
Pangeran Roksa Galuh meningkatkan tenaga dalamnya, ia menggunakan hampir seluruh tenaga dalamnya, telapak tangannya mengeluarkan cahaya hitam, hingga dengan kedua tangannya pun, berubah kehitaman.
Anggala meningkatkan tenaga dalamnya, dan bersiap dengan 'Jurus Tapak Naga'. tingkat sepuluh
Amarah Pasukan Naga. Anggala melompat ke udara dan mengapung di atas, dari kedua telapak tangannya keluar cahaya putih bersinar.
Pangeran Roksa Galuh melompat menyerang Pendekar Naga Sakti, dengan cepat mengarah ke atas, Anggala menunggu dengan cahaya putih bersinar terang di telapak tangannya.
"Heaaa......!"
Jerit melengking Pangeran Roksa Galuh, melepaskan cahaya hitam ke arah Pendekar Naga Sakti. Pendekar Naga Sakti menyambut dengan meluncur ke arah Pangeran Roksa Galuh di iring cahaya kuning berbentuk Naga di dekatnya.
"Hiaaa...!"
Desss....
DUAAAR.........!
Kedua pukulan bertemu, sehingga menghasilkan ledakan yang begitu besar, Debu debu beterbangan.
Pangeran Roksa Galuh terlempar beberapa tombak ke belakang, sedangkan Pendekar Naga Sakti terjajar ke belakang.
__ADS_1
Anggala memegangi dadanya, dan lansung menstabilkan sirkulasi darahnya.
Sedangkan Pangeran Roksa Galuh yang terlempar, berusaha bangun, dengan memegangi dadanya, darah tampak mengalir dari sela sela bibirnya.
Pangeran Suryana Galuh mendekati Pangeran Roksa Galuh, dan membantu sang Kakak duduk, ia mengalirkan hawa murni ke tubuh sang Kakak.
Sementara Wulan Ayu menghampiri Pendekar Naga Sakti.
"Bagaimana keadaan Kakak...?! tanya Wulan Ayu sambil memandang ke arah Pendekar Naga Sakti.
"Kakak baik baik saja Dinda...!" Jawab pendekar Naga Sakti, tenang.
Sementara itu pasukan Kedua Kerajaan yang dipimpin oleh Patih Jagat Geni, mendekat ke arah belakang Wulan Ayu dan Anggala.
Begitu selesai mengobati sang Kakak, Pangeran Suryana Galuh berdiri menghadap pangeran Roksa Galuh.
Wulan Ayu datang menghampiri Pangeran Roksa Galuh.
"Paman, sebaiknya kita sudah perang ini, Semua pendukung Paman telah banyak yang kabur dan banyak pula yang tewas, jika Paman memaksa melanjutkan peperangan ini, akan lebih banyak lagi memakan korban di pihak Paman...!"
Ujar Wulan Ayu sambil memandang ke arah Pangeran Roksa Galuh.
__ADS_1
Pangeran Roksa Galuh, tampak berpikir sejenak. Setelah itu baru lah ia menjawab perkataan Wulan Ayu.
"Baiklah keponakanku, Paman menyerah, tapi jangan kau bunuh pasukan Paman, mereka tidak bersalah..!"
Pangeran Roksa Galuh, memberikan aba aba pada pasukannya untuk menyerah pada pasukan Galuh Permata dan pasukan Kerajaan Mandalika.
Mendengar perintah Pangeran Roksa Galuh, Semua prajurit pendukung Pangeran Roksa Galuh, langsung menjatuhkan senjata dan menyerah pada pasukan Kerajaan.
Sedangkan Pangeran Roksa Galuh, di bawa lansung oleh Pangeran Suryana Galuh, untuk di penjara di kerajaan Galuh Permata.
Semua prajurit pendukung Pangeran Roksa Galuh, di rekrut oleh Patih Jagat Geni dan Panglima ki Guntur Setra.
Wulan Ayu dan Anggala menemui para pendekar, yang memberikan dukungannya, dalam menghadapi pemberontakan Pangeran Roksa Galuh.
"Kepada semua pendekar, termasuk Guru Saya, dan tidak lupa Pasukan dari Mandalika yang di pimpin oleh Tiga Pendekar bersaudara, Saya atas nama Kerajaan Galuh Permata, mengucapkan Ribuan terimakasih, karna telah membantu Kami, dan secara pribadi Saya mengajak semua pihak yang telah membantu Kami, kembali ke Kerajaan Galuh Permata...!!"
Ujar Wulan Ayu sambil menunduk di depan semua Pendekar dan pasukan Mandalika.
"Ya..! Tuan Putri, kami juga berterima kasih kepada semua prajurit Galuh Permata, yang menyambut kami dengan sangat baik dan ramah..!" Jawab Lesmana sang guru Pendekar Naga Sakti.
Para pendekar golongan putih berkumpul di sana, mengangguk sambil saling memandang satu sama lainnya.
__ADS_1
Mereka kembali ke perkemahan pasukan Galuh Permata, untuk bersiap berangkat, kembali ke Kerajaan Galuh Permata.
Setelah selesai makan siang, Semua prajurit dan para pendekar, beserta para punggawa bergerak meninggalkan padang rumput, di perbatasan itu.