Pendekar Naga Sakti

Pendekar Naga Sakti
Misteri Istana Kematian. Si Topeng Hitam


__ADS_3

Kuda tampak meringkik saat tali kekangnya tiba-tiba di tarik secara mendadak. Anggala dan Wulan Ayu mengalihkan pandangan pada asal suara yang menghadang mereka.


"Siapa mereka Kek?" tanya Anggala tanpa mengalihkan pandangannya.


"Mereka adalah bagian dari orang-orang yang menghadang kalian tadi anak muda," jawab kakek Deja tampak begitu tenang.


"Kapan kau akan berhenti orang tua untuk mencari tumbal istana kematian hah!" bentak salah seorang dari orang-orang bertopeng yang menghadang mereka. Orang yang membentak mempunyai ciri berbeda dengan lima orang lainnya, yaitu memakai kain pengikat pinggang berwarna merah. Orang itu juga tidak memakai senjata berbentuk klewang gembrug, senjatanya tampak adalah sebuah keris agak panjang terselip dari balik pinggangnya.


"Hehehe...! Aku akan berhenti mencari pendekar saat aku mati topeng hitam!" jawab kakek Deja sambil terkekeh.


"Dasar Pendekar Gila,tampaknya kau memang harus di singkirkan dari dunia ini, karna kau selalu ikut campur urusan kami!" bentak orang bertopeng hitam itu.


"Pendekar Gila?" Anggala mengalihkan pandangannya kearah kakek Deja.


"Hehehe..! Iya anak muda, orang-orang di Kerajaan Pasemah Agung memberiku gelar Pendekar Gila, dulu aku adalah patih disana, tapi semenjak raja Kalinngga Jaya Karta, menikahkan putrinya dengan seorang anak bangsawan aku mulai di singkirkan," tutur kakek Deja.


Anggala dan Wulan Ayu hanya menggelengkan kepala. Kedua pendekar muda itu tampak agak kesal.


"Hei! Anak muda berdua, sebaiknya kalian tinggalkan tempat ini selagi sempat, jika kalian sampai keistana kematian. Tidak ada jalan kembali!" teriak orang bertopeng hitam itu.


"Maaf kisanak, kami berdua telah berjanji pada kakek Deja, jadi kami tidak akan mundur sampai berhasil menolongnya," jawab Anggala tenang.


"Rupanya kalian mencari mati! Habisi mereka!" perintah orang berkain pinggang warna merah itu. Tanpa banyak bicara sekitar lima orang anak buahnya melompat kearah Anggala dan Wulan Ayu. Salah seorang menyerang kakek Deja.


"Hup! Hiyaaat...!"


Wulan Ayu langsung melompat menyongsong dengan bersalto di udara. Jurus 'Bidadari Kayangan'. murid dua Pendekar Pemarah itu langsung bermain.


Tap!


Tap!


Telapak tangan Wulan Ayu langsung beradu dengan dua kepalan tangan dua orang bertopeng itu.


Buk! Buk!


"Hukh!" dua orang bertopeng hitam itu langsung terjajar mundur sambil memegangi dada mereka yang terhantam telapak tangan Bidadari Pencabut Nyawa itu.

__ADS_1


Wulan Ayu bersalto satu kali kebelakang dan menjejak kaki di tanah dengan begitu ringan.


Sementara Anggala yang melompat dari atas kudanya, Pendekar Naga Sakti membuka kuda-kuda dengan kedua tangan terbuka di depan dada.


"Heaaa...!" baru menjejak tanah kedua orang yang berhadapan dengan Anggala itu langsung menerjang dari dua arah, satu orang menyerang dengan tendangan kearah dada Pendekar Naga Sakti itu. Satu orang yang satunya menyerang dengan pukulan tangan kosong.


"Hup!" Anggala berkelit kearah kanan menghindari tendangan salah seorang penyerang bertopeng itu. Sedangkan lengan kanannya menangkis pukulan tinju penyerang yang satunya. Secepat kilat lutut kiri Anggala bergerak kearah perut orang bertopeng yang menerjangnya. Orang bertopeng itu terkesiap dengan cepat ia berusaha menapaki serangan Pendekar Naga Sakti itu.


Tap!


Orang bertopeng itu terjajar mundur dua langkah, belum sempat ia menguasai keseimbangan telapak tangan kiri Anggala telah bergerak kearah dada kirinya. Orang bertopeng itu kali ini tidak sempat menangkis mau pun mengelak.


Dess!


"Aakh...!" lenguhan tertahan keluar dari mulut orang bertopeng hitam itu seraya tubuhnya melesat kearah belakang dan jatuh terduduk.


Begitu ia berusaha bangkit dari duduknya, darah segar menyembur dari mulutnya.


"Uhuakh..!" darah segar menyembur dari mulutnya. Orang bertopeng itu langsung jatuh berlutut.


"Sira..!" pekik temannya melihat Sira memuntahkan darah segar.


"Bangsat! Kau harus membayar dengan nyawamu!" bentak teman Sira tang bernama Teja tersebut.


Sret!


Teja Puti menghunus klewang gembrug dari balik punggungnya. Senjata mirip samurai itu melintang di depan dada Teja Puti.


Set! Set!


Teja Puti memainkan jurus-jurus klewang gembrug dengan cukup cepat. Sehingga menimbulkan suara menyayat membelah udara.


"Hiaaa...!"


Teja melompat sambil mengibaskan pedangnya kearah dada Pendekar Naga Sakti, dengan cepat sekali Pendekar Naga Sakti menarik tubuhnya kebelakang. Sehingga serangan klewang orang bertopeng hitam itu luput dari sasarannya. Sambil bergerak mundur Anggala menyempatkan diri bergerak meliuk kearah kanan, sehingga begitu cepat ia sudah berada di samping Teja.


"Heh.!"

__ADS_1


Teja terkejut bukan kepalang, ia berusaha menarik klewangnya hendak kembali menyerang Pendekar Naga Sakti. Namun terlambat tendangan kaki kiri Anggala telah mengenai tubuhnya lebih dulu.


Buak!


"Aakh..!" Teja melenguh tertahan sambil tubuhnya mencelat kebelakang dan jatuh terjerambat. Teja berusaha bangun tapi baru berdiri ia kembali jatuh berlutut dari sela-sela bibirnya mengalir darah segar kehitaman.


"Kurang ajar! Kau boleh juga anak muda! Heaaah...!"


Orang berkain pengikat pinggang berwarna merah yang sejak tadi diam mengembor marah. Tanpa basa-basi lagi ia langsung melompat dengan tangan membentuk cakar menyerang kearah Pendekar Naga Sakti. Tentu saja di serang dengan cukup cepat Anggala tidak tinggal diam, dengan cukup cepat Pendekar Naga Sakti sudah berada di depan orang berkain merah itu menyongsong serangannya.


"Yeaaah...!"


Cakaran orang bertopeng hitam dan berkain pengikat pinggang berwarna merah itu cukup cepat. Serangannya menderu-deru kearah wajah Pendekar Naga Sakti. Namun setiap cercaan cakar orang itu selalu luput, karena Anggala berhasil menghindarinya dengan begitu gesit.


Sambil menghindari cakaran orang bertopeng hitam itu Pendekar Naga Sakti begitu cepat memberikan serangan balasan. Anggala balik menyerang dengan jurus 'Sembilan Matahari Cakar Elang'.


Telapak tangan Pendekar Naga Sakti yang membentuk cakar elang itu begitu cepat menyambar kearah lengan musuhnya itu. Orang bertopeng hitam itu terkesiap, tapi ia sudah terlambat menyadarinya. Serangan cakar tangan Anggala sudah tidak sempat ia hindari lagi.


Bret.!


"Aaakh..!" Orang bertopeng hitam itu mengeluh tertahan sambil melompat mundur sambil memegangi lengan kanannya yang berdarah.


"Kurang ajar, tampaknya kali ini Si tua ini membawa pendekar yang cukup tangguh, tapi mereka tidak akan lolos dari perangkap istana kematian," guman orang bertopeng hitam itu dalam hati.


"Kita mundur..!" seru orang bertopeng hitam itu, setelah berseru orang itu berbalik arah dan melesat kedalam hutan.


Sementara itu tidak jauh dari tempat Anggala tampak Pendekar Gila yang memperkenalkan diri dengan nama Deja itu sedang bertarung dengan salah seorang anggota topeng hitam, yang menurut kakek Deja adalah anggota Partai Teratai Api.


Tawa kakek Deja terdengar terkekeh sambil menghindari setiap serangan klewang gembrug si topeng hitam itu. Pendekar Gila dengan begitu gesit menghindari tusukan dan sabetan klewang di tangan orang bertopeng hitam itu. Malah sesekali kakek Deja dapat memberikan serangan balasan. Kakek Deja tampak seperti mempermainkan orang bertopeng itu.


"Heaaah...!"


Entah bagaimana dalam serangan klewangnya, orang bertopeng hitam itu tiba-tiba mengibaskan tangan kirinya begitu cepat kearah kakek Deja. Orang tua itu yang tidak siap tampak tidak sempat menghindar.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2