, Mak. Maaf, Wulan tidak menyadari ada Mak di belakang Wulan," jawab Wulan Ayu, "Ya, Mak, Wulan belum pernah berpisah lama dari kak Anggala semenjak turun gunung setahun yang lalu," tambahnya lagi.
"Pantasan nak Wulan tampak berat melepas kepergian nak Anggala?" kata Mak Ripah sambil tersenyum.
Wulan Ayu hanya tersenyum sembari mengikuti Mak Ripah dari belakang masuk ke dalam warung.
"Anggala, tampaknya Wulan Ayu berat melepas kepergian mu," kata Singa Rudra sembari menarik tali pelana kudanya agar sejajar dengan kuda yang di tunggangi Anggala.
"Kami belum pernah berpisah semenjak dia turun gunung, Rudra," jawab Anggala sambil menoleh ke arah Singa Rudra dan Blabang Geni.
"Kau sungguh beruntung, Sobat. Punya kekasih secantik Wulan Ayu, di dunia persilatan ini susah mencari gadis secantik dia," puji Singa Rudra.
__ADS_1
"Entahlah, Rudra, aku tidak pernah memang bertemu gadis cantik yang melebihi kecantikan Wulan Ayu. Walau pun ada mungkin di mataku tetap Wulan Ayu yang tercantik," jawab Anggala sambil tersenyum.
"Mungkin itu yang di katakan cinta suci, Sobat. Mata kita tidak membanding-bandingkan gadis yang kita cintai dengan gadis lain," ucap Singa Rudra.
"Wah, Kak Rudra tampaknya sudah menjadi pujangga cinta," sela Blabang Geni sambil tertawa kecil, "Padahal Kak Rudra sendiri belum pernah menyukai seorang gadis malah mungkin belum pernah melihat gadis cantik!" tambahnya.
"Pujangga cinta, seorang yang bisa menaksirkan perasaannya pada sebuah syair, atau sebuah kata-kata mutiara cinta," kata Pendekar Naga Sakti sambil tersenyum.
"Kita ambil jalan pintas saja, Sobat. Agar lebih cepat!" kata Singa Rudra.
"Baiklah, kau duluan Rudra!" jawab Anggala. Singa Rudra pun mengebah kudanya mendahului kuda yang di tunggangi Anggala.
Kuda mereka meringkik ketika tali pelana di tarik oleh penunggangnya. Kuda-kuda itu berpacu di tengah jalan kecil di tengah hutan.
Kuda-kuda itu berlari kencang menyusuri jalan kecil di tengah hutan yang hanya pas-pasan untuk seekor kuda.
Anggala dan Singa Rudra bersama blabang Geni tidak lagi saling mengeluarkan suara mereka fokus pada jalan yang cukup sempit itu.
hampir setengah hari mereka berkuda, karena jalan yang sempit dan banyak jalan yang terjal dengan bebatuan berlumut sehingga kuda-kuda mereka sudah tidak bisa berlari kencang.
"Ayo, Anggala. Kita masuk kemungkinan kedua guruku berada di dalam" ajak Singa Rudra setelah melompat turun dari kudanya di ikuti oleh Blabang Geni. Beberapa orang murid Perguruan Alam Jagad tampak menyusul keluar menyambut kedatangan Singa Rudra dan Blabang Geni.
Bagaimana keadaan guru?" tanya Singa Rudra pada salah seorang adik seperguruannya.
"Kakek sesepuh sedang berada di kamarnya, Kak Rudra," jawab adik seperguruan Singa Rudra itu, tanpa banyak bicara Singa Rudra langsung menuju kamar tempat kedua gurunya beristirahat.
"Saya kembali, Kakek Guru," ucap Singa Rudra begitu memasuki kamar kedua Sesepuh Perguruan Alam Jagat itu.
Mendengar suara Singa Rudra Datuk Rambut Putih dan Datuk Rambut Merah langsung membuka mata.
"Kau sudah kembali, Rudra?" jawab Datuk Rambut Putih menyambut kedatangan Singa Rudra.
"Ya, Kakek Guru. Saya sudah kembali bersama dengan Pendekar Naga Sakti yang Kakek Guru minta agar saya mencarinya," jawab Singa Rudra sambil menunduk memberi hormat.
"Mana Pendekar Naga Sakti itu, Rudra?" tanya Datuk Rambut Putih sembari menolehkan pandangannya ke arah pintu.
"Pendekar Naga Sakti berada di luar bersama Blabang Geni, Kakek Guru," jawab Singa Rudra.
__ADS_1
"Ajaklah dia masuk, aku ingin berbicara dengannya," kata Datuk Rambut Putih, Datuk Rambut Merah hanya menggangguk mengiyakan perkataan Datuk Rambut Putih tersebut.
"Baik, Kakek Guru," jawab Singa Rudra sembari melangkah keluar kamar menemui Anggala dan Blabang Geni.
"Sobat, kakek guruku ingin bertemu denganmu. Beliau sedang istirahat di kamar," kata Singa Rudra.
"Baiklah, mari," jawab Anggala sembari berjalan memasuki kamar yang ditempati oleh Datuk Rambut Putih dan Datuk Rambut Merah beristirahat.
Begitu Anggala dan Singa Rudra bersama Blabang Geni masuk Datuk Rambut Putih dan Datuk Rambut Merah tampak terkejut melihat Pendekar Naga Sakti yang di maksud oleh Singa Rudra bukanlah Lesmana.
Sedangkan Pendekar Naga Sakti yang mereka kenal adalah Lesmana murid dari Satria Naga.
"Rudra, apakah kau tidak salah membawa orang?" tanya Datuk Rambut Merah menatap ragu ke arah Anggala.
"Maaf, Kakek Guru. Jika Pendekar Naga Sakti yang Kakek Guru maksud, dialah orangnya," jawab Singa Rudra meyakinkan kedua Sesepuh Perguruan Alam Jagat itu.
"Maafkan aku, Anak Muda. Aku tidak mengenalmu, tapi kenapa kedua muridku mengatakan kalau kau adalah Pendekar Naga Sakti?" tanya Datuk Rambut Putih pada Anggala.
Mendengar ucapan Datuk Rambut Putih Anggala hanya tersenyum sembari menjawab, "Saya yakin Datuk ragu terhadap saya. Apakah saya ini benar-benar Pendekar Naga Sakti atau bukan. Saya akan memperkenalkan diri nama saya Anggala, saya adalah murid Paman Lesmana dan kakek guru Pertapa Naga dari lembah naga," tutur Anggala menjelaskan.
Mendengar penjelasan Anggala tersebut, barulah Datuk Rambut Putih dan Datuk Rambut Merah menggangguk-anggukkan kepala.
"Rupanya kami sudah ketinggalan semua berita tentang dunia persilatan ini, Anak Muda. Kami sempat mendengar sepak terjang Pendekar Naga Sakti, kami menduga jika Lesmana kembali turun gunung.
Tapi rupanya Lesmana sudah mempunyai seorang murid. Aku yakin kau adalah seorang pilihan dari pusaka pedang naga sakti, jika tidak. Tidak mungkin Lesmana menjadikanmu sebagai muridnya," tambah Datuk Rambut Merah
"Maafkan saya, Datuk Sesepuh berdua. Jika saya boleh tahu ada perlu apa ketua Perguruan Alam Jagat ingin bertemu dengan saya?" tanya Pendekar Naga Sakti
.
.
Bersambung...
Jangan lupa tinggalkan jejak ya teman-teman. Like, komen dan semua hadiah dan respon dari para pembaca adalah penyemangat author dalam menulis.
Jika para pembaca tidak keberatan tolong beri rating novel terima kasih banyak
__ADS_1