
Bayangan putih berkelebat bagai kilat, menyusuri hutan dengan membawa Anggala dan Wulan Ayu,
Arya Geni berusaha mengejar, Tapi ia tertinggal jauh
Setelah merasa cukup jauh dari para dedengkot golongan hitam, Barulah bayangan putih itu berhenti, Ia meletakkan tubuh Anggala yang tidak sadarkan diri, Sedangkan Wulan Ayu di sandarkan ke sebuah batu, Kebetulan tempat itu tepian sungai.
Tampak wajah bayangan putih itu adalah seorang tokoh golongan putih yang berusia sekitar enam puluh lima tahun, Rambutnya telah memutih termasuk jenggotnya pun sudah memutih.
Wulan Ayu tampak terbatuk-batuk lemah, Ia antara sadar dan tidak sadar pandangannya pun masih samar-samar.
Namun bibirnya bergetar lemah memanggil nama Pendekar Naga Sakti, Anggala.
"Kak Anggala... Kak, Anggala..!" rintih Wulan Ayu, Ia seperti tak menghiraukan tubuhnya yang terluka dalam cukup parah, Akibat pukulan tinju penghancur milik si Golok Setan.
"Tenanglah nak.! laki-laki itu hanya terkena racun, Dia belum tewas..!" ucap orang tua berbaju putih itu berusaha menenangkan Wulan Ayu.
"Jangan di paksakan, luka dalammu cukup parah," kata orang tua itu sambil mendekati Wulan Ayu, dan mengalirkan hawa murni untuk mengobati luka dalamnya.
Tidak lama kemudian Wulan Ayu mulai bisa melihat dengan jelas, namun tubuhnya masih lemah untuk bergerak, ia berusaha beringsut mendekati tubuh Anggala yang tergeletak pingsan itu.
"Tetaplah di sana nak, istirahatlah dulu.. saya akan mengobati temanmu," ujar orang tua itu, sambil memapah Wulan ayu kembali ke dekat batu tempatnya bersandar tadi.
Wulan Ayu hanya mengangguk, matanya tetap tertuju pada sang kekasihnya yang tidak sadarkan diri itu. Orang tua itu baru berjalan ke arah Anggala, sekelebat bayangan datang menghampiri.
Wusss...!
Jlek....!
Tampak Arya Geni telah sampai di tempat itu.
"Ayahanda...!" ucap Arya Geni, ia tampak terkejut, ternyata yang menolong mereka adalah Patih Kerajaan Galuh Permata, ki Jagat Geni, "Ternyata Ayahanda yang datang menolong kami!" tambah Arya Geni lagi.
Arya geni melihat ke arah Anggala yang masih terbaring di tanah, ki Jagat Geni menghampiri Anggala dan memeriksa keadaan Pendekar Naga Sakti itu.
"Kau tak apa apa Arya.?" tanya patih Jagat Geni pada putranya itu.
__ADS_1
"Saya tidak apa-apa ayahanda, bagaimana keadaan Anggala ayahanda?" setelah menjawab pertanyaan ki Jagat Geni, Arya Geni balik bertanya pada ayahnya itu.
"Dia terkena racun hitam pelumpuh nadi." jawab patih Jagat Geni, sambil mencoba membuat Anggala duduk, ia pun mengalirkan hawa murni ke arah punggung Anggala dengan kedua telapak tangannya menempel di punggung Pendekar Naga Sakti itu.
Cukup lama patih Jagat Geni mengalirkan tenaga dalam, untuk mendorong racun di dalam tubuh Anggala.
"Huak....!" tiba tiba Anggala memuntahkan darah hitam dari mulutnya, tak lama kemudian ia pun terbatuk-batuk, pertanda ia mulai sadarkan diri.
"Syukurlah Kau sudah sadar, bagaimana perasaanmu? Apa yang kau rasakan.?" tanya patih Jagat Geni.
"Tubuh saya lemah sekali Ki..!" jawab Anggala lemah, ia belum mampu menggerakkan tubuhnya. Sementara itu Wulan Ayu bersemedi memulihkan diri dari luka dalamnya.
Arya Geni menyandarkan Anggala pada tangannya, ia duduk di belakang Anggala, Arya Geni belum banyak bicara, karena ia tau ayahnya kelelahan mengobati Anggala dan Wulan Ayu.
Ki jagat Geni bersemedi memulihkan tenaganya, tak lama ia pun selesai bersemedi dan tenaganya telah pulih kembali.
"Siapa kedua pendekar ini Arya?" tanya patih Jagat Geni pada putranya tersebut.
"Yang ini bernama Anggala ayahanda, dia Pangeran dari Mandalika, dia bergelar Pendekat Naga Sakti. Yang di sana, dia tuan Putri Wulan Ayu," jawab Arya Geni, sambil menahan tubuh Anggala yang masih lemah itu.
"Tuan putri? katamu, maksudmu?" tanya ki Jagat Geni lagi, ia tampak belum mengerti.
"Dia Putri Baginda Raja Surya Galuh dengan Permaisuri Galuh Permani Ayahanda," jawab Arya Geni.
Mendengar ucapan putranya ki Jagat Geni terkejut dan lansung bangun dari duduknya. Ia lansung menghampiri Wulan Ayu yang lagi bersemedi.
"Maafkan hamba tuan Putri, karna tidak mengenali tuan Putri..!" ucap patih Jagat Geni sambil berlutut di depan Wulan Ayu.
Wulan Ayu lansung membuka mata, dan melihat ke arah patih Jagat Geni, ia berusaha bangun walau tubuhnya masih agak lemah, ia berhasil bangun.
"Bangunlah paman Patih. Paman tidak bersalah, Paman tidak mengenali saya.!" jawab Wulan Ayu ia terhuyung ke belakang hingga mau jatuh. Patih Jagat Geni dengan cepat memapah Wulan Ayu, dan membawanya duduk kembali di dekat batu.
"Kak Arya, tolong ambilkan obat di saku baju saya!" pinta Anggala pada Arya Geni.
"Baiklah Anggala, tahan sebentar.!" jawab Arya Geni, ia bergeser tanpa melepaskan tubuh Anggala yang belum mampu bergerak, Arya Geni mengambil sekantong obat yang ada di dalam saku baju Anggala.
__ADS_1
"Tolong berikan sebutir obat itu pada saya kak Senopati.!" pinta Anggala, Arya Geni pun menyuapkan sebutir obat ke mulut Anggala.
Arya geni kembali menahan tubuh Anggala dengan kedua tangannya, ia terkejut karna ia merasakan aliran tenaga dalam di tubuh Anggala.
Tidak lama setelah menelan obat pemberian kakek gurunya Anggala sudah bisa menggerakkan tubuhnya, ia pun bersemedi menyembuhkan luka dalamnya dan mengusir sisa sisa racun yang masih ada di dalam tubuhnya.
"Kak Arya tolong berikan satu pil itu pada Wulan Ayu," pinta Anggala pada Arya Geni, tanpa membuka matanya. Senopati Kerajaan Galuh Permata itu hanya mengangguk dan mengambil sebutir obat dari kantung didepan Anggala. Arya Geni pun memberikan obat itu pada Wulan Ayu, yang lagi bersemedi.
Ki Jagat Geni yang lagi istirahat hanya memperhatikan Putranya memberikan obat pada Wulan Ayu.
Setelah menunggu sekitar satu jam. Anggala dan Wulan Ayu telah bangun dari semedinya.
Mereka berdua mendekati patih Jagat Geni.
"Terima kasih paman Patih, telah menyelamatkan kami, kalau paman tak datang mungkin kami telah tewas di tangan si Golok Setan..!" ucap Wulan Ayu sambil duduk di depan patih Jagat Geni.
"Tidak perlu berterima kasih Tuan Putri, menyelamatkan Tuan Putri adalah tugas hamba..!" jawab Patih Jagat Geni, ia tersenyum pada Anggala dan Wulan Ayu.
"Tujuh belas tahun hamba tak bertemu Tuan Putri, rupanya Tuan Putri telah tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik dan telah menjadi seorang Pendekar..!" tutur Patih Jagat Geni seperti mengingat masa lalu.
"Jadi saya di rawat guru Malaikat Pemarah dan guru Bidadari Galak dari umur setahun paman Patih..?" tanya Wulan Ayu.
"Ya. Tuan Putri, saya yang mendampingi baginda Raja Surya Galuh mengantarkan Putri pada kedua Pendekar pemarah itu," cerita patih Jagat geni.
"Pangeran Anggala bagaimana kabar Lesmana dan Pertapa Naga sekarang?" tanya patih Jagat geni pada Anggala.
"Paman patih tau saya seorang pangeran..!?" tanya Anggala keheranan. Anggala pun menceritakan keadaan Kakek guru dan paman gurunya, sewaktu ia meninggalkan Lembah Naga, Patih Jagat Geni menganguk angguk memdengar cerita Anggala, setelah Anggala selesai bercerita, iapun menjawab pertanyaan Anggala tadi.
"Arya geni yang bercerita sewaktu Pangeran dan Putri terluka tadi.! obat apa yang Pangeran dan Putri makan.? sehingga luka dalam Pangeran dan Putri begitu cepat sembuh?" tanya Patih Jagat Geni setelah menjawab pertanyaan Anggala tadi, ia lalu bertanya pada kedua Pendekar muda itu.
"Obat dari kakek guru Pertapa Naga Paman," jawab Anggala, "Obat yang di bikin kakek dari ramuan dedaunan, yang sangat banyak macamnya, obat ini bisa menambah tenaga dalam, mengobati racun, dan mengobati luka dalam juga," tambah Anggala lagi
"Pertapa Naga, sampai saat ini belum ada tandingan ilmunya, baik golongan putih maupun golongan hitam. Setiap dedengkot dunia persilatan akan berpikir dua kali mau berhadapan dengan Satria Penakluk Naga itu," kata patih Jagat Geni lagi. Mereka berbagi cerita sambil istirahat memulihkan tenaga dan tubuh mereka.
.
__ADS_1
Bersambung...