Pendekar Naga Sakti

Pendekar Naga Sakti
Dendam Tiga Elang. Kedatangan Pendekar Naga Hitam


__ADS_3

"Selamat datang Pendekar! Rupanya Kalian memang berniat mengantarkan nyawa kesini. Ha ha ha...!!" Ucap Jagat Satra menyambut kedatangan Pendekar Naga Sakti dan Bidadari Pencabut Nyawa bersama Tiga Elang.


"Terima kasih banyak sambutan hangatmu Kisanak. Kami datang atas undangan anak buahmu!" Jawab Pendekar Naga Sakti sambil mengangkat kedua tangannya di depan wajah nya.


"Ha ha ha....!" Nyalimu memang besar anak muda. Nikmatilah semua hidangan dan sambutan ini. Kau akan berhadapan dengan anak buahku malam ini. Karna tamu terpenting ku belum datang hari ini!" Ujar Jagat Satra dengan tawa membahana di iringi tawa seluruh anak buahnya.


Pendekar Naga Sakti dan Bidadari Pencabut Nyawa hanya membalas dengan menyunggingkan senyum tipis. Begitu pun Tiga Elang pun hanya menatap tajam ke arah Tiga Warok Singa Merah itu.


"Kak kita balas kematian ayah ibu sekarang!" Bisik Dewi Pingai pada Dewi Arau. Gadis cantik tampak mengepalkan telapak tangannya, menahan geram dan amarahnya.


"Kita tunggu saja dulu. Kita ikuti permainan mereka," Jawab Dewi Arau berusaha menenangkan Dewi Pingai.


"Baik Kak," Jawab Dewi Pingai. Gadis itu menatap tajam ke arah Tiga Warok Singa Merah yang tampak begitu senang.


"Murid Elang Hitam. Yang mana murid Elang Hitam?" Tanya Jagat Satra menunjuk ke arah Tiga Elang.


"Kami murid Elang Hitam!" Jawab Dewi Arau lantang seraya mengangkat tangan sebagai salam perkenalan.


"Ha ha ha...! Tidak ku sangka Elang Hitam mempunyai murid yang begitu cantik-cantik! Ha ha ha..!" Ujar Jagat Satra dengan tawa membahana di iringi tawa seluruh anak buahnya.


"Pelayan antarkan tamu kita ke kamar mereka. Hidangkan mereka makanan yang enak-enak!" Perintah Jagat Satra pada beberapa orang pelayan wanita yang ada di ruangan besar itu.


"Baik Tuanku!" Jawab salah seorang pelayan itu sambil membuat memberi hormat. Mereka pun segera bangkit dan berjalan ke arah Pendekar Naga Sakti dan Bidadari Pencabut Nyawa.


"Ayo! Tuan-tuan. Kami antar ke kamar Kalian!" Ucap pelayan itu sopan. Anggala dan Wulan Ayu hanya mengangguk dan segera mengikuti para pelayan itu.


Mereka si antar ke sebuah kamar yang cukup besar di sana terdapat dipan tempat tidur yang di tata begitu rapi. Ada tempat duduk yang terbuat dari bambu dan sebuah meja besar yang berisi berbagai buah-buahan.


"Silahkan Tuan," Ucap salah seorang pelayan itu, "Jika Tuan-tuan butuh sesuatu panggil saja kami. Kami berada di dapur," Ucap pelayan itu.

__ADS_1


"Terima kasih banyak Nisanak," Ucap Wulan Ayu sambil tersenyum.


"O iya, Kami lihat Kalian bukan bagian dari para perampok itu?" Tanya salah seorang pelayan itu sambil berbisik.


"Iya Nisanak, Kami pendekar golongan putih," Jawab Wulan Ayu sambil tersenyum.


"Kenapa Kalian bisa berada di sini?" Tanya pelayan itu sambil mengerenyitkan keningnya.


"Kami di sini karna di undang oleh Kalajengking Merah dan Si Mata Satu Nisanak," Jawab Wulan Ayu kalem.


"Berbahaya Nisanak. Sebaiknya Kalian cepat tinggalkan tempat ini selagi bisa. Kalian adalah ibarat domba masuk kesarang srigala," Sesal pelayan itu.


"Tidak usah takut Nisanak, Kami sudah siap dengan segala kemungkinan. Kami bukan orang yang pengecut, yang akan lari dari medan laga. Kami sadar kami masuk kesarang musuh. Tapi kami bukan domba yang masuk ke sarang srigala!" Tampik Bidadari Pencabut Nyawa yang tampak agak emosi di katakan sebagai domba masuk kesarang srigala itu.


"Sudahlah Dinda. Nisanak ini hanya memperingatkan kita. Tidak apa-apa Nisanak yang jelas sekarang bila terjadi keributan Kalian cepat tinggalkan tempat ini. Karna tempat ini akan hancur!" Potong Pendekar Naga Sakti.


"Sudah lebih dari dua puluh tahun Tiga Warok Singa Merah itu menguasai daerah gunung pungur ini, Kami sudah banyak melihat para pendekar yang tewas akibat bertarung melawan Tiga Warok Singa Merah Nisanak. Kalian masih begitu muda. Saya tidak tega rasanya melihat Kalian harus jadi korban kejahatan mereka," Lanjut pelayan yang berumur sekitar tiga puluh tahunan itu.


"Ya Sudah Nisanak. Kembalilah ke tempat Kalian. Jika kami merasa terdesak kami akan melarikan diri kok," Jawab Pendekar Naga Sakti menenangkan kecemasan pelayan itu. Para pelayan itu hanya mengangguk. Akhirnya yang berumur sekitar tiga puluh tahunan itu mengajak temannya meninggalkan kamar tempat Pendekar Naga Sakti dan Bidadari Pencabut Nyawa itu.


Tidak terasa matahari pun mulai turun di upuk barat. Suasana yang di luar dugaan tampak terjadi di puncak gunung pungur itu. Para perampok dan pendekar golongan hitam yang ada di sana tampak begitu tenang, seakan tidak akan terjadi keributan di sana.


Malam pun mulai turun di puncak gunung pungur. Udara yang cukup dingin menusuk tulang. Para perampok itu membuat perapian di depan bangunan mereka. Hampir setiap ruangan terdapat obor yang menerangi tempat itu. Sehingga udara terasa hangat.


Tiga Warok Singa Merah rupanya telah kedatangan tamu istimewa seperti yang mereka harapkan. Rencana mereka tampaknya berjalan sesuai rencana. Apalagi ini adalah rumah bagi mereka. Jadi mereka tidak merasa akan kalah di rumah sendiri. Apalagi dengan begitu banyaknya para perampok dan pendekar golongan hitam yang ada disana.


Warok Singa Merah mengundang seluruh orang tang ada di sana untuk menikmati makan malam di tengah udara terbuka di depan rumah besarnya itu. Hidangkan telah di siapkan oleh lebih dari lima puluh orang pelayan. Puluhan tempat duduk dari kayu telah di siapkan oleh para perampok itu. Makanan telah di siapkan di atas meja di setiap tempat duduk itu.


Pendekar Naga Sakti dan Bidadari Pencabut Nyawa bersama Tiga Elang pun di undang untuk makan malam bersama. Mereka memperlakukan para pendekar golongan putih itu bagai tamu, bukan sebagai musuh.

__ADS_1


Setelah selesai menikmati makan malam. Jagat Satra sebagai yang tertua di antara Tiga Warok berdiri dan membuka suara.


"Selamat malam semuanya. Bagaimana hidangan yang Kalian santap. Enak, tentu saja enak. Para pelayan kami telah menyiapkan semuanya dengan begitu istimewa malam ini. Suatu yang membanggakan bagiku, dan bagi Kelompok Tiga Warok. Karna kita telah kedatangan seorang tanu undangan yang selama ini tidak pernah datang memenuhi undangan. Perkenalkan Pendekar Naga Hitam, seorang pendekar yang telah menjadi pendekar besar di golongan hitam!" Ujar Jagat Satra dengan suara lantang.


Tampak seorang Pendekar yang berumur sekitar lima puluh tahunan lebih. Wajah nya masih membiaskan ketampanan. Namun mencerminkan kekejaman yang cukup menggetarkan jiwa orang yang berhadapan dengannya.


"Paman Fhatik! Rupanya Kita bertemu di sini," Guman Pendekar Naga Sakti hampir tidak terdengar. Pendekar Naga Sakti hampir bergerak bangkit namun di tahan oleh Bidadari Pencabut Nyawa dan Tiga Elang.


"Sabar dulu Kak. Kita ikuti dulu permainan mereka, dinda yakin Kamandaka dan kedua adik sudah berada di daerah ini," Bisik Wulan Ayu sambil memegang lengan Anggala. Anggala hanya mengangguk berusaha menenangkan diri.


"Kawan-kawan semua. Malam ini kita punya tamu khusus yang belum pernah terjadi sebelumnya. Di depan dan di samping kita, telah hadir lima orang pendekar yang telah banyak menghabisi dan mengalahkan tokoh-tokoh silat Warok Singa Merah di Kampung Jati Arum. Jadi Kalian boleh menjajal Kesaktian dan kedikjayaan dengan mereka!" Ujar Jagat Satra seraya menunjuk ke arah Pendekar Naga Sakti dan empat gadis cantik di depannya.


Semua mata yang ada du tempat itu langsung menuju ke arah lima pendekar muda itu. Pendekar Naga Sakti hanya menyungging senyum tipis menjawab pandangan para tokoh hitam dan para petinggi perampok-perampok itu. Begitu pun Empat gadis cantik di samping Pendekar Naga Sakti itu.


"Hup!"


Salah pimpinan Perampok yang ada di sana melompat ke tengah-tengah tempat itu. Gerakannya cukup ringan menjejak kaki di tanah.


"Pendekar Yang ada di sana. Aku Si Bagas Mata. Pimpinan Penyamun Bagian timur gunung pungur ini menantang bertarung satu lawan satu!" Seru Bagas Mata dengan lantang telunjuk kirinya menunjuk ke arah Pendekar Naga Sakti.


"Hup!"


Tanpa basa basi Pendekar Naga Sakti melompat ke arah gelanggang itu dengan bersalto dua kali di udara dan menjejak kaki di tanah dengan begitu ringan.


.


.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2