Pendekar Naga Sakti

Pendekar Naga Sakti
Kelompok Iblis Perak. Kedatangan Pendekar Tapak Dewa


__ADS_3

Melihat musuhnya menyerang dengan cukup cepat. Nyi Pelangi hanya bisa melintangkan tangannya didepan dada, "Mati Aku," gumannya pasrah. Namun saat yang genting sebuah cahaya melesat dan menahan serangan Iblis Perak tersebut.


Siapa Kau? Berani mencampuri urusanku!" bentak Iblis Perak itu dengan penuh amarah. Namun orang yang dibentaknya tampak hanya cengegesan dan tertawa.


"Hehehe...! Matamu hanya tau dengan Kelabang Hijau dan Kelabang Merah saja anak muda. Kau dengar baik-baik. Namaku Sura Jaya, para pendekar memanggilku Pendekar Gila. Hehehe...!!" tawa Ki Sura tertawa terkekeh.


"Kau Pendekar Tapak Dewa?" mata Iblis Perak tersebut terbelalak, mendengar nama ki Sura.


"Hehehe.... Gelar itu sudah hilang dua puluh tahun yang lalu, tapi tidak apa. Jika Kau pernah mendengarnya! Hehehe...!" tawa Pendekar Tapak Dewa terkekeh.


"Kau. Pendekar Tapak Dewa?" Nyi Pelangi terkejut.


"Hehehe...! Pendekar Pelangi, tubuhmu sudah terlalu kaku, Kau harus rajin mengulang latihan tenaga dalammu," ucap Pendekar Tapak Dewa sambil menempelkan tangannya di punggung Nyi Pelangi. Perlahan aura tenaga dalam tinggi mengalir mengobati luka dalam Nyi Pelangi.


"Terima kasih Ki," ucap Nyi Pelangi sambil merapat kan telapak tangannya didepan dada. Setelah mengalirkan tenaga dalam ke tubuh Nyi Pelangi, Pendekar Tapak Dewa berjalan santai kearah Iblis Perak yang tampak agak tertegun.


Iblis Perak itu tampak agak ragu, ia menoleh kearah teman-teman sekomplotanya. Namun mereka lagi sibuk bertarung.


"Ayo Iblis Perak. Temani aku bermain-main dengan Ilmu dari Kelabang Hijau itu," tantang Pendekar Tapak Dewa sambil berjalan santai kearah Iblis Perak.


Pendekar Tapak Dewa, yang dikenal orang-orang Desa Mekar Ramai ini sebagai seorang petani. Selama ini Ki Sura tidak pernah muncul sebagai pendekar. Ki Sura selama ini tinggal di kebun bersama istri dan seorang putrinya yang baru berumur sekitar tujuh belas tahunan. Putri Ki Sura pun jika belanja kebutuhan sehari-hari mereka tampak biasa-biasa saja.


"Bagaimana lukamu Nyi?" seorang gadis cantik berpakaian ringkas menghampiri Nyi Pelangi. Ia adalah putri Ki Sura. Orang-orang Desa Mekar Ramai ini mengenalnya dengan nama Melati.


"Aku sudah tidak apa-apa, Melati," nyi Pelangi tampak agak terkejut melihat penampilan Melati dengan pakaian ala pendekar.


"Kenapa Nyi memperhatikan saya seperti itu? Seperti belum pernah bertemu saja," kata Melati sambil tersenyum simpul.


"Kita memang sudah sering bertemu, tapi aku tidak tau Kau seorang pendekar Melati," kata Nyi Pelangi.


"Ayah tidak memperbolehkan orang-orang tau bahwa saya juga seorang pendekar Nyi, kami hanya berlatih di kebun. Tanpa tau orang lain," jelas Melati sambil berjongkok.


"Jadi ayahmu adalah Pendekar Tapak Dewa yang cukup terkenal didaerah selatan ini?" Nyi Pelangi tampak sudah bisa bangun. Wajahnya yang tadi pucat kini tampak agak memerah pertanda darahnya telah kembali normal.


"Ayah tidak pernah menceritakan siapa gelarnya, dia hanya mengajari saya ilmu silat. Katanya untuk menjaga diri dan menolong orang lain," tambah Melati lagi.

__ADS_1


Nyi Pelangi tampak berbagi cerita dengan Melati. Sementara itu para pendekar golongan putih tampak terlibat pertarungan sengit dengan orang-orang golongan hitam pendukung Kelompok Iblis Perak.


Kakek Wiratama tampak sedang bertarung dengan salah seorang Iblis Perak. Kakek Wiratama tampak hampir bisa mendesak Iblis Perak yang dihadapinya.


Kebutan tongkat kayu di tangan kakek Wiratama itu menimbulkan angin panas. Setiap pukulan tinju Perak Penghancur milik Iblis Perak ditangkis dengan tongkatnya. Iblis Perak itu tampak mengeram kesal karna setiap serangannya di tangkis dengan begitu mudah.


"Hehehe...! Iblis Perak. Rupanya kemampuan kalian hanya main keroyokan ya? Hehehe...! tawa kakek Wiratama sambil berkelit dari tendangan Iblis Perak yang mengarah ke tubuhnya. Ejekan kakek Wiratama tersebut membuat Iblis Perak itu tambah naik pitam. Serangannya semakin sengit, namun sudah tidak terarah lagi. Tentu saja serangan Iblis Perak itu dapat di patahkan kakek Wiratama dengan mudahnya.


"Hup!" Begitu cepat ayunan tongkat pendek ditangan kakek Wiratama itu melesat kearah punggung Iblis Perak itu.


Bung!


Kakek Wiratama cepat memutar arah serangannya. Kali ini kearah dada Iblis Perak itu. Namun Iblis Perak cepat menarik tubuhnya ke belakang, sehingga serangan kakek Wiratama itu lewat sekitar dua jari didepan dadanya.


"Hiyaaa....!" Iblis Perak cepat menyusulkan sebuah tendangan kearah perut kakek Wiratama. Namun kakek Wiratama cepat menggeser tubuhnya. Kakek Wiratama menyapukan tongkatnya dengan begitu cepat kearah leher Iblis Perak itu. Iblis Perak cepat menarik lehernya kebelakang.


Buak!


"Aaakh...!" Iblis Perak meringis kesakitan terkena tendangan cepat kaki kanan kakek Wiratama. Rupanya serangan tongkat sang Kakek hanya merupakan pengalih perhatian Iblis Perak itu. Iblis Perak pun tidak menduga jika sang Kakek bakal menyerang dengan tendangan. Sehingga perutnya menjadi sasaran empuk tendangan bertenaga dalam tinggi kakek Wiratama itu.


Prakk....!!


Tongkat kakek Wiratama itu tepat di depan hidung Iblis Perak itu. Iblis Perak itu terpental dan jatuh ketanah. Beberapa saat ia masih berusaha bergerak. Namun kemudian diam tidak berkutik lagi. Iblis Perak itu tewas dengan hidung dan mulut bersemburan darah.


Rupanya kekebalan ilmu Iblis Perak itu hanya di tubuhnya. Kakek Wiratama tampak termenung melihat musuhnya tewas diujung tongkat andalannya itu. Kakek Wiratama menggaruk kepalanya sesaat lalu berjalan kearah rumahnya.


Nyi Tantri tampak terlibat pertarungan sengit dengan salah seorang Iblis Perak yang menyerangnya. Entah dari mana pendekar wanita cantik setengah baya itu begitu bersemangat, ia menghadapi setiap serangan tinju Perak Penghancur Iblis Perak itu.


"Hiyaaa...!" Nyi Tantri merapal sebuah jurus simpanannya. Gerakan Nyi Tantri berubah jadi begitu cepat. Pukulan telapak tangan Nyi Tantri berulang kali menghantam dada Iblis Perak itu. Namun Iblis Perak itu hanya terjajar mundur tanpa terluka.


Dess...!


Iblis Perak Itu cepat menyorongkan tangannya menapaki pukulan telapak tangan Nyi Tantri. Adu kekuatan itu membuat keduanya saling terdorong mundur.


"Darimana orang-orang kampung ini mendapat semangat. Selama ini mereka tidak pernah memberikan perlawanan," guman Iblis Perak dalam hati, sambil menjejak kaki ditanah memperkuat kuda-kudanya.

__ADS_1


"Hiyaaa...!" Iblis Perak itu menyatukan tinjunya di depan dada dan meningkatkan tenaga dalamnya. Iblis Perak mempersiapkan 'Pukulan Tinju Penghancur Tulang'. Cahaya merah kehitaman menyelubungi kedua kepalan tinjunya.


"Akan ku coba pukulan tinju Iblis Perak ini dengan Pukulan Tapak Dewi Kayanganku," guman Nyi Tantri dalam hati. Nyi Tantri pun meningkatkan tenaga dalamnya ke tingkat tertinggi yang ia miliki. Telapak tangan Nyi Tantri bersusun didepan dada. Cahaya putih menyelubungi tubuhnya membentuk seorang dewi dengan dua tapak di samping tubuh.


"Hati-hati Nyai, pukulan itu yang membunuh tiga teman kita dua tahun yang lalu!" teriak Nyi Pelangi memperingatkan.


"Sudah terlambat Pelangi, Akan ku hadapi dia walau nyawa jadi taruhannya!" tekat Nyi Tantri.


Ia pun bersiap menghadapi serangan Iblis Perak itu.


"Kalian bisa saling menasehati didalam kubur!" bentak Iblis Perak itu seraya melompat cepat dengan dua tinju menghadap kedepan dua buah sinar merah melesat dari tangannya.


"Hiyaaat....!" bentakan nyaring Nyi Tantri sambil menyorongkan dua telapak tangannya. Dua cahaya putih bersinar melesat dari kedua tangan Nyi Tantri.


Desss....!


Desss....!


Duaaaarr.....!!!


Ledakan dahsyat mengguncang tempat itu. Debu-debu dan tanah menyembur ke udara menutupi pandangan. Nyi Pelangi dan Melati menatap tajam penuh tanda tanya kearah kumpulan dedebuan itu.


.


.


Bersambung....


Jangan lupa dukung novel ini ya, jika suka. Terima kasih banyak.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2