Pendekar Naga Sakti

Pendekar Naga Sakti
Dendam Tiga Elang Part 5


__ADS_3

Srek!


Suta lansung menghunus golok besar yang ada di pinggangnya, dan melompat ke arah Dewi Arau dan kedua adiknya itu.


.


Wut..!


"Huh..!"


Buaak...!


"Aaakh...!


Dewi Arau menarik tubuhnya satu langkah ke samping. Serangan golok Suta hanya mengenai angin kosong. Belum sempat Suta bergerak lagi tendangan kaki kanan Dewi Arau telah menghantam telak perutnya. Suta pun harus terpental ke luar warung ki Suro itu.


Tiga Elang lansung melompat ke luar, ke depan Suta dan Pala yang lagi berusaha berdiri. Suta dan Pala sama-sama mengalami luka dalam yang cukup parah, tampak ada darah yang mengalir dari sudut bibir keduanya. Pimpinan Perampok itu hanya terdiam melihat kedua anak buahnya terpental sampai ke luar warung.


Melihat Tiga Elang keluar kawan-Kawan Suta dan Pala langsung mengepung ketiga gadis cantik murid Elang Hitam itu.


"Heh! Siapa Kalian, berani menyakiti anak buahku..!" Bentak orang yang di panggil ketua itu, sambil maju ke depan Tiga Elang.


"Kami bukan siapa-siapa! Kami hanya tamu di warung yang telah di rusak anak buahmu itu!" Jawab Elang Merah sambil menunjuk ke arah Suta dan Pala.


"Jadi Kalian tidak punya gelar dan nama Hah!" Bentak orang itu lagi.


"Apalah arti sebuah nama Kisanak!" Jawab Elang Merah sengit.


"Berarti akan ada tiga batu nisan tanpa nama di desa ini!"


"Entah kuburan siapa yang akan tanpa nama Kisanak!"


"Aku Sapta Mara yang bergelar Perampok Sadis, tangan kanan tiga Warok Singa Merah, akan membuatkan kuburan Kalian tanpa nama gadis cantik!" Bentak Rampak lagi.


"Tampaknya Kau begitu membanggakan nama Tiga Warok Singa Merah itu Kisanak, dengarkan baik-baik, Aku Dewi Arau dan di belakangku ini kedua adikku Dewi Pingai dan Dewi Aurora. Kami berasal dari Lembah Elang, kami murid Datuk Balung si Elang Hitam, yang bergelar Tiga Elang!"


"Apa! Murid Datuk Balung si Elang Hitam?" Sapta Mara tampak terkejut mendengar perkataan Dewi Arau itu, "Jadi mereka yang di ceritakan benerapa tokoh silat lain itu, tidak di sangka Datuk Balung si Elang Hitam yang tidak jelas golongannya itu telah mempunyai murid," Sapta Mara membathin.


"Kenapa Kisanak? Air wajahmu tampak berubah mendengar nama Datuk Balung si Elang Hitam!" Ujar Elang Merah sambil tersenyum tipis mengejek.

__ADS_1


"Bangsat cari mati Kalian! Seraaang...!"


Setelah memerintahkan anak buahnya menyerang, Sapta Mara lansung melompat ke arah Tiga Elang.


"Heaaa...!"


Tiga gadis cantik yang bergelar Tiga Elang itu melompat ketiga arah menyebar.


"Hup..!"


Dewi Arau berjumpalitan tiga kali di udara sebelum kakinya kembali mengijak tanah, dengan begitu cepat ia memberikan serangan balik pada para perampok yang mencerca ke arahnya itu.


Buak..! Buak..!


"Aaakh...!"


Dua orang anggota Perampok Warok Singa Merah terpental ke tanah terhantam tendangan cepat Elang Merah itu. Salah seorang perampok itu bergerak menyabetkan golok nya dari arah belakang Elang Merah. Dengan gesitnya Dewi Arau mengeser tubuh nya ke kiri.


Jreb..!


"Aaakh..!


Sementara itu Sapta Mara yang berniat menyerang Dewi Arau tadi terpaksa berjumpalitan menghindari serangan Dewi Pingai yang langsung menghunus sepasang pedang dari balik punggungnya itu.


"Bangsat! ilmu pedang Elang Hitam ternyata sangat hebat!" Guman Perampok Sadis sambil berusaha menangkis serangan pedang Dewi Pingai itu.


Trang.!


"Ah..!"


Perampok Sadis terpaksa menarik tubuhnya ke belakang. Jika terlambat Perampok Sadis menarik tubuhnya, maka tubuhnya akan bersimbah darah terkena sabetan pedang di tangan Dewi Pingai itu.


Dewi Pingai tidak memberikan kesempatan Sapta Mara bernapas. Dewi Pingai terus memburu dengan jurus Pedang Elang Hitamnya. Sapta Mara tampak pontang panting menghadapi serangan Dewi arau yang begitu cepat dan beraturan itu.


"Buak..!


"Aakh..!"


Sapta Mara hanya fokus memperhatikan serangan pedang Dewi Pingai itu. Tanpa di sadarinya kaki Dewi Pingai telah melesat ke arah perutnya. Sapta Mara mengerang kesakitan, perutnya terasa terhantam palu besi besar. Sapta Mara terhuyung ke belakang dan jatuh berlutut. Tampak darah segar kehitaman mengalir dari sela bibir Sapta Mara itu.

__ADS_1


Sementara itu Pendekar Naga Sakti dan Bidadari Pencabut Nyawa hanya jadi penonton pertarungan ketiga gadis cantik itu dengan para Perampok Singa Merah itu.


"Wah..! Ilmu silat ketiga gadis itu hebat-hebat ya Kak!" Ucap Wulan Ayu sambil memeluk lengan kanan Anggala, dan menyandarkan kepalanya di bahu pemuda tampan kekasihnya itu.


"Ya, tampaknya tiga gadis yang bergelar Tiga Elang itu mempunyai dendam terhadap para perampok. Mereka tampak begitu marah drngan kelakuan para perampok itu!" Jawab Pendekar Naga Sakti sambil tersenyum melihat sikap manja si Bidadari Pencabut Nyawa itu.


Sementara itu Dewi Aurora yang di keroyok sekitar lima orang perampok termasuk Suta dan Pala. Dewi Aurora tampak melayani kelima musuhnya dengan 'Jurus Elang Membelah Awan'.


Dalam beberapa jurus saja Suta dan Pala langsung menjadi bulan-bulanan pukulan si cantik Aurora itu. Gerakan pukulannya begitu cepat, sehingga dalam waktu singkat kelima musuhnya itu telah tergeletak di tanah dalam keadaan terluka dalam.


Sedangkan para perampok yang berhadapan dengan Dewi Arau telah bergelimpangan tewas terkena 'Jurus Maut Paruh Elang'.


Sedangkan Sapta Mara yang berhadapan dengan Dewi Pingai tampak telah mengalami luka di bahu kirinya, dan juga luka dalam. Beberapa orang anak buah Sapta Mara tampak mundur ke dekatnya, mereka telah mengalami kekalahan yang menyakitkan malam ini.


"Bagaimana Kisanak, bukankah sudah aku katakan tadi, kami adalah nasib sial Kalian hari ini!" Ujar Dewi Arau dengan senyum tipis menyungging di wajah cantiknya itu.


"Awas Kau, gadis J4lang, perlakuan Kalian ini akan di balas ketua kami," Ucap Sapta Mara, setelah berucap. Sapta Mara lansung mengajak anak buahnya yang masih hidup meninggalkan tempat itu. Dengan terseok-seok para anggota Perampok Singa Merah itu berusaha berlari menuju kuda mereka. Setelah menaiki kuda mereka. Tanpa banyak bicara mereka lansung mengebah kuda mereka dengan kencang ke arah ujung jalan di tengah kegelapan malam yang tampak telah mulai larut.


Api obor di depan rumah penduduk tampak berayun-ayun bagai menari tertiup angin malam. Cahaya rembulan yang tadi bersinar kini hampir hilang di tutupi arak-arakan awan hitam yang mulai menebal menutupi langit.


Anggala dan ki Suro tampak sedang memperbaiki pintu warung yang telah hancur di tendang Suta tadi.


Para penduduk yang berkumpul di halaman sebuah rumah tampak masih duduk di sana, walau keadaan telah aman terkendali.


Dewi Arau dan kedua adiknya menghampiri para penduduk itu.


"Aki-Aki dan Nini-Nini, sebaiknya Kalian masuk kerumah, karna tampaknya sebentar lagi hujan, jika ada yang mengalami luka dalam akibat pukulan para perampok tadi, esok pagi boleh ke warung ki Suro, kami bertiga siap membantu mengobati," Ucap Dewi Arau sambil tersenyum.


"Terima kasih banyak Pendekar telah menyelamatkan kami, dari para perampok itu," Ucap salah seorang penduduk yang paling tua di sana. Dewi Arau hanya mengangguk membalas setiap sapaan para penduduk yang lewat di depannya.


"Hebat! Hebat...! Ilmu Kalian sungguh hebat Kisanak..!"


Ketiga gadis cantik itu menoleh ke arah asal suara yang menyapa mereka.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa like, Koment, Vote dan favoritnya ya. Terima kasih.


__ADS_2