Pendekar Naga Sakti

Pendekar Naga Sakti
Prahara Di Pulau Andalas. Gagak Kuning


__ADS_3

Langit tampak cerah, awan putih berarak terbawa angin. Suasana yang tampak aman tentram tiba-tiba berubah gaduh ketika meja tempat Anggala dan Wulan Ayu makan kini terbelah menjadi dua.


Gagak Kuning tampak terpental hingga menabrak sebuah meja yang sudah kosong di tinggal penghuninya.


Brak!


"Akgh...!" Gaga.k Kuning tampak melompat bangun dengan cepat, wajahnya tampak memerah menahan malu dan amarah.


"Bangsat!" tanpa pikir panjang lagi laki-laki berpakaian serba kuning itu langsung menghunus golok besar yang ujung gagangnya berukiran kepala burung gagak berwarna putih keperakan.


"Tahan, kisanak. Kita akan menghancurkan warung ini jika bertarung di sini. Ku tunggu kau di luar!" ujar Wulan Ayu sembari melesat keluar warung.


Sedangkan Anggala hanya tersenyum memandang kekasihnya yang dalam sekali gerakan sudah berada di luar warung Ki Syarip itu.


"Dirga selalu saja tergesa-gesa," kata laki-laki yang berambut panjang dengan ikat gaya kucir kuda, beberapa orang kawanan Gagak Kuning tampak ikut keluar menyusul.


"Kau akan merasakan tajamnya golok si Gagak Kuning hari ini, Gadis Tengik!" geram Gagak Kuning sambil memperlihatkan kepiawaiannya bermain golok.


Sret!


Wulan Ayu hanya tersenyum tipis sembari mengeluarkan kipas elang perak dari balik baju biru kesayangannya.


"Kipas elang perak? Jadi dia adalah Bidadari Pencabut Nyawa dari barat itu?" gumam laki-laki berambut panjang.


"Mati kau!" bentakan Gagak Kuning terdengar lantang, seketika itu juga tubuhnya melesat cepat sambil mengayunkan golok besarnya begitu cepat.


Trang!


Di serang dengan begitu ganas dan bertenaga dalam tinggi, Wulan Ayu dengan begitu sigap menangkis golok Gagak Kuning dengan kipas elang perak yang terkembang.


Suara dentingan golok yang mengenai daun kipas terdengar bersusulan. Kepandaian Gagak Kuning yang cukup tinggi membuat pertarungan itu berjalan sangat cepat.


"Kak, Sora, apa kami harus membantu Dirga?" tanya salah seorang pemuda yang berambut panjang sebahu dengan baju hitam di bagian bawah berwarna biru kelam.

__ADS_1


"Biarkan saja dulu, ilmu golok Dirga cukup tinggi. Jika kau membantunya saat ini hanya akan membuat dia marah padamu," jawab Sora Gambang sambil menepuk pelan bahu adik seperguruannya itu.


Sora Gambang yang dikenal dengan gelar Gagak Setan Merah, terkenal dengan ketenangannya dalam bertarung. Walau ia adalah salah satu murid kelas atas Perguruan Gagak Hitam, namun ia cukup dekat dengan adik-adik seperguruannya.


Gagak Setan Merah, sebuah gelar yang cukup menakutkan. Dalam menjalankan tugas dari gurunya Sora Gambang jarang gagal, setelah kegagalan dan kekalahan beberapa orang adik seperguruannya dalam menghadapi Bidadari Pencabut Nyawa.


Guru mereka yang terkenal dengan gelar Gagak Hitam tidak secara langsung memerintahkan Sora Gambang untuk mencari kedua pendekar yang membuat masalah dengan orang-orang Perguruan Gagak Hitam.


Sora Gambang hanya di perintahkan mencari tau, siapa sebenarnya yang mereka hadapi. Namun rupanya kedatangan ke Desa Gragan malah bertemu dengan Anggala dan Wulan Ayu dan Gagak Kuning yang terkenal keurakannya pun terlibat percekcokan dengan dua pendekar muda itu.


"Aku tidak bisa mengukur seberapa tinggi tenaga dalam yang dimiliki oleh dua orang pendekar itu. Tapi gadis itu begitu tenang menghadapi serangan golok Gagak Kuning?" desis Sora Gambang dalam hati, matanya tidak berkedip memandang ke arah pertarungan Gagak Kuning dan Bidadari Pencabut Nyawa itu.


"Ayo, Kisanak. Keluarkan seluruh kemampuanmu!" ujar Wulan Ayu sambil berkelit menghindari tendangan Dirga yang mengincar perutnya.


"Heeaaahh....!" merasa di ejek Dirga semakin meningkatkan serangannya, suara mata goloknya terdengar berdesingan memecah udara. Namun setiap sabetan dan tikaman golok besar di tangan Gagak Kuning itu selalu saja mengenai daun kipas elang perak di tangan Bidadari Pencabut Nyawa itu.


Trang! Trang!


Wut! Wut!


Trang!


Buak!


"Akgh...!" lenguhan tertahan keluar dari mulut Gagak Kuning setelah sebuah tendangan cepat Bidadari Pencabut tepat menghantam pinggang bagian kanannya. Gagak Kuning pun tampak terpental ke arah samping kiri sekitar dua tombak.


"Dirga!" dua orang teman Dirga langsung melompat dan membantunya berdiri. Dirga tampak meringis menahan sakit di bagian pinggangnya.


"Bagaimana Kisanak, encok?"


Bidadari Pencabut Nyawa tampak berdiri di tengah gelanggang dengan mengipaskan kipas elang perak ke arah wajahnya. Senyum tipis di bibir gadis itu membuat Gagak Kuning semakin naik pitam.


"Mundur kalian. Akan ku habisi gadis itu dengan jurus 'Golok Setan Membelah Gunung!" ujar Gagak Kuning pada kedua saudara seperguruannya.

__ADS_1


"Bagaimana pinggangmu?" tanya pemuda yang berpakaian hitam dan bajunya tanpa lengan.


"Tidak apa-apa, hanya nyeri sedikit," jawab Gagak Kuning berusaha menutupi rasa sakit yang mendera pinggangnya.


"Baiklah, hati-hati. Ku lihat gadis itu begitu tenang menghadapimu, itu pertanda kepandaiannya begitu tinggi," ujar pemuda itu lagi.


Dirga hanya mengangguk menjawab ucapan saudara seperguruannya itu. Walau rasa nyeri di pinggangnya bisa berakibat fatal, namun ia tidak ingin malu di depan Gagak Setan Merah.


Apalagi ia yang meminta ikut pada Sora Gambang pergi ke Desa Gragan ini. Jadi saat ini sakit yang ia rasakan tidak lebih besar dari gengsi yang ada di dalam hatinya.


"Jurus 'Golok Setan Membelah Gunung!"


Gagak Kuning tampak menegakkan golok besarnya di atas kepala dengan di genggam kedua telapak tangannya. Cahaya merah tampak berputar dari pangkal lengan dan bergerak ke arah golok besar yang teracung keatas.


"Hmm...! Kau mau adu kesaktian ya, baiklah," gumam Wulan Ayu dalam hati seraya memasukkan kipas elang perak ke balik bajunya.


Sring!


Cahaya putih keperakan semburat keluar dari mata pedang elang perak. Begitu pedang pusaka itu keluar dari warangkanya.


"Akan ku hadapi dengan jurus 'Pedang Kayangan'. tingkat tiga," desis Wulan Ayu dalam hati, gadis itu merentangkan tangan kananya yang menggenggam pedang elang perak ke arah samping kanan.


Cahaya putih keperakan mulai menyelubungi lengan kanan sang Bidadari Pencabut Nyawa. Perlahan Wulan Ayu menarik tangannya dan melintangkan pedang di depan dada.


Sementara itu Gagak Kuning tampak mulai menarik tangannya ke arah bawah, tangan kirinya melepas genggaman pada gagang golok besar itu. Gagak Kuning kemudian menyilangkan golok dan kedua tangannya di depan dada.


"Bahaya, Dirga terlalu memaksakan diri?!" ucap Sora Gambang setengah berbisik. Laki berpakaian merah itu tampak memperhatikan adik seperguruannya itu.


.


.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2