
Sementara itu, dunia persilatan di Pulau Andalas kini benar-benar di landa prahara yang begitu pelik. Partai Teratai Hitam di bawah pimpinan Fhatik dan Setan Merah Pencabut Nyawa secara bergantian mendatangi perguruan silat golongan putih maupun golongan hitam.
Pertarungan kadang tidak terelakkan terjadi antara golongan hitam dan golongan putih tersebut, walau beberapa perguruan silat golongan putih itu berhasil mengalahkan utusan Partai Teratai Hitam itu, namun surat undangan secara paksa tetap membuat resah para tokoh silat golongan putih itu.
Sebuah perguruan di wilayah tengah Pulau Andalas yang bertempat di wilayah Bukit Tambun Tulang pun kini di datangi oleh utusan Fhatik tersebut.
Perguruan silat Tiga Harimau cukup terkenal di wilayah uluan sungai Batang Hari itu cukup di segani oleh para tokoh silat golongan hitam maupun golongan putih.
Datuk Panglima Hijau adalah seorang hulubalang yang terkenal kesaktiannya. Sehingga banyak pemuda dari berbagai Desa kecil dari wilayah itu yang menjadi murid Perguruan Tiga Harimau.
Pagi ini matahari tampak bersinar terang di ufuk timur, burung-burung terdengar berkicau riang menyambut datangnya hari.
Kaki bukit Tambun Tulang tampak ramai oleh para murid Perguruan Tiga Harimau yang sedang berlatih, baik pemuda mau pun pemudinya tampak asik berlatih jurus pedang maupun latihan tangan kosong.
Datuk Panglima Hijau tampak duduk bersila di tengah pendopo Perguruan Tiga Harimau sambil mengawasi para muridnya yang sedang berlatih.
Tiga orang murid tertua tampak mondar-mandir mengawasi dan mengajari beberapa orang murid yang masih berumur sepuluh tahunan.
Mereka adalah Singo Abang, Singo Jayo dan Singo Sarai. Ketiga murid tertua Datuk Panglima Hijau adalah tiga bersaudara dari Desa Sungai Merah di seberang Bukit Tambun Tulang ini.
Suasana hiruk pikuk para murid Perguruan Tiga Harimau yang sedang berlatih tiba-tiba jadi terdiam, ketika tiga orang yang tidak mereka kenal memasuki lokasi perguruan tersebut.
"Ha ha ha...! Lanjutkan... Lanjutkan... Aku hanya berurusan dengan guru kalian!" kata salah seorang dari tiga tamu yang tidak di undang tersebut.
Singo Abang, Singo Jayo dan Singo Sarai langsung maju menghadang, "Siapa kalian, masuk tanpa sopan santun ke tempat orang. Apa kalian tidak pernah belajar sopan santun dalam bertamu, hah!?" bentak Singo Abang sambil berkacak pinggang, beberapa murid Perguruan Tiga Harimau yang masih mempunyai tenaga dalam rendah bergerak mundur sambil menutup telinga.
__ADS_1
Sedangkan puluhan murid yang lagi berlatih langsung berhenti dan mengadakan pengepungan ke arah tiga orang tamu yang tidak di kenal itu.
"Ha ha ha...!" Aku si Datuk Hitam dari Gunung Medan, dan yang bersamaku adalah Datuk Paberang dan Gdeh Pemurko dari Lembah Inai di Sijunjuang. Kami sengaja datang kesini atas utusan Setan Merah Pencabut Nyawa!" jawab Datuak Hitam sambil tertawa lantang membuat telinga yang mendengarnya terasa sakit.
"Ada urusan apa, Setan Merah Pencabut Nyawa mengutus kalian menyantroni perguruanku ini Datuk Hitam?" tiba-tiba Datuk Panglima Hijau sudah berada di samping Singo Abang dan kedua adiknya.
"Perguruanmu harus menerima undangan Pendekar Naga Hitam dan Setan Merah Pencabut Nyawa untuk bergabung dengan Partai Teratai Hitam memenuhi undangan ke puncak Gunung Kerinci pada purnama tiga belas bulan dua belas di muka!" jawab Datuk Hitam sambil tertawa di ikuti tawa ketiga temannya.
"Rupanya nama besar kalian hanya isapan jempol belaka. Kalian mau di perbudak oleh murid sesat Pertapa Naga dan Setan Merah Pencabut!" jawab Datuk Panglima Hijau terdengar mengejek ketiga tokoh hitam itu.
"Kurang Ajar! Kau berani menantang kami bertiga, Datuk?!" geram Datuk Paberang tampak geram mendengar jawaban Datuk Panglima Hijau yang bernada merendahkan mereka bertiga.
"Puyang, izinkan cucu bertiga mengurus orang yang tidak punya sopan santun itu," ucap Singo Abang sambil menoleh ke arah Datuk Panglima Hijau.
"Mereka cukup berbahaya, Abang, berhati-hatilah. Karena tokoh hitam bertiga ini terkenal akan kelicikannya," jawab Datuk Panglima Hijau sambil tersenyum dan menyentuh pelan bahu Singo Abang.
"Kalian mundurlah, mereka bukan lawan kalian," perintah Singo Abang pada adik-adik seperguruannya.
"Baik, Kak!" jawab para murid Perguruan Tiga Harimau serentak mereka bergerak mundur secara perlahan dengan melangkah mundur tanpa mengalihkan pandangan pada ketiga tokoh hitam itu.
"Ha ha ha....! Baru jadi murid tertua di perguruan ini, kalian bertiga sudah berani mau melawan kami, hah?!" bentak Datuk Hitam.
"Kau belum tau perguruan Tiga Harimau, bukit Tambun Tulang, Datuk?" jawab Singo Abang sambil tersenyum tipis. Ia bergerak maju ke arah Datuk Hitam.
"Hihihi...! Mereka belum tau siapa itu, Tiga Harimau, Kak!" timpal Singo Sarai sambil tertawa kecil dan pendekar wanita Perguruan Tiga Harimau itu bergerak maju ke arah Gdeh Pemurko dari Lembah Inai.
__ADS_1
"Apa, jadi mereka yang menghebohkan dunia persilatan di daerah ini," batin Gdeh Pemurko mendengar ucapan Singo Sarai tersebut.
Memang dalam beberapa tahun ini nama Tiga Harimau cukup di takuti oleh para penyamun dan para perampok di daerah uluan sungai Batang Hari ini, sepak terjang ketiga murid Datuk Panglima Hijau itulah yang membuat semakin banyak yang berguru dan mengabdikan diri di Perguruan Tiga Harimau.
"Heh, kau kira kami takut dengan kalian yang baru seumur jagung di dunia persilatan," bentak Datuk Hitam sambil menunjuk dengan telunjuk kirinya ke arah Singo Abang dan kedua adiknya.
"Sebaiknya kalian mundur, dan terima tawaran Partai Teratai Hitam untuk bergabung dengan mereka!" kata Gdeh Pemurko, datar namun mencerminkan kekejaman dan kesadisan.
"Kami belum tentu kalah dari kalian bertiga, kenapa kami harus mundur?" jawab Singo Jayo sambil tersenyum pemuda dua puluh lima tahunan itu sudah berdiri di depan Datuk Paberang berjarak sekitar dua tombak.
"Banyak Bacot mereka, Datuk. Habisi saja!" geram Gdeh Pemurko sambil melompat ke arah Singo Sarai dengan jurus cakarnya, hawa dingin terasa berhembus dari sambaran kuku-kuku panjang tokoh silat golongan hitam berdandan menor dan berpakaian serba hitam itu.
"Hup!" Singo Sarai dengan begitu cepat dan tenang bergerak menghindari serangan cakar Gdeh Pemurko yang mencerca ke arah tubuhnya.
Sementara itu Datuk Hitam tampak membuka kuda-kuda jurus 'Cakar Neraka'.
Kedua telapak tangan Datuk Hitam tampak berubah berwarna merah menyala dan menyebarkan hawa panas menyengat kulit. Beberapa orang adik seperguruan Singo Abang tampak bergerak mundur semakin menjauh karena merasakan hawa panas yang cukup menyengat dan menyebabkan rasa gatal.
Singo Abang yang mempunyai tenaga dalam yang cukup tinggi tampak begitu tenang menghadapi serangan Datuk Hitam itu.
.
.
Bersambung.....
__ADS_1
Kalau sudi bantu tinggalkan jejak ya Readers. Terima kasih banyak..