
Alangkarta menghunus badik ( Sebuah senjata berbentuk golok, namun mempunyai batang dengan bentuk lebih langsing ) dari balik pinggangnya.
Alangkarta langsung memakai jurus-jurus mematikan. Alangkarta merapal 'Jurus Badik Pembelah Raga. Melihat Alangkarta merapal jurus badik andalannya, Pendekar Naga Sakti lansung bersiap dengan 'Jurus Sambilan Matahari Cakar Elang dan 'Ilmu Baju Besi Emas'.nya.
"Hari ini Kau akan merasakan tajamnya badikku ini anak muda! Heaa....!"
Bentakan si Perampok maut membahana, di ikuti dengan lesatan tubuhnya dengan sabetan cepat ke arah Pendekar Naga Sakti.
"Trang!"
"Heh..!"
Alangkarta terkejut bukan main melihat badik andalannya bagai mengenai sebatang bongkahan besi begitu menyentuh tubuh Pendekar Naga Sakti.
"Bagaimana Kisanak? Apa badikmu sudah cukup tajam?" Kata Pendekar Naga Sakti sambil menyusulkan sebuah cakaran ke arah Alangkarta.
"Hih..!"
Alangkarta cepat menarik badik dan tubuhnya ke arah belakang, dan melompat menjauh.
"Bangsat! Tubuh anak muda itu bagai sebuah besi, pantas kalau si Mata Satu kewalahan menghadapinya," Guman Alangkarta dalam hati.
"Kau boleh sombong dengan ilmu kebalmu anak muda. Kau belum tau berhadapan dengan siapa?" Bentak Alangkarta sambil menyarungkan badiknya ke dalam sarung yang ada di pinggangnya.
Alangkarta tampak meningkatkan tenaga dalamnya. Pimpinan Perampok Singa Merah yang di kenal dengan Perampok Maut itu merapal sebuah jurus andalannya.
"Tapak Iblis Racun Hitam! Heaa...!"
Alamgkarta menyentakkan tangannya ke depan dan kemudian bergerak ke arah bawah. Telapak tangan Alangkarta mengeluarkan asap berwarna hitam di iringi kedua telapak tangannya berubah menjadi hitam pekat. Asap hitam itu menebarkan bau busuk menyengat pertanda asap itu mengandung racun mematikan.
"Tapak Iblis Racun Hitam!"
Anak buah Alangkarta yang berada tidak jauh dari sana segera melompat menjauh sambil menutup hidung.
Melihat anak buah Alangkarta menjauh. Bidadari Pencabut Nyawa segera melompat menjauh di ikuti Tiga Elang. Keempat gadis cantik itu segera menutup jalan pernapasannya agar tidak terhirup asap hitam dari tangan Alangkarta itu.
"Hati-hati Arau, racun itu sangat berbahaya, aku pernah mendengarnya dari kedua guruku. Orang biasa akan mati hanya terhirup asap dari Ilmu Tapak Iblis Racun Hitam itu!" Ujar Bidadari Pencabut Nyawa memperingatkan.
__ADS_1
"Pendekar Naga Sakti yang sejak tadi menutupi aliran udara di hidungnya, tidak mau berlama-lama lagi. Pendekar Naga Sakti langsung mengerahkan 'Jurus Tapak Naga tingkat lima miliknya.
Cahaya putih bersinar menyelubungi kedua telapak tangan Pendekar Naga Sakti itu.
"Terimalah kematianmu anak muda! Heaaa...!!"
Jerit melengking keluar dari mulut Alangkarta itu. Maka seketika itu juga tubuhnya melesat ke depan dengan begitu cepat. Telapak tangan nya yang di selubungi cahaya berwarna hitam itu berada di depan dada.
"Hiyaaa...!!"
Pendekar Naga Sakti pun melesat menyongsong dengan kedua tangan di depan.
Sut! Wuu...!
Tap!
Blaaam....!!!
Ledakan membahana di tengah kedua pendekar dua aliran berbeda itu. Suara dentuman tenaga dalam mereka beradu membuat tanah di sektar tempat itu menyembur ke udara. Debu putih bercampur tanah menutupi tempat itu.
Tampak Pendekar Naga Sakti keluar dari debu itu dengan sangat cepat dan meluncur mundur. Pendekar Naga Sakti terseret beberapa tombak ke belakang. Bekas tapak kaki Pendekar Naga Sakti membekas panjang di tanah itu.
Wuss!
Brak!
Brum!
Beberapa batang pohon sebesar pohon kelapa patah menjadi dua, terhantam tubuh Alangkarta itu. Jika tidak karna tenaga dalamnya tinggi, niscaya tubuhnya akan hancur terhantam batang pohon itu.
"Aaakh...!"
Alangkarta berusaha bangun dari jatuhnya. Namun luka dalam yang ia derita terlalu parah. Bebarapa saat kemudian pimpinan Perampok Maut itu kembali jatuh. Darah segar menyembur dari mulutnya. Wajah dan tubuh Alangkarta perlahan menghitam. Alangkarta akhirnya jatuh tertelungkup dan tewas karna racun dari pukulannya yang berbalik arah.
Sementara itu Pendekar Naga Sakti tampak berusaha menstabilkan tekanan darah di tubuh nya. Pendekar Naga Sakti cepat-cepat duduk bersemedi untuk melawan racun yang secara tidak sengaja mengenainya saat beradu pukulan dengan Alangkarta tadi.
Pendekar Naga Sakti cepat merogoh kantong di dalam bajunya. Pendekar Naga Sakti cepat menelan obat pemberian kakek gurunya Pertapa Naga. Beberapa saat Pendekar Naga Sakti diam berusaha konsentrasi untuk memulihkan racun yang berusaha memasuki tubuhnya.
__ADS_1
Melihat Pendekar Naga Sakti duduk diam bersemedi, tiga orang anak buah Alangkarta melompat berniat membokongnya.
"Hup..! Hiaaa...!"
Tiga golok para perampok itu mengayun ke arah kepala Pendekar Naga Sakti. Namun di saat yang genting Bidadari Pencabut Nyawa melesat cepat menghadang.
Trang! Trang! Trang!
Buak! Buak! Buak!
"Aaaakh...!"
Bidadari Pencabut Nyawa secepat kilat menangkis serangan para perampok yang berusaha membokong Pendekar Naga Sakti itu. Secepat kilat kaki Bidadari Pencabut Nyawa bergerak menendang ketiga para perampok itu. Tiga orang perampok itu terpental ke tanah dan langsung meregang nyawa.
"Bangsat! Beraninya Kalian membokong orang yang tidak siap bertarung," Guman Bidadari Pencabut Nyawa sambil menatap ke arah tiga musuhnya yang sudah tidak bernyawa itu.
"Bagaimana keadaan Kak Anggala, Wulan?" Tanya Dewi Arau yang juga ikut melompat ke arah tempat itu.
"Sepertinya Kak Anggala lagi bersemedi, untuk membuang racun yang sempat bersentuhan dengannya," Jawab Wulan Ayu sambil menoleh ke arah Dewi Arau.
"Berarti Kak Anggala tidak apa-apa?" Tanya Dewi Arau lagi.
"Tidak usah cemas, Kak Anggala itu Pendekar Naga Sakti, tidak mudah perampok seperti Alangkarta itu mengalahkannya," Jawab Wulan Ayu sambil memandang ke arah kekasihnya itu.
Tidak lama Pendekar Naga Sakti pun membuka matanya. Pendekar Naga Sakti langsung bangkit berdiri.
"Terima kasih Dinda. Telah menyelamatkan Kakak," Ucap Pendekar Naga Sakti sambil tersenyum.
"Syukurlah Kakak tidak apa-apa. Dinda cemas!" Ucap Wulan Ayu langsung memeluk Anggala tanpa mempedulikan Dewi Arau dan kedua adiknya. Pedang Elang Perak masih tergenggam di tangan kanannya.
Anggala hanya tersenyum, ia mengerti kecemasan kekasihnya itu, "kakak tidak apa-apa kok, tadi kakak hanya menstabilkan aliran darah," Jawab Anggala sambil tersenyum.
"Dinda. Ada Arau dan kedua adiknya tuh, malu..," Tambah Anggala lagi.
Perlahan Wulan Ayu melepaskan pelukannya. Mata gadis itu tampak berkaca-kaca. Wulan Ayu langsung menyarungkan Pedang Elang Perak ke dalam warangka yang ada di balik punggungnya itu.
.
__ADS_1
.
Bersambung...