Pendekar Naga Sakti

Pendekar Naga Sakti
Prahara di Galuh Permata, Terbunuhnya Pendekar Darah Dingin


__ADS_3

Sekitar sepuluh buah pisau belati beracun, terbang ke arah Lesmana dan Pertapa Naga.


Pisau itu sangat cepat mengarah ke kedua Pendekar Kawakan itu, Pertama Naga mendengar suara berdering di belakangnya, ia berbalik dengan cepat, langsung menangkap semua pisau belati beracun itu, dan melemparkan pisau itu ke arah Pendekar Darah Dingin, dengan kecepatan dua kali lipat dari sebelumnya, sehingga.


Set...... ! Set........!


Set.......! Set.........!


"Aaaaaa.......!"


Pendekar Darah Dingin terlempar ke belakang,dengan tubuh bersimbah darah, pisau belati yang tadi ia lemparkan, menusuk tubuhnya sendiri.


"Dasar manusia Iblis, tidak mau di ajak, berbuat baik...!" Ujar Pertama Naga.


"Ayo Lesmana...! Kita cepat ke medan perang, nanti keburu malam...! Ujar Pertapa Naga.


"Baik...! Guru...!" Jawab Lesmana, mereka pun melesat bagai kilat meninggalkan tempat itu.


Sementara itu pasukan Galuh Permata dan pasukan Mandalika, telah mengepung area perkemahan pasukan pemberontak, malam yang mulai gelap membuat pasukan Galuh Permata, dan pasukan Mandalika menghentikan serangan sementara.


Pasukan pemberontak yang di pimpin oleh Pangeran Roksa Galuh, telah mundur ke dalam area perkemahan mereka, pasukan Pangeran Roksa Galuh tinggal separuhnya.


Separuhnya lagi tewas dan terluka dan banyak yang jadi tawanan pasukan Galuh Permata dan pasukan Mandalika.

__ADS_1


Patih Jagat Genit, dan Para punggawa pasukan Galuh Permata dan punggawa Mandalika mengawasi pasukan pemberontak.


Sementara itu Pangeran Roksa Galuh, merasa was was apa ia masih mampu memenangkan peperangan, dan merebut tahta kerajaan Galuh Permata.


Sementara pasukannya telah banyak yang kabur dan banyak pula yang tewas, dan tidak sedikit pula yang jadi tawanan pasukan Galuh Permata dan pasukan Mandalika.


Pangeran Roksa Galuh mondar mandir, hilir mudik di dalam kemahnya, ia menunggu para pendekar dari Lembah Tengkorak, yang sampai saat ini belum juga kembali.


Sementara itu Wulan Ayu dan Anggala, dan para pendekar golongan putih berkumpul di dalam kemah, yang baru di pasang pasukan Galuh Permata dan pasukan Mandalika.


Pasukan khusus kerajaan Galuh Permata, di tugaskan mengawasi, gerak gerik pasukan pemberontak.


Manggala dan Wulan Ayu tampak mengobrol, dan para punggawa kedua kerajaan banyak yang istirahat, mereka cukup lelah setelah perang seharian.


"Kak Anggala, Kakak menghadapi Iblis Gerbang Neraka tadi dengan jurus apa Kak..?" tanya Bidadari Pencabut Nyawa itu.


"Kalau Dinda, pakai jurus apa...?" Anggala balik bertanya pada Wulan Ayu.


"Dinda memakai 'Jurus Pedang Kayangan'. tingkat tujuh...!" Jawab Bidadari cantik itu sambil tersenyum manis pada pendekar Naga Sakti.


"Kak, kita makan yuk..! Wulan lapar...!" rengek manja Bidadari cantik itu pada sang kekasih.


"Boleh...! Kakak juga terasa lapar..! Jawab Anggala, mereka pun pergi ke dapur perkemahan pasukan Mereka.

__ADS_1


Anggala dan Wulan Ayu makan bersama, mereka mengajak para prajurit untuk makan bersama mereka.


Senopati Arya Geni tampak lagi asyik berbicara, dengan kekasihnya Sri Kemuning, Wulan Ayu yang baru selesai makan, menggoda mereka.


"Larut malam tampaknya, tidak terasa oleh dua sejoli ini...!" Ujar Wulan Ayu sambil tertawa di belakang Arya Geni dan Sri Kemuning.


Anggala hanya ikut tersenyum di samping Wulan Ayu.


"Eh....! Tuan Putri....!? ujar keduanya tampak malu.


"Duduk Tuan Putri...! Pangeran...!" Ujar Senopati Arya Geni, mempersilahkan Anggala dan Wulan Ayu Duduk di dekat mereka.


"Kami tidak mengganggu kan..!?" tanya Bidadari Pencabut Nyawa itu, sambil tersenyum.


"Tentu tidak Tuanku...!" Jawab pendekar Pedang Terbang itu.


"Jangan panggil Tuanku dong..! Panggil Wulan aja..!" Ujar Bidadari Pencabut Nyawa, sambil duduk dan melempar senyum manisnya.


"Senyum Tuan Putri manis..!" puji Sri Kemuning.


"Tapi lebih manis Kak Kemuning lho..! Iya kan Kak Senopati..!?


Wulan Ayu sambil tertawa, mereka tertawa riuh, para prajurit yang lagi makan dan minum, pada melihat ke arah mereka berempat.

__ADS_1


"O.. iya Kak Kemuning, bagaimana keadaan para prajurit yang terluka..?" tanya Bidadari Pencabut Nyawa atau Putri Wulan Ayu dari Galuh Permata.


"Mereka sudah selesai di beri obat tradisional dan mereka sedang istirahat Putri..!" Jawab Sri Kemuning.


__ADS_2